Pesan Masuk
SATU(1) PESAN BARU
Kepada: Christopher Louis
Dari: Herman Puspito
Subjek: Ketidaketisan
Aku harus mengatakan bahwa kita memang sering berbeda pemikiran, dan aku sering menghargai perbedaan tersebut.
Tetapi untuk yang kali ini, aku merasa kalau kau melewati batas. Penggunaan pelontar api untuk SCP-012-ID sungguh tidaklah etis. Aku tahu situs kita tengah menangani kelas Keter yang telah memakan korban jiwa, tetapi bukannya dengan prosedur ini malah semakin membuat mereka agresif dan tak terkontrol? Apakah Direktur Situs mengetahui apa yang tengah kau lakukan ini? Apa kau memikirkan dampak kedepannya?
Sejujurnya aku menyayangkan tindakan gegabahmu untuk membuat mereka trauma akan api. Terlebih lagi kau membuat asistenmu sendiri melakukannya. Aku tahu dia magister psikologi, tapi apa kau memikirkan dampak psikologinya sendiri setelah menjalani perintah itu sedikitpun?
Kuharap kau bisa lebih bijak dalam membuat keputusan kedepannya selagi aku menanyai Direktur Situs mengenai prosedur baru ini.
“Keparat!”
Terdengar umpatan keras dari mulut seseorang malam itu. Dialah Dr. Christopher Louis, personel yang menerima pesan itu. Kalimat tersebut keluar sedetik setelah ia memahami apa yang tertulis di pesan yang baru saja ia terima.
Teriakan kesal itu diikuti oleh hantaman keras ke meja jati di depannya. Cukup keras untuk membuat asistennya yang tengah mengetik tak jauh dari mejanya tersentak. Dia baru bekerja untuknya selama dua minggu, tetapi bukan teriakan kesalnya yang membuat ia terkejut. Tidak, dia sudah tahu supervisornya orang yang mudah emosi dan sedikit menghina saat dia melakukan kesalahan input data di hari keempatnya bekerja. Tetapi dia baru tahu supervisornya bisa sekesal itu.
Asisten itu menoleh beberapa saat, melihat apa yang tengah supervisornya lakukan sebelum kembali bekerja. Cuma debat di email lagi, palingan pikirnya.
“Hey!”
Dr. C. Louis, atau lebih sering dipanggil Louis, berteriak lagi sambal menepuk meja. Asistennya kembali menoleh dengan cepat ke arah Louis.
“Jika orang lagi ada masalah, seharusnya kamu peduli sedikit. Itu gelar magistermu dapatnya dari nyogok, ya? M.Psi apaan kau itu sampai acuh begitu!”
Asistennya menunduk sebentar sebelum menatap Louis, “Minggu lalu bapak marah-marah sendiri, saya tanya ada apa malah dibilang sok peduli dan disuruh kelarin kerjaan saja.”
Louis langsung berdiri dari kursi putarnya dan berjalan ke meja kecil asistennya, “Jika saja Stefan tidak memaksakan dirimu ke sini untuk menyelesaikan apa pun permasalahannya dan kau cuma pegawai biasa, sudah kurekomendasikan kepadanya untuk memecatmu, anak sialan.”
Lalu ia kembali ke mejanya dan mulai menulis sesuatu. Hening sejenak di ruangan tersebut. Asistennya melirik sebentar ke ketikan miliknya sebelum menghela nafas dan bertanya,
“Ada masalah apa, pak?”
Louis tidak menjawab apa-apa. Asistennya melihatnya untuk beberapa saat, menunggu respon apa pun. Asistennya baru saja mulai berbalik untuk kembali menulis Ketika Louis akhirnya membalas pertanyaannya,
“Herman.”
Tentu saja… Asistennya menghela nafas selagi hendak berdiri.
“Hei, aku ga menyuruh ninggalin pekerjaan. Di situ aja ngedengerinnya.” Kata Louis. Asistennya batal berdiri dan kembali duduk di kursinya.
“Dia secara praktis mengatakanku tidak etis dalam menangani anomali! Dia bahkan mengatakan aku memaksamu melaksanakan idemu sendiri! Yang paling gila adalah dia ingin mengganti PPK-ku dengan miliknya! Sudah gila dia…”
Asistennya mengangguk sejenak, “Yah, namanya juga beda pendapat. Kita tunggu saja pendapat tuan Stefan mengenai ini. Kan kita sudah dapat izin dan semacamnya?”
“Itulah Herman untukmu, nak. Keparat itu selalu berpikir dia yang paling suci dan tak berdosa di septic tank terkutuk bernama situs ini dan melihat orang lain sudah gila. Tetapi kuharap kau melihat apa yang kulihat; seorang pria yang saking gilanya, dia tidak mengetahui apa yang dia lakukan itu gila.”
Louis pun bersandar ke kursinya, membuat kursi putar itu terdorong mundur beberapa senti. “Dia selalu merasa di atasku, merasa semua yang kulakukan salah. Aku pernah bekerja untuknya, aku pernah menyinggung itu, rasanya, dan sifat superiornya menyiksaku.”
Asistennya menoleh ke samping selama beberapa saat, Kau tak akan tahan bekerja di sini seminggu saja jika kau berada di posisiku… umpatnya dalam hati. Dia kembali menghadap ke Louis.
“Itulah kenapa aku ingin pergi dari sini. Situs-79 adalah neraka. Aku di sini karena nasib buruk ditugaskan di sini, beberapa di sini karena hukuman, kau di sini karena entah apapun yang Direktur Situs tugaskan padamu… Mungkin sama seperti ku, nasib buruk.”
Louis terdiam beberapa saat sebelum memajukan kursinya, memperbaiki posisi kacamatanya, dan kembali mengetik.
“Untuk keluar dari situs ini tidaklah mudah. Kau tahu, bekerja di situs 86 terdengar seperti karir yang baik, minim ancaman dan semacamnya. Tapi kau perlu menunggu salah satu personel di sana antara mati atau tidak lagi bekerja di sana. Kau paham kan sekarang kenapa semua orang mati-matian menunjukkan muka terbaik mereka begitu di hadapan pimpinan termasuk aku?”
“Itukah kenapa bapak bersaing dengan Herman?”
Louis terkekeh, “Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku menemui setidaknya dua orang yang cukup gila untuk ingin tetap bekerja di sini. Pertama tidak lain dan tidak bukan adalah Direktur Stefan sendiri. Dia sudah di sini sejak aku mulai ditugaskan, dan ternyata setelah ku tanya-tanya dengan personel lain, dia sudah ada sejak lama sekali.”
Asistennya cuma mengangguk.
“Dan yang kedua itu Herman. Dia secara posisi bisa mengajukan pindah situs. Pernah ada kesempatan dulu, bukan 86, tetapi lumayan baik, tetapi dia menolaknya. Akhirnya yang mengambilnya malah seorang perempuan peneliti senior.”
Louis selesai mengetik dan memandangi monitornya selama beberapa saat sebelum melihat ke asistennya, seorang pria berusia 25 tahunan lebih yang tengah mengenakan masker medis. Awalnya pria ini memakai masker gas taktik karena semacam paranoia yang dia idap atau semacamnya, tetapi Louis merasa itu menggelikan. Setidaknya ia sudah bermurah hati mengizinkannya memakai penutup muka apapun selain masker gas selama dia bekerja.
“Kau membuat pilihan yang tepat bekerja untukku, nak. Proposal sukses milikmu hanyalah permulaan; kita akan keluar dari neraka ini suatu hari nanti.”
Lalu Louis pun berdiri dan mengemasi tas pinggang miliknya sebelum berjalan ke pintu. “Sebaiknya kau selesaikan arsip itu sebelum besok. Pekerjaanmu masih banyak.” Kata Louis sebelum keluar dan menutup pintu.
Hanya tersisa asisten Louis di sudut ruangan yang hanya dihiasi suara dengung pelan AC. Ia melihat ke pekerjaannya yang baru setengah, lalu ke arah jam dinding. Jam 12 malam. Ia telah mendengarkan ocehan supervisornya selama satu jam.
Ia menghela nafas lagi dan berjalan ke meja Louis, mematikan AC ruangan, dan melihat monitor supervisornya. Louis selalu menyuruhnya mematikan komputer miliknya. Asistennya tengah melihat ke pesan yang Louis tulis Ketika ia menyadari satu hal: Louis lupa mengirim pesannya.
Dia membaca sekilas pesan Louis,
Pertama-tama, saya menyatakan bahwa saya sedikit tersinggung atas pernyataan anda terhadap saya dan asisten saya. Ia telah mendapat izin dari saya untuk melakukan pengujian kepada orang-orangan tersebut.
Pengujian ini proposalnya, bukan milikku. Tetapi sudah tugasku untuk me-review dan menyetujuinya. Dia melaksanakan pengujian tersebut sebagai bawahanku. Memangnya kau siapa sehingga kamu peduli sekali dengan dia? Kita berdua setara.
Harus kuingatkan, Dr. Herman, saya mendapatkan izin Direktur untuk menjalankan pengujian kemarin. Kamu tidak bisa melayangkan komplain kali ini. Jangan melewati batas, Herman.
“Berpihak kepada mu?” Asistennya berkata, “Kau tidaklah spesial. Hanyalah salah satu pilihan dalam soal pilihan ganda.”
Lalu ia menghapus beberapa kata dari Louis dan mulai mengetik.
…Dan ya, pengujian itu adalah usulanku.
Lalu ia menekan tombol kirim.
Kronik Situs-79
Bab 1: Kayu Bakar
« Percobaan Malam | Dinginnya Bara Setelah Terbakar |




