Di Depan Gerbang Neraka
rating: +8+x

Pepohonan tinggi nan gelap yang berdiri diam mengamati pinggir jalan raya yang memotong hutan berhembus pelan seiring dengan berbondong-bondong awan mendung di atas langit. Bagai para penjaga zaman dahulu, mereka berdiri tinggi tegak di sisi kiri dan kanan jalan tersebut. Mereka tua, lebih tua dari jalan yang telah dibangun di atas sisa tebangan sesama mereka saat pembangunan. Hanya alam yang tahu apakah mereka merencanakan pembalasan atas itu atau hanya tetap diam sampai waktunya.

Angin malam berhembus pelan melalui pepohonan tersebut, berhembus pelan melalui jalan di tengahnya. Membawa daun yang telah gugur setelah bertahan selama yang mereka bisa untuk melayani pohon mendapatkan tenaga dari sang surya ataupun mereka yang terlalu lemah untuk melakukannya.

Di atas itu semua, langit malam itu hampir cerah, dengan bulan bersinar terang meski tertutup awan tipis yang akan disapu oleh angin dalam beberapa jam, membersihkan langit untuk sesaat. Tetapi angin yang sama tengah membawa sekumpulan awan besar nan gelap yang akan menutupi bulan tersebut dalam beberapa saat, membawa miliaran tetes air hujan yang siap untuk dijatuhkan.

Di bawah itu semua, sebuah mobil van hitam melaju di jalan raya, menembus gelapnya malam yang menyelimuti hutan karena minimnya lampu jalanan, hanya dengan bermodalkan lampu depan kendaraan. Bagai lari dari serbuan awan mendung, van tersebut melaju membalap kecepatan angin yang membawa mereka.


“Pengecekan terakhir, kita hampir sampai.”

Seorang pria dengan pakaian taktis hitam berkata. Cahaya redup van menemani matanya yang tertutup helm untuk mengamati senapan yang dipegangnya.

Tiga suara membalas secara berurutan.

“Siap”

“Sudah siap”

“Aman”

Ada lima orang dalam van, minus pengemudi van sendiri.

“Dok?”

Pandangan keempat orang dalam van tertuju kepada yang ditanya. Seorang pria yang, tidak seperti penumpang lain yang memakai pakaian taktis, hanya mengenakan rompi antipeluru dan kemeja putih.

Dia tertunduk diam mengamati handgun yang digenggamnya sebelum mendongkak.

“Aku berpengalaman menggunakan ini, tuan-tuan.”

Dan berbeda dari penumpang lain yang menggunakan helm taktis dan masker bandana hitam. Dia mengenakan masker gas.

“Yah. Pengecekan terakhir selalu penting dalam misi, dr. Zakaria. Jika terjadi apa-apa denganmu, aku yang kena imbasnya.” Orang yang bertanya tersebut membalas. Dia pun kembali duduk bersandar.

Empat orang duduk saling berhadapan dengan satu orang berdiri di ujung. Dalam cahaya redup van mereka menunggu sampai ke tujuan.

“Tidak kusangka setelah insiden di fasilitas, kita kembali ke lapangan. Kita berdua, Assessment Team, kau menyangkanya, Shat?” Salah satu orang berbicara. Dia duduk berhadapan dengan yang ditanyanya.

“Kurasa kita berdua pantas mendapatkannya, Tered. Tapi personel internal juga diberi jabatan ini mengejutkanku. Bagaimana rasanya, Min?” Dia bertanya kepada orang di sampingnya.

Tidak ada balasan. Orang yang di sampingnya hanya menatapnya diam.

“Bertahun-tahun di Indonesia seharusnya membantumu mengerti sepatah dua patah kata, Min. Kau, nak? Kau dipanggil De, bukan? Bagaimana denganmu?” Dia kembali bertanya, kali ini kepada orang yang berdiri di ujung van.

“Berada di lapangan? Membuatku gugup, jujur saja, Pak.”

“Oh, tidak perlu memanggilku ‘pak’. Kami berdua dulu cuma agen lapangan biasa. Kurasa atasan melihat potensi kita selama insiden di fasilitas. Kalian berdua juga. Sayangnya dr. Zakaria tidak termasuk. Ya kan, dok?”

Sang dokter mengangguk. “Seperti yang dirincikan sebelumnya, aku cuma bertugas mendampingi misi ini. Kebetulan aku mengenal baik target kita.”

“Yah, kurasa promosi hanya diberikan kepada yang beraksi selama insiden, bukan bermaksud menyinggung, dok.”

Zakaria hanya tertawa pelan.

Mereka berlima saling diam untuk beberapa saat, merasakan guncangan kecil kendaraan yang tengah mereka naiki.

“Omong-omong, aku pernah mendengar mengenai beberapa tradisi Assessment Team di Amerika. Salah satunya adalah kode nama-”

“Nah, tidak. Kita bukan anak-anak lagi, Tered.” Dia menyela.

“Tidak, aku serius untuk ini, Shat. Katanya ini membantu di lapangan sehingga tidak bisa dikenali orang lain.”

“Kita sudah menjadi agen lapangan selama empat tahun, kenapa kita memerlukannya sekarang?”

“Entahlah, kurasa kita pantas mendapatkannya.”

Hening sejenak di antara kedua orang itu.

“Lagi pula, kudengar yang memberi kode nama tiap anggota itu sesama anggota lainnya, bukan dia sendiri.” Dia menambahkan. “Dan yang kudengar, tidak ada yang menyukai kode nama yang diberikan kepadanya.”

Lawan bicaranya berhenti bersandar dan mulai duduk tegak, “…Baiklah kawan, karena kau memaksa. Kau kupanggil Monyet tidak masalah, kan?”

“Eh, sialan, jangan itu juga lah! Ng, harus ada alasan kenapa kode namaku begitu. Lagi pula, anggota lain harus setuju juga!”

Orang di depannya diam sejenak sebelum berkata, “Tampangmu bisa dihitung sebagai alasan?”

Orang yang duduk di depannya secara reflek langsung tertawa. Orang yang berdiri di ujung juga sempat tertawa sejenak sebelum menghentikannya dengan cepat dan melirik ke arah lain. Terdengar suara nafas berat dan cepat dari masker gas yang dikenakan Zakaria yang duduk bersama mereka sejenak sebelum dia juga melirik ke arah lain. Orang yang duduk diam sebelumnya tetap diam, tidak terdengar suara darinya.

“Oh, sekarang baru kalian memiliki rasa humor… Tapi alasanmu tadi itu subjektif, Shat. Dan juga kode namanya harus dalam bahasa Inggris-“

“Yah, yah. Kurasa aku punya alasan yang baik sekarang.” Orang di depannya memijit dahinya sendiri. “Kode namamu sekarang adalah ‘Chimp’ alias simpanse karena kau banyak bicara.”

Sekali lagi, terdengar suara tawa kecil di antara mereka. Orang yang baru saja diberi julukan Chimp tersebut melihat ke arah penumpang lain selagi menggeleng.

“Jadi, apa ada sanggahan?”

Orang yang berdiri di ujung langsung menggeleng, “Saya ikut saja pilihan kalian.” Orang yang duduk diam sebelumnya masih diam, meski dia menggeleng pelan. Entah dia tersenyum atau tidak di balik penutup mukanya. Zakaria juga menggeleng, “Tidak, kalau boleh ku katakan, tuan, engkau merangkum seluruh sifatnya dalam satu kata. Itu dari pandangan psikologisku.”

“Pendapatmu tidak dihitung, dok.” Chimp berkata dengan kesal.

“Yah, tapi seperti katamu, Tered. Suara mayoritas tidak menolak usul ini. Selamat datang di Assessment Team, ‘Chimp’.”

“Baik, baik, aku terima kode nama itu. Sekarang giliranmu, Shat.” Chimp memperbaiki posisi duduknya, “Aku memikirkan untuk memberimu kode nama ‘Dog’ karena kau tak berhenti menggonggong dari tadi. Nah tidak, ‘Bulldog’, karena mukamu mirip dengannya.”

Orang di depannya tertawa pelan selagi kembali bersandar, “Bukan kode nama yang buruk. Ada sanggahan?”

Para penumpang kembali menggeleng.

“Baik, kurasa kalian bisa memanggilku Bulldog sekarang. Harus kuakui Te- Chimp, ini memang menyenangkan.”

Bulldog kemudian melirik ke orang di sampingnya, si pendiam.

“Baik, giliranmu, Min. Aku ingin memanggilmu Korean, tapi itu terlalu harfiah dan terlalu baik untukmu. Aku juga tidak ingin kena disipliner untuk beberapa kode nama lain yang ada dalam pikiranku.”

Orang di sampingnya hanya diam sebelum melihat ke arah lainnya, menggumamkan sesuatu dalam bahasa Korea.

“나는 자살 임무의 일부를 맡지 않을 것이다…”

“Baik, kuberi kau kode nama ‘Pole’. Kau pria yang dingin dengan tampang pucat dan tidak dipedulikan bagai tiang listrik.”

Orang yang Bulldog juluki Pole hanya meliriknya sejenak sebelum kembali menghadap ke arah lain.

“Sheesh, jika misi ini selesai, kau perlu konseling, Pole.” Zakaria berkomentar. “Tenang saja, aku akan pakai Google Translate.” Dia menambahkan.

Bulldog dan Chimp tertawa, sedangkan Pole tetap tidak merespons.

“Baiklah, tidak ada sanggahan atau komplain,” Bulldog melirik ke arah personel di ujung, “Sekarang giliranmu, kawan. Kau pria baik, tapi kau orangnya terlalu patuh, jujur saja. Ku beri kau kode nama ‘Puppy’.”

Orang yang diberi julukan Puppy tersebut tersentak sejenak sebelum menunduk dan berkata, “Tidak apa-apa, Pak.”

“Heh…” Bulldog melirik ke seluruh ruangan dan tiap penumpang, “Kurasa sudah semuanya.”

“Bagaimana dengan sopir kita? Dia anggota Assessment Team kita juga, kan?” Chimp bertanya.

Bulldog menggeleng sejenak, “Masalahnya aku belum berkenalan dengannya. Nanti saja setelah misi selesai.”

“…bagaimana dengan si dokter ini?” Chimp kembali bertanya.

“Oh, tidak terima kasih, tuan-tuan. Simpan julukan absurd kalian untuk kalian sendiri.” Zakaria langsung memotong.

“Kau tahu, awalnya aku ingin bilang kau tidak perlu kode nama, tapi kau membuatku kesal, jadi akan kupikirkan sebentar.” Bulldog kembali duduk tegak.

“Oh sialan…” Sang dokter memalingkan muka.

“Kau cuma duduk diam dan banyak komentar… Tempat sampah? Tong kosong nyaring bunyinya… tapi tidak cocok kalau dalam bahasa Inggris…” Bulldog terlihat berpikir keras. Setelah menggumam beberapa saat, dia bersandar dan berkata, “Kata yang bisa kupikirkan untuk menggambarkan dirimu hanyalah segulungan Jerami, tergeletak diam begitu saja. Apa istilahnya itu… ‘Hay bale’? Yah, kau beruntung, dok.”

Zakaria hanya tertawa pelan, “Heh, itu tidaklah buruk… ‘Bale’… aku penyukai kata itu.”

Bulldog membalas, “Sungguh disayangkan kau bukan anggota tetap. Jadi nikmati saja panggilanmu selama misi ini, dok. Siapa yang tahu saat kau bertemu kita lagi, aku menemukan panggilan yang bagus untukmu.”

“Ku harap hari itu tidak akan datang.”

Seketika radio Bulldog berderak. Dia meraih radionya dan berkata, “Ya, ada apa?”

Suara dari radio membalas, “Seharusnya aku yang bertanya, kalian berisik sekali di belakang sana. Van ini bergoyang beberapa kali karenanya.”

Bulldog hanya tertawa selagi berkata, “Tidak pernah mengangkut manusia sebelumnya, kawan.”

“Hmpf. Persetan apa maksudnya itu. Sebaiknya kalian sudah siap, kita sudah sampai di tujuan.”

Dan radio pun diam.

Begitu juga dengan seluruh penumpang van.


Sebuah van hitam bergerak pelan sebelum berhenti sepenuhnya di sebuah tanah lapang yang dipenuhi rumput yang sebagian besar pendek dan semak belukar yang tumbuh liar tidak terurus. Tanah lapang tersebut terletak beberapa meter dari jalan raya, mengharuskan van tersebut menyimpang dari jalan dan menerobos ke rerumputan.

Setelah berhenti, pintu belakang van terbuka dan lima orang pria keluar dari dalam van, dengan dua orang berjalan ke sisi kanan van dan tiga lainnya ke sisi kiri van yang menghadap ke lapangan. Begitu selesai mengecek sekeliling lokasi, mereka berkumpul dan mengamati lapangan kecil tersebut.

Sentar mulai dinyalakan untuk mendapatkan penglihatan yang baik akan lokasi. Tidak ada sumber cahaya selain dari van yang mereka telah tumpangi. Dengan jangkauan jauh yang bisa disinari oleh sentar pada senapan mereka, mereka melihat ke sekeliling lapangan.

Semak belukar mengelilingi tepian lapangan, membatasinya dengan hutan yang berada di belakangnya. Beberapa kuncup bunga bertebaran di sisi kanan lapangan, menunggu matahari menyinari mereka.

Ada dua hal yang janggal dan mencolok dari pemandangan natural lapangan tersebut. Sebuah tiang kecil dari besi berkarat menjulang tinggi, nyaris menyamai tinggi pepohonan. Di bawahnya, sebuah gubuk kecil dari kayu ditumbuhi tanaman merambat di segala sisinya.

“Itu hunian target kita, dok?” Chimp bertanya.

Sang dokter mengangguk. “Sudah lama sejak aku ke sini. Seingatku, gubuk tua itu tidak ditumbuhi tanaman sebanyak itu… Tetapi jika informasi yang kalian dapat itu benar, bisa jadi dia masih di sini.”

Mereka pun mulai berjalan perlahan setengah menunduk selagi memegang senapan mereka. Semua, terkecuali sang dokter yang berjalan tegak dan pelan, mengikuti dari belakang.

“Kau mengenalnya, Haybale. Apa ada sesuatu yang tidak atasan beritahukan saat briefing di markas tadi?” Kini Bulldog yang bertanya.

“Beberapa.” Mereka berhenti dan mulai menyebar di depan gubuk tersebut. Pintu depan gubuk tersebut terlihat rapuh dan bisa hancur dengan sekali tendangan.

“Kalian dan beberapa warga lokal mengenalnya sebagai Mbah Sudarman saat briefing tadi. Seseorang dukun yang mampu melihat masa lalu dan mencoba memprediksi masa depan. Tetapi yang tidak kalian ketahui adalah nama aslinya adalah Citrus Letcherman. Ex-dosen ISCUT cabang Singapura yang dipecat bertahun-tahun lalu karena terbukti pro-Serpent Hand.”

“Apa dia berbahaya?” Puppy bertanya selagi menoleh ke arah Zakaria.

Sang dokter berdiri di samping mereka, masih belum mengambil pistol yang dia simpan di belakangnya.

“Tidak,” dia menggeleng membalas pertanyaan mereka. “Tetapi ada kemungkinan. Aku belum tahu apalagi yang bisa dia lakukan selain membuat ramalan sampahnya. Dia pria tua yang gila, kau tahu.”

“Sungguh meyakinkan, Haybale.”

Dan tanpa aba-aba, dua orang menendang pintu tua itu dan langsung masuk ke dalam, diikuti dua orang lainnya. Zakaria hanya berdiri di sana, menunggu mereka keluar.

Sesaat kemudian, mereka menyeret seorang kakek tua dari dalam gubuk. Pakaiannya cuma kemeja hitam dan sarung cokelat. Dia hanya tertunduk lemah selagi dua orang yang menahannya menghadapkannya ke sang dokter.

“Ada yang ingin kau sampaikan padanya, dok?”

Sang dukun mengangkat mukanya untuk melihat siapa di depannya, seorang pria dengan rompi dan masker gas.

Sang dokter melihat ke arahnya.

”Ingat aku, kakek tua keparat?”

Sang dukun hanya menatapnya, tidak ada ekspresi yang ditampilkan muka tuanya kecuali bibirnya yang berkata, “Zakaria…”

“Tepat sekali. Kau tidak tahu betapa aku ingin melihatmu seperti ini.”

Sang dokter terdiam sejenak.

”Sejak kau mengungkap segalanya.”

Akhirnya dia menunjukkan ekspresinya. Tetapi bukan seperti yang diharapkan Zakaria, dia hanya tersenyum,

”Ramalanku benar, bukan?”

Sang dokter hanya terdiam. Sulit mengetahui ekspresinya di balik maskernya, tetapi tangan kanannya terkepal. Dia kemudian melihat ke arah orang yang menahannya, “Kalau kupukul dia tidak masalah, kan?”

“Dia benar-benar membuatmu kesal?”

“Cukup jawab pertanyaanku, tuan-tuan.”

Chimp yang menahannya melirik ke Bulldog di sebelahnya yang hanya mengangkat bahu. Dia pun berkata, “Lakukan saja, dia akan mati juga kok.”

Zakaria pun melakukannya. Dia merasa hina, tetapi dendam tidak mudah sirna, jadi dia melakukannya lagi. Merasa cukup, dia berjalan menjauh, “Kalian lakukan apa pun yang kalian mau, tugasku sudah selesai, kan?”

Tidak mendengar balasan apa pun, dia terus berjalan.

Dia membawa sentarnya, ditemani cahaya bulan yang cukup terang di antara langit cerah malam. Dia tidak peduli adanya hewan melata yang mungkin akan menggigit kakinya selagi dia berjalan di rerumputan. Dia terus berjalan lurus. Tujuannya adalah menuju mobil van yang tadi diparkirkan. Dia tahu dia hanya bisa kembali ke situs setelah misi selesai, tetapi dia bisa menunggu di mobil.

Ada sedikit rasa manusiawi pada dirinya yang membuatnya tidak ingin melihat apa yang orang-orang tersebut lakukan terhadap kakek itu.

Dia terus berjalan. Persetan, dia pantas mendapatkannya…

Dia menggeleng dan melihat ke arah langit. Bukan ini yang diinginkannya.

Lalu dia kembali berjalan.

Setelah beberapa saat, dia sampai di jalan raya. Dia terdiam sejenak, mengarahkan sentarnya ke sisi kiri dan kanannya.

Mobil van yang mengantar mereka sudah tidak ada.

Dia kembali ke markas… Pikirnya. Dia menoleh ke belakang, ke sekumpulan cahaya samar yang dia yakini merupakan timnya tadi. Dan hanya akan kembali jika misi selesai…

Dia berbalik dan mulai berjalan kembali ke arah mereka. Cahaya samar sentar mereka mulai terlihat jelas, tetapi tetap saja masih terlalu samar. Dia mengusap kaca luar masker gasnya. Merasa tidak ada perubahan, tangannya meraba ujung bawah masker.

Dia hampir mengangkat maskernya ketika tangannya tiba-tiba gemetar hebat. Jalannya mulai melambat dan dia merasa hampir jatuh. Dia langsung menurunkan tangannya dan diam sejenak.

Sial. Trauma sialan. Tetap tidak ada keberanian…

Dia kembali berjalan. Mengamati dari jauh, mereka sepertinya tengah berkumpul di tiang di ujung lapangan. Entah apa yang tengah mereka lakukan.

Pertanyaan di benaknya terjawab dengan munculnya kobaran api di tiang itu.

Apa yang…

Zakaria mulai berlari.


Tiang besi di ujung lapangan terbakar. Asap dari api yang berkobar membumbung tinggi, mencemari langit malam yang awalnya bersih. Di bawah tiang api yang menyala, semakin membesar dan meluas seiring cipratan bensin dari jeriken yang dilemparkan orang-orang di bawahnya. Mereka semua menatap ke arah api yang menjalar naik ke atas tiang yang telah dilumuri bensin sebelumnya.

Dan di atas, sebuah siluet sesosok tubuh terlihat di puncak, diselimuti api.

“Setan! Kalian sudah gila sampai membakarnya?!” Zakaria berteriak selagi ia berlari mendekat. Salah satu dari mereka menoleh dan berkata, “Ku kira kau kembali ke mobil, Haybale.”

“Apa yang kalian pikir kalian lakukan ini?!” Sang dokter akhirnya sampai dan hanya menatap api yang masih berkobar. Langit sudah kehilangan kebersihannya dan sekarang tercemar oleh asap dan awan hitam.

“Ini bagian dari misi kami, Haybale.” Bulldog menjawab. “Dan tepatnya apa misi kalian sebenarnya sampai membakarnya?” Sang dokter masih bertanya dengan gusar.

“Mengakses sebuah lokasi tidak dikenal. Lokasi persembunyian salah satu grup incaran GOC-“

“Perpustakaan, bukan?” Sang dokter memotong cepat. Yang lain saling tatap menatap sebelum mengiyakan. “Sepertinya kau tahu apa yang kita lakukan. Jadi kenapa bertanya?”

“Karena seingatku syarat mengakses Way ini adalah cukup dengan membunuh sesuatu yang berada di ketinggian 15m atau lebih dari tanah di sekitar sini! Kalian bisa mencari hewan apa pun selain kakek itu, dan semacam lubang mungkin akan muncul! Tuhan…”

Zakaria melihat ke sekitarnya. Dia tahu seharusnya semacam gerbang atau lubang atau apa pun akan muncul dalam beberapa saat. Dan dia ingat perkataan dukun gila itu dulu.

”Kau tidak akan pernah diizinkan di sini.”

Apa itu hanya gertakan? Ancaman? Peringatan? Apakah aku akan benar-benar memasuki perpustakaan itu?

Apakah aku akan bertemu dengannya lagi?

Hujan gerimis mulai berlangsung. Zakaria melihat ke langit yang sudah gelap tanpa cahaya. Apa ini bagian dari ritualnya? Sang dokter menyaksikan dengan penuh antisipasi akan apa pun yang terjadi.

Orang-orang di sekelilingnya juga saling melihat ke sekeliling mereka. Seperti sang dokter, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Dia dan mereka seharusnya merupakan yang pertama melakukan ini sesuai kata atasan mereka. Lalu kenapa cuma kita saja yang akan menghadapinya?

“Aku harus jujur kepada kalian, aku tidak pernah sejauh ini melakukan… apa pun ini. Ku harap kalian benar-benar tahu apa yang kalian harus lakukan!” Zakaria mundur perlahan.

“Tenang saja, dokter. Kita hanya perlu memasuki Way sekarang.” Kata Chimp selagi mengarahkan cahaya sentar di senapannya ke belakang tiang yang masih terbakar di tengah gerimis. Ada dua buah pohon yang tumbuh terlalu dekat dengan satu sama lain sehingga bagian atas mereka bagai menyatu, terikat antarcabangnya.

Sang dokter tahu akan kedua pohon tersebut, tetapi tidak terlalu memperhatikannya. Sekarang pun tidak ada yang berbeda antara mereka berdua. Dia sama sekali tidak tahu lokasi Way ternyata di sana selama ini.

“Baik, kalian semua! Kita masuk segera dan ambil yang kita bisa!”

Dan orang-orang di depannya langsung berlari mengitari tiang dan menuju kedua pohon tersebut. Zakaria hanya berdiri diam di depan tiang selagi satu per satu dari mereka tiba-tiba hilang di tengah kedua pohon itu.

Haruskah aku masuk?

Apakah aku benar-benar bisa menemui-

Sebuah ledakan membuyarkan pikirannya dan sang dokter langsung jatuh terduduk, tidak sempat memikirkan apa-apa lagi selain melihat ke depannya.

Dua sosok pria terlempar dari arah kedua pohon itu. Zakaria hanya melihat arah jatuh salah satu dari mereka dan mulai berlari ke arahnya tergeletak.

Hujan semakin deras, dia berlari menerobos hujan dan mencari-cari di mana pria itu tergeletak dengan sentarnya.

Begitu dia menemukannya, seluruh tubuh pria itu sudah hangus. Mukanya sudah tidak bisa dikenali lagi. Zakaria tersentak sejenak mengetahui ini dan mundur sedikit. Tiba-tiba dia mendengar suara. Dia tidak bisa memercayai matanya ketika menyadari Pole masih hidup dan berkata,

"이건 자살행위야…"

Dan Pole pun tidak bergerak. Zakaria terdiam beberapa saat di tengah hujan. Dia lalu melihat ke arah kedua pohon tersebut berada dan mengarahkan sentar miliknya ke sana.

Sekumpulan asap berwarna abu-abu gelap muncul dari celah di antara kedua pohon tersebut.

Dan terdapat sesosok wajah di tengah kumpulan asap itu.

Tunggu, dari mana dia muncul?

Kenapa ingatanku—tidak, pikiranku kabur?

Aku tidak bisa berkonsentrasi. Bagaikan mimpi. Apa ini mimpi? Apa ini yang mereka sebut lucid dream? Tidak. Aku merasakan hujan ini. Ini bukan mimpi.

Sekumpulan asap gelap dengan wajah itu secara tiba-tiba memunculkan kilatan petir di mana-mana. Suara guntur memekakan telinga selagi dia terbang bagaikan ular yang berenang di air, terbang tinggi menuju kumpulan awan badai di langit.

Sang dokter kembali melihat ke tanah, ke personel yang hangus di depannya. Dia tidak ingat apa yang baru saja dia lihat di langit. Dia melihat ke arah tiang yang entah kenapa masih terbakar di bawahnya. Masih ada sedikit minyak yang belum terbakar, sepertinya. Mayat yang terbakar sebelumnya masih terikat di atas tiang.

Perhatiannya teralihkan ke celah di antara kedua pohon yang mengeluarkan kilatan cahaya dan guntur dari dalamnya.

Tidak, tidak! Aku tidak boleh membiarkan lebih banyak makhluk itu keluar!

Dia langsung berlari ke arah tiang tersebut dan menerangi sekelilingnya. Dia menemukan tangga kayu yang tergeletak di antara jeriken bensin di tanah. Dengan segera dia menaikkan tangga itu ke tiang.

Dia berlari ke dalam gubuk tua itu setelahnya. Menyadari ruangan tersebut terlihat berantakan, penuh dengan kertas tua berserakan di lantai dan meja. Dia tidak peduli, dia menuju ke pojok ruangan yang berfungsi sebagai dapur dan gudang. Dengan segera dia mengambil sebuah parang dan berlari ke luar.

Dia kembali keluar menerobos hujan. Dengan segera dia memanjat ke tangga yang sudah dia letakkan. Dia tidak peduli akan jatuh atau tidak, dia merasa harus menjatuhkan mayat kakek itu. Entah bagaimana dia berhasil mencapai puncak. Dengan segera dia memotong semua tali yang mengikatnya dan mayat itu jatuh seketika.

Ada perasaan lega dalam dirinya. Dia pun mulai turun ke bawah.

Pada saat itu, tangga yang dinaikinya jatuh merosot ke bawah.

Tidak ada yang dipikirkan Zakaria selagi dia jatuh.

Tidak ada yang dipikirkan Zakaria selagi dia terbaring

Ku harap aku menemuimu di kehidupan lain

Hanya itu yang dipikirkan Zakaria selagi dia menutup matanya.


Dia melihat cahaya terang selagi dia membuka matanya secara perlahan. Bayangan samar orang mengelilinginya. Suara samar sirine bercampur dengan teriakan abstrak.

Dia masih tidak mampu memproses apa yang tengah terjadi, jadi dia pun kehilangan kesadaran lagi.

Kronik Situs-79

Prolog
« Menunggu Yang Ditakutkan | Di Depan Gerbang Neraka | Sebotol Racun Di Ujung Meja »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License