Bunga Tak Berdosa, Berbisa
rating: +2+x

Seorang personel berseragam peneliti berjalan cepat menuju area kantor pribadi lantai Safe. Langkahnya cepat, dengan tangannya terkepal selagi dia bergegas melalui area penahanan dengan ekspresi serius. Setelah berbelok tajam di area tunggu, dia langsung menyusuri koridor dengan pintu-pintu besi tiap kantor pribadi berderet di dinding.

Dia berhenti di depan salah satu pintu. Terdapat tulisan di pintunya, ‘A3’. Tidak ada tulisan lain, jadi personel harus mengingat diberi designasi apa ruang kantor seseorang jika ingin menemuinya. Tangannya tadi segera mengetok pintu besi itu beberapa kali sebelum membukanya tanpa menunggu respon.

Di dalam, seorang personel yang mengenakan jas cokelat panjang melapisi seragam putih hitamnya tengah duduk di sofa sedangnkan seorang personel lain yang lebih tua dan mengenakan jas lab sepertinya tengah duduk di sisi seberang meja panjang di ruangan itu. Keduanya menatap ke arah personel ketiga yang baru datang.

“Langsung saja duduk, ‘Nyx.” Yang memakai jas cokelat menunjuk ke arah sofa di ruangan itu. Personel tersebut segera menuju ke sana dan duduk setelahnya.

“Jadi, apa yang kita akan bicarakan ini, Jones?” Dia bertanya.

“Pak?” Jones melirik ke arah pria yang lebih tua di sisi seberang meja, mengisyaratkan dialah yang menjelaskan keadaan. Kedua punggung tangannya menopang dagunya selagi pria itu menatap ke arah dua orang personel di depannya. Akhirnya dia mengembuskan nafas dan berkata, “Peneliti Junior Balefire dinaikkan jabatannya jadi peneliti biasa dan dipindahkan ke lantai Keter dalam beberapa hari lagi, jadi lantai Euclid perlu seseorang untuk menggantikannya.”

“…Jadi, apa hubungannya dengan anda mengundang saya kemari, Pak Herman?” Yang baru datang memutuskan untuk bertanya.

Jones melirik ke arah pria tua tadi sebelum ke arah si penanya. Akhirnya dia berkata, “Mereka akan menurunkan Peneliti Junior Lucy ke bawah. Kami rasa lu perlu tahu itu, Onyx.”

“Tunggu, apa?!” Onyx membalas dengan ekspresi terkejut. Jones dan Herman hanya saling pandang bak mereka sudah menduga ini sejak mengundangnya. “Siapa yang mengizinkan itu? Mereka tidak punya peneliti lain untuk dikirim ke bawah??” Onyx bertanya dengan heran dan sepertinya cukup kesal.

Sebagai jawaban, Jones menyodorkan sekumpulan surat dan berkata, “Karena Lucy memimpin penelitian besar terakhir di lapangan. Direktur Stefan tertarik akan hal ini dan berniat menaikkannya menjadi peneliti biasa. Ini membuat Lucy bisa ditransfer ke Euclid untuk mengisi kekosongan karena sebelumnya dia tidak terlibat tim penelitian apa pun dikarenakan menjadi asistenku. Keputusan ini disetujui Kepala Penahanan Birmanto, juga si Hidayat.”

Onyx diam selagi membaca dokumen yang disodorkan kepadanya. Pada akhirnya dia berkata, “…Dan anda, Pak Herman selaku penanggungjawabnya.”

Herman hanya diam. Onyx menatap ke arahnya selagi sesekali menoleh ke arah tanda tangan yang ditorehkan pria tua itu di dokumen di tangannya. “Tapi kenapa anda menyetujuinya, Pak??”

“Tidak ada pilihan selain itu.” Herman hanya membalas pelan.

“Maaf, Pak. Tapi anda tidak mencoba menolaknya? Anda tahu siapa yang bekerja di bawah sana, kan?” Onyx mencoba mendapatkan penjelasan darinya.

“Onyx, sudah! Kau tahu baik Herman maupun siapa pun tak bisa melawan keinginan direktur, kan?” Jones mencoba menenangkannya.

Onyx pun diam. Dia meletakkan dokumen-dokumen tersebut di meja dan bersandar di sofa. AKhirnya dia berkata, “Baik, jadi apa yang perlu ku lakukan? Katakan saja dan akan kulakukan.”

“Dengar, alasanku memberitahukanmu ini cuma supaya lu kagak ngamuk saat hari pemindahan nanti. Juga, ku harapkan lu mau nenangin Lucy buat itu.” Jones berkata.

“Tidak, aku tak akan mengirim Lucy hanya untuk dibantai Louis di bawah sana.” Onyx membantah tegas permintaannya.

“Saya punya kabar buruk lagi mengenai itu, Nak Onyx.” Herman membalas dengan nada pelan. Onyx yang awalnya terlihat kesal langsung kembali serius menjaga sikap dan berkata, “Maaf, Pak?”

Herman mengembuskan nafas seraya berkata, “Satu-satunya cara keselamatan Lucy terjamin di bawah sana adalah dengan bergabung dengan faksi peneliti Louis.”

“Anda- anda serius?” Onyx sepertinya tak bisa berkata-kata dan hanya menunjukkan ekspresi kebingungan dan menunggu penjelasan.

Herman sendiri melirik ke arah Jones yang memahami apa yang dimintanya. Dengan segera dia berkata, “Lantai Euclid sudah selama beberapa tahun ini terbagi jadi dua faksi dominan. Faksi pertama dimiliki oleh Louis, diisi personel yang ingin naik jabatan dan pindah situs.”

“Aku tak pernah memedulikan itu. Bukannya mereka semua dibayar?” Onyx menanggapi dengan nada tak senang, tak menyukai topik tersebut.

“Itu bagi penjaga. Dan lu harus mulai memedulikannya, karena faksi kedua dipimpin oleh Dr. Frederick Livington. Lu ingat pernah lihat pria paruh baya dengan jabatan Peneliti Senior dulu saat orientasi? Yang punya cambang itu. Nah, dia lawan Louis di lantai itu.”

“Itu pilihan yang bagus dibanding Louis! Kenapa bukan dia saja?” Onyx menanggapi penjelasannya.

Jones mengembuskan nafas dan membalas, “Karena kau tak tahu kenapa. Alasan kenapa banyak peneliti lantai Euclid lebih memilih bekerja untuk penelitian Louis adalah karena selain menjanjikan naik jabatan dan pemindahan ke situs yang lebih baik, dia ikut terlibat penelitian dengan mereka. Aku juga dengar dari mereka kalau bekerja untuk Dr. Livington sama dengan bekerja di perusahaan gelap.”

“Maksudku, daripada dia dibunuh Louis, lebih baik itu.” Onyx masih mencoba membantah.

“Tidak, dan aku berani jamin itu. Kalau lu mengenalnya dengan baik, lu bakal tahu dia gak bakal ngebuang personel selama dia berguna buatnya. Ini juga membuat Lucy mendapatkan perlindungan yang sama dengannya dari faksi lawannya.” Jelas Jones.

“Tidak masuk akal! Hansel sudah beberapa kali mencoba menyerangku, meski dia tidak mencobanya akhir-akhir ini…” Sangkal Onyx.

“Dan itulah kenapa aku menyarankanmu untuk tidak melibatkan Lucy dalam konflik internal ini sejak awal, Onyx.” Jones membalas dengan kesal. Onyx hanya bisa diam mendengar itu.

Dia lalu melirik ke arah Herman. “Peneliti senior kan bukan cuma mereka berdua, bagaimana dengan yang lainnya?” Dia berkata.

“Berkooperasi dengan Nak Frederick.” Herman menjawab. Dia kini menunduk, pandangannya jatuh ke meja yang menopangnya. Dia sepertinya sudah tidak berdaya lagi dan pasrah akan keadaan.

Onyx diam mengamati hal tersebut. Akhirnya dia menunduk sopan dan berkata, “Saya mengerti… Maaf sudah memaksakan pendapat saya, Pak Herman.”

Mereka bertiga saling diam, menenangkan keadaan ruangan sejenak. Pada akhirnya Onyx memutuskan untuk mengakhiri keheningan. “Jadi, sekarang apa?”

“Saya akan mengurus transfernya, Nak Johannes akan menginformasikan Louis, dan saya harap anda mau membawa Lucy ke mari. Dia harus diberitahu.” Herman menjawab. Onyx mengangguk mengerti dan segera beranjak menuju pintu. Dia jelas menunjukkan ekspresi tak nyaman dalam mengerjakan permintaannya.

Herman dan Jones menatap pintu ruangan ditutup Onyx. Sekarang ruangan kembali sunyi, masing-masing memanfaatkan waktunya untuk mulai merangkai penjelasan yang bisa diterima oleh peneliti junior kesayangan mereka.

“Dia menerimanya dengan baik.”

Bukan Jones maupun Herman yang mengatakan itu.

Dengan segera mereka menoleh ke belakang mereka, hanya untuk mendapati seorang perempuan paruh baya bersandar di dinding di belakang Herman. Dia tersenyum selagi menatap mereka berdua dari balik kacamata aviator hitamnya.

Jones jelas terlihat terkejut akan hal tersebut, sedangkan Herman lebih menunjukkan ekspresi tak senang. “Anda puas sekarang?”

“Tentu, Bio akan senang mendengar segalanya berjalan lancar.” Perempuan tersebut membalas.

“Ka- Kak Heliza? Bagaimana kau bisa berada di dalam sini?!” Jones bertanya keheranan.

Heliza hanya terkekeh. “Itu yang dulu selalu Herria tanyakan. Kalian selalu bertanya ‘bagaimana’, tetapi tak pernahkah kalian mencoba bertanya ‘kenapa’?” Balasnya.

Jones tertegun mengetahui hal itu. Dia melirik ke ekspresi Herman dan berpikir bahwa bukan hanya Herria, tetapi Herman sepertinya sudah pernah dikejutkannya seperti itu. “Baik, ‘kenapa’ kau ada di sini?” Jones mencoba mengikuti permintaannya.

I’m a squire,” Heliza menunduk bak memberi hormat dengan tangan kanannya di dada. “I’m here to inquire what has been transpired~” Dia berdiri tegak kembali dan mengulurkan tangan kanannya ke arah mereka berdua.

Itu merupakan slogan yang pernah Jones dengar saat pertemuan pertamanya dengannya. Dia ingat samar-samar dia masih merupakan personel baru di situs itu bersama angkatan 2012 lainnya. Setelah Jones pikir lagi, dulu dia memang tiba-tiba di belakangnya juga, tetapi saat itu mereka di koridor sehingga dia tidaklah terlalu memikirkan hal tersebut.

Tetapi sekarang dia ingin tahu. “Baik, sekarang ‘bagaimana’ kau bisa di sini? Apa melalui semacam taumaturgi atau semacamnya?” Jones bertanya. Dia memang tahu beberapa metode untuk itu, meski sangat langka.

“Ra-ha-si-a!” Heliza membalas dengan canda. “Kau punya rahasiamu dan aku punya milikku.” Lanjutnya, tetapi kalimat terakhirnya sedikit terdengar serius.

Jones terkejut mendengarnya. Kalimat terakhirnya itu juga mengindikasikan perempuan ini mengetahui sesuatu mengenainya. Dengan pelan dia bertanya lagi, “Kau… kau tahu mengenai itu?”

“Karena aku membantu Bio menangani situs ini, tentu saja aku mengetahui sebagian rahasianya.” Heliza mengangkat bahu bak jawabannya seharusnya sudah jelas. Jones hanya diam memikirkan itu.

“Dan membantunya mengatur skenario ini? Saya benar-benar kecewa dengan anda, Nak Heliza.” Herman tiba-tiba berkata dengan nada tak suka.

“Kau, Pak Herman?” Heliza terkekeh. “Kecewa akan perbuatan Bio? Jika saja personel sekarang mengetahui dirimu dulu… Oh tunggu, Christopher tahu! Tapi luar biasa kau masih bisa keluar tak berdosa setelah itu. Ku rasa kau memang pantas kecewa dengan Bio karena tidak bisa bermain sebaik dirimu.”

Herman memutuskan untuk berbalik kembali dan berkata kepada Jones, “Jangan hiraukan dia. Dia bersekongkol dengan Nak Birmanto untuk memperkeruh keadaan situs dengan membuat konspirasi seperti itu. Sayangnya Nak Louis termakan bualan mereka.”

Jones mengangguk pelan, meski dia setengah tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Heliza sepertinya tak senang melihat itu dan berkata, “Tch, jangan memakan semua yang dikatakan pria tua ini seutuhnya juga, kalau begitu.”

“Kau berpikir dia akan memercayai seseorang yang bersekongkol mengupayakan pengiriman Nak Lucy ke lantai Euclid, mengetahui dengan pasti kalau dia bermusuhan dengan Nak Louis? Entah konspirasi apa lagi yang kalian rencanakan…” Herman membalas. Jones sumpah dia melihat senyum samar di balik tangan yang menutupi mulut dan dagunya.

Di luar dugaan, Heliza terlihat marah dan mengeluarkan pisau kecil dari saku jas labnya. Dia segera menyergap leher Herman dengan tangan kanannya yang memegang pisau. Jones segera berdiri; terkejut, tetapi siap bertindak.

Tangan kiri Heliza memegang kacamata hitamnya dan melepasnya. Tatapannya tajam menikam ke siapa pun yang ditatapnya. Bahkan Jones yang tidak ditatapnya tak ingin mengganggu apa pun yang tengah dilakukannya. Iris matanya yang terlihat lebih kecil sehingga lebih banyak sklera matanya yang terlihat hanya menambah intimidasinya. Dia memang terlihat siap mengakhiri mereka semua.

“Berhenti dengan kebohonganmu, setan! Kami selalu bisa mengambil langkah ekstrem suatu hari nanti.” Heliza berkata dengan marah tepat di samping kepala Herman.

“Hoo… mata dibalas mata, kalau begitu, meski aku tak ingin menyimpan punyamu. Hanya hantu yang menyukainya.” Herman masih bisa memberi perlawanan bak dia tahu pisau di lehernya tidaklah berarti apa-apa.

Dan memang benar, Heliza lalu menyerah dan perlahan menurunkan cengkramannya. Dia lalu memasang kembali kacamatanya, menutupi tatapan tajamnya yang sepertinya memang seperti itu setiap saat. Dia menatap ke arah Jones yang masih diam tak tahu harus apa. “Maaf kau harus melihat yang tadi, Jones.”

“Ah- eh, tidak- tidak apa.” Jones tak tahu harus mengatakan apa. Heliza sendiri lalu mengantongi pisaunya dan segera berjalan menuju pintu keluar. Dia menoleh ke belakang, sepertinya ke arah Herman yang meliatnya dengan tak senang serupa dengannya. Tetapi akhirnya dia membuka pintu dan pergi meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup kembali dan ruangan kembali hening. Baik Herman maupun Jones merasa tak ingin membicarakan apa yang barusan terjadi tadi.

Setelah beberapa saat, akhirnya ketokan pintu terdengar. Setelahnya, pintu terbuka dan seorang perempuan berambut pirang yang jelas hasil pewarna rambut karena semakin pudar dan berjas biru melangkah masuk, diikuti Onyx dari belakang.

Herman mencoba tersenyum dan berkata, “Ah, Nak Lucy. Silahkan duduk dulu sebelum kita bicara.”


Ruang kantor memang kedap suara, tetapi seseorang bisa secara samar mendengarkan suara bernada tinggi dari dalam.

Dan meski hanya beberapa kali, itu cukup untuk mengonfirmasi sesuatu yang tak mengenakan tengah terjadi di dalam sana.

Heliza bersandar di samping pintu besi bertuliskan A3. Dia menunduk, ekspresinya jelas tak nyaman menebak-nebak keadaan yang tengah terjadi di dalam. Dia akhirnya menghela nafas dan beranjak pergi.

Dalam hati, dia mengharapkan yang terbaik.


Beberapa hari setelahnya

Lucy tengah mengamati barang-barangnya yang dia kumpulkan di kasur. Semua sudah siap dan dia hanya perlu menunggu personel keamanan mengantarnya. Seharusnya mereka akan tiba beberapa saat lagi.

Lucy mengamati ruangan kamar messnya. Dia tahu mess di lantai bawah tak jauh berbeda, tetapi dia akan merindukan ruangan ini.

Lalu dia menunduk. Dia sudah menerima pemindahannya ke lantai bawah. Awalnya memang terasa sangat berat, terlebih mengingat seseorang yang tak disukainya berkuasa di sana. Tetapi dia tidak bisa begitu saja melawan perintah personel dengan jabatan di atasnya.

Sebenarnya, dia pun juga merasa sudah waktunya dia mencari targetnya yang seharusnya dia cari sejak setengah tahun yang lalu di tempat lain. Dia sudah mengenal semua orang di lantai Safe, dia sudah terlalu lama di situs ini. Bukannya dia tidak menyukainya sepenuhnya, tetapi sudah waktunya untuk mencoba peruntungannya di lantai bawah.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Lucy dengan segera membuka pintu, mengira personel yang bertugas memindah barang sudah tiba. Tetapi yang berada di depan pintu ternyata adalah seorang perempuan mengenakan kemeja putih dengan cepol rambut. Lucy mengenali wajahnya.

“Dokter Radia? Perlu apa ya?” Lucy bertanya kepadanya.

“Kau jarang ke bangsal medis, yah? Jadi aku harus tanya-tanya ke personel di mana kamar messmu.” Radia berkata. Lucy mengamatinya; meski jarang ke sana, dia ingat seragamnya itu hijau. Mungkin dia sedang istirahat bekerja sehingga bebas memakai kemeja apa saja.

“Ku dengar kau dipindah ke lantai Euclid, yah?” Dia bertanya.

Lucy menunduk selama beberapa saat setelah mendengar itu, sejujurnya masih tidak menerimanya seutuhnya. Tetapi dia segera menatapnya kembali dan menjawab, “Ya. Hari ini aku akan mulai bekerja di bawah.”

“Dan apa kau tahu mereka kebanyakan jarang keluar dari lantai itu bahkan saat liburan?” Radia bertanya kembali dengan ekspresi khawatir.

Lucy tahu mengenai itu dari Jones. Itu katanya dikarenakan peneliti di bawah pimpinan Dr. Frederick Livington dipaksa bekerja bahkan saat akhir pekan. Itu merupakan salah satu upaya Jones untuk membujuknya memilih bekerja dengan rivalnya Dr. Christopher Louis, alias musuhnya dulu.

“Ya, tapi tidak apa-apa kok.” Lucy menjawab, mencoba menenangkannya.

“Jadi ini ku rasa terakhir kali kita bertemu, bukan?” Radia bertanya untuk yang terakhir. Lucy tertegun mendengarnya sebelum mengangguk mengiyakan. Mungkin setelah berada di lantai Euclid, dia menemukan targetnya dan misinya selesai. Mungkin dia tak akan melihat teman-temannya di lantai ini lagi. Ini membuatnya ingin membuat perpisahannya di lift nanti sedikit lebih bermakna.

Radia entah kenapa tersenyum melihat jawaban Lucy. Dia menyerahkan sesuatu yang sedari tadi dipegang tangan kirinya. Ia adalah semacam kotak kado kecil, kira-kira seukuran 35 cm3 dengan pita merah mengikatnya.

“Aku punya teman di lantai Euclid. Namanya Dr. Lira Saidah, dia dokter bangsal medis lantai Euclid. Dia memakai kacamata, semoga dia masih memakai gaya rambut ponytail juga. Kami dulu bekerja bersama, tetapi sejak aku dipindah ke atas, aku tak pernah lagi mengontaknya.” Radia berkata selagi memegang kado itu dengan kedua tangannya yang tertutup sarung tangan medis. “Bisakah aku nitip antarkan hadiah ini untuknya? Bilang kalau ini dari temannya dulu.”

“Oh tentu!” Lucy menerimanya. Dia sedikit kecewa mengetahui itu bukan untuknya, tetapi dia akan tetap menolongnya.

“Satu hal, tolong jangan buka hadiah ini, yah. Antar saja sampai ke tujuan. Aku sudah melalui banyak hal untuk bisa menyiapkan itu, kau tahu.” Dia berkata dengan gugup, mungkin takut hal tersebut menjadi kenyataan.

“Tidak perlu khawatir, akan ku kirimkan, kok.” Lucy meyakinkannya dengan senyum.

Perempuan di depannya akhirnya tersenyum juga dengan gugup sebelum akhirnya berkata, “Baik, aku pergi dulu yah! Maaf tidak bisa mengantarmu saat kau ke bawah sana, perlu jaga ruangan.”

“Tak apa!” Lucy melambai selagi Radia berjalan menjauh dengan cepat.

Setelah menutup pintu ruangan, Lucy meletakan kotak kecil itu di barang-barangnya dan menatapnya.

Tiba-tiba, terdengar kembali ketukan pintu. Lucy tak yakin siapa kali ini yang mengetuk pintu. Setelah dibuka, Lucy melihat dua orang personel keamanan berdiri di depan ruangannya.

“Kami di sini untuk pemindahan.” Yang terdepan berkata.

“Oh, tentu.” Balas Lucy sebelum menepi, membiarkan orang-orang itu masuk ke dalam. Mereka mengangkat barang-barang Lucy dan segera meninggalkan ruangan. Lucy mengikuti mereka sampai di ambang pintu. Dia melirik ke ruangannya yang kosong untuk terakhir kalinya sebelum menutupnya dan menguncinya. Dia lalu menyerahkannya ke salah satu personel keamanan sebelum mereka bertiga berjalan menuju ruang tunggu.

“Kau tak mencariku?”

Lucy menoleh mendengar arah suara tadi dan mendapati seorang personel berseragam hitam agen lapangan tengah bersandar di samping pintu pembatas koridor lantai Safe.

“Ah, Kak Heru!” Lucy mendekatinya. Dia sudah banyak mendampinginya sejak pertama dia bekerja di situs ini. Menolongnya dan semacamnya. Dua orang personel keamanan tadi tak memedulikannya yang menyimpang ke arah berbeda dan fokus menuju arah lift.

“Heh, aku akan merindukan keributan yang kau buat, kau tahu.” Heru berkata dengan senyum.

“Oh, ayolah! Kenapa kalian semua menganggap aku seperti pindah situs? Aku cuma di lantai bawah, kok.” Lucy membalas.

Heru hanya mengalihkan pandangannya selagi berkata, “Ah, ya. Tentu. Oke lah kalau kau tak masalah.”

Mereka saling diam dalam kecanggungan. Lucy melirik ke arah lift dan berkata, “Ku rasa sudah waktunya aku turun. Mungkin Pak Christopher sedang menunggu di bawah.”

“Ah, tentu.” Heru sepertinya tidaklah terlalu nyaman mendengar itu. Lucy memutuskan untuk segera beranjak sebelum terlalu lama berdiri di sana. Tetapi setelah beberapa langkah, dia mendengar suara,

“Lucy!”

Dia menoleh dan mendapati Heru tak lagi bersandar, tetapi kini berjalan mendekatinya. “Aku sudah meminta Hansel untuk tidak mengganggumu sedikitpun. Jika Louis melakukan sesuatu kepadamu… Aku akan ke bawah saat itu juga, jadi jangan khawatir di bawah sana. Juga, telepon aku jika terjadi sesuatu, oke!”

Lucy tertegun mendengarnya. Dia akhirnya mengangguk dan berkata dengan yakin, “Tenang saja, kak. Aku pasti akan kembali ke sini nanti.”

Heru hanya tersenyum. Akhirnya dia berbalik dan berkata, “Yah oke lah. Kau tahu di mana bisa menemukanku nanti.”

“Tentu, sampai jumpa lagi, Kak Heru!” Lucy melambai meski Heru tidak melihatnya. dan selagi dia berjalan mundur menuju lift, Lucy menambahkan, “Dan terima kasih sudah menolongku selama ini!”

Heru terhenti tepat di depan pintu pembatas. Dia menoleh dan terlihat bahwa dia tersenyum. “Tetap hidup, Lucy.” Dia berbisik sebelum meninggalkan ruang tunggu.

Lucy sendiri menurunkan lambaian tangannya. Dia mengepalkannya dan segera berlari ke arah lift, bersiap menghadapi apa pun di bawah sana.


Begitu pintu lift terbuka. Lucy disambut pemandangan kira-kira lima personel keamanan berada di depannya. Lucy terkejut melihatnya dan segera meraba revolver yang selalu dibawanya di belakangnya.

Personel keamanan terdepan membuka visornya, sehingga Lucy bisa mengenalinya. “Hansel.” Lucy berkata singkat.

Ja, Frau Lucy. Kau sekarang peneliti biasa, ya.” Hansel berkata, dia tersenyum entah kenapa. Bukan senyum keji seperti yang Lucy kenal dulu, tetapi senyum bak bertemu teman lama.

“Uh, ya.” Lucy membalas dengan bingung selagi perlahan menurunkan tangannya yang melepas pegangan revolvernya.

Boss, wir haben keine Zeit, um mit dieser Schlampe zu reden.” Salah satu personel keamanan berbisik dekat Hansel.

Achte auf deinen Ton, sie arbeitet jetzt für Louis!” Hansel membalasnya dengan nada kesal. Dia menoleh ke arah Lucy dan berkata, “Maaf, tapi anak buahku masih tidak biasa bekerja denganmu.”

Lucy bisa menangkap dia mengatakan Louis. Awalnya merupakan orang yang paling tidak dia suka, tetapi atas perintah direktur, sekarang dia harus bekerja di bawah semacam ‘faksi’ miliknya. “Jadi, di mana aku harus bekerja dan kapan aku harus menemui Louis?”

Hansel kemudian berkata, “Sekarang. Kami akan mengawalmu ke ruangannya sesuai kontrak, jadi sebaiknya kita bergegas.”

“Mengawal?” Lucy berkata selagi berjalan ke luar. “Kalian mengkhawatirkan Kak Onyx?” tanyanya. Dia tahu mereka selalu berkelahi jika bertemu, tetapi Lucy tahu Onyx tak akan menyerang mereka mengetahui dia kini bekerja bersama mereka.

Feind!” Salah satu personel keamanan menyela. Mereka semua mengalihkan pandangannya ke sekumpulan personel keamanan lain yang datang dari area penahanan yang terbuka nyaring. Beberapa memegang baton, sedangkan beberapa membawa pisau dapur. Mereka berhenti dan berdiri diam tak jauh dari mereka, mengamati mereka dan menunggu reaksinya.

“Tidak,” Hansel menoleh ke arah Lucy untuk menjawab pertanyaannya tadi. “Kami mengawalmu dari pihak oposisi.”

Dia segera mendorong Lucy agar segera bergerak dan berkata, “Du, folge mir! Anak buahku akan menahan mereka, jadi kita akan ke ruang Tuan Louis segera!”

Melihat pergerakan, kelompok personel kemanan yang baru datang tadi segera maju dengan mengangkat senjata mereka. Anak buah Hansel sendiri maju menghadapi mereka. Dengan salah satu anak buah Hansel mengikutinya yang mengawal Lucy dari belakang, mereka segera menyusuri koridor area kantor pribadi.

Messer!” Tiba-tiba personel di belakang Lucy berteriak selagi mencoba melindungi mereka dari sesuatu. Kedua lengan tangannya berhasil menahan sebuah pisau dapur yang dilemparkan ke arah mereka, diikuti dua pisau lagi yang menusuk rompi di dadanya dan merobohkannya.

Hansel segera berbalik dan membantunya berdiri selagi Lucy mengiringi dari belakang. “Tunggu!” Hansel berkata, merenggangkan tangannya untuk menahan Lucy maju lebih jauh lagi. Mereka menatap ke depan mereka terdapat seorang personel keamanan yang sepertinya merupakan orang yang melempar pisau-pisau tadi ke arah mereka dari posisi tangannya dan pisau yang dibawanya.

Seorang pria yang mengenakan jas cokelat perlahan berjalan ke samping personel keamanan itu. Jasnya lebih pendek, tebal dan gelap dibandingan punya Jones menurut Lucy. Rambutnya juga lebih tebal dengan poni rambutnya mengarah ke kiri. Dia berjalan menggunakan tongkat kayu berukir yang sepertinya mahal, dan dia pun sepertinya menggunakannya hanya untuk aksesoris semata.

“Jackrabbit…” Hansel berkata pelan.

“Tunggu dulu sebentar.” Pria di samping personel keamanan itu berkata selagi memegang bahunya. Dia lalu menoleh ke arah Hansel dan Lucy dan menunjuk ke arahnya dengan tongkatnya, “Perempuan pirang itu, dia siapa?”

“Sa- Saya? Saya uhm… asisten baru Pak Christopher?” Lucy menjawab dengan gugup, tetapi dia tak berniat mundur. “Dan kalian?”

Di luar dugaan, pria tersebut memukul pelan personel keamanan di sampingnya dengan tongkatnya. “Itu asisten baru Louis! Kan kita hutang ke Bale dulu, kau ingat.”

Personel kemanan tersebut meraba helmnya selama beberapa kali selagi mengangguk. Dia lalu melepas helmnya, menunjukkan kalau dia ternyata merupakan perempuan berambut hitam pendek.

“Aku Peneliti Senior Darel Mahendra, dan ini Agen Marianna.” Pria berjas cokelat itu mengenalkan dirinya. “Senang bertemu denganmu.”

“Potong basa-basinya, apa yang kalian inginkan kali ini?” Hansel merespon dengan tegang. Pisau taktis digenggamnya dengan erat.

“Pertama aku minta maaf Anna menyerang rekan kalian itu. Dia tidak tahu kalau tugas penyerangan kali ini adalah menyergap asisten baru Louis.” Darel berkata, dia menunduk dengan sopan dan memaksa Anna melakukannya.

“Huh? Maaf?” Hansel membalas dengan heran.

“Aku- tidak, kami berhutang ke Bale yang merupakan asisten Louis karena pernah menolong kami dulu saat terjadi pelanggaran penahanan. Ku rasa sudah waktunya membalasnya.” Darel menjelaskan.

Dia melirik ke Anna dan berkata, “Tikam mereka.” Anna sendiri mengangguk senang dan segera mengenakan helmnya selagi berlari kembali ke ruang tunggu.

“Kau mengkhianati Frederick sekarang?” Hansel kembali bertanya dengan heran.

“Aku peneliti senior seperti dirinya, hanya saja sekarang tidak ada alasan untuk membantunya, bukan?” Darel tersenyum selagi melangkah menjauh. “Bersyukurlah, Hansel. Mulai sekarang aku memutuskan untuk berpihak ke faksi Louis.”

Hansel diam mendengar hal tersebut. Dia membantu rekannya di lantai tadi untuk duduk sebelum akhirnya berdiri dan berkata, “Hati-hati dengan Cyra kalau begitu.”

Darel hanya melambai tanpa menoleh dan berkata, “Aku punya Anna! Kami tak akan jadi bakon semudah itu!”

Hansel dan Lucy diam melihat keributan di ruang tunggu sebelum Hansel meraih tangannya dan mengarahkannya ke ruang Louis yang secara mengejutkan cukup dekat.

Setelah mengetuk cepat, pintu besi itu terbuka dan berdiri seorang peneliti yang mengenakan kacamata baca berbingkai persegi menatap mereka. Tidak, menatap Lucy lebih tepatnya.

“Jadi,” Dia berkata, “Kau yang selama ini menjadi asisten si Herman keparat itu, ya.”

Lucy menatapnya dengan kesal. “Jangan menjelek-jelekkannya.”

“Kau tahu, mengingat kau harus bekerja denganku sekarang, aku bersedia memaafkanmu untuk itu, kau tahu.” Balas Louis dengan ekspresi tak senang, tidak memedulikan permintaan Lucy.

“Aku tak perlu mendengar absolusimu.” Lucy membantahnya.

Louis hanya diam, dia melepaskan kacamatanya dan membersihkan lensanya. “Semoga kau siap dengan revolusiku, kalau begitu.” Dia berkata.

“Hah?” Lucy membalas dengan heran, tak tahu apa yang dia bicarakan.

“Intinya, kau bekerja untukku sekarang.” Louis berkata selagi menatap Lucy tanpa kacamatanya. Dia perlahan tersenyum puas.

Lucy menatapnya dengan kesal, tetapi dia tak mengatakan apa-apa. Louis sendiri tersenyum dan memperbaiki kacamatanya, menunjukkan cahaya refleksi sekilas.

“Selamat datang di revolusiku!”

Kronik Situs-79

Prolog
« Pria Berdarah Itu | Bunga Tak Berdosa, Berbisa | Adil itu Curang »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License