Di Kandang Nenek Sihir
rating: +2+x

Beberapa tahun silam

“Kak!”

Seorang perempuan berseragam taktis menubruk jatuh seseorang berseragam serupa ke lantai. Rentetan tembakan peluru dari segala arah menghujani tempat berdiri orang tersebut sedetik kemudian.

Scheiße!” Orang tersebut berteriak. Helm yang dikenakannya terlepas, menunjukkan rambut pirang pendeknya sekilas sebelum pria itu meraih cepat helmnya tadi. Mereka berdua dengan cepat merangkak menuju kumpulan orang berseragam taktis serupa yang tengah berkumpul di balik sebuah kulkas yang sudah dijatuhkan.

“Tidak ada blind spot bagi bajingan itu, ya.” Salah satu pria di sana berkata dengan kesal. “Tidak peduli kita sudah di lantai dasar.”

“Tidak ada yang bilang mereka bisa taumaturgi ruang sehebat ini!” Salah satu pria lain membalas dengan kekesalan serupa selagi menyeret sofa di sampingnya untuk melindungi mereka.

“Tidak ada yang tahu, tepatnya. Makanya kita akan keluar dari sini begitu ada kesempatan!” Pria tadi berkata selagi menunjuk ke arah pintu keluar dari balik barikade buatan mereka, yang di sekeliling pintu tersebutnya terdapat puluhan peluru hasil tembakkan melesat dari sebuah cahaya kecil di tengah udara kosong ke arah mereka.

“Tunggu, kita akan meninggalkan mereka? Setelah semua yang kita lakukan sejauh ini?” Pria yang baru datang tadi bertanya.

“Tidak juga,” Pria yang ditanyanya mengangkat sebuah perangkat berisi serangkaian tombol. Sebuah detonator.

Pria yang baru datang tadi terlihat bersemangat sekarang. “Jadi kita berhasil memasangnya, ternyata.”

Lawan bicaranya mengangguk. “Sekarang kita hanya perlu kesempatan untuk keluar dari sini. Semoga saja peluru mereka terbatas.”

Dan benar saja, tembakkan peluru perlahan mereda sampai berhenti sepenuhnya. Para agen segera berlari menuju pintu keluar. Kedua agen yang baru datang tadi berupaya berdiri secepatnya mengikuti mereka, dengan si pria membantu rekan perempuannya berdiri dan lari bersamanya.

Ketika hanya mereka berdua yang saja yang terakhir mau keluar, tiba-tiba saja pintu keluar di depan mereka tertutup dengan sendirinya dengan keras. Seluruh ruangan tiba-tiba bercahaya sekilas, dengan dinding diselimuti garis-garis asing menyerupai simbol. Cahaya tersebut kembali menyelimuti ruangan secara berkala dengan intensitas cahaya meningkat tajam. Kedua agen tadi jelas langsung menutup mata mereka selama kejadian itu berlangsung.

Salah satu agen tiba-tiba merasakan hembusan angin pelan. Dia ingat sensasi ini dan membuka matanya, menyadari bahwa dia dan rekannya kini berada di ruang terbuka. Dia langsung sadar, mereka kini tengah berada di atap bangunan yang mereka tempati. Barikade mereka sebelumnya beserta seluruh isi dari ruangan lantai dasar juga berada di sana entah kenapa.

Dan mereka dikelilingi orang-orang dengan senapan serbu rakitan.

Mereka berdua menyadari bahwa mereka tengah berdiri di semacam lingkaran ritual besar. Ukurannya mungkin ¾ dari atap hotel ini. Jumlah orang yang mengelilingi mereka tidaklah banyak, mungkin hanya lima belas orang, tetapi selain mereka kalah jumlah dan tengah dikelilingi dari segala arah, senjata rakitan orang-orang tersebut penuh ukiran putih yang berkilau, bak lampu LED putih menyelimuti pinggiran senjata mereka.

“Selamat datang di atap Hotel Bata Merah.” Salah satu dari mereka berjalan maju. Meski mereka semua mengenakkan kacamata hitam serta berjaket hitam, tetapi dari topi fedora putih yang dikenakannya, rokok di mulutnya, serta jam tangan berwarna keperak-perakan di pergelangan tangannya. Dia jelas pemimpin orang-orang yang tengah mengelilingi mereka. “Dan selamat malam juga. Nama gue Luca Lorenzo, ketua Lorenk.”

Dia menunjuk ke salah satu dari mereka, seorang perempuan berambut pirang panjang. “Kalian berdua, apa kalian orang Belanda atau semacamnya?” Dia berkata dengan tenang selagi tersenyum meskipunt kedua agen tadi saling menodongkan senjata mereka ke arahnya.

Jerman, tepatnya.” Yang pria membalas.

“Heh, apa bedanya.” Pria itu berkata, “Jarang-jarang gue lihat bule. Jadi gini saja, serahkan si gadis pirang itu kemari dan mungkin kau akan kubiarkan keluar.”

Si pria tanpa sadar berdiri di depan perempuan di sampingnya dengan salah satu tangan terbentang rendah dengan niat menghalangi. Tetapi dia sendiri tahu mereka sangat kalah jumlah.

“Anda sangat lancang, anda tahu.” Si pria berkata. Meski dia emosi, tetapi dia menahan diri untuk tidak menembaknya seketika.

Pria di depan mereka tertawa. “Dan kau lucu sekali, kau tahu. Lihat siapa di sini yang bisa mampusin lo berdua!”

Itu tepatnya alasan pria tersebut menahan diri. Dia tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya, tetapi dia tidak akan mengambil risiko baku tembak demi rekan di sampingnya. Dia diam memikirkan balasan apa yang bisa dipakainya untuk mengulur waktu untuknya agar bisa memikirkan rencana apa pun agar bisa keluar dari kepungan ini.

Tiba-tiba perempuan di sampingnya berjalan pelan ke depan. Rekannya tersentak dan langsung meraih pergelangan tangannya. “Apa yang kau pikirkan!?”

Perempuan tersebut menoleh dan membalas, “Ich werde ihn ablenken, während du vom Dach springst. Du hast doch ein Seil, oder?

Si pria tertegun mendengarnya. Perempuan itu menyinggung sesuatu mengenai tali. Dia memang diberikan tali karena dia termasuk agen yang menggerebek dari atap sebelumnya. Masalahnya dia sudah meletakkan talinya di pinggiran atap sebelumnya. Pria tersebut melirik ke sekeliling dan akhirnya melihat serangkaian tali yang dipakainya turun sebelumnya.

Es gibt genug Seile für uns beide! Ich werde mir etwas einfallen lassen, um ihn abzulenken!” Pria tersebut berkata, menahan agar rekannya tidak mencoba mengorbankan dirinya atau semacamnya.

Tetapi setelah menatapnya selama beberapa saat, perempuan di depannya tiba-tiba menyentakkan tangannya, melepaskan genggaman si pria dan berlari ke arah orang di depan mereka berdua. Orang di depan mereka sendiri awalnya meregangkan kedua tangannya bak siap memeluknya dengan ekspresi puas, tetapi perempuan tersebut langsung mengait leher orang tersebut dan menyelinap di belakangnya selagi menodongkan pistolnya ke kepala pria tersebut.

Semua orang di atap tersentak dan sebagian langsung menodongkan senapan mereka ke agen pria tadi mencoba lari mendekat. “Tahan senjata kalian atau orang ini ku tembak!” Perempuan tersebut berteriak.

“Bajingan! Lo ngapain?!” Orang yang disanderanya berteriak kesal, menjatuhkan rokok di mulutnya. Perempuan tersebut tidak memedulikan umpatan marah sanderanya dan menatap ke arah rekan prianya yang menatapnya dengan mata terbelalak.

“Apa yang kau lakukan!?” Si pria berteriak, meski tidak berani mendekat meski selangkah saja. Perempuan tersebut hanya diam. Hanya si pria yang menyadari kalau dia mulai meneteskan air mata.

Bruder, es tut mir leid, dass ich immer eine Last gewesen bin. Seit wir klein waren, sogar bis jetzt.” Perempuan tersebut berkata.

Nein, nein, nein!” Hanya itu yang bisa dikatakan pria tersebut. Dia tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan untuk mengeluarkan mereka berdua dari situasi ini. Tanpa sadar dia berjalan mundur perlahan.

“Bangsat kalian ngomongin apaan anjing?!” Sandera perempuan tersebut berteriak kesal.

Aber ich hoffe, dass ich Ihnen dieses Mal helfen kann. Wenigstens einmal reicht mir.” Perempuan tersebut terus berkata, suaranya mulai serak karena tangisnya. Meski begitu, tangannya masih erat mencengkram sanderanya.

Bitte halten Sie sich an den Plan, okay?

Dan dengan itu perempuan tersebut menjatuhkan dirinya, menyeret pria yang disanderanya jatuh bersamanya.


Sekarang

Kendaraan Yayasan berjalan cepat menerobos hujan gerimis yang menempa. Mereka kini menempuh jalan raya yang semakin mengecil semakin jauh mereka dari pusat kota. Mereka kini mendekati Kawasan Puncak.

Awalnya kendaraan tersebut merupakan bagian dari rombongan, tetapi sekarang hanya ia sendiri yang melaju melalui jalan sepi tersebut. Yang menemani perjalanan mereka hanyalah kendaraan besar yang tidak peduli akan apa pun di depan mereka demi sampai ke tujuan, termasuk hujan ini.

Awalnya begitulah keadaannya sampai sebuah motor melaju mendekati mereka.

“Arah pukul enam, motor hitam mendekat.” Sang sopir merupakan yang pertama menyadarinya. “Heru, cek berapa banyak yang mendekat.”

“Ke pinggir sedikit, Lucy.” Heru berkata kepada peneliti junior di sampingnya selagi dirinya mencoba mengamati lebih jelas keadaan melalui kaca belakang mobil mereka. Lucy sendiri merasa sedikit sesak karena Heru memakai bagian tengah kursi belakang, dia hanya berharap dia dapat mengidentifikasi mereka dengan cepat.

“Dua orang pengendara. Mereka memakai helm dan jas hujan hitam.” Heru berkata, sayangnya masih mengamati ke belakang. “Memangnya menurutmu mereka mengikuti kita, Hansel?”

“Mereka melaju cukup cepat tadi, tetapi sekarang mereka menjaga kecepatan.” Hansel menjawab selagi terus mengamati spionnya. “Bagaimana menurutmu, Dilan?”

“Siapkan senjata semua. Hansel, tolong parkir di depan ruko itu.” Dilan membalas, dirinya sendiri mulai menyiapkan pistolnya.

Dengan perlahan kendaraan hitam yang mereka tumpangi diturunkan kecepatannya sampai mereka berhenti di sebuah ruko yang tengah tutup. Dilan lalu memerintahkan Heru dan Lucy untuk berganti posisi duduk segera. Para personel mengamati ke luar dengan tegang selagi motor di belakang mereka juga ikut melambatkan kecepatannya. Semua senjata tertuju pada kaca mobil kanan yang di mana motor tersebut perlahan berhenti.

Si pengendara mencoba mengeluarkan sesuatu dari jas hujannya yang menutupi keseluruhan badannya. Para personel bersiap untuk apa pun yang terjadi.

Dia mengeluarkan sebuah palu, dan mengetokkannya ke kaca mobil dengan pelan.

Hansel menurunkan kaca mobilnya dan berkata, “Taeyeon?”

Si pengendara motor mengangkat visor helmnya, menunjukkan bahwa dia memanglah Taeyeon. “Kalian keberatan berteduh sebentar?”


“Jadi, kenapa kau mengikuti kami?” Dilan bertanya.

Mereka semua tengah berteduh di depan ruko kosong tadi. Mobil mereka dimasukkan ke dalam dan diparkirkan untuk melindungi mereka dari publik. Hampir semuanya mengenakan pakaian taktis hitam termasuk Taeyeon yang baru datang – dia mengenakan rompi antipeluru khas penjaga di balik jas hujannya – dan akan terjadi masalah jika ada warga yang melihatnya begitu saja.

“Permintaannya.” Taeyeon menunjuk ke rekannya yang masih duduk di motor. “Dia bilang sebaiknya kita menemani mereka jika terjadi apa-apa dan semacamnya.”

“Tapi…” Dilan sedikit mendekat ke Taeyeon selagi menatap ke arah Hansel, “…Bukannya kalian baru saja…”

Taeyeon menggeleng menanggapi pertanyaan yang tidak diselesaikan Dilan. “Sarah meminta untuk mengikutinya, dan sudah kewajibanku untuk melindunginya ke mana pun itu, bukan?”

Dilan hanya menatapnya, tidak diketahui dia tengah memberikan ekspresi apa karena sebo hitamnya. “Kau memang terlalu berdedikasi, kau tahu.”

“Tidak,” Hansel tiba-tiba menyela. “Itu rasa pedulinya.”

Taeyeon hanya terkekeh. “Ku rasa memang lebih cocok disebut sebagai rasa peduli, yah…”

Hansel lalu mengacungkan jempolnya ke arah mobil Yayasan dan berkata, “Tapi kita tidak punya ruang lagi untuk kalian berdua. Ku rasa kalian tidak masalah jika tetap memakai motor?”

“Yah, tidak masalah sih.” Taeyeon mengangkat bahunya. “Tetapi bicara mengenai itu, apa mereka cuma mengirim kalian berempat saja untuk misi ini?” Taeyeon bertanya selagi dirinya mulai berkeliling, mengamati sekitar.

“Akan ku jelaskan mengenai itu nanti.” Dilan berkata selagi berjalan menuju kendaraan mereka. Dia membuka pintu mobil dan mengeluarkan peta yang mereka dapat sebelumnya. Dirinya lalu duduk bersila dan membuka peta tersebut di lantai. Beberapa personel ikut duduk maupun jongkok, sedangkan yang lain tetap berdiri.

“Kami awalnya terdiri dari lima tim. Keempat tim lain sudah ku kirim untuk mengecek titik terdekat lainnya. Kami sisanya ini akan mengecek titik di sini dulu.” Katanya selagi menunjuk sebuah titik dekat Kawasan Puncak.

“Setidaknya kita tidak lagi jadi satu target empuk.” Heru menanggapi. Dia memang tidak suka jika rombongan Yayasan saling terpisah.

“Semakin cepat semakin baik, kau tahu.” Dilan membalas. Dia lalu menoleh ke arah Taeyeon. “Apa dia mengetahui sesuatu mengenai markas ayahnya dulu di sana?” Katanya selagi menunjuk ke Sarah yang duduk di motor.

“Sebentar.” Lawan bicaranya membalas singkat. Dia berjalan ke arah mantan anggota KDP tersebut dan berbicara pelan satu sama lain. Akhirnya dia kembali dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Dia bilang dia cuma tahu yang di Jabodetabek. Itu pun sudah diberi tahukannya dulu.”

“Begitu ya…” Dilan terlihat berpikir. Dia melipat kembali petanya merasa ia tidak lagi diperlukan. “Tapi semoga saja karena tempat itu terisolir, kita bisa menemukan sesuatu. Apa pun itu.”

Dia lalu berdiri dan berkata, “Kita langsung saja, kalau begitu. Kau benar-benar tidak apa-apa kalau naik motor di tengah hujan ini?”

Taeyeon kembali mengenakan jas hujannya. “Tidak masalah. Kami akan mengikuti dari belakang.”

Dengan itu, tim yang terdiri dari empat personel sebelumnya tadi kembali masuk satu persatu ke mobil sebelum melaju dari tempat itu. Personel lain yang mengikuti mereka tadi kembali mengikuti di belakang dengan motornya.

Mengikuti jalur peta usang yang mereka punya, kendaraan Yayasan kemudian mengambil jalan yang sudah jarang dilalui karena sudah ada penggantinya. Selain rumah sederhana dari kayu, terdapat pula beberapa bangunan dari beton yang mulai ditumbuhi tanaman di pinggirnya.

“Jadi, bangunan mana yang kita cari?” Heru memutskan untuk bertanya.

Dilan membuka kembali petanya dan memandanginya untuk beberapa saat. Dia lalu menjawab, “Seharusnya ada tulisan nomor 1620 di sana. Itu saja penanda yang tertera di peta ini.”

“Kemungkinan bangunan yang kita cari adalah semacam ruko atau apa pun yang sebesar itu.” Hansel tiba-tiba menambahkan. “Mereka perlu ruangan yang cukup besar untuk ritual mereka. mereka juga perlu banyak ruangan seukuran serupa untuk menjalankan beberapa ritual sekaligus dan menampung barang curian mereka.”

“Begitu ya…” Dilan mengangguk mendengar penjelasan Hansel. Mereka lalu mengutamakan pencarian ke setiap ruko tua yang mereka temui. Beberapa tidak lagi memiliki nomor karena usia atau semacamnya, membuat mereka terhenti sesaat dan mengecek bangunan lain di sekelilingnya yang memiliki nomor.

Nomornya pun semakin menurun, dari 1700-an, mereka terus berlalu sampai mencapai rumah bernomor 1650-an beberapa puluh menit kemudian.

Itu sampai Hansel tiba-tiba berkata, “Ketemu!”

Semua personel di mobil segera menoleh ke kanan, mengikuti pandangan Hansel. Terdapat tiga buah ruko tua saling terhubung yang terdiri dari lima lantai, sepertinya ia dulu bercat biru dan kuning sebelum terkelupas parah dan ditutupi tumbuhan merambat.

“Kau yakin?” Dilan memastikan, meski dia juga ikut menghitung kemungkinan nomor rumah berikutnya bersama Hansel. Tentu saja Hansel mengangguk sekilas dengan yakin sebelum mengarahkan mobil mereka ke halaman bangunan tersebut. Halaman bangunan itu sendiri bisa dibilang cukup luas sehingga paling tidak enam mobil bisa parkir di halamannya. Mobil Yayasan parkir terlebih dahulu di depan pintu masuk ruko tersebut, diikuti motor Taeyeon di samping mereka.

Satu persatu personel mulai keluar dari mobil. Lucy merasakan bagaimana hujan masih belum berhenti sejak tadi melalui tangannya yang menangkap tetes demi tetes yang dijatuhkan gerimis di atas mereka. Tentu saja mereka tidak berlama-lama dan menunggu intruksi siapa pun untuk masuk ke dalam bangunan untuk berteduh.

Dilan dan Hansel dengan cepat mencoba mengangkat paksa pintu besi ruko paling tengah yang sudah berkarat dengan paksa. Taeyeon lalu mendekat dan memukul kunci pintu di bawah dengan palunya, yang menghancurkannya dengan cepat, memudahkan upaya mereka mengangkatnya ke atas.

Yang menunggu mereka di balik rolling door berkarat ruko ternyata adalah pintu harmonika, lengkap dengan rantai besi yang mengikat kedua daun pintu sebagai pengamanan ekstra. Serangkaian jeruji besi tersebut dalam keadaan yang lumayan baik pula karena terlindung dari cuaca, sepertinya. Kedua agen terdepan melangkah mundur dan membiarkan Taeyeon bekerja dengan palu andalannya.

Setelah beberapa saat ‘memaksanya’ terbuka, Taeyeon akhirnya mampu melepas rantai besi yang mengikat kedua pintu tersebut dan mendorongnya untuk terbuka. Mereka lalu akhirnya bisa masuk ke dalam. Area dalam ruko sendiri lumayan kosong tanpa adanya furnitur apa pun. Serpihan langit-langit yang mulai rapuh memenuhi lantai beton tanpa keramik bangunan tersebut.

Jelas tidak ada listrik di ruangan tersebut, jadi berapa kali pun agen Yayasan membalik sakelar lampu ruangan, tidak akan berfungsi sedikit pun. Langit gelap di luar sama sekali tidak menerangi ruangan pula, meskipun seharusnya sudah mendekati pukul dua siang.

Satu per satu personel mulai menyalakan senter mereka dan mengamati sekeliling ruangan. Satu hal yang pertama mereka sadari setelah adanya penerangan adalah lantai beton ruangan tersebut sudah diukir dengan sebuah linkaran yang dihiasi pola abstrak simetris di dalamnya.

“Ini memang tempatnya, ternyata…” Hansel menggumam. Dilan lalu berteriak, “Baik, menyebar dan kumpulkan dokumen apa pun yang kalian dapat di sini!” Sebelum dia dan Hansel berjalan menuju tangga yang berada di pojok ruangan.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari sisi samping. Taeyeon tengah mencoba memukul dinding bangunan dengan palunya untuk beberapa kali, membuat suara gema nyaring memenuhi ruangan sunyi tersebut.

“Sepertinya tidak ada cara untuk ke ruko sebelah selain lewat depan juga.” Taeyeon akhirnya berkata, sepertinya terganggu juga dengan suara pukulannya sendiri. Dia menuntun Sarah berjalan selagi berkata, “Kami ikut ke atas, kalian bagaimana?”

Lucy memandang ke arah Heru yang juga tidak tahu harus mencari apalagi di ruangan tersebut. Akhirnya mereka berdua mengiyakan dan ikut ke atas pula.

Di lantai kedua sendiri terdapat lebih banyak furnitur seperti sofa dan lemari, meski mereka cukup berdebu dan hancur dimakan rayap sekarang. Terdapat jendela di lantai ini sekarang, meski tertutup papan kayu dari dalam. Jika dibuka pun hanya akan menunjukkan pemandangan mendung langit siang sebelumnya dan bisa saja membuat air hujan masuk ke dalam.

Dilan dan Hansel sepertinya baru selesai menarik paksa laci terakhir di ruangan itu dan mengeluarkan beberapa perhiasan kecil. “Kami langsung ke lantai tiga.” Mereka berkata selagi melewati Lucy dan Heru yang hanya menggeleng.

“Kami baru tiba…” Gumamnya. Mereka melirik ke sekeliling ruangan dan mengamati bahwa tidak ada satu pun yang bisa digeledah di sini selain membalik furnitur yang ada. Taeyeon sepertinya baru selesai mengecek di bawah sofa dan beralih ke arah lemari. Heru memutuskan untuk ikut membantunya menurunkan lemari tersebut.

Lucy menebak dari banyaknya anak tangga sebelumnya dan tinggi bangunan yang dilihatnya dari luar sebelumnya, bangunan ini setidaknya memiliki empat sampai lima lantai. Itu pun dikali tiga karena terdapat tiga bangunan di tempat ini sehingga seharusnya terdapat 15 lantai untuk dicek. Tetapi Dilan dan Hansel mungkin bisa menyelesaikan penggeledahan sebelum sore, sepertinya.

Lucy melirik ke arah perempuan yang bersama Taeyeon, Sarah, berdiri diam selagi Taeyeon sendiri tengah sibuk menggeledah lemari di depan mereka bersama Heru. Lucy lalu perlahan mendekatinya.

“Kau keberatan menjawab beberapa pertanyaan?”

Sarah menoleh ke arah Lucy seraya berkata, “Kau yang mencoba melindungiku tadi, kan?”

Lucy reflek mengangguk sebagai jawaban, tak ingat mengenai kondisi lawan bicaranya, tetapi dia juga langsung menjawab “Iya.” juga. Dia lalu duduk di samping Sarah.

Setelah memastikan tidak ada pertanyaan lain dari Sarah, akhirnya Lucy bisa bertanya, “Jadi, saat kau berteriak tadi di depan rumahmu, apa yang tepatnya terjadi? Segalanya terjadi terlalu cepat.”

Yang Lucy ingat saat itu adalah sebuah palu tiba-tiba melesat dari arah samping ke arah kepala Hansel. Yang memiliki palu saat itu cuma Taeyeon, dan dia baru berhasil berdiri di belakangnya. Jelas sesuatu yang anomalus terjadi saat itu. Hansel sendiri mengatakan sesuatu mengenai ‘Taumaturgi ruang’ dan bagaimana Taeyeon memakainya.

“Saat Pak Taeyeon berkata kalau dia akan membuat genangan air, aku menduga dia akan menggunakan taumaturgi untuk memindahkan lemparan palunya ke arah Pak Hansel, jadi aku membantunya mengalihkan perhatian. Setelah ku rasa waktunya pas, baru aku beri sinyal dengan teriak. Sayangnya Pak Hansel menggagalkannya…” Jelas Sarah.

“Taumaturgi ya…” Lucy menggumam. Yang dia tengah ajak bicara ini adalah anak seorang kriminal tipe biru, dan sepertinya dia juga bisa melakukannya. “Apa kau yang mengajarkan Taeyeon cara melakukannya?”

“Seperti itulah.” Sarah hanya mengangkat bahu.

“Bisa… Ehm, apa menurutmu kau bisa mengajariku juga?” Lucy dengan perlahan bertanya. Persetan dengan latar belakangnya, dia penarasaran mengenai hal ini.

Sarah hanya tersenyum mendengarnya. Dia lalu berkata, “Hanya orang dalam garis keturunan tertentu yang bisa melakukannya, sepertiku.”

Dia lalu menunjuk ke arah Taeyeon yang masih menggeledah barang lain bersama Heru, secara mengejutkan arah tunjukkannya akurat. “Palunya itu yang kuberi ukiran khusus. Itu juga perlu ritual tersendiri untuk dibuat dan tidak bisa dilakukan dengan cepat. Tapi hasilnya adalah Pak Taeyeon hanya cukup mencari media yang bisa memantulkan bayangannya seperti cermin dan dia bisa melempar palunya ke mana pun yang dia inginkan melalui itu.”

“Begitu ya…” Lucy mengangguk mengerti. Dia memang menduga tidaklah mungkin semudah itu untuk dilakukan. Dia menatap ke arah Sarah yang masih menatap kosong ke arah depan. Dengan perlahan Lucy berkata, “Jika kau tidak keberatan, ada satu hal yang ingin kutanyakan yang mungkin terdengar personal.”

Sarah sendiri sepertinya berpikir untuk beberapa saat sebelum menjawab, “Tanya saja.”

“Apa… apa penyebab kebutaanmu itu karena taumaturgi?” Lucy memberanikan diri untuk bertanya.

Di luar dugaannya, Sarah sepertinya lega akan pertanyaan itu dan membalas, “Ku kira kau akan menanyakan apa tadi… Yah, memang aku tidak bisa melihat lagi karena percobaan ritual yang ayahku lakukan.”

“Ayahmu? Luca Lorenza, bukan?” Lucy mengonfirmasi, mengingat penjelasan ketua sebelumnya di rumah itu.

“Ya. Ritualnya itu yang jadi cara mereka menjarah rumah sampai akhir. Sayangnya saat pertama digunakan, tidak ada yang tahu kalau ia akan menghasilkan cahaya yang sangat menyilaukan.” Sarah berkata. Dia mengambil jeda beberapa saat sebelum melanjutkan, “Aku tidak ingat juga saat itu terjadi, hal terakhir yang kuingat adalah cahaya menyilaukan itu sebelum kegelapan total. Ku kira aku berada di dimensi lain atau semacamnya saat itu.”

“Jadi, bagaimana dengan ayahmu? Apa dia…” Lucy bertanya pelan. Mengetahui anaknya terluka karena kecelakaan yang dibuatnya pasti berat baginya.

“Oh, tidak. Dia menjadikanku bahan eksperimen ritual itu dan memberiku selamat bahwa percobaannya berhasil.” Sarah menjawab singkat. “Aku masih kecil saat itu, jadi aku tidak ingat apa tepatnya yang ayahku katakan untuk menenangkanku, tetapi sekarang semua jelas. Itulah kenapa aku yang membantu Yayasan menumpas geng ayahku sendiri.”

Lucy baru ingat kalau ayahnya Sarah seorang kriminal. Dia menarik kembali simpatinya kepada ayahnya. Sesuatu mengenai itu juga membuat Lucy teringat dengan ayahnya sendiri. Dia praktisnya yang menyebabkan Lucy sampai pada titik ini, bermain sebagai peneliti dengan Yayasan untuk membunuh bagi GOC.

Dia tidak pernah tahu apa yang tepatnya ayahnya lakukan dulu terhadap situs GOC dan kenapa, tetapi yang jelas pada akhirnya tak hanya dirinya terbunuh karenanya, Lucy sendiri beserta ibunya harus menanggung akibatnya dengan menjadi aset GOC.

“Menurutmu, kenapa ayahmu melakukan ini semua?” Lucy bertanya, merasa dirinya perlu pencerahan dari prespektif lain.

“Tentu saja karena uang, bukan?” Sarah menjawab. “Dia punya kemampuan, dia punya geng, dia punya segalanya yang diperlukan. Jelas logis jika dia menggunakan kemampuannya untuk memperkaya dirinya.”

“Begitu ya…” Lucy membalas pelan. Ayahnya dulu sudah berkeluarga sebelum dia menyerang situs GOC. Lucy rasanya sudah berumur lima atau delapan tahun saat itu.

Apa mungkin masalah keuangan, ya? Lucy larut dalam pikirannya. Dia tidak tahu banyak mengenai keadaan keluarganya saat itu dan dia tidak bertanya juga, jadi dia merasa itu merupakan kemungkinan. GOC juga bilang kalau dia bekerja bersama organisasi bernama CI saat itu, jadi teknisnya dia juga punya geng.

Dan pada akhirnya, dia memilih untuk tidaklah memikirkan masa lalu seperti biasa.

Dia lalu berdiri dan berjalan ke arah Heru yang saat ini tengah duduk di pinggir tumpukan papan bersama Taeyeon. “Jadi ini kita tidak ke atas?” Lucy bertanya kepadanya.

“Aku istirahat dulu!” Taeyeon berkata duluan, matanya terpejam dan dia terlihat kelelahan. Sepertinya menurunkan lemari tadi cukup berat bagi mereka.

“Halah, ketua dan Hansel bisa saja kok melakukan penggeledahan berdua. Kita akan ke atas beberapa menit lagi.” Heru membalas. Dia lalu menyandarkan dirinya ke dinding.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Ketua turun ke bawah dengan cepat dan melihat sisa personel tengah berkumpul dan beristirahat. “Kalian, cepat ke atas!” Hanya itu yang dia katakan. Sebuah perintah, diikuti dua buah hembusan nafas lelah yang bisa terdengar bersamaan. Mereka semua lalu berjalan menuju ke lantai tiga.

Begitu di lantai ketiga, terlihat semua lemari dan laci sudah digeledah juga. Kertas-kertas yang entah apa isinya juga sudah disusun rapi dan diletakan di atas salah satu meja, membuat tiga buah tumpukan yang tiap tumpukannya mungkin terdiri dari satu rim kertas. Para personel yang baru naik tidaklah tahu untuk apa mereka diminta naik. Ketua sendiri tengah berdiri menghadap salah satu dinding di ruangan tersebut bersama Hansel.

“Jadi, perlu bantuan apa, Pak Ketua?” Heru duluan bertanya. Mereka tahu ruangan ini sudah digeledah, jadi alasannya mungkin berkisar pada mereka harus ikut berpartisipasi untuk mencari di lantai berikutnya nanti.

“Kalian bawa dokumen di meja itu. Kita akan ke bangunan sebelah.” Ketua membalas selagi berbalik dan berjalan ke arah mereka.

Perkataannya cukup mengejutkan mereka. Itu artinya mereka sudah selesai menggeledah sampai lantai atas. Sepertinya Pak Ketua dan Hansel cuma menggeledah untuk mencari dokumen berharga saja. Para personel yang baru datang lalu satu persatu mendekati meja tersebut untuk mengambil kertas-kertas yang sudah disusun. Beberapa masih memiliki bekas jaring laba-laba di sana.

“Jadi ini bagaimana tadi?” Hansel tiba-tiba berkata. Jempolnya menunjuk ke arah dinding yang mereka hadapi tadi. jika diperhatikan lebih seksama, dinding tersebut seakan lebih menonjol dibanding permukaan di sampingnya.

“Nanti saja, kita sudah dapat yang kita inginkan saat ini.” Ketua membalas. Hansel hanya menggeleng dan berkata, “Tidak, kita punya alat kok.”

Dia lalu berjalan ke arah Taeyeon dan berkata, “Bisa kupinjam palumu sebentar?”

Taeyeon hanya menatapnya bingung meski dirinya tetap memberikan Hansel palunya. Dengan segera Hansel kembali ke dinding yang ditunjuknya tadi dan mulai memukulnya. Awalnya ketua tidak menghiraukan upayanya, tetapi dia lalu meninggalkan personel lain dan memutuskan untuk mengamati proses pembongkaran oleh Hansel.

“Menurutmu mereka menyimpan apa di dalam?” Hansel bertanya selagi memukulkan palunya.

Ketua membalas singkat, “Kau pikir aku tahu?”

“Tebak saja. Aku menebak semacam ukiran bermantra bagaimana denganmu?”

Sebelum ketua sempat menjawab, Hansel sepertinya menemukan sesuatu di balik dinding dan mulai menggali bekas pukulannya dengan tangannya. Setelah beberapa saat mengamati dengan seksama, dia mundur beberapa langkah seraya berkata pelan, “Dilan, ke sini sebentar.”

Ketua segera mendekat dan mengamati apa yang Hansel lihat. Dia berkata pelan, “Menurutmu dia dikubur di sini? Hidup-hidup?”

Mereka tengah mengamati separuh tengkorak manusia yang mencuat dari bekas pukulan Hansel. Rongga matanya yang sudah kosong bak menatap ke arah dua orang di depannya.

“Aku lebih suka berpikiran dia sudah mati dan orang-orang di sini mencoba menyembunyikan buktinya.” Hansel membalas.

Mereka berdua lalu perlahan berjalan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik ke arah sisa personel lain yang menunggu.

“Langsung ke bawah.” Merupakan perintah singkat ketua. Dan dengan itu seluruh tim perlahan turun, meninggalkan apa pun yang dua orang tadi lihat barusan.

Lantai 3 kembali hening, sebagaimana sebelumnya untuk sesaat. Dan beberapa saat kemudian, cahaya terang memenuhi ruangan diikuti raungan gemuruh.

“Apa yang-“

Scheiße!”

“Apaan itu?!”

Belum selesai para personel untuk memproses apa yang terjadi barusan, kilat halilintar kembali menerangi bangunan beserta suara nyaring gemuruhnya yang memekakkan telinga. Terlebih lagi, mereka mulai merasa bangunan bergetar saat petir menyambar.

“Turun! Turun!” Ketua berteriak selagi mendorong para personel untuk bergerak. Mereka segera menuju ke arah tangga. Anehnya petir tidaklah berhenti sama sekali dan terus menyambar bangunan. Terus saja menyambar sampai para personel kembali ke lantai dua.

“Jelas anomali!” Heru berteriak agar suaranya terdengar di tengah suara gemuruh.

“Sial, apa aktif karena tengkorak tadi?” Ketua bertanya, jelas Hansel yang ditanyanya.

“Terkutuk penyihir-penyihir sialan itu!” Hansel membalas kesal. Dia tahu dirinya mungkin yang menyebabkan serangan ini terjadi.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” Heru masih mencoba berbicara di tengah amukan gemuruh.

Ketua melirik ke arah jendela di samping mereka yang tetutup papan. Cahaya kilat sesekali menyinari ruangan melaluinya. “Kita perlu bantuan. Kita tidak akan berhasil ke mobil dalam keadaan ini.”

Dengan itu ketua segera meraih radionya dan memanggil kepada personel terdekat. Lucy yang berdiri di dekatnya merasa skeptis akan hal tersebut; mereka berada di dekat Kawasan Puncak, berpuluh-puluh kilometer dari Situs-79. Jika mereka beruntung, mungkin personel di Kawasan Puncak bisa membantu mereka.

Awalnya, ketiadaan balasan membuat semua personel terlihat pasrah. Tetapi kemudian, terdengar suara berderak dari radio tersebut.

“Agen Samson di sini, beserta Agen Senior Ermes dan Agen Adrian. Kami kebetulan berada di daerah yang sama dan kemungkinan besar sangat dekat. Tolong beri tahukan kondisinya!”

Kebetulan?! Lucy tanpa sadar mendekat untuk mendengar keajaiban tersebut. Heru dan Taeyeon juga mendekat untuk mendengarkan dengan jelas di tengah gemuruh tersebut.

“Kami tengah menyelidiki salah satu ruko terbengkalai sebagai lanjutan sebuah kasus yang kami tangani sebelumnya. Tiba-tiba petir menyambar bangunan ini berkali-kali. Bangunan ini juga mulai bergetar. Kami tidak akan bisa keluar dari sini karena petir terus menyambar tempat ini! Mohon bantuan kendaraan besar untuk membuat jalur pelarian!” Jelas ketua sekeras yang dia bisa.

Lucy tertegun mendengar hal tersebut. Meskipun keajaiban terjadi, mereka masih perlu lebih banyak lagi agar bisa keluar dari sini hidup-hidup. Menunggu kendaraan besar untuk mengevakuasi mereka di tengah sambaran petir ini jelas akan memakan waktu meski personel bantuan tadi berada tepat di seberang jalan.

Radio berderak lagi. “…Coba kalian cari sebuah keris di lantai dasar ruko.”

Sebuah perintah aneh, tetapi sebelum ada yang bertanya, ketua segera berlari ke bawah, diikuti personel lain. Begitu sampai di lantai satu, tepat di tengah lingkaran ritual yang terukir di sana, terdapat sebuah belati tertancap. Benda itu jelas tidak ada tadi.

“Seseorang jelas ke sini.” Heru berkata selagi dia turun bersama personel lain.

“Kami menemukannya! Bagiamana kalian tahu dan apa yang harus kami lakukan dengannya?” Ketua kembali bertanya selagi mendekati keris tersebut.

“Tendang sejauh mungkin! Lakukan secepat mungkin juga” Tiba-tiba terdengar suara lain dari radio. Ini diikuti suara sebelumnya yang berkata, “Kami bersama Peneliti Junior Balefire di sini. Dia meminta kalian untuk menendangnya sekuat tenaga dengan cepat!”

“Harus ditendang! Kalian akan tersambar jika mencoba mencabutnya!” Suara kedua menambahkan.

Ketua melirik ke arah personel di kiri dan kanannya sebelum dirinya memutuskan kalau dia sendiri yang akan melakukannya. Dia menendangnya sekuat tenaga, membuat belati itu terlempar jauh sampai ke luar bangunan.

Dan petir yang sedari tadi menyambar tiada lagi terdengar.

“Benar-benar berhenti…” Heru merupakan yang pertama bicara, sepertinya reflek untuknya sendiri.

Dengan segera ketua meraih radio kembali dan melaporkan, “Sepertinya itu berhasil. Katakan posisi kalian agar-“

Belum sempat ketua menyelesaikan pertanyaannya, seluruh bangunan tiba-tiba bergetar hebat bak sudah tidak tahan lagi menopang bangunan. Pintu depan tiba-tiba tertutup dengan sendirinya, jeruji besi yang awalnya menghambat mereka masuk juga seketika saling menutup dengan kekuatan hebat sampai bagian depan kedua daun pintu harmonika itu penyok. Hansel hanya memberi sumpah serapah dalam bahasa Jerman, jelas mengetahui ini mungkin disebabkan semacam mantra taumaturgi.

Ketua meletakkan radionya kembali tanpa menghiraukan suara derak dari radio yang menanyakan situasinya. “Kita terjebak, apa kita coba terobos keluar saja?” Dia berkata kepada sisa tim.

“Sebentar, aku ada ide,” Hansel dengan reflek mengangkat tangannya. “Taeyeon, apa menurutmu Sarah bisa memakai lingkaran ritual di bawah?”

Sarah hanya menggeleng sebelum Taeyeon sempat bertanya. “Perlu banyak orang, saya sudah lama lupa cara mengajarkan orang memakainya.” Dia mengaku dengan pelan.

“Baik, oke! Wunderbar! Kita punya anak keturunan pengguna taumaturgi ruang dan dia tidak berguna!” Hansel berbalik dengan nada kesal. Taeyeon awalnya mau membantahnya, tetapi dia melihat Hansel tengah memikirkan sesuatu.

“Apa setidaknya kau bisa membuat portal?” Hansel berbalik untuk bertanya lagi.

“Aku- aku perlu medium. Aku tidak bisa membuat lingkaran portal langsung.” Sarah membalas dengan gugup, takut mengecewakan lagi.

“Media cermin, bukan?” Hansel berkata.

“Ya, benar! Saya bisa menggunakan itu, Pak!” Sarah menjawab dengan semangat. Taeyeon yang awalnya mau bertanya ke Sarah lalu berbalik bertanya ke Hansel, “Tapi menurutmu kita bisa menemukan cermin di sini?”

“Aku ada ide, tetapi kita perlu mencobanya di lantai dua.” Balasnya, seraya dirinya mulai berlari, tidak menghiraukan getaran bangunan yang semakin meningkat. Para agen mengikutinya satu persatu.

Di atas, Hansel langsung berlari ke arah jendela yang tertutup papan sebelumnya dan mulai melepasnya. Di baliknya, jendela itu sendiri dalam keadaan baik, meski berdebu di sisi dalamnya.

“Kalian bantu aku mencabut jendela ini! Jangan sampai pecah!” Hansel berkata selagi menghancurkan bingkai kayu jendela tersebut dengan pisaunya. Taeyeon juga ikut dengan memukulkan cakar palunya ke bagian bawah bingkai. Ketua dan Heru juga mengeluarkan pisau standar mereka dan mulai mencongkel. Sepertinya ia sudah cukup termakan usia karena tak lama kemudian Hansel berhasil mengeluarkan kaca jendela tersebut dengan aman.

Lucy dan Sarah berlari mengikuti keempat agen Yayasan yang dengan cepat menggotong kaca tersebut menjauh dari cahaya luar yang masih bisa dibilang redup. Setelah diletakkan di meja, Hansel berkata, “Baik, dengan kontrasnya cahaya luar dan dalam ruangan, kita bisa melihat pantulan bayangan kita meski sangat samar. Tetapi itu dihitung cermin, kan?”

Sarah hanya menunjukkan ekspresi ketidaktahuannya. “Akan ku coba, tetapi aku perlu benda tajam untuk mengukir kaca ini.” Dia berkata. Hansel segera memberikan pisau yang dipegangnya tadi. Dengan gugup dia mengukir pinggiran kaca selagi merapalkan mantra secepat yang dia bisa. Para personel mundur dengan tatapan berharap. Lucy hanya berdoa apa pun yang tengah mereka lakukan berhasil.

Dengan segera, ukiran yang dibuat Sarah berkilau. “Oke sudah!” Sarah berjalan mundur dan mencoba mengembalikkan pisau Hansel. Hansel sendiri meraihnya begitu menyadarinya. Dengan cepat cahaya berkilau tadi memenuhi seluruh cermin sebelum meredup. Dan begitu meredup, kaca tadi bukannya menampilkan dinding bangunan di belakangnya, tetapi sebuah ruang tamu.

“Itu kan…” Lucy perlahan menyadari apa yang ditampilkan kaca tersebut. “Ya, bagian dalam kediaman Sarah. Dia pasti memikirkan itu saat membuatnya tadi, meski aku terkejut dia berhasil mengingat posisi furniturnya sehingga lokasinya akurat.” Hansel melanjutkan, mengonfirmasi rasa familiar Lucy akan seluruh bagian tempat tersebut. “Portalnya bekerja, Sarah!”

Sarah terlihat lega mendengarnya. Terdengar juga sorakan senang para personel di belakangnya. “Jadi siapa yang duluan masuk?” Ketua segera bertanya.

“Seseorang yang jelas tidak seharusnya di sini.” Hansel berkata cepat. Dia berjalan ke arah kaca tersebut.

“Hey, hey! Hansel, apa yang kau lakukan!” Ketua bertanya selagi berlari mendekat, Hansel memegang kaca tersebut dan dengan segera memukulkannya ke kepala Sarah…

…Yang tiba-tiba hilang seakan kepalanya mememasuki kaca tersebut. Hansel menurunkan kaca tersebut dengan cepat sampai ke kakinya, yang tiba-tiba kaca tersebut pecah begitu Sarah sepenuhnya masuk ke kaca.

“Apa-apaan tadi?!” Taeyeon bertanya dengan panik selagi memegang rompi Hansel.

“Portal yang menggunakan medium seperti kaca hanya bisa digunakan sekali saja. Kita hanya bisa mengirim satu orang keluar dengan aman.” Hansel membalas dengan tenang. “Ku kira kau senang akan itu.”

“Kau- kau serius?!” Taeyeon berkata tak percaya seraya salah satu kakinya berlutut, perlahan melepas pegangannya dari rompi Hansel. “Maaf, aku- aku mengira kau tadi-“

“Simpan itu untuk nanti. Alasan aku mengirimnya pergi adalah karena ku rasa kita hanya bisa menjalankan rencana awal tadi saat ini.” Hansel membantu Taeyeon berdiri secepatnya. Mereka bisa mendengar gemuruh nyaring dari lantai lima seakan lantai tersebut tengah hancur.

“Tunggu, apa?” Ketua reflek bertanya dengan bingung.

“Kita cuma bisa mencoba mendobrak keluar sekarang.” Balasnya.


“Satu, dua, tiga!” Ketua berteriak.

Dan dengan itu, semua personel termasuk Lucy berlari mendobrak jeruji besi di depan mereka. Ini upaya kedua mereka. Sepertinya terbayarkan karena mereka bisa merasakan pintu tersebut bergoyang maju ke depan sedikit.

“Sekali lagi!” Ketua berkata selagi berlari ke ujung ruangan, diikuti agen lainnya. Saat mereka mengambil ancang-ancang, tiba-tiba retak besar muncul di dinding di belakang mereka, jelas berasal dari atas.

“Satu, dua, tiga!” Ketua berkata lebih cepat dari sebelumnya, menyadari mereka tidak punya waktu lagi. Dengan sekuat tenaga mereka lari secepat mungkin agar bisa mendobraknya bersamaan, termasuk Lucy yang menyayangkan kenapa dirinya tidak menerima pelatihan lari dari GOC dulu.

Pada dobrakan ketiga, mereka tidak hanya berhasil menghancurkan pintu harmonika tersebut sampai terlepas dari engselnya, tetapi juga berhasil mendobrak rolling door berkarat di sisi lainnya sehingga ikut hancur.

Para agen yang begitu menyadari tengah diguyur hujan deras segera berdiri dan berlari sejauh mungkin agar tidak terkena reruntuhan bangunan.

Hanya ketika mereka cukup jauh dari bangunan baru mereka berbalik dan menyadari apa yang tepatnya tengah terjadi dengan bangunan itu.

Lantai lima sampai tiga sudah hancur, menyisakan rangka betonnya yang setengah berlapis betonnya itu sendiri. Yang membuat mereka menatapnya dengan gugup adalah bahwa rangka beton tersebut bergerak liar seakan mereka adalah lengan makhluk hidup.

Lantai dua akhirnya hancur, dengan rangka beton lantai tersebut mencuat dan bergerak liar mengayunkan rangka di atasnya. Saat itulah mereka melihat tepat di tengah ‘bangunan’ tersebut, terdapat sebongkah bagian bangunan yang tersisa, sepertinya terletak di lantai tiga.

“Tulang tadi…” Hansel menggumam pelan.

Tiba-tiba, terdengar suara mobil mendekat dari arah jalanan. Suara klakson mobil hitam khas Yayasan seakan mencoba mengalahkan suara gemuruh yang tengah dibuat bangunan di depan mereka.

Dengan cepat mobil tersebut masuk ke pekarangan ruko, tepat di samping para personel yang baru keluar tadi.

Tiga orang personel berseragam agen lapangan dan seorang berjas peneliti keluar dari mobil. Yang memakai jas lab merupakan yang paling berbeda karena hanya dia yang mengenakan masker gas.

Dengan suara serak karena masker gasnya, dia berkata pada personel di sampingnya, “Menurutmu ini ulah tumbal yang disinggung sebelumnya tadi?”

Kronik Situs-79

Bab 6: Remah Roti
« Rumah Kecil Untuk Berteduh | Di Kandang Nenek Sihir | Pelangi Setelah Hujan »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License