Daerah Dilanda Perang
rating: +1+x

Peneliti Junior Lucy tengah berjalan menuju ruangan atasannya. Sudah jam enam sore, gilirannya untuk kerja menggantikan atasannya. Jarak antara ruang mess dan kantor lumayan dekat, dengan segera dia berada di deretan ruang kantor pribadi.

Dia bisa melihat jelas ada beberapa kerucut oranye mengitari sebuah lubang di lantai. Bekas titik galian SCP-007-ID kemarin. Tentu saja hasil penggalian lantai oleh personel spesialis anomali tersebut tidak mungkin diperbaiki dalam sehari.

Dia awalnya tidak memikirkan kejadian kemarin, tetapi meliha bekas galian tersebut, dia mulai melihat ke sekeliling untuk mengetahui apakah ada retakan lain di lantai. Dia juga baru sadar cuma lubang tersebut satu-satunya tempat yang digali SCP-007-ID.

Jelas kesengajaan… Ekspresi Lucy terlihat tidak tenang. Dia sudah berada di depan bekas galian SCP-007-ID yang diekskavasi personel. Tetapi kenapa?

Dia tidak tahu banyak mengenai atasannya. Dia juga tidak tahu banyak mengenai semua orang di lantai ini, bahkan situs ini. Tetapi sesuatu tengah terjadi, Lucy yakin akan hal itu. Ini seperti pengalamannya di situs asalnya.

Dia melihat pintu ruangan atasannya yang tidak tertutup rapat dengan heran. Dia juga mendengar suara dari dalam karenanya. Dengan pelan dia membukanya dan melangkah masuk.

Di dalam ruangan, Peneliti Senior Herman Puspito duduk di sofa kecil di samping sementara seseorang lagi duduk di salah satu kursi di depan mejanya, menghadap ke arahnya. Lucy mengenalinya sebagai Peneliti Johannes Prasetya, pria yang memberinya tur keliling situs saat awal bergabung.

Mereka berdua menoleh ke arah pintu, dan ke arah Lucy, saat dia masuk.

“Uh, Hai, Kak Johannes.” Lucy duluan menyapa. Tapi dia tiba-tiba teringat pesan peneliti itu sebelumnya dan langsung meralat, “Maksud saya, Kak Jones.”

“Selamat sore, Lucy.” Jones membalas. Dia terlihat khawatir, membuat Lucy bingung kenapa dia di sini.

“Jadi, Kak Jones kenapa ke sini?” Lucy memutuskan untuk bertanya.

Jones tidak langsung menjawab. Dia menoleh ke arah Herman, yang tersenyum tipis sebelum menunduk. Dia akhirnya melihat ke arah Lucy.

“Mulai besok dan seterusnya, kau akan bekerja untukku.” Katanya.

“Hah?” Hanya itu yang Lucy katakan seketika.

“Aku sudah bicara dengan Herman dan kami setuju kalau kau sebaiknya dipindah untuk kerja denganku saja.” Jelasnya.

“Apa… Apa ini karena kejadian kemarin?” Lucy mencoba menduga alasannya.

Jones mengangguk, mengonfirmasi dugaannya. Tetap saja, Lucy bingung kenapa keputusan ini diambil. Kalau dia dipindahtugaskan ke situs lain, itu wajar. Lucy bahkan tidak akan sedikitpun keberatan. Tetapi sepertinya dia tetap bekerja di sini, meski seterusnya untuk orang yang berbeda.

“Tapi kenapa, kak?” Lucy kembali bertanya. “Kan yang kemarin tidak ada hubungannya sama sekali dengan kerjaan saya?”

Jones menoleh sekilas ke arah Herman sebelum menjawab, “Pekerjaan Pak Herman seringnya berisiko dan takutnya kau bisa cidera karenanya.”

“Risiko?” Lucy menegaskan dengan heran. Sejauh ini yang dia lakukan untuk Herman hanyalah mengorganisir dan menangani berkasnya. Dia tidak tahu apa yang Herman kerjakan waktu pagi sampai sore, jadi dia berpikir mungkin saja ada hubungannya dengan hal tersebut.

Atau jangan-jangan…

“Apa maksud Kak Jones… kejadian kemarin adalah salah satu risikonya?” Lucy mencoba bertanya. “Posisi retakan kemarin berada tepat di depan pintu, jadi aku ya… punya firasat ada… orang yang sengaja…” Lucy secara perlahan mengatakan teorinya. Jika Jones langsung menepisnya, artinya itu hanya firasatnya saja.

Tidak ada tanggapan dari tadi. Lucy merasa setetes keringat mengalir di dahinya.

“Kak Jones?” Tidak ada respon langsung darinya. Lucy kemudian menoleh ke arah Herman dan mendapati dia masih menunduk dengan mata terpejam.

“Ya.”

Lucy menoleh kembali ke arah Jones yang menjawab barusan. “Jadi memang benar?” Katanya untuk mengonfirmasi.

Jones mengangguk. “Ku rasa.”

“Tapi siapa dan kenapa?” Lucy balik bertanya. Tapi reflek menggeleng, merasa mereka tidak akan mau mengatakan apa pun.

Jones tidak menjawab kali ini. Dia berdiri dan berjalan ke arah Lucy. Begitu dia berada di sampingnya, dia memegang bahu Lucy dan menuntunnya keluar ruangan tanpa berkata apa-apa ke Herman di sampingnya. Lucy sendiri terkejut Jones langsung membawanya keluar tanpa peringatan apapun.

Begitu di luar, Jones menutup pintu ruangan dan akhirnya berkata, “Semua orang di sini tahu siapa pelakunya.”

“Ma- Maksudnya?”

“Pelakumu satu lantai di bawah. Tidak ada cara untuk membuktikannya bersalah jadi menyera-“

“Tunggu, tunggu.” Lucy mencoba menyela, “Siapa yang Kak Jones bicarakan?”

Jones melihat ke arah kiri dan mengetahui koridor masih kosong sebelum menjawab, “Christopher Louis. Dia adalah yang paling ingin Herman mati di situs ini.”

“Jadi, itu beneran upaya pembunuhan??? Tunggu bentar, tapi kenapa??” Lucy balas bertanya.

“Insiden 007-ID-1 beberapa tahun yang lalu. Istrinya menjadi korban insiden itu dan dia menyalahkan Herman atas seluruh kejadian tersebut.” Jawabnya.

Lucy berpikir sejenak mendengar insiden tersebut. Dia memang pernah mendengarnya dari personel spesialis SCP-007-ID, mengenai bagaimana insiden tersebut menciderai dia dan asisten Pak Herman. Dia dengan segera menduga bahwa asisten Pak Herman dulu adalah istrinya si Christopher ini.

“Tapi kok Kak Jones yakin dia pelakunya? Jika iya kenapa tidak dilaporkan?” Lucy kembali bertanya. Dengan alasan sekuat itu pun, kalau tidak ada bukti, pria itu tidak bisa disalahkan.

“Dia sendiri yang berkoar akan membunuhnya, tapi dia cuma bisa menyewa orang untuk itu. Dia kaya, kau tahu.”

“Kak Jones mengimplikasikan dia bisa menyuap kepala keamanan?” Lucy menduga dengan khawatir. Takut akan betapa mudahnya menyuap seseorang untuk diam.

Jones langsung membantah, “Herria? Tidak, kepala keamanan tidak akan semudah itu disuap. Tapi meski begitu pun tidak ada yang memedulikannya atau repot-repot menginvestigasi lebih jauh.”

Hal tersebut mengingatkan Lucy akan sesuatu. “Jadi,” Dia berkata, “Menurut Kak Jones jika kita bisa membuktikan dia memang di balik insiden kemarin, kepala keamanan akan peduli akan ancamannya?”

Jones tersentak dan langsung membalas, “Ap- Sial. Dengar, lupakan semua ini dan bekerja saja besok seperti biasa.”

Lucy menggeleng, “Maaf saja, Kak. Aku pernah berpengalaman berhadapan-“

“Aku tahu kau siapa, Lucy.” Potong Jones. “Aku sudah mendengar kisah kau mengungkap pelaku pembunuhan Peneliti Senior Oki Susesto, tapi aku ragu kau akan bisa seberuntung itu untuk kasus ini.”

“Maaf, kau bilang apa tadi?” Lucy tiba-tiba membalas, “Keberuntungan? Aku sama sekali tidak mengandalkan itu dan bekerja keras menyelidikinya dan kau di sini bilang itu hanya keberuntungan??”

Jones melipat tangannya. “Ya. Aku tidak percaya kisah berlebihanmu.”

Lucy secara tidak sadar mengepalkan tangannya. Dia memang pernah secara tidak sengaja menyelidiki kasus pembunuhan seseorang di situs asalnya dulu, dan dia lumayan bangga dia bisa berhasil. Dia juga tahu kalau dia memang sedikit beruntung saat secara sukarela menyelidikinya, tetapi mendengar hal tersebut dari orang lain seakan-akan membuat seluruh pencapaiannya hanyalah keberuntungan semata.

“Baik! Tidak akan percaya sebelum melihat, bukan? Akan ku buktikan dia bersalah sebelum besok. Jika aku bisa membuktikannya, aku ingin tetap bekerja untuk Pak Herman.” Tantang Lucy dengan geram. Perlu beberapa detik keheningan untuk menyadarkannya bahwa dia mengatur tenggat waktu untuk dirinya sendiri sampai besok karena teringat perkataan Jones sebelumnya, tetapi dia lalu memutuskan untuk tidak akan meralat sepatah pun kata-katanya.

Melihat keteguhan Lucy. Jones diam menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Lakukan apa yang kau suka, kau bebas melakukan apa pun sampai shift-mu nanti.”

Jones pun melangkah pergi. Lucy menatap ke arah pintu ruangan Herman yang tertutup, memikirkan apa yang tengah pria tua itu pikirkan saat ini. Meski dia sendiri tidak tahu apa-apa tentangnya dulu, dia tetap merasa mungkin dia tidak pantas mengalami semua ini.

Dia menengadah ke atas. Baru menyadari ada kamera CCTV di ujung koridor. Dia langsung berbalik ke arah Jones dan setengah berteriak, “Tunggu kak, apa CCTV itu bekerja?”

Jones menoleh ke belakang, bukan menatap CCTV tetapi Lucy, dan berkata, “Oh ya, menyerahlah mengenai CCTV. Kabarnya bahkan kepala keamanan perlu izin untuk melihat isinya. Entah kepada siapa. Dan semua itu terlalu merepotkan sehingga mereka tidak berguna untuk perselisihan sederhana.”

“Apa-apaan peraturan itu? Kalian semua tidak waras, jujur saja. Kita bicara mengenai upaya pembunuhan di sini.”

Jones menoleh lagi ke belakang, ke arah Lucy. Kali ini tatapannya tajam, mengingatkan Lucy akan hari pertamanya di Situs saat dia membuat kesal Jones. Dia gugup seketika.

“Kau kira percobaan pembunuhan bukan perselisihan sederhana? Jika ada mayat, lempar saja ke lantai Keter untuk menghemat Kelas-D. Sederhana bukan? Jangan terlalu memusingkan hidup di sini, aku jadi ikut pusing karenanya.”

Dia berbalik dan melangkah menjauh. Lucy hanya diam mempertanyakan keadaan situs gila ini dalam hatinya.

“Seperti kata ku tadi,” Lucy tiba-tiba mendengar suara di depannya dan melihat Jones tengah membuka pintu ruangannya sendiri. “Semua orang tahu siapa dalangnya, tetapi tidak ada yang tahu kaki tangannya. Dia bisa siapa saja di sini dan mungkin tidak sekebal Louis jika berurusan dengan kepala keamanan. Mungkin kau bisa mulai mencoba menyelidiki itu.”

Lalu dia pun masuk dan menutup pintu ruangannya. Entah Lucy berkhayal atau Jones sempat tersenyum sebelum masuk tadi. Lucy menggeleng cepat tak mau memikirkan itu sekarang.

Kaki tangannya… Lucy memikirkan perkataannya tadi. Satu hal yang langsung terpikirkan olehnya adalah personel spesialis SCP-007-ID kemarin. Salah satu dari mereka, paling tidak, mengharapkan Herman mati juga.

Lucy melihat ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan pukul enam sore lewat lima puluh menitan. Dia mulai berjalan cepat, memutuskan untuk menuntaskan kasus ini malam ini juga jika bisa.


Seorang personel keamanan dengan visornya terangkat tengah bersandar di dinding koridor luas lantai Safe. Dia tengah membaca koran; salah satu hal yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu luang sampai waktu kerjanya tiba. Biasanya personel keamanan lain akan bermain kartu di ruang istirahat, tetapi dia memilih menghabiskan malamnya dengan membaca.

Dia juga tidak terlalu fokus membacanya karena dia langsung menoleh ke arah kiri ketika menyadari seorang perempuan yang mengenakan jas biru tua berjalan tepat ke arahnya.

“Apa ada yang bisa ku bantu?” Personel tersebut bertanya saat dirasanya sudah cukup dekat.

“Ya,” Lucy menjawab, “Apa kau tahu di mana ruang… Agen Senior David?” Katanya selagi mencoba mengingat nama orang yang ditemuinya kemarin.

“Si David itu? Uh… Perlu apa dengannya?” Personel tersebut bertanya. Dia terdengar terkejut saat Lucy mengatakan nama orang yang dicarinya.

“Aku… ingin mempelajari lebih lanjut mengenai SCP-007-ID. Dia yang menanganinya kan?” Lucy menyebutkan alibi yang telah disiapkannya sebelumnya.

Personel tersebut kelihatannya mengerti dan melipat koran yang dipegangnya. Dia lalu berkata, “Dia lagi makan dengan personel lain di bawah. Kamu tungguin aja di ruang tunggu sana.”

“Terima kasih.” Balas Lucy sebelum dia berbalik pergi. Sebelum dia melangkah jauh, personel di belakangnya tiba-tiba bertanya, “Kau personel baru?”

Lucy menoleh ke belakang dan mengiyakannya. Personel keamanan tersebut mengangguk mengerti dan kembali membuka korannya. Lucy tidak membuang waktu lama dan langsung pergi.

Setelah membuka pintu ganda pembatas antara ruang penahanan dan area kantor, yang menyambutnya adalah ruang tunggu lantai Safe. Terdapat sebuah meja yang dikelilingi beberapa sofa, sama seperti ruang masuk situs di sisi lain bangunan ini meski lebih luas. Sebuah televisi berada di atas dinding dalam keadaan mati.

Lucy berjalan mendekati salah satu sofa dan memutuskan untuk duduk di sana. Sayangnya lantai ini tidak memiliki kantin seperti di situs asalnya dulu. Dia tahu kantin terdapat di lantai di bawahnya; masalahnya, dia tidak diizinkan turun ke bawah. Tepatnya, hanya personel berkepentingan yang boleh turun ke bawah. Sayangnya ‘mencari makan’ tidak dianggap kepentingan. Entah kenapa peraturannya seketat ini.

Dia pernah bertanya dengan Jones mengenai cara mengatasinya. Dia menyarankan dua cara yang sering dilakukan personel sini: Pertama, seperti yang Lucy awalnya duga, personel mencari makan di luar. Sayangnya, peneliti junior tidak diperbolehkan keluar situs kecuali diizinkan atau saat akhir pekan. Cara kedua adalah menitip ke personel yang bisa turun ke bawah. Umumnya adalah penjaga.

Lucy belum meminta tolong mereka saat ini. Dia cukup puas makan roti yang disediakan di ruang ini untuk sekarang. Sesuatu mengenai selera makannya yang masih rendah sejak dia dipindah ke sini, dia rasa.

Dia mengambil salah satu roti di sana dan memandang ke arah lift. Orang yang ditunggunya lagi di bawah, dan lift di depannya cuma satu-satunya akses naik dan turun situs. Dia membuka bungkus plastik rotinya dan mulai makan.

Selagi makan, dia memikirkan lagi alasannya mencari David. Lepasnya SCP-007-ID kemarin bisa saja direkayasa, dan dia perlu bicara langsung dengannya yang berurusan langsung dengan kucing tersebut. Dia sendiri juga memiliki motif untuk mencoba membunuh atasan Lucy.

Lift terbuka tiba-tiba, membuat Lucy menoleh cepat. Dua orang personel keamanan keluar dari lift. Lucy mengalihkan pandangannya; meski keduanya mengenakan visor, Lucy tahu hanya David di situs ini yang tidak memiliki kedua kakinya. Sejauh ini, setidaknya.

Lucy kembali makan. Semakin banyak orang yang keluar masuk lift, selalu penjaga yang lalu lalang. Apa ini waktu makan malam penjaga? Pikir Lucy selagi mengunyah rotinya.

Dia mencoba memikirkan hal lain selagi menunggu. Salah satu yang dia harus lakukan ketika bertemu David adalah mendapat gambaran lengkap kejadian sebelum dan saat lepasnya kucing itu. Dia juga akan mencoba mengamati apakah dia ada hubungannya dengan terduga pelaku lainnya, si Christopher.

Setelah ¾ bagian rotinya telah dimakan, lift terbuka dan tiga orang keluar dari lift. Suara langkah kaki prostetik pria terdepan membuat Lucy menoleh lagi. David dan dua orang personel berseragam keamanan melangkah menjauh lift.

“David, bukan?” Lucy berdiri dari sofanya. Pria yang ditunggunya menoleh ke kiri dan terlihat antara heran atau tidak senang melihat Lucy di sana.

“Oh, kau asisten Herman kemarin, kan? Sudah ku bilang dia pantas mendapatkannya.” Katanya langsung.

“Aku tak memedulikan itu sekarang.” Lucy mematahkan dugaan David. “Aku ingin tahu bagaimana SCP-007-ID bisa bersamaan lepas dengan SCP-033-ID. Kau yang bertanggung jawab atas kucing itu bukan?”

David tidak langsung menjawab pertanyaannya. Dia menatap Lucy untuk beberapa saat dengan ekspresi yang sama sebelum menoleh ke arah dua orang di belakangnya dan memberi isyarat tangan. Dua orang tersebut saling menatap sebelum berjalan mendahului David.

Setelah dua orang personel tadi sudah melewati pintu pembatas, David akhirnya bicara, “Kau bisa menyebutnya kebetulan.”

“Kau pikir aku mempercayainya?” Balas Lucy yang setengah menduga jawaban seperti itu dengan cepat.

David menyilangkan kedua tangannya, “Sayangnya faktanya seperti itu.”

Lucy terdiam sejenak. David tidak terlihat kesal seperti awal tadi. Kini dia terlihat seperti memikirkan sesuatu, dan itu sepertinya sesuatu yang sudah lama dipikirkannya.

“Setidaknya kau keberatan memberitahukan kepadaku bagaimana SCP-007-ID bisa lepas?” Tanya Lucy lagi, tapi kali ini dia tidak mencoba memaksanya. Setelah dipikir lagi, rencananya untuk memaksa David untuk bicara cuma berakhir dengan mengancam melaporkannya saja.

David memilih untuk berjalan mendekat dan duduk di sofa. “Baik, ku rasa sumber masalahnya adalah tidak dibersihkannya ruang SCP-007-ID beberapa hari ini.”

Tangan kanan David menopang dagunya dan menutup mulutnya selagi dia berbicara. “Tiga hari lalu, kita mengalami kendala logistik sehingga pasir di ruang SCP-007-ID tidak tersedia. Keparatnya Yayasan tidak mau solusi praktis seperti mengambil pasir di luar situs dengan alasan higienis. Jadi kita harus membiarkan SCP-007-ID menggali lantainya sendiri.”

Lucy mengangguk mengerti, lalu bertanya, “Lalu apa yang terjadi selanjutnya?”

David menatap ke lantai dan tersenyum kesal, “Kucing sialan itu… Kita mengecek ruangannya pasca dia kabur; kau bisa bilang tidak ada satupun lantai yang aman dipijak. Kau bisa menduga itu alasan dia memutuskan melanggar penahanannya, meski ku akui, aku sendiri tidak menduga dia bersedia melewati parit air itu. Aku sudah memproposalkan untuk memperlebar parit itu nanti.”

“Tetap saja,” Tangan David terkepal, “Ini salahku sebagai ketua personel spesialis SCP-007-ID apa pun yang terjadi. Ditambah lagi kami bekerja ekstra untuk membersihkan kembali ruangannya.”

Lucy melihat tangan David terurai lagi. David kini menoleh ke arahnya. “Ku rasa aku cuma mencari pelampiasan kemarin.”

Lucy tidak membalas apa-apa. Dia mulai memahami kata-kata tak bersahabatnya kemarin.

Dia pun memegang erat pegangan sofa dan berdiri perlahan. Ketika kedua kaki prostetiknya sudah stabil, dia berjalan menjauh selagi berkata, “Itu cerita anomaliku. Tetapi satu hal yang tidak ku pahami adalah bagaimana SCP-033-ID bisa lepas juga. Aku dan rekanku yang lain terjebak di ruang istirahat teknisi sepanjang protokol mereka dijalankan, jadi aku setidaknya dapat keringanan hukuman karenanya.”

Dan David pun melangkah menjauh. Lucy menatapnya pergi dan memikirkan ucapannya. Dia tahu dia bisa mengecek lagi kebenaran kata-katanya, tetapi Lucy takut itu akan membuang waktunya.

Lucy memutuskan untuk ikut berdiri dan melangkah menuju pintu pembatas.

Lagipula, dia sudah punya fokus kedua penyidikannya sekarang.


Bangsal medis lantai Safe.

Lucy berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Dia menanyai beberapa orang sebelum diarahkan kemari. Kini dia disambut sebuah pintu besi dengan plakat penanda ruangan di atasnya. Lucy memegang gagangnya dan mendorongnya masuk.

Dia melihat ke sekeliling ruangan. Hanya terdapat dua ranjang yang dibatasi sebuah tirai juga beberapa laci dan sebuah meja dengan kursinya. Sebuah ruangan yang mungkin hanya seukuran mess-nya.

Yang benar saja… Pikir Lucy selagi melangkah masuk. Tempat itu bagai ruang UKS sekolah.

Terdapat seorang perempuan dengan rambut panjang lurus berseragam hijau berdiri membelakanginya. Beberapa perlengkapan medis tergeletak di ranjang di depannya. Dia menoleh ke arah Lucy.

“Ada perlu apa, yah?” Dia berkata selagi merapikan rambutnya.

“Maaf, tapi apa benar peneliti bernama Jerry dirawat di sini?” Tanya Lucy.

“Dia? Dia baru keluar tadi. Dia cuma mendapat luka kecil dari kait SCP-033-ID, jadi urusannya sudah selesai di sini.” Katanya.

“Oh, terlambat ya…” Lucy mengangguk mengerti. Dia berterimakasih kepadanya dan berbalik.

“Kau perlu dia untuk SCP-033-ID, yah?” Lucy terhenti mendengar suara di belakangnya. Dia berbalik dan mengonfirmasinya, “Iya, kau tahu dari mana?”

Perempuan di depannya selesai mengikat rambut belakangnya menjadi cepol rambut dan segera berbalik untuk merapikan peralatan di ranjang. Di sela-sela kesibukannya dia menjawab, “Karena Pak Herria ke sini tadi dan menanyakan itu padanya. Ku asumsikan kau ke sini untuk menanyainya juga, yah?”

Lucy berjalan menuju ranjang terdekat. “Dugaan yang terlalu jauh. Bisa saja aku temannya yang ingin menjenguknya, kan?” Dia berkata selagi duduk di ranjang tersebut.

Lawan bicaranya tersenyum dan sepertinya nyaris tertawa. “Kau personel baru, bukan? Pria itu tidak terlalu banyak bicara dengan siapapun. Dia cukup fokus dengan SCP-033-ID saat ini sebagai salah satu peneliti tetapnya. Dan sekarang dia akhirnya terluka karenanya.”

“Yah, bisa kau bilang begitu, ku rasa.” Lucy mencoba tersenyum juga. Dia memang tidak mengenal pria itu sama sekali dan hanya mengetahuinya setelah menanyai tiga sampai empat personel keamanan dan dua orang peneliti lain yang kebetulan meneliti SCP lain saat insiden berlangsung. Dia rasa dia bisa mendapatkan gambaran kecil mengenai pria yang dicarinya itu.

“Baik, saya mau cari di luar. Maaf mengganggu kegiatan anda.” Lucy berdiri dari ranjang.

“Ah, tidak apa-apa kok. Lumayan sepi di sini. Palingan aku cuma merawat penjaga yang berkelahi saja.” Dia mengibaskan tangannya.

“Heh, lebih sering itu daripada karena serangan anomali ya…” Lucy membalas. “Bagus sih.”

“Namaku Radia, ku rasa kita akan bertemu lagi kedepannya, yah. Meski ku harap kau tidak mendatangiku dalam keadaan babak belur.” Dia berkata.

“Namaku Lucia Amelia. Panggil saja Lucy. Aku masih peneliti junior saat ini.” Balas Lucy. Dia pun berbalik dan berkata, “Saya keluar mencari peneliti itu, ya. Semoga kita bisa ngobrol lagi nanti.”

Dia kembali merapikan perlengkapannya. “Aku tak tahu kenapa kau mencarinya, tapi semoga beruntung, yah.” Katanya.

Lucy tersenyum selagi membuka pintu. “Trims.” Katanya.

Dia menutup pintu ruang medis dan melihat ke sekeliling. Dia agak lama berbicara dengan pegawai medis tadi sehingga mungkin orang yang dicarinya sudah jauh. Banyak orang dengan beragam seragam keamanan. Tetapi ada juga beberapa orang dengan kemeja beragam.

Setelah mengamati selama beberapa saat, Lucy memutuskan untuk berjalan kembali ke area kantor untuk mengeceknya. Dia berharap bisa berpapasan dengannya mungkin di koridor, tetapi dia pasti ke area kantor akhirnya.

Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah beberapa orang berjalan ke arah pintu pembatas, saat itulah dia menyadari ada semacam kerumunan orang di sana. Awalnya Lucy mengira mereka mau ke kantin bawah, tetapi melihat kerumunan yang semakin membesar, dia langsung setengah berlari menuju ke sana juga untuk mengetahui apa yang terjadi.

Dia bisa mendengar suara teriakan nyaring dari salah satu dari mereka.

“Bangsat!”

Lucy sudah cukup dekat untuk melihat apa yang terjadi; Seorang pria tinggi yang mengenakan jas lab kedua tangannya dipegang dua orang personel keamanan. Sedangkan seorang personel keamanan ditiarapkan di lantai dan ditahan oleh seorang personel berseragam hitam sedangkan dua orang personel lain dengan seragam serupa menodongkan senapan ke arahnya.

“Lepasin gue! Gue belum kelar ngehajar dia bangsat!” Pria dengan jas lab tadi meronta mencoba melepaskan diri dari dua orang personel keamanan di sampingnya. Lucy menduga dia yang berteriak tadi.

Lass mich den Wichser töten!” Personel keamanan yang ditiarapkan juga ikut berteriak dalam Bahasa yang tidak Lucy ketahui. Salah satu personel berseragam hitam yang menodongkan senjata ke arahnya balas menjawab dalam bahasa yang sama.

“Cukup Hansel! Jangan sampai aku menembak tanganmu!” Pria berseragam hitam ikut mengancam. Dia memiliki rambut hitam pendek dan wajahnya terlihat dia di usia 30-an. Dia mendirikan personel di lantai tadi dan langsung memborgol tangannya.

“Pribumi sialan! Dia yang memulai! Er war es!” Teriaknya selagi pria tadi menyeretnya menuju pintu pembatas. Personel tadi terus berteriak marah sampai mereka keluar.

“Maaf merepotkanmu, Heru.” Kata salah satu dari personel berseragam hitam tadi selagi membuka pintu pembatas. Dia, berbeda dengan dua personel berseragam hitam lainnya; dia memiliki rambut pirang yang sepertinya tadi disisir rapi tetapi agak berantakan sekarang. “Kau tidak perlu turun ke bawah. Aku saja yang akan mengawasinya.”

“Bantu aku, Ermes. Tolong kau awasi benar-benar temanmu itu. Agen lapangan tidak dibayar untuk menjaga situs, kau tahu.” Balas satunya. Personel tadi pun menutup pintu pembatas.

Pria satunya kemudian berbalik dan mendekati personel dengan jas lab tadi. “Apa-apaan tadi, Onyx?!” Kata pria itu, “Biasanya dia yang memulai masalah dan kupikir, ‘oke lah, dia pantas mendapatkannya’, tapi kenapa baru ketemu dia kau langsung memukulinya tadi?”

Pria dengan jas lab tadi melepaskan diri dari pegangan dua personel keamanan sebelumnya dan menjawab, “Aku hampir membuatnya mengaku, Heru. Sedikit pukulan lagi dan dia akan mengakui kejadian kemarin adalah ulahnya.”

“Tidak, kau hanya berprasangka saja. Maksudku, oke lah, tapi tadi sudah kelewatan.” Pria berseragam hitam tadi menatap tajam ke arah lawan bicaranya, “Jangan buat keributan lagi. Tolong.”

Dia lalu berbalik ke arah kerumunan orang yang semakin menipis dan berkata, “Sudah, bubar. Semua terkendali.” Dia sendiri beranjak pergi dengan arah tujuannya menuju ke arah berlawanan dengan Lucy. Sekilas mereka berpapasan.

“Kau mendengarnya! Bubar, bubar!” Dua orang personel keamanan yang tertinggal membubarkan kerumunan orang yang ada termasuk Lucy. Meski begitu, pandangan Lucy tidak lepas dari pria dengan jas lab tadi yang tengah bersandar di dinding meraba pergelangan tangannya.

Setelah keadaan sedikit tenang, Lucy akhirnya mendekati pria tadi. Dia masih bersandar di sana dan merapikan lengan jasnya yang kusut.

“Permisi, tuan.” Lucy mencoba menyapanya. Pria di depannya menatap ke arahnya. Kalau dilihat lagi, meskipun badannya tinggi, pria itu hanya beberapa tahun lebih tua dari Lucy. Mungkin lima tahun lebih tua darinya.

“Kau perlu apa? Kalau mengenai dokumen, taruh saja di ruangku seperti biasa.” Dia berdiri dan melangkah menjauh. Dia sepertinya tidak terlalu mempedulikannya.

“Aku personel baru di sini,” Lucy rasa dia harus memperkenalkan dirinya dulu. “Namaku Lucy, asisten Pak Herman Puspito.”

Pria di depannya langsung menoleh ke belakang, “Tunggu, kau asisten baru Herman?!”

“Ya, kalau kau?” Giliran Lucy yang bertanya.

“Onyx Pramono, aku asisten Herman sebelum jadi peneliti senior seperti sekarang ini.” Dia menjawab.

“Oh, maaf, saya tidak tahu anda peneliti senior.” Lucy berkata cepat. Dia sama sekali tidak menyangka orang semuda dia sudah jadi peneliti senior. Dia bahkan terlihat seumuran Jones.

“Heh, gak apa-apa. Ga perlu terlalu formal.” Dia tertawa kecil, tapi dia langsung menatap Lucy dengan serius. “Tapi, aku ingin tahu apa pendapatmu mengenai Pak Herman selama kau bekerja dengannya sejauh ini.”

“Uhh,” Lucy berpikir sejenak. Tetapi tatapan pria di depannya membuatnya tidak bisa berpikir lama. “Dia atasan yang ramah. Juga cukup pengertian.” Jawabnya.

Pria di depannya menunjukkan ekspresi lega dan berkata, “Dia pria baik, bukan? Sayang sekali situs ini memakan orang sepertinya hidup-hidup. Kau ada mendengar rumor mengenai dia belum?”

“Tid.. tidak.” Jawab Lucy cepat, tetapi sesuatu tiba-tiba terlintas di pikirannya. “Bentar, baru satu sih. Sesuatu mengenai Insiden SCP-007-ID.” Ralatnya dengan pelan.

“Tentu saja…” Pria di depannya menepuk kepalanya, “Si Keris sialan, dia selalu ngasih rumor macam-macam ke personel baru. Insiden itu murni kecelakaan. Herman tidak pernah memaksa seseorang melakukan sesuatu, apalagi saat keadaan genting saat itu. Kau bekerja dengannya, jadi kau pasti tahu itu, bukan?”

Lucy saja tidak yakin dia tahu banyak mengenai atasannya, tetapi dia rasa lebih aman jika dia mengangguk.

“Oh ya, kejadian kemarin, apa kau ada di ruangannya saat insiden kemarin terjadi?” Dia kembali bertanya.

Lucy juga kembali mengangguk. Dia ingin menanyainya mengenai sesuatu, tetapi pria di depannya kembali lagi bertanya.

“Apa menurutmu ada yang mencurigakan dari insiden kemarin?”

Kali ini Lucy diam menatapnya. Itu adalah sesuatu yang mengganggu pikirannya dari tadi.

“Itu merupakan upaya pembunuhan, kan?” Lucy akhirnya bicara.

Pria di depannya menghembuskan nafas lega, “Ternyata memang bukan aku saja.” Dia kemudian melangkah menjauh dan berkata, “Kita lanjutkan di ruanganku, ada yang ingin ku sampaikan.”

Dia membuka pintu pembatas dan melangkah keluar. Lucy memutuskan untuk mengiringinya. Dia berjalan menuju area kantor pribadi, mengingatkan Lucy kembali kalau pria di depannya adalah peneliti senior. Dia melewati ruang Jones dan berhenti di sebelahnya. Tertulis ‘A2’ di pintunya.

Dia membuka kunci pintu dan masuk ke dalam selagi menyalakan lampu ruangan. Lucy masuk setelahnya dan menutup pintunya. Sebuah ruangan biasa seperti ruang kantor pribadi lainnya. Pria tersebut duduk di kursinya. Lucy memutuskan untuk duduk juga di kursi di depan mejanya yang anehnya cuma satu dan bukan dua seperti ruang atasannya.

“Dengar, sebagai sesama asisten Herman, ku rasa aku bisa sedikit terbuka denganmu.” Dia berkata. “Satu-satunya orang yang ingin Herman mati cuma seorang. Nama dia Christopher.”

“Saya sudah mendengar mengenai itu dari Kak Jones, Pak. Dia meminta orang untuk melakukannya, bukan?” Tanggap Lucy.

“Sudah ku bilang buang saja formalitasnya, ga apa-apa. Jadi, yah syukur dia memang netral, meski ku harap dia mau berpihak dengannya, tapi yang dikatakannya benar. Keris sialan, dia punya cukup uang untuk menyewa separuh personel keamanan di sini.”

Lucy menoleh ke samping sebelum bertanya, “Bukannya… personel keamanan tugasnya mengamankan situs dari tindak semacam itu?”

Onyx menghembuskan nafas, “Sayangnya kita di neraka. Sebagian besar dari mereka adalah berandalan yang bisa disewa untuk pekerjaan kotor personel.”

“Sayang sekali…” Lucy membalas pelan.

“Mengenai itu, ketua mereka – kau bisa anggap seperti itu – lumayan dekat dengan Christopher karena sering ‘menyewa’ dia dan anak buahnya. Namanya Hansel, personel transfer dari luar negeri. Dia orang yang kupukuli tadi. Biasanya aku yang menggagalkan upaya apapun yang dia lakukan.”

“Ah,” Ingatan kejadian tadi masih segar di pikiran Lucy. Itu termasuk pertanyaan yang dari tadi ingin ditanyakannya. “Tadi an- tadi kau bilang kau mau membuatnya mengaku, maksudnya apa?”

“Aku percaya dia pelakunya. Selalu dia yang melakukan hal semacam ini.” Respon Onyx dengan yakin. “Sayangnya aku tidak punya bukti untuk itu kali ini.”

Lucy menatapnya untuk beberapa saat, mengamati betapa yakinnya Onyx mengatakannya. Dia lalu berkata, “Apa kau tahu apa saja yang dia lakukan selama insiden kemarin?”

Onyx mendekatkan kursinya, “Jadi begini, awalnya aku diam saja di ruangan selama SCP-033-ID lepas. Tak ada kerjaan saat itu, cuma ga ada keperluan saja. Lalu tiba-tiba peringatan SCP-007-ID lepas berbunyi. Dua pelanggaran terjadi bersamaan bukankah mencurigakan?”

Dia menaruh kedua tangannya di meja dan menahan dagunya, “Aku keluar ruangan untuk memastikan. Iya aku tahu itu melanggar protokol, tapi sejujurnya tidak ada yang peduli.”

Lucy hanya bisa menggangguk memahami kondisi situs ini. Onyx kembali melanjutkan, “Aku lihat di ujung koridor ruang pribadi tidak ada apa-apa, jadi aku melanjutkan melihat keadaan di ruang kantor umum. Ada sekitar lima orang lembur di sana.”

Dia menggerakkan tangan kanannya dan menunjuk ke meja, “Nah aku sekilas melihat seseorang dengan seragam keamanan ada di area mess. Dengan semua kejadian setelahnya, aku yakin seratus persen itu si bangsat Hansel. Ngapain lagi dia di sana kalau bukan karena menanam SCP-007-ID-1?”

Lucy diam berpikir. Akan lebih mudah memastikan seluruh klaim Onyx jika dia boleh mengakses CCTV koridor, tetapi situs ini mempersulit penyelidikannya. Lalu dia memikirkan perkataan Onyx yang lain.

“Kau ada bertanya dengan personel yang lembur mengenai itu?” Lucy akhirnya bicara. Tidak ada salahnya mengonfirmasi dulu.

“Uh… tidak. Sebenarnya tidak. Aku tidak terlalu mengenal mereka, sebenarnya.” Onyx menggaruk belakang kepalanya.

“Hah… begitu ternyata…” Lucy menutup mukanya dengan tangannya mendengar hal tersebut. Tetapi kemudian dia menjentikkan jarinya dan berkata dengan antusias, “Artinya kita hanya perlu testimoni mereka untuk mengungkap kebenaran.”

“Se- semudah itu??” Onyx bertanya dengan tidak percaya. Lucy tersenyum, “Tentu tidak, tetapi jika dugaanku benar, kita bisa membuktikan si Hansel pelakunya.”

“Tapi,” Sesuatu terlintas di pikiran Lucy, “Apa kau ingat siapa saja yang lembur kemarin malam?” Tanyanya dengan khawatir.

“Uh… tidak.” Jawab Onyx, diikuti hembusan nafas panjang dari Lucy. Jika diingat lagi, Onyx entah kenapa lebih cocok jadi personel keamanan dan bukan peneliti dengan tingkah lakunya sekarang.

“Tapi serahkan padaku,” Onyx tiba-tiba berdiri. “Aku peneliti senior, apa susahnya mengumpulkan mereka sih.” Dia tersenyum yakin dan berjalan cepat menuju ke pintu. Lucy hanya bisa balas tersenyum pasrah saja.

“Kau tunggu saja di sini, akan ku panggil jika mereka sudah mengumpulkan semua personel tadi malam.” Katanya di depan pintu.

“Aku cuma perlu satu atau dua. Tak perlu-“ Dan pintu ruangan di tutup. Lucy berbalik ke arah meja, memikirkan bagaimana sebenarnya seseorang bisa jadi peneliti senior di tempat ini.


Beberapa puluh menit kemudian Onyx masuk lagi ke ruangan dan mengajak Lucy keluar. Hal pertama yang Lucy katakan adalah, “Jadi bagaimana? Mereka mengonfirmasinya?”

Onyx terlihat kebingungan dan berkata, “Ku kira kau yang akan menanyakannya?”

Lucy menghembuskan nafas. Entah kenapa dia sudah menduga ini sejak melihat gelagat Onyx dari tadi. Jika dia tidak terlalu mengenalnya tadi, dia akan memakluminya mengingat dia memang dua pangkat di atasnya.

Onyx menutup pintu ruangannya sementara Lucy berjalan duluan mengitari koridor. Dia melihat di sisi sebelahnya sudah ada tiga orang personel dengan jas lab seperti dirinya. Dua orang pria dan seorang perempuan. Apa mereka peneliti junior juga? pikirnya selagi mendekat.

“Jadi,” Lucy mencoba mendapatkan perhatian mereka, “Aku di sini membantu Kak Onyx mengonfirmasi sesuatu.”

Ketiga peneliti di depannya menatapnya. Lucy melanjutkan, “Selama insiden kemarin. Apa kalian ada melihat orang melintas di area ini sampai area mess? Tepatnya seorang personel keamanan. Apa kalian ada melihatnya”

Satu orang mengangkat tangannya, “Ada sih. Aku sempat melihat orang dengan seragam penjaga muncul dari arah kantor pribadi ke ruang mess. Tapi aku cuma liat sekilas aja.”

“Pasti Hansel!”

Lucy tersentak mendengar suara di belakangnya dan berbalik seketika hanya untuk melihat Onyx sudah berada di sampingnya. Sama sekali tidak ada suaranya… Lucy menatapnya dengan jantungnya masih berdegup cepat.

“Ka- kau membuatku kaget, Kak.” Lucy meresponnya. “Maaf soal itu. Ku kira kau tahu.” Balas Onyx.

Lucy hanya menggeleng. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke peneliti tadi, “Ku asumsikan kau tidak yakin siapa penjaga yang kau lihat kemarin, kan?”

“Uhh” Kali ini peneliti lain yang angkat tangan, “Seingatku si Fajar ke wc kan? Siapa tau dia berpapasan ma dia.”

“Oh ya, si Fajar.” Balas peneliti tadi. “kemarin rasanya memang saat penjaga itu lewat, ada orang juga jalan ke arah sini. Kau bisa coba tanyakan ma dia.”

“Baik. Dia di mana saat ini?” Lucy bertanya.

“Dia lagi kerja di ruang penahanan sana.” Peneliti tadi menunjuk. “Tungguin aja sejam dua jam ntar ke sini kok.”

“Kelamaan.” Potong Onyx. “Menurutmu kita datangi saja dia?”

Lucy mengangkat bahunya, “Terserah saja sih.”

Lucy berterimakasih kepada mereka sebelum setengah berlari mengejar Onyx yang duluan ke pintu pembatas. Onyx mendorong salah satu pintunya dan langsung masuk. Lucy seketika menahan pintu besar itu agar dia sendiri bisa lewat.

Setelah Lucy masuk, dia melihat ke arah Onyx yang mulai melambatkan langkahnya. Dia selalu melihat ke kiri dan kanannya. Seperti yang Lucy duga, Onyx tidak tahu siapa yang dicarinya.

“Hansel belum kembali ke sini.”

Keduanya berbalik ke arah kiri; seorang personel dengan seragam hitam bersandar di dinding. Lucy mengenalinya sebagai salah satu orang yang kemarin melerai keributan beberapa saat lalu.

Onyx menoleh padanya dan berkata, “Aku ga nyari si bangsat itu. Aku ada perlu dengan salah satu peneliti di sini.”

“Yah, oke lah.” Balas pria itu. Dia melihat ke arah Lucy di belakangnya dan kembali bertanya, “Kau dapat asisten, Onyx?”

Onyx menggeleng selagi tertawa kecil sebelum berkata, “Nah, tidak. Dia asisten Herman yang baru itu. Dia di sini cuma mau menolongku saja.”

Pria itu diam untuk beberapa saat selagi mengamati Lucy dan Onyx. Lucy sendiri merasa sedikit gugup mendapati dia diperhatikan olehnya untuk waktu yang cukup lama.

“Kalau ku ingat lagi, kau tidak ada proyek apapun bukan? Kunjungan ke Kalimantan masih lama juga.” Tatapannya berhenti di Onyx. “Apa ini ada hubungannya dengan yang tadi?”

Lucy diam mengamati. Pria ini… Dia bisa menebaknya.

“Ya.” Onyx membalas. “Perempuan ini akan membantuku membuktikan si bangsat itu pelakunya.” Dia berkata dengan yakin.

Pria itu tidak membalas langsung dan hanya menatap mereka berdua. Dia akhirnya menunduk dan berkata, “Siapa yang kau cari?”

“Seorang peneliti Bernama Fajar. Katanya dia lagi bekerja di area ini.” Onyx menjawab.

“Ya sudahlah, kau cari saja dia dulu, lalu bawa ke sini. Aku juga ingin mendengar pernyataannya.” Respon pria itu.

Onyx langsung lanjut berjalan menuju ruang pengujian. Lucy mulai berjalan mengiringinya. Tiba-tiba dia merasakan sensasi pergelangan tangannya ditarik. Dia menoleh kaget dan mendapati pria tadi menahan tangannya.

“Cukup dia saja. Ada yang ingin kutanyakan kepadamu.” Kata pria itu selagi menatapnya.

Lucy ingin melawan, tetapi dia juga ingin mendengar apa yang akan dia sampaikan. Dia pun berbalik ke arahnya. “Mengenai apa?” Tanyanya.

“Namamu Lucy kan?” Pria itu melepaskan pegangannya. Lucy menduga dia mengenalnya dari rambutnya yang masih kekuning-kuningan, jadi dia ingin mengiyakan, tetapi Lucy keburu dipotong pertanyaan lanjutan, “Kau yang kudengar pernah menyelidiki kasus pembunuhan di Situs-84, bukan?”

“Kau tahu mengenai itu??” Lucy membalas. Dia setengah terkejut karena sejauh ini yang tahu mengenai itu di sini cuma atasannya dan Jones. Apa mungkin sebagian besar orang di sini tahu mengenai itu?

“Ya.” Jawabnya. “Aku yakin kau yang mendorong Onyx untuk melakukan seluruh ‘penyelidikan’ ini, kan?”

“Ga, Kak Onyx sendiri yang mengajakku untuk membantunya. Aku ga mendorongnya atau apa.” Bantah Lucy.

Pria itu menggeleng, “Kau kira aku ga liat kau mendekati Onyx selesai perkelahian tadi?” Katanya.

Lucy diam berpikir. Dia baru sadar memang dia yang mendorong Onyx untuk menyelidiki kasus ini. “Lalu kenapa? Atasan saya dan mantan atasan Kak Onyx nyawanya terancam saat insiden kemarin dan kami tidak boleh melakukan apa-apa mengenai itu?”

Apa seluruh situs memang tidak peduli akan hal itu?

“Aku tak membenarkan itu, tapi kau hanya memberi justifikasi agar Onyx bisa membuat keributan lagi.” Balasnya.

“Tapi jika dia benar?” Tekan Lucy.

Lawan bicaranya tidak membalas. Akhirnya dia berkata, “Oke lah, tapi aku harus memastikan kalian tidak membuat keributan.”

Lucy tidak membantah hal tersebut dan setuju. Dia memutuskan ikut bersandar di dinding bersama pria itu selagi menunggu Onyx.

“Kau belum mengenalkan dirimu, kau tahu?” Lucy berkata kepadanya.

Pria di sampingnya tersenyum, “Heh, maaf. Namaku Heru Dani, agen lapangan senior. Kau Lucia Amelia, kan?” Katanya sambil mengulurkan tangan.

Lagi-lagi senior… Lucy mengiyakannya dan menjabat tangannya. Mereka kembali bersandar berjauhan setelahnya. Setelah diam beberapa saat, Lucy memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan. “Jadi, ada apa dengan seluruh upaya pembunuhan ini? Itu praktisnya merupakan hal pertama yang kupelajari mengenai situs ini.”

Heru diam sejenak menatap sisi seberang koridor sebelum membalas, “Satu orang di lantai bawah mengobarkan perang di seluruh lantai ini dengan semua uang dan janji yang dia punya. Kuasumsikan kau tahu mengenai Louis. Peneliti Senior Christopher Louis.”

“Yeah. Aku sudah mendengar mengenai dia. Cuma ingin memastikan saja.” Lucy menjawab.

Heru terus menatap ke sisi seberang, “Lantai ini terbagi jadi tiga pihak: pihak yang ingin Herman mati – terdiri dari peneliti yang mengikuti Louis dan penjaga yang dibayar olehnya, pihak yang mencoba memadamkan pengaruh Louis di lantai ini – sejauh ini cuma Onyx sendiri meski aku curiga seorang peneliti senior lain bernama Johannes diam-diam membantunya, dan terakhir pihak yang merasa omong kosong situs ini sudah cukup banyak sehingga tidak berpihak pada siapapun alias kami para agen lapangan dan personel lain yang tidak ada hubungannya dengan semua ini.”

“Tiga, ya…” Lucy menanggapi.

Dia mendengar suara di kejauhan dan mendapati Onyx berjalan mendekati mereka, diikuti oleh seorang peneliti di belakangnya. Dia langsung berkata dari kejauhan, “Aku menemukannya!”

Akhirnya mereka cukup dekat sehingga Lucy langsung saja bertanya kepada peneliti di belakang Onyx, “Jadi, apa kau benar yang namanya Fajar?”

Orang tersebut mengiyakan, membuat Lucy melanjutkan, “Jadi, ini mengenai kemarin. Ku dengar dari temanmu yang lain kalau kau ada ke toilet saat insiden terjadi?”

“Iya, ga apa-apa kan? Situs kagak ngelarang itu kok.” Katanya dengan sedikit penekanan. Dia mungkin menganggap dirinya dalam masalah.

“Mengenai itu, ku dengar kau berpapasan dengan seorang penjaga saat kembali ke area kantor. Apa kau mengenal penjaga itu?” Lucy lanjut bertanya.

“Eh, kagak lah. Lagian dia kayak transferan gitu, mana kenal gue.” Jawabnya.

“Transferan itu istilah untuk personel asing!” Onyx tiba-tiba berkata, “Memang si-“

Tangan Lucy terangkat dan ekspresinya mengisyaratkan Onyx untuk menunggu sebentar dengan sopan. Dia lalu menoleh cepat ke arah pria tadi dan berkata, “Apa kau bisa mendeskripsikan mukanya? Warna rambut, kulit, atau matanya? Gaya rambut? Luka atau semacamnya?”

Lawan bicaranya diam sejenak terlihat berpikir. Dia pun kemudian berkata, “Dia kayak personel transferan lain. Kulit putih, rambut pirang. Pirang natural.” Lucy mencoba mengacuhkan penekan tak sadar lawan bicaranya selagi dia bicara. “Matanya biru kalau kagak salah. Untuk luka kagak ada sih, tapi rambutnya disisir rapi gitu. Model eropa gitu lah.”

Lucy mencoba mencocokkannya dengan ingatannya mengenai tersangka. Lumayan mendekati menurut Lucy. Dia melihat ke arah Onyx untuk mengetahui apa langkah selanjutnya.

Onyx cuma tersenyum senang dan berkata, “Ku rasa sudah cukup, bukan?”

Lucy mengangguk. Dia merasa ingin mengakhiri kasus ini secepat mungkin bukan karena tenggat waktunya sendiri, tapi agar tidak perlu mengontrol tingkah laku tak terduga Onyx lagi.

Mereka berdua berjalan menuju salah pintu pembatas. Onyx, seperti tadi, duluan keluar. Lucy menahan pintu untuk keluar juga. Dia tiba-tiba melihat sebuah tangan terulur ke arah gagang daun pintu di sebelahnya.

“Sudah ku bilang, aku akan mengamati kalian.” Kata Heru di sampingnya.

“Oke lah.” Lucy berkata dengan senyum kecil, memikirkan dia bisa menyelesaikan kasus ini akhirnya.


Ruangan mess nomor 38. Lucy setengah terkejut mengetahui ruang mess sang tersangka Hansel hampir berseberangan dengan ruangannya sendiri. Tanpa sadar dia berdiri di belakang Heru yang fokus mengawasi Onyx yang tengah menggendor pintu ruangannya.

“Buka bangsat! Gue sama Heru ini!” Teriak Onyx selagi terus menggendor pintu.

Lucy memijit dahinya; hal pertama yang dilakukan Onyx begitu sampai di sini adalah langsung mengetok keras pintu ruangannya.

Dalam beberapa saat, beberapa personel keamanan muncul dari sebelah kanannya, membuat Lucy tersentak. Mereka terdiri dari enam orang personel yang kelimanya memegang baton dan satu lagi menodongkan senjatanya.

“Kalian mau apa?” Onyx menanggapi mereka.

“Kami mendapat laporan keributan. Katanya kau di sini mengancam akan membahayakan personel lagi.” Jawab salah satu dari mereka.

“Hansel pasti memberitahu mereka untuk ke sini…” Heru berbisik pada Lucy di belakangnya.

“Kalian menegakkan peraturan jika salah satu dari kalian yang diancam dan tidak saat personel lain mengalami hal yang sama?” Lucy tidak tahan untuk tidak membalas. Kata-katanya merujuk ke kondisi atasannya.

Mereka diam saling pandang mendengarnya. Kemudian, salah satu personel keamanan mengarahkan batonnya ke arah Lucy. “Itu dianggap sebagai penghinaan terhadap personel keamanan, bukan?” Katanya kepada rekannya di belakang. Personel lain mengangguk. “Kita harus memberimu pelajaran karena itu, pirang.” Lanjut personel tadi selagi mengayunkan baton itu di tangannya.

Lucy tersenyum kesal, “Sepertinya kalian harus mengganti visor helm kalian dengan warna bening saking butanya kalian karenanya.” Ejeknya.

Tetapi kemudian Lucy mendengar suara di sisi kirinya dan menoleh cepat; tiga orang personel keamanan lainnya muncul dari area kamar mandi dan menodongkan senapannya. Lucy baru ingat area kamar mandi merupakan koridor yang bisa menghubungkan area mess A dan B.

Heru langsung berjalan ke sisi kiri Onyx selagi menyeret tangan Lucy di belakangnya. Kini mereka membentuk formasi sejajar dengan Lucy di tengahnya.

“Kalian kurang banyak, tahu!” Onyx akhirnya melepaskan perhatiannya dari pintu dan merapikan kerah lengannya menghadapi mereka.

“Adrian, Ermes, Rendra, kekacauan lagi. Amankan personel di area kamar mandi mess. Masuk lewat mess B.” Heru berkata ke radionya selagi tak melepaskan pandangannya ke arah tiga orang personel bersenjata di depannya.

Lucy menoleh ke kiri dan kanan, berpikir cepat harus waspada pada sisi yang mana.

Personel keamanan di sisi kanan mulai menyerbu duluan, dia mengangkat tinggi batonnya dan langsung mengayunkannya ke Onyx. Baton tersebut ditahan lengan kirinya selagi Onyx menyasarkan pukulan telak ke perut personel tersebut. Dia terus maju dan memukul menggunakan kedua tangannya bagai tak terasa sakit sedikitpun.

Heru langsung maju juga, mengejutkan Lucy. Dia berlari ke depan sebelum menunduk cepat dan mendorong moncong senapan ketiga personel keamanan di depannya ke arah atas. Ketiga personel keamanan tersebut sepertinya terkejut dan tidak tahu harus bereaksi apa.

Tiba-tiba, dua orang personel berseragam taktis hitam langsung menubruk mereka bertiga dari arah kanan. Heru dengan cepat menjauhkan senapan mereka yang terjatuh dari jangkauan.

“Ku kira kau benci keributan, Heru!” Kata salah satu personel taktis di lantai.

“Mereka yang mulai. Sembilan lawan tiga sudah keterlaluan.” Jawab Heru yang menyeka keringat di dahinya.

Lucy menghembuskan nafas lega. Tetapi dia teringat Onyx dan langsung menoleh cepat ke arahnya; keenam personel keamanan tadi sudah tergeletak di mana-mana. Satu mencoba merayap menjauh dengan satu tangan. Onyx sendiri merapikan jas lab miliknya yang sangat kusut.

Bukannya kalian tadi berenam? Lucy tidak bisa berkata apa-apa.

“Pak Dilan tidak akan senang mendengar ini…” Satu lagi personel berseragam taktis dan sebuah topi abu-abu muncul. Dia mulai menendang punggung dan perut personel keamanan di lantai.

“Kau tenang saja, Dri. Ketua akan memakluminya. Hansel tidak pandai berkelit, kau tahu.” Heru mengamati para personel yang kesakitan di lantai.

Tiba-tiba pintu ruangan Hansel terbuka dan Hansel keluar. Dia dengan sigap mencengkram bahu Lucy dan berteriak, “Mundur atau pirang palsu ini kupenggal!”

Pisau di tangan kanannya menempel di leher Lucy.

Hansel dengan panik melihat ke arah Onyx dan Heru dengan cepat. Dia hanya mengenakan kemeja putih yang tidak rapi dikancingnya juga celana hitam panjang. Tanpa helmnya, dia memiliki rambut pirang dan mata biru sesuai deskripsi. Keringat dengan jelas dapat terlihat di wajahnya.

“Aku sumpah, Onyx, aku tidak tahu apa-apa mengenai insiden kemarin, jadi mundur dan jangan mendekat!” Dia berjalan merapat ke sisi dinding yang berlawanan dengan Onyx secara perlahan. Onyx sendiri terlihat ingin sekali memukulnya, tetapi dia tidak berani maju sedikitpun ke depan.

“Kau melewati koridor kantor pribadi saat insiden! Tidak mungkin kau tidak melihat SCP-007-ID-1 di depan kantor Herman!” Lucy berteriak meski tahu dirinya jadi sandera.

“Aku- Aku memang tidak melihat ranjau sialan itu di koridor!” Hansel kini saling berhadapan dengan Onyx selagi terus berjalan perlahan menuju koridor kantor umum.

“SCP-007-ID ditemukan di area mess A! Itu di koridor ini! Semua bukti mengarah kepadamu!” Lucy terus mengatakan apa yang dia tahu.

“Untuk apa aku melakukan hal sebodoh itu! Kau kira aku cukup bodoh untuk membawa barang bukti ke depan ruangan mess-ku sendiri dan berkata aku pelakunya?” Hansel balas menjawab.

Lucy tertegun mendengarnya. Tetapi sedetik perhatiannya teralihkan, Hansel langsung lari secepat mungkin. Tiba-tiba sesuatu terbang cepat ke arahnya. Sebelum Lucy sadar, punggung Hansel dihujani peluru bius. Dia langsung ambruk setelah beberapa langkah.

“Menyusahkan…” Salah satu personel taktis – yang mengenakan topi – melempar senapan yang dipakainya tadi.

“Heh, terlalu berlebihan, Adri!” Heru tertawa gugup. Tetapi dia kemudian menghembuskan nafas pasrah dan berkata, “Ermes, keberatan membantuku membawa temanmu ke bawah?”

Lawan bicaranya menggeleng, tetapi dia tetap mendekati Heru. “Baru beberapa jam, lho.”

Mereka berdua lalu memapah Hansel yang tidak mampu berdiri dan berjalan menjauh. “Ku kabarin Herria nanti, kalian berdua ikat saja mereka dulu!”

Dua orang personel taktis yang tersisa mulai bekerja. Kini tinggal Lucy dan Onyx saja di sana.

“Terimakasih, Lucy. Kau membuatnya mengaku.” Kata Onyx kepadanya.

“Ng, aku ga ngebikin dia mengatakan apapun.” Balas Lucy dengan bingung.

Onyx hanya tertawa. “Jika dia lari, artinya dia salah. Sederhana bukan?”

“Ku rasa begitu…” Lucy mengiyakan.

Dia lalu teringat sesuatu, “Aku duluan ya, Kak!” Katanya selagi mulai berlari.

Onyx hanya melambai dari jauh. Dia berlari menuju area kantor pribadi dengan cepat. Dia berhenti di depan pintu bertuliskan ‘A1’ dan mengetoknya. Dua kali dengan cepat sebelum dia berhasil mengontrol nafasnya dan mengetok lagi dengan normal.

Pintu terbuka beberapa saat kemudian dan Jones keluar ruangan dengan wajah lelah. Lucy baru ingat kalau dia personel senior dan seharusnya digantikan asistennya saat ini. Itu jika dia punya.

Mungkin itu alasan dia ingin aku jadi asistennya… Pikir Lucy sejenak. Tetapi tetap saja dia perlu memberitahukan Jones mengenai kejadian tadi.

“Ya? Eh, Lucy. Kau ada perlu apa?” Dia mencoba terlihat tidak setengah mengantuk.

“Aku menemukan pelakunya. Orang yang menanam peledak di depan kantor Herman.” Jawab Lucy.

“Oh, kau benar-benar menemukannya?” Jones sepertinya tidak kuat berdiri dan hanya bersandar di ambang pintu dengan kedua tangannya disilangkan.

“Ya. Seorang personel keamanan Bernama Hansel. Dia terlihat di koridor ini saat insiden. Juga SCP-007-ID ditemukan di area mess-nya.”

Jones mengangguk mengerti, “Si Hansel itu ya… Dia ada mengaku tadi?” Tanyanya.

“Tidak sih. Tapi tadi dia ngelawan saat ditanya. Untung aku ditemani Kak Onyx tadi.” Balas Lucy.

Jones terlihat gusar mendengarnya. “Sial, kok si Onyx terlibat sih… Ini si Hansel keadaannya bagaimana?”

“Dia ditembak sekumpulan personel pakai seragam tentara hitam gitu pakai senapan bius.” Jawabnya.

“Sampai agen lapangan terlibat juga, ya… Tapi kau ga kenapa-napa, kan?”

Lucy mengangguk. Jones menghembuskan nafas lega. “Dengar, kawan. Harus ku akui, tempat ini memiliki bahayanya tersendiri. Lain kali jangan mencari masalah lagi.”

“Oh ya,” Jones bak teringat sesuatu, “Kau bisa lanjut kerja dengan Herman. Aku masih mempertimbangkan saja tadi itu. Anggap aku cuma setengah serius ingin menjadikanmu asistenku.”

Jones melihat Lucy baik-baik. Rambutnya sedikit berantakan dan jasnya sedikit kusut. “Tapi ku lihat kau serius ingin bekerja dengan dia. Aku tidak mau memaksamu juga.”

Lucy hanya mengusap belakang lehernya dan berkata, “Aku cuma ingin memecahkan kasus ini saja. Ini murni ketertarikan pribadi. Aku tak suka mengetahui pelakunya tidak mendapat balasan apapun.”

Jones tersenyum mendengarnya. Dia menguap sekali sebelum berkata, “Baik, ku rasa kau memang menyelesaikan kasus ini sebelum shift-mu besok. Sudah larut malam, kau tidur saja dulu sampai giliranmu kerja besok.”

“Baik, kak.” Lucy menjawab dengan tersenyum puas. Jones dengan segera menutup pintu ruangannya begitu mendengarnya. Lucy sedikit bersalah tidak jadi asistennya.

Lucy berjalan kembali ke arah mess. Dalam perjalanannya dia kembali melihat ke ruangan Herman sang atasannya. Dia berpikir untuk singgah sebentar memberitahukan keberhasilannya, tetapi kemudian dia ingat Herman sendiri tidak masalah akan seluruh kasus ini, jadi Lucy ragu akan mendapatkan reaksi senang darinya.

Ya sudahlah!

Lucy lanjut berjalan. Menghindari lubang besar yang membuatnya menyelidiki segala insiden ini. Lucy mengamati lantai sekitar lubang galian yang masih penuh debu dan pasir. Pekerjaan penambalan lubang masih belum dilakukan.

Setelah beberapa saat, dia sampai di area mess-nya. Beberapa bercak darah mengotori lantai dan dinding putih pucat koridor, tetapi semua yang terlibat sepertinya sudah dibawa ke tempat lain sehingga koridor kosong sekarang.

Lucy melihat ke arah pintu ruangan mess Hansel yang tertutup. Dia masih ingat Hansel tiba-tiba keluar dan menyergapnya tadi. Tanpa sadar Lucy meraba lehernya dan mengingat sensasi pisau Hansel yang melekat tadi. Pengalaman pertamanya menjadi sandera.

Aku harus memikirkan cara lolos dari sekapan itu untuk kedepannya…

Lucy membuka ruangan mess miliknya dan masuk ke dalam. Dia melepas jas labnya dan melemparnya ke kursi. Dia memutuskan untuk tidak menyalakan lampu karena memang berniat untuk tidur segera. Dia langsung berbaring ke ranjangnya dengan wajah menghadap ranjang.

Bagaimana aku bisa terlibat pada semua kekacauan ini… Pikirnya selagi berbaring. Dia mencoba mengingat tujuan awalnya ditugaskan di situs ini. Dia hanya perlu mencari seseorang. Sekarang dia terlibat pada urusan internal Situs-79.

Rasa penasaran akan membunuhmu, kata mereka… Lucy mulai terlelap, Tetapi semua setimpal pada akhirnya. Dia tak sadar tersenyum selagi kesadarannya kabur.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk tertidur karena kelelahan.


Entah berapa lama sejak Lucy tertidur, tetapi ketika dia bangun, dia mendengar ketukan pintu tiga kali. Di tengah kegelapan kamar, Lucy mencoba menyadarkan dirinya ketika tiga ketukan pintu terdengar lagi.

Dengan sedikit malas, Lucy menyalakan lampu ruangannya. Setelah dia merasa cukup sadar, dia membuka pintu ruangannya. Dia masih mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjangnya yang dia bawa tidur tadi, jadi tidak apa-apa.

Di depan pintunya, seorang pria berdiri. Pakaiannya kemeja hitam dengan lengan panjang dan kerah tinggi. Ketika Lucy melihat ke wajahnya, dia mengenakan kacamata hitam berbingkai bulat.

Dia tersenyum ke arahnya.

Kronik Situs-79

Bab 3: Ladang Ranjau
« Penugasan Pertama | Daerah Dilanda Perang | Melewati Ladang Ranjau »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License