Alarm yang disetel ponsel berbunyi nyarin di ruang kantor sunyi pagi itu. Sayangnya tidak peduli betapa lama ia berbunyi, tidak ada yang bangun untuk mematikannya. Pada akhirnya dia mati dengan sendirinya untuk ketiga kalinya, merasa dia sudah melakukan yang sebisanya untuk tujuan eksistensinya. Dia tidak akan berbunyi lagi.
Beberapa puluh menit kemudian, terdengar suara pada pintu besi kantor itu. Sesaat kemudian, pintu itu terbuka dan seorang pria berseragam peneliti dengan jas labnya masuk. Dia menatap ke arah pojokan dan menggeleng.
Terdapat seorang perempuan dengan rambut pirang hasil pewarna mengenakan jas biru dengan kancing terlepas tengah tertidur nyenyak di meja kecil di pojokan. Jas labnya menjadi selimutnya.
“Hey, bangun!” Pria yang baru datang berkata keras.
Perempuan tersebut tersentak kaget dan langsung melihat ke sekeliling. Pria yang sepertinya merupakan atasannya tengah berdiri dengan kesal di sampingnya.
“Eh, ah! Pak Christ! Maaf, aku ketiduran!” Perempuan tersebut berkata dengan kaget, dia masih setengah sadar. “Jadi apa lagi yang harus ku kerjakan?”
“Shift-mu selesai, kalau mau tidur di mess-mu, bukan di sini.” Dia berkata selagi berjalan ke arah mejanya sendiri. “Dan kan kemaren ku bilang panggil Louis! Diingat dong!”
“Ya, maaf Pak Louis.” Perempuan tersebut berkata selagi merapikan tempatnya bekerja. Dia tiba-tiba ingat kalau komputernya cuma dalam keadaan sleep. Dengan segera dia menghidupkannya. Dia dihadapkan foto profilnya dulu sebelum mewarnai rambutnya juga nama penggunanya.
Lucy
Sepertinya halaman awal komputer menampilkan nama pengguna dan bukan akunnya yang merupakan nama lengkapnya. Lucy dengan segera menekan log out dan segera izin meninggalkan ruangan kantor atasannya.
“Hey, jas lab mu tertinggal!” Louis berkata begitu Lucy hendak memutar gagang pintu. Lucy menoleh dan berkata, “Oh, maaf Pak!”
Dengan segera jas labnya itu disangkutkannya di bahunya. Ini ternyata membuat Louis kembali berkata, “Pasang yang benar! Kamu itu peneliti atau bukan sih?”
“Iya, iya. Maaf, Pak!” Lucy mengiyakannya, mencoba menyembunyikan kekesalannya. Sejujurnya dia sempat mencoba melawannya tadi malam. Tetapi yang dia tidak tahu adalah ternyata mungkin alasan Onyx selalu ingin memukulinya dulu adalah karena dia tidak bisa diam dan yang dikatakannya selalu menjengkelkan. Hanya dia yang tahu betapa gemetarannya tangannya ingin menembaknya malam itu dengan revolvernya.
Dia mengenakan jas labnya melapisi jas biru tua favoritnya. Sejujurnya dia tidak menyukai jas lab karena terlalu panjang baginya dan betapa mudahnya ia untuk kotor. Sayangnya Louis menginginkannya menjadi personel yang ‘ideal’ baginya. Untungnya Louis suka suhu AC ruangannya sedingin mungkin.
Di luar ruangan, dia berdiri dan mengembuskan nafas pasrah. Dia sudah jadi peneliti biasa, tetapi entah kenapa dia masih bekerja bak peneliti junior. Jones mengatakan sesuatu mengenai dia yang tidak memiliki spesifikasi penelitian, seperti atasannya dulu. Lebih tepatnya dia diputuskan untuk menjadi spesialis lapangan.
Pada akhirnya satu-satunya tugasnya adalah mendampingi Louis bekerja karena kalau tidak dia praktisnya menganggur sampai ada anomali baru.
Dia memutuskan untuk segera berjalan menyusuri area kantor pribadi menuju messnya. Dia belum merapikan barangnya sejak kemarin, Louis memintanya mengurus administrasi dan urusan lain sebagai asistennya malam itu juga dan tak memperbolehkannya kembali ke mess-nya sampai shift malam selesai.
Serius… bahkan Pak Robert dulu tidak seburuk itu… Lucy berpikir. Mungkin cuma Louis yang seperti ini, tetapi Lucy juga berpikiran kalau mungkin Herman terlalu memanjakannya dulu saat jadi atasannya.
Mendekati ujung koridor, Lucy mendengar langkah kaki di belakangnya. Dia menoleh dan mendapati seorang perempuan berambut hitam panjang berjalan tak jauh darinya. Rambutnya yang panjang menutupi seperempat wajahnya. Dia mengenakan kemeja putih biasa yang dilapisi jas lab, dengan rok ungu panjang menutupi kakinya yang memakai Sepatu hak tinggi hitam. Dia menenteng tas bahu hitam berantai di lengan kirinya.
“Hey,” Perempuan itu berkata selagi mengangkat salah satu tangannya, memintanya untuk berhenti sejenak. Lucy menatapnya sebelum memutuskan untuk mendekatinya. “Ya? Perlu apa ya Bu?” Lucy bertanya kepadanya.
“Kau si asisten baru Christopher, kan?” Dia berkata dengan senyum. “Rambutmu itu… kau tahu aku dulu juga mewarnai rambutku oranye. Tapi aku tak tertarik lagi mewarnainya.”
“Oh,” Lucy membalas dengan tertarik. “Kalau saya sih, disarankan teman dulu. Tapi sekarang gak sempat ku warnain ulang sih…”
Perempuan itu tersenyum dan berkata, “Sepertinya kita banyak kesamaan, ya. “Perkenalkan, namaku Cyra Shimmer, peneliti senior.” selagi mengulurkan tangannya.
Lucy merasa pernah mendengar nama panggilannya itu, tetapi dia tidaklah terlalu memikirkannya dan segera menjabat tangannya dengan senyum senang juga. “Lucia Amelia, peneliti biasa.”
“Peneliti biasa, ya? Kok mau saja bekerja untuk si Christopher itu?” Cyra bertanya dengan tampang kasihan.
“Yah… sudah dipasangkan oleh direktur sih. Saya sih tidak suka juga, tapi mau gimana.” Lucy mencurahkan isi hatinya.
“Si Stefan ya…” Perempuan itu terlihat berpikir selagi mengalihkan pandangannya dari Lucy. Tetapi kemudian dia melirik ke Lucy dan bertanya, “Kau benar-benar tak menyukainya?”
Lucy tertegun. Dia tidak tahu apa hubungan perempuan ini dengan Louis. Bisa jadi dia diminta mengecek kesetiaan Lucy padanya. “Ehm… tidak juga sih. Dia cuma tegas saja orangnya.” Jawabnya.
“Ah, kau mengira aku temannya Louis, ya?” Perempuan itu tersenyum, sepertinya mampu melihat kebohongan Lucy. “Tidak, tidak! Aku tunangan saingannya, Dr. Frederick Livington.”
“Oh, begitu.” Lucy membalas lega. Dia tidaklah memedulikan urusan rivalitas Louis, tetapi setidaknya dia bisa jujur kepadanya. Mungkin. “Yah… sejujurnya aku memang tidak terlalu menyukainya.”
“Lihat, satu lagi kesamaan kita.” Perempuan itu berkata lembut. “Mungkin kita bisa saling berteman, bagaimana menurutmu?”
“Te- tentu.” Lucy membalasnya dengan canggung. perempuan ini entah kenapa lebih ke arah merayunya. Jika dirinya adalah laki-laki, dia akan terpesona akan kecantikannya.
“Nah, kalau begitu, maukah kau menolongku akan sesuatu?” Dia berkata selagi melangkah pelan ke belakang Lucy dengan salah satu tangannya di bahunya.
Lucy melirik ke tangan perempuan itu dengan ragu. “Ya? Jadi anda perlu apa?”
“Sebenarnya cuma penasaran saja, apa yang Christopher sedang teliti… kau mau memberitahukannya kepadaku?” Dia berkata dengan nada memohon.
Lucy diam memikirkannya. Dia pernah bekerja dengan Herman di lantai atas, dan jika ada satu hal yang diketahuinya, itu adalah Louis selalu mencoba mencuri dokumen Herman untuk mencoba membalap penelitiannya. Dia tidak melihatnya melakukan itu, mungkin karena ini baru hari pertamanya, tetapi Lucy dulu menjaga kantor jika Herman ke luar. Dia pernah mendapati beberapa anak buah Hansel mencoba membobol kantor dan Lucy harus memanggil Onyx karenanya.
Dia tertegun dari pikirannya. Perempuan ini mencoba melakukan hal yang sama. Saat itulah dia kembali memikirkan rivalitas antar atasannya. Louis akan marah padanya jika dia sampai membocorkannya.
“Maaf, saya tidak tahu sejauh itu. Saya baru hari pertama jadi asistennya.” Lucy menjawab.
“Ah, tidak apa kok.” Cyra menjawab, membuat Lucy lega mengetahui dia memang murni penasaran saja.
Akhirnya perempuan itu berjalan melalui Lucy dan berkata, “Senang mengenalmu, Lucy. Kau Kristen, kan? Mungkin akan kutraktir makan bacon nanti malam.”
“Huh…” Lucy menatapnya melangkah kembali ke ruang kantornya yang terletak pada pintu kedua dari ujung.
Lucy sendiri pun memutuskan untuk segera menuju ruang messnya untuk istirahat, meski sekarang dia tidaklah terlalu mengantuk lagi. Mungkin dia akan merapikan barangnya dulu sebelum berbaring dan mungkin tertidur kelelahan karenanya.
Dia berjalan menyusuri deretan pintu mess yang – sama seperti di lantai Safe – terdiri dari dua area. Pintunya kali ini terletak di sisi kanan. Dia mengamati ke sisi seberang. Dia ingat dulu dia harus mengawasi Hansel yang menjadi tetangganya, meski sampai sekarang dia tidak pernah mengganggu messnya. Dipikir lagi, malah dia yang pernah mengganggunya di kamar mess-nya. Dia masih sedikit merasa bersalah karena itu.
Akhirnya dia memasuki ruangannya. Benar saja, barang-barangnya masih di atas ranjang. Dia menyalakan sakelar lampu dan mulai mengatur barangnya. Dilihat-lihat, mess ini tidaklah jauh beda dari yang di lantai atas. Dia memutuskan untuk menempatkan barangnya di tempat yang sama seperti dulu. Satu persatu barang dikeluarkan dari koper dan kotaknya.
Di tengah itu, Lucy meraba sesuatu. Sebuah buku novel dengan judul ‘To Kill a Mockingbird’ karya Harper Lee, versi Indonesia. Dia sejujurnya tidaklah ingin membacanya lagi sekarang, sebagian besar karena dia sudah sering membacanya dulu.
Dia juga ingat terselip sebuah pasfoto. Target yang selama ini harus diburunya agar dia bisa kembali ke situs asalnya dulu. Dia merasa tidak perlu mengeceknya karena dia ingat pria yang dicarinya harusnya memiliki bekas luka besar di pipinya. Tidak mungkin dia melewatkan itu. Hanya saja dia belum keluar dan bertemu banyak personel lantai ini.
Dia memutuskan untuk meletakan buku itu di meja seperti dulu. Seingatnya dia juga meletakkan tempat pensil di sampingnya, jadi dia bergegas kembali mencarinya di antara barangnya.
Saat itulah dia meraba sesuatu berbentuk kotak. Dia mengeluarkannya dan mengetahui kalau itu adalah sebuah kotak kado kecil berpita merah. Dia tiba-tiba teringat ini diberikan siapa dan untuk siapa.
Dengan segera dia keluar dari messnya dan berjalan menyusuri koridor membawa kotak kecil itu. Melewati area kantor pribadi yang sepi dia berlari kecil. Akhirnya dia sampai di depan pintu pembatas. Sesuatu menarik perhatiannya sebelum dia membukanya, sebuah ukiran di atas pintu tersebut dalam bahasa Inggris.
‘City of Dis’.
Lucy mengamatinya selama beberapa saat sebelum dengan segera membuka pintu pembatas yang diluar dugaannya, cukup berat. Dia mengamati adanya pos keamanan dengan personel keamanan. Orang itu sepertinya terkejut melihat Lucy dan segera mengisyaratkannya untuk mendekat.
“Kartu tanda pengenal, tolong perlihatkan.” Orang itu berkata.
Lucy dengan segera mengeluarkan kartu pengenalnya yang sudah diperbarui mengikuti perubahan statusnya. Dia mengamati kilauan kartu barunya selama beberapa saat sebelum menyadari dia masih di area penahanan. Dengan segera dia menyerahkannya ke penjaga tadi yang terlihat tak sabaran dan segera meraihnya sebelum dengan cepat dikembalikannya kembali.
“Personel baru lantai ini ya…” Dia berkata. Awalnya Lucy tidak yakin, tetapi ternyata dia sepertinya memang membaca konten kartunya. “Jangan berkeliaran di area penahanan kecuali kau punya urusan.” Dia memperingatkan.
“Baik. Apa kau tahu di mana bangsal medis lantai ini?” Lucy bertanya. Di lantai Safe, letaknya cukup jauh, bahkan bersebelahan dengan ruang mesin saking kecilnya. Seharusnya di sini ukurannya lebih besar dibanding di atas.
“Tumben. Biasanya orang bakal nyari kantin… Setelah kantin belok kiri. Letaknya di sisi kiri sebelum masuk koridor penahanan penahanan.” Penjaga tersebut memberi arahan.
Lucy berterima kasih kepadanya sebelum pamit. Dia akhirnya sampai di area penahanan. Meski masih pagi, banyak personel berseragam teknisi dan personel keamanan lalu-lalang. Lucy berjalan pelan melihat-lihat sekelilingnya. Selain lokasi istirahat teknisi, denah ruangannya cukup berbeda dibandingkan di lantai atas. Misalnya saja laboratorium terletak di sisi kanan dan bukannya kiri seperti di atas.
Dia akhirnya berada di samping pintu masuk kantin yang dibicarakan penjaga tadi. Akhirnya dia tidak perlu menitip temannya untuk membawakan makanan, meski dia mulai rindu percakapannya. Dia rasa dia akan serahkan dulu kado yang dibawanya lalu istirahat. Dia bisa makan nanti saat sudah bangun.
Berbelok di tikungan, dia bisa melihat koridor panjang yang sepertinya merupakan koridor penahanan. Tidak ada pintu yang menghalanginya, tetapi terdapat dua orang personel keamanan yang bersiaga di dekatnya, juga masing-masing satu untuk tiap pintu di sana.
Lucy melirik ke samping dan menemukan bangsal medis di sisi seberang sebuah koridor kecil di antara ruangan itu dan kantin yang dia tidak tahu mengarah kemana. Perlahan dia membuka pintu ganda itu dan masuk ke dalam.
“Permisi,” Lucy berkata.
“Ya?” Seorang pria yang mengenakan baju oka mendekatinya.
“Saya Lucy, peneliti baru lantai ini. Saya ingin menemui yang namanya Dr. Lira Saidah” Dia berkata pelan selagi melangkah masuk.
“Ah, Ulya! Bangunkan Bu Lira!” Pria itu berkata kepada seorang perempuan berjilbab berpakaian serupa yang tengah merapikan barang. Dengan segera dia berjalan menuju meja besar di ujung ruangan.
“Langsung saja ke sana.” Dia berkata ramah.
Lucy mengangguk dan mengamati ruang bangsal medis lantai ini. Terdapat empat kali lipat lebih banyak ranjang di sini dibandingkan di lantai atas yang hanya terdiri dari dua ranjang, masing-masing dibatasi tirai. Peralatan di sini juga lebih lengkap karena ada beberapa alat di sini yang tidak pernah Lucy lihat ada di bangsal medis lantai atas, mengingatkannya akan situs asalnya dulu.
Dia menatap ke depan; seorang perempuan dengan rambut ponytail berantakan perlahan bangun dari belakang meja. Apa dia tidur di belakang meja itu? Tanya Lucy dalam hati selagi mengamatinya merapikan rambutnya dan mengenakan kacamatanya. Setelah berdiri dengan memegangi mejanya, dia memakai jas dokternya dan berkata, “Aku Lira, kepala bangsal medis lantai ini. Ada yang bisa ku bantu?”
Lucy meletakkan kado yang sedari tadi di bawanya dan berkata, “Saya peneliti baru di lantai ini, awalnya ditugaskan di lantai atas. Sebelumnya, saya dititipkan hadiah ini buat dikasih ke anda oleh teman anda di atas sana.”
“Teman?” Lira berkata selagi meraih kotak kado itu. Kedua staf medisnya sepertinya juga tertarik akan hal itu dan mendekati mejanya dengan penasaran. “Sejujurnya, aku tidak ingat punya teman di atas sana, tapi kau tahu, aku menghargai hadiahnya.” Dia tersenyum ragu selagi mencoba membuka ikatannya.
Setelah dibukanya. Diletakkannya kado itu di atas meja untuk dibuka. Di dalamnya, terdapat sebuah boneka beruang kecil berwarna putih. Staf perempuannya reflek berkata kagum melihatnya.
“Heh, apa ada seseorang di atas sana yang tertarik denganmu, Bu?” Pria yang tadi menolongnya terkekeh.
“Hush, jangan bercanda Saimun. Aku kenal orang-orang di atas dan rasanya gak ada yang seniat itu buat ngasih kado.” Balas Lira yang meraih boneka tersebut.
“Yang ngasih kado itu dokter bangsal medis lantai Safe, namanya Radia.” Ungkap Lucy.
Di luar dugaan, Lira tiba-tibe membalas, “Hah?! Siapa-“ Tetapi pertanyaannya tadi terhenti karena dia menyadari sesuatu. Lucy mengamati bahwa bagian belakang boneka putih itu penuh jahitan benang putih yang seharusnya tidak terlihat, tetapi karena saking banyaknya jahitannya membuatnya agak mencolok.
Yang Lira amati lebih parah lagi; selain sensasi tajam di boneka yang digenggamnya di balik sarung tangannya, yang dia lihat di dasar kotak kado adalah pin granat yang terekat, terlepas begitu diangkat.
Dengan teriakan terkejut Lira segera melempar boneka itu ke arah sembarang. Sayangnya mulai awal dia mengangkatnya sampai melemparnya merupakan waktu yang cukup lama sampai boneka itu meledak di depan mereka. Untungnya jaraknya cukup jauh, tetapi boneka tersebut memang dipenuhi serpihan kaca yang menghujani ke segala arah.
Yang paling banyak menerima luka adalah si staf pria yang secara reflek melindungi rekan perempuannya. Dia berteriak kesakitan sebelum terjatuh ke lantai saking banyaknya serpihan kaca yang menusuk menembus baju tipisnya. Lucy dan perempuan itu hanya bisa berteriak kaget sementara Lira dengan cepat membantunya ke ranjang medis segera.
“Apa- apa yang kau lakukan, setan!!?” Si staf perempuan yang kebingungan segera meraih pisau bedah dan menyerang Lucy yang masih syok dengan marah. Untungnya Lira segera menahan lengannya dan berkata, “Istighfar, Ulya! Ini bukan ulahnya! Ini ulah si Radia!”
Dia lalu mengalihkannya ke samping ranjang dan berkata, “Lukanya kebanyakan, kita harus kirim ke ayahku! Siapin peralatan!”
Selagi Ulya menyiapkan ranjang dan mencoba menolong rekannya. Lira mendekati Lucy dan berkata, “Maaf kau harus melihat ini, tetapi ku sarankan kau keluar dari sini sekarang.”
Lucy yang sama sekali masih kebingungan akan apa yang barus saja terjadi mengangguk perlahan dan segera berlari ke luar. Dia berpapasan dengan dua orang penjaga yang segera bergegas masuk karena mendengar keributan.
Begitu Lucy sampai di luar bangsal medis, dia akhirnya membiarkan dirinya duduk di lantai. Beberapa saat kemudian, Lira dan Ulya bergegas mendorong ranjang berisi rekan mereka keluar dari koridor dibantu dua orang personel keamana tadi. Sekilas dia bisa melihat Ulya meliriknya dengan tatapan membunuh.
Setelah mereka pergi berlalu, dirinya akhirnya cukup sadar untuk mulai terisak, memikirkan apa yang telah ia lakukan.
Suara tetes air menghantam dari keran ke wastafel. Dengung mesin pelan yang terletak tepat di sebelah ruangan bisa terdengar jika seseorang menajamkan pendengarannya.
Seorang perempuan terbaring di meja, mengamati wastafel di depannya dengan tatapan kosong. Cepol ramputnya yang tidak dirapikan membuat beberapa helai keluar.
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar. Perempuan tersebut segera pura-pura tidur. Tebakannya benar, seorang personel keamanan berjalan masuk. “Bu Radia! Terjadi insiden di bangsal medis lantai Euclid!”
“Huh, ya? Apa?” Dia mencoba terdengar terkejut selagi dia berdiri dari kursinya.
“Ku dengar ada granat meledak di sana. Pasti ulah pihak oposisi sana!” Personel tersebut memberitakan. Dia mungkin mengira perempuan itu peduli akan apa yang terjadi di bawah.
“Oh, tidak! Itu terdengar mengerikan…” Radia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Apa… apa ada korban jiwa?”
“Entahlah, satu orang staf medis kena ledakan dan lagi kritis. Tadi aku membantu membawanya ke lantai Keter. Aku tidak tahu nasib pria itu saat ini, tetapi kau mungkin perlu mengetahui itu.” Jawab personel itu.
“Ah, oke. Terima kasih, ya…” Radia melambai pelan selagi mengamati personel itu meninggalkan ruangannya. Seketika dia menurunkan lambaian tangannya, dibiarkannya jatuh dan terayun tak digerakkannya.
Begitu ruang bangsal medis kecilnya kembali sunyi. Dia melirik ke arah wastafel tadi. Di atas wastafel tersebut, terdapat sebuah bingkai cermin dengan serpihan-serpihan cermin masih menempel di pinggirannya. Sisa serpihannya sudah diletakkannya di tempat lain.
Radia berjalan pelan dan mencabut serpihan terbesar yang tersisa dari bingkai dan menggenggamnya. Dia mengamati bayangannya sendiri, seorang perempuan dengan bekas luka di dahinya bekas menghantam cermin itu sebelumnya berkali-kali sampai pecah.
Ini bukan salahku…
Dia melirik ke arah ranjang. Terdapat sesosok mayat yang sudah terbungkus kain putih. Dia adalah personel yang memiliki tendensi swasida, jadi dia memberinya obat untuk menghentikannya. Tidak sebelum dia membantunya merangkai hadiahnya, tentu saja. Dia tidak lagi memerlukan seragamnya setelah itu, jadi dia bisa meminjamnya untuk melalui koridor tanpa ada yang mengenalinya dan menciptakan alibi sempurna.
Ini salahnya…
Dia tidak bisa mengobati orang yang sudah pasti akan mati. Jika kalkulasinya benar, jika Lira terlambat menyadarinya saat mengangkatnya, serpihan kaca bersama ledakannya seharusnya cukup untuk menusuk titik fatal yang dia tahu persis mematikan. Penjahitan akan sia-sia karena serpihan kecilnya akan memasuki pembulu darah. Dan dia berharap perempuan itu mengerti akan pelajaran yang disampaikannya. Overtreatment merupakan malapraktik juga, pikirnya.
Kepada Lira tersayangku yang tidak sedikitpun menunjukkan penyesalan…
Dia kembali menatap serpihan di tangannya yang menyerupai pisau bedah, menyadari dia tersenyum puas. Genggamannya semakin kuat, membuat telapak tangannya mulai memunculkan darah.
…apa kau menyesal sekarang?
Tangannya memecahkan serpihan kaca itu.
Malam itu Lucy tidaklah mencoba melawan Louis saat dia memberinya tugas. Dia dengan diam menerima kerjaan yang diberikannya selagi ia sendiri sepertinya terburu-buru pergi sore itu. Lucy mengurung diri di ruang kantor dinginnya malam itu.
Biasanya dia setidaknya memiliki teman yang peduli jika dia ada masalah. Tetapi sekarang dia sendirian di lantai ini. Dia jelas tahu tidak ada yang akan bersikap bersahabat dengannya setelah dirinya mencoba membunuh orang di sini seperti dulu.
Mendekati pukul delapan malam, pintu ruangannya diketuk. Lucy berjalan ke arah pintu dengan lemah, dia sedikit heran kenapa Louis kembali secepat itu.
Tetapi yang mengetuknya ternyata adalah seorang perempuan yang ditemuinya di koridor pagi tadi.
“Bu Cyra?” Lucy terkejut, tetapi perlahan tersenyum begitu melihatnya. “Perlu apa ya?”
“Kan ku bilang, ku traktir kau bacon malam ini.” Dia berkata selagi menenteng bungkusan makanan. Sepertiny dari restoran mahal.
“Bu Cyra…” Lucy tertegun melihat kebaikannya. Mencoba untuk tidak menangis di depannya, dia segera bersiap keluar dengan mematikan komputernya. Begitu mengunci pintunya, dia segera berjalan mengiringi Cyra ke arah kantin.
“Tempat ini memang bukan resto bintang lima,” Cyra berkata, mengamati sekeliling kantin lantai Euclid situs yang minim personel. “Dan biasanya aku milih makan di kantor atau di luar karena sudah jam pulang, tetapi anggap ini hadiah pertemanan kita.”
Lucy mengamati makanan yang dipesankan Cyra untuknya. Sejujurnya dia tidaklah terlalu berselera untuk makan sekarang. Terlebih saat dia mendengar kata ‘hadiah’ itu.
“Ada yang salah, Lucy?” Cyra mengamati raut mukanya dengan ekspresi khawatir.
“Tidak…” Lucy menepis pelan. Tetapi pada akhirnya dia berkata, “Hanya saja… aku dikhianati seseorang baru-baru ini…”
“Oh,” Cyra sepertinya terlihat terkejut mendengar itu. “Apa maksudmu?”
“Seseorang yang cukup ku kenal di lantai Safe menipuku untuk membunuh temannya di lantai ini… Aku tidak tahu itu… dan aku melakukannya.” Lucy berkata pelan, mencoba untuk tidak terisak di depannya.
Cyra tidak menjawab. Sepertinya dia menunggu Lucy menenangkan dirinya terlebih dahulu. Setelah bahu Lucy berhenti bergetar, dia akhirnya bicara. “Kau seharusnya tidak boleh semudah itu memercayai orang di tempat ini…”
“Apa maksudmu? Menurutmu aku harus menganggap semua orang di situs terkutuk ini musuhku?” Lucy bertanya dengan kesal. Tetapi akhirnya dia tersadar dan berkata, “Maaf untuk itu. Hanya saja… aku percaya padanya. Dia bersikap baik padaku dulu…”
Sebelum Cyra bisa mengatakan sesuatu, Lucy bangkit dari kursinya dan berkata, “Maaf Bu Cyra, saya… saya perlu waktu untuk sendiri. Terima kasih untuk makan malamnya.”
Dan dengan itu dia berjalan menjauh, keluar dari area kantin dan meninggalkan Cyra seorang diri. “Dia bahkan tidak menyentuh makanannya…” Cyra menatap ke pintu selama beberapa saat sebelum akhirnya menyeret piring Lucy mendekatinya dengan senyum senang.
Dia tidak menyadari ada personel lain yang ikut keluar mengiringi Lucy.
Lucy sendiri berjalan pelan kembali ke arah kantor. Dia lebih memilih ditimbun kerjaan dibanding rasa bersalah. Tanpa sadar dia sudah sampai di area kantor pribadi.
Dengan segera dia memegang gagang pintunya dan meraih kuncinya, tetapi ternyata pintunya tidak terkunci dan Lucy terjatuh karenanya. Selagi meringis kesakitan, dia memikirkan apakah dia tidak ingat mengunci pintu tadi.
Tetapi pertanyaannya segera terjawab begitu dia saling pandang dengan dua orang personel keamanan yang tengah mengobrak-abrik laci atasannya.
“Apa yang-“ Lucy mencoba berdiri, tetapi kedua orang tamu tak diundang tadi segera lari keluar menerobosnya dengan membawa sebanyak mungkin dokumen di tangannya.
Lucy terpental ke lantai luar ruangan karenanya. Merasa emosional, Lucy meraih revolvernya dan berteriak, “Berhenti keparat!”
Tetapi sebelum Lucy menarik pelatuknya, tiba-tiba saja sesuatu menikam punggung mereka berdua. Sekitar enam pisau tiba-tiba melesat dari arah belakang Lucy dan merobohkan mereka berdua. Lucy melirik ke belakang dan mendapati seorang personel yang melempar pisau-pisau tersebut.
Dia berjalan mendekati Lucy dan membuka visornya. Lucy mengenalinya sebagai Agen Anna yang dia temui saat awal bekerja kemarin.
Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Lucy berdiri. Lucy menatap tangannya yang tertutupi sarung tangan hitam selama beberapa saat. Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri sendiri tanpa bantuannya.
“Apa… yang kau lakukan di sini?” Lucy bertanya dengan heran.
Anna mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik, semakin membuat Lucy heran. Tetapi dia mendengar suara digital dari sana.
“Membantumu, tentu saja. Darel memintaku menjagamu jangan sampai jadi bakon.”
“Ah, begitu ya…” Lucy mengangguk mengerti, merasa dia tidak perlu mempertanyakan kenapa dia berbicara dengan ponsel. Tidak, Lucy lebih memilih memikirkan kedua orang personel yang terbaring kesakitan di depannya selagi mereka menggeliat dan mencabut pisau yang menancap menembus rompi mereka.
Lucy memutuskan untuk berbaik hati mencabut salah satu pisau yang menancap sebelum menusukkannya tepat di samping kepala salah satu personel. “Ngapain kalian masuk ke kantor Louis?!” Bentaknya dengan marah.
“Kami- kami ditugaskan mencuri dokumen pak Christopher oleh Pak Frederick!” Personel yang diancam Lucy membalas dengan panik.
Lucy mengembuskan nafas kesal. “Aku sebenarnya tidaklah peduli akan perang kalian, tetapi aku sedang tidak mood untuk ini.”
Dengan itu dia melempar pisau di tangannya dan segera memungut kembali dokumen-dokumen yang tercecer. Kedua personel keamanan tadi segera lari begitu ada kesempatan, tidak lagi memedulikan dokumen-dokumen di lantai.
“Ku rasa aku harus mengawasi percobaan serupa kedepannya, ya?” Lucy berkata di tengah kesibukannya, mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Cyra akan mengirim lebih banyak orang untuk mencurinya nanti, jadi tetap waspada.” Anna membalas dengan suara digital ponselnya.
Tetapi apa yang dikatakannya lah yang membuat Lucy terkejut dan berkata, “Kau bilang apa?!”
Anna yang terkejut akan reaksi Lucy dengan gugup mengetik kembali di ponselnya secepat mungkin. “Cyra, tunangan sekaligus tangan kanan Frederick. Kau harus mewaspadai perempuan itu.”
Sayangnya Lucy melewatkan pesan peringatan terakhir karena dia segera berlari kembali ke kantin. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, dia berpikiran jernih dan mengerti apa yang baru saja terjadi.
Dia membuka dengan nyaring pintu kantin dan segera berjalan cepat menuju ke meja Cyra yang di mana dia sepertinya kekenyangan. Kedua piringnya sudah kosong.
Lucy segera mengeluarkan revolvernya, tidak lagi memedulikan pandangan terkejut personel-personel di dekatnya. “Apa yang kau inginkan sebenarnya, keparat!”
“Ah, ah! Lucy! Kau mengagetkanku…” Cyra terlihat terkejut dan mencoba melindungi kepalanya dengan kedua lengannya.
“Jangan main-main denganku! Kau memancingku kemari agar anak buahmu bisa membobol ruangan Louis, kan?!” Lucy segera menuduhnya.
“Ah, aku tidak tahu apa yang kau-“ Sebelum Cyra selesai bicara, Lucy memotongnya dengan berteriak, “Akan kutembak kau jika kau mencoba berbohong!”
Cyra menatapnya selagi perlahan menurunkan kedua lengannya. Dia menatapnya dengan gugup selagi dirinya berkata, “Aku hanya mencoba berteman denganmu… tetapi dirimu yang ditempatkan di faksi Christopher menyulitkanku. Jadi kenapa kau tidak bantu aku singkirkan saja dia?"
"Kau mencoba merampok kantor Louis!" Teriaknya.
"Dan apa pedulimu dengan si Christ itu! Kau tak menyukainya juga, kan?” Cyra menatap dengan kesal juga.
“Aku juga tidak peduli apa yang kau inginkan! Tetapi untuk itu kau memanfaatkanku juga! Kalian semua!” Lucy berkata dengan suara bergetar, dirinya mulai terisak kembali. “Ku kira…” Dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Cyra menatapnya dalam diam. Dia menyapu mulutnya dengan sapu tangan sebelum perlahan berdiri dari kursinya. “Berbeda dari Christ, aku benar-benar mencoba berteman denganmu…”
“Diam.” Lucy menunduk dan mulai menangis. Dia tetap menodong ke depan meski Cyra perlahan berjalan melaluinya. Beberapa personel saling pandang, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
“Kalian lihat apa?” Cyra mengamati ke personel-personel yang memandangi mereka. “Tinggalkan ruangan ini.” Perintahnya.
Satu persatu personel menuruti Cyra, sepertinya mereka menghormati perempuan itu atau memang anak buahnya juga. Setelah hanya tersisa mereka berdua, Cyra menatap ke arah Lucy yang masih menangis selagi menodongkan revolvernya ke kursi kosong, todongan senjatanya semakin rendah.
Dia memandanginya dengan pandangan iba. Sejak pagi hari sampai malam ini, cuma ini ekspresinya yang asli. Dengan itu dia meninggalkan ruangan. Kantin kini sunyi semakin mendekati pukul sepuluh malam.
Kecuali oleh suara isakan pelan.
Seorang perempuan berjas biru tua terbuka yang melapisi seragam putih Yayasannya tengah duduk diam di sofa usang ruang tunggu lantai Euclid. Dia duduk dengan pandangan tertunduk. Sudah beberapa jam berlalu sejak dia memutuskan berdiam diri di sana. Waktu menunjukkan pukul satu pagi.
“Di sini kau rupanya…”
Lucy melirik, Lira berdiri di samping kanannya. Dia melirik pintu lift tertutup di belakangnya. Dia sama sekali tidak mendengarnya terbuka, mungkin dia tidak peduli akan hal itu.
Lira sendiri terlihat berantakan. Rambutnya lumayan kusut dan lengan jas putihnya lumanyan bernoda darah. Dia perlahan duduk di samping Lucy tanpa mengatakan apa pun.
Lucy bisa mendengarnya menghela nafas. Kemudian dia mendengarnya berkata, “Radia adalah temanku dulu saat kuliah.”
Lucy meliriknya. Lira bersandar di sofa yang mereka duduki. “Dia orang yang agak… bebas. Aku ingat dia sering mengajakku nonton drakor di kamar asramanya dulu, jalan-jalan ke mall bersamanya.”
“Tapi sayangnya…” Lira berhenti bersandar. “Dia sama sekali tidaklah siap untuk jadi dokter. Dia mudah panik saat operasi. Dia pernah lari berteriak dari ruangan saat dia melihat korban tabrakan; dia sangat takut saat melihat tulangnya mencuat keluar dari badannya. Semuanya semakin buruk sejak saat itu.”
“Pada akhirnya dia dikeluarkan.” Lira berkata. “Bertahun-tahun kemudian, aku direkrut Yayasan atas rekomendasi ayahku. Setelah menjadi dokter Yayasan cukup lama, aku diminta tolong olehnya untuk membantu di situs ini. Aku tak menyangka akan bertemu dia lagi. Dia entah bagaimana berhasil jadi dokter juga dan bahkan direkrut Yayasan. Aku tak ingin menebak bagaimana dia bisa melakukannya, tetapi dia sejujurnya tidaklah kompeten untuk itu.”
Lira perlahan menunduk. “Dia… tidak pernah bilang kenapa dia ditugaskan di situs ini… Awalnya ku kira dia ditugaskan kemari karena memang perlu personel lebih. Tetapi malam itu… ada personel terluka parah di kepala, sepertinya dihajar di koridor. Dan dia dengan penilaian cerobohnya menyatakan orang itu tidak terselamatkan. Therapeutic Nihilism.”
“Aku… aku melawannya dan akhirnya berhasil menyelamatkan orang itu. Sayangnya itu membuatnya terlihat tidak kompeten sehingga pada akhirnya dia ditempatkan di lantai atas. Sebuah hinaan keji baginya, karena ruang kecil itu bak UKS sekolah, terlebih ruangan itu cukup panas dan bising karena ku dengar ia bersebelahan dengan ruang mesin. Kami tak pernah lagi bertemu sejak malam itu, tetapi sejak aku mendengar kalau personel yang berhasil kuselamatkan itu ditemukan mati di koridor sehari setelah dibolehkan kembali bekerja, aku yakin itulah tanda darinya kalau ini akhir pertemanan kami.” Lira mengakhiri ceritanya.
Lucy menatapnya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Jika saja… jika saja aku setuju dengannya, mungkin kita akan tetap berteman… Mungkin ini semua tidak akan terjadi…”
Lucy mendekatkan dirinya ke Lira. Tangannya mengusap pundak Lira selagi dia berkata, “Menurutku, tidak ada yang harus kau sesali…”
Mereka duduk dalam diam di sofa itu sepanjang malam.
Pada akhirnya, Lira perlahan berdiri dari sofa. “Saimun kondisinya sudah stabil. Setelah satu atau dua bulan, dia bisa kembali bekerja.” Dia tersenyum setelah mengusap matanya.
“Itu membuatku lega…” Lucy bersyukur akan itu.
Tetapi Lira menoleh ke arah lain. “Ku bilang ke orang-orang kalau memang terjadi upaya pembunuhan, tetapi aku tidak bilang apa-apa mengenaimu. Tetapi… ku sarankan jangan ke bangsal medis dulu sementara. Ulya masih marah padamu.”
Lucy diam mendengar itu. Dia berkata pelan, “Bilang padanya aku menyesal. Aku tidak perlu mereka memaafkanku, tetapi setidaknya mereka perlu tahu itu.”
Lira melirik ke arahnya sebelum menoleh dan berkata, “Kau tahu, jika kau ke atas sana nanti, bilang juga ke Radia aku menyesal sudah menyakiti perasaannya dulu. Lakukan itu untukku, oke.”
Lucy sebenarnya tidaklah mau melakukan itu, tetapi dia memutuskan untuk mengangguk demi Lira. Lira sendiri terlihat lega sebelum melambai dan berjalan pergi, mungkin ke bangsal medis kembali.
Lucy sendiri menatap kedua kakinya yang sudah duduk terlalu lama. Pada akhirnya dia pun berdiri dan segera melangkah pergi dari ruang tunggu. Dia mengepalkan tangannya selagi dirinya berjalan menyusuri koridor. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri sebelum turun ke bawah kalau dia sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di sini, dan dia akan menepati janjinya itu sampai selesai.
Dan dia akan memulainya dengan menjaga ruangan atasannya dari upaya penyusupan lanjutan.
Kronik Situs-79
Prolog
« Adil itu Curang | Curang itu Adil |




