Bisnis Untuk Menjagal
rating: +1+x

Sekumpulan mobil hitam berkumpul di sebuah jalan yang mungkin terlalu kecil untuk menampung perkumpulan mobil tersebut. Mobil-mobil tersebut baru datang, terbukti dari mesin mereka yang masih menyala.

Meski begitu, satu per satu orang berseragam taktis keluar dari mobil, tiga dari empat orang untuk tiap mobil. Mereka sepertinya ingin tetap membiarkan kendaraan siap digunakan jikalau diperlukan secepatnya.

Logo lingkaran putih yang ditusuk tiga panah terpampang di bahu mereka, menunjukkan dengan jelas kalau mereka agen Yayasan.

Beberapa agen mulai berpencar dan mengamankan sekeliling dari warga sipil yang mungkin mendekati lokasi mereka. Beberapa lagi mendekati sebuah mobil hitam lain yang setengah penyok di bagian kiri depannya.

Tim yang menumpangi mobil tersebut baru saja selamat dari serangan target mereka. Lebih dari itu, mereka berhasil menahan salah satu dari anggota target mereka. Itu merupakan kunci terbaik mereka untuk menyelesaikan operasi ini.

Tiga orang personel Yayasan keluar dari mobil satu per satu dan berdiri di depan mobil yang penyok tersebut.

Yang pertama turun dari mobil adalah seseorang yang mengenakan seragam agen juga. Satu-satunya yang tidak terluka. Dia yang mengontak seluruh tim mengenai situasi mereka dan menahan salah satu anggota target yang menyerang mereka. Agen Heru Dani.

Yang kedua turun adalah seorang perempuan muda. Dia mengenakan jas biru, melapisi kemeja putihnya. Rambutnya sedikit berwarna kuning keemasan, meski sudah agak pudar. Dialah Peneliti Junior Lucia Amelia. Menurut laporan Heru, perempuan tersebut membantunya mengurus tahanan mereka. Entah apa maksud hal tersebut pikir ketua, tetapi yang terpenting adalah hasilnya.

Lucy membuka pintu mobil dan membantu seorang perempuan lain keluar dari mobil. Dia jelas kesulitan saat itu. Awalnya orang akan mengira itu karena kedua tangannya terikat dibelakang, tetapi begitu kakinya yang dibalut kain yang perlahan menjadi berwarna merah pekat terlihat, bisa diduga itu alasannya. Dialah tahanan mereka, Arma.

Seseorang maju di antara kumpulan agen yang baru datang tersebut. Dia sedikit lebih tinggi dari Heru. Semua agen mungkin terlihat susah dibedakan, tetapi Lucy yang terus memandanginya cukup yakin dia orang yang tadi dia lihat meneriaki perintah-perintah kepada agen-agen yang baru tiba di lokasi sejak tadi untuk mengamankan area kejadian.

“Dia orangnya, kan?” Pria tersebut menunjuk ke arah perempuan di samping Lucy. Sekilas Lucy bisa melihat semacam luka bakar di lengan pria tersebut yang hampir tertutup seragam dan sarung tangan hitamnya. “Bawa ke sini.” Dia memberi gestur mendekat, menurunkan lengannya sebelum Lucy bisa melihatnya lebih jelas.

Heru mulai mendorong tahanan mereka mendekati pria tersebut. “Katakan halo pada Pak ketua.” Dia berkata setengah berbisik selagi mendorongnya.

Perempuan tersebut menoleh ke belakang dengan kesal sebelum dia kembali menoleh ke depan., akhirnya menyadari dia berhadapan dengan siapa. Berbeda dengan Heru atau agen lain yang dilawannya tadi, meski mengenakan sebo hitam untuk menutupi separuh wajahnya, tatapan tajam mata hitamnya berhasil membuat perempuan tersebut merasa gugup.

“Namaku Dilan Bara. Aku yang memimpin operasi ini.” Dia berkata dengan tegas. “Aku sudah mendengar penjelasan singkat mengenai kalian melalui agen kami di sana. Kalian terafiliasi dengan target operasi kami.”

“Uh, dengar. Gue ga tahu kalau klien kami merupakan target dari, entah apa operasi kalian. Tapi gue sumpah, kami cuma ngelakuin apa yang mereka suruh. Kami ga tahu kenapa atau apa tujuan mereka sama sekali.” Perempuan tersebut berkata dengan gugup. Sepertinya dia akhirnya menyadari penuh seberapa dalam lubang kelinci tempatnya terperosok sekarang.

“Kami akan menanyakan itu dengan lebih detail nanti.” Dilan berkata. “Tetapi sekarang kami memerlukanmu untuk urusan lain yang lebih mendesak. Kau akan menuntun kami menuju lokasi perusahaan yang memberikan kalian plastik-plastik sebelumnya.”

“Siap, pak!” Perempuan tersebut menjawab dengan cepat, bahkan sebelum ditanya kesanggupannya.

“Heru, kau akan berada di belakang mobilku.” Dilan berkata selagi menuntun perempuan tadi ke mobil mereka. Heru menangguk mengerti dan langsung menuju kursi pengemudi. Lucy juga kembali masuk ke mobil. Setidaknya sekarang kursi belakang menjadi cukup luas baginya dan personel terluka di sampingnya.

Bagian mobil yang penyok untungnya adalah eksterior dekat ban. Sepertinya tidak berpengaruh dengan kinerja kendaraan mereka karena Heru mulai memundurkan mobil mereka dan memosisikan kendaraannya.

Kini satu per satu mobil hitam agen Yayasan mulai keluar gang sempit yang tim Heru masuki dan kembali ke jalanan besar. Mereka kini bergerak sebagai sebuah konvoi. Sepertinya mereka benar-benar akan menjarah lokasi target hari ini juga. Lucy kembali teringat perkataan Heru kalau mereka bisa saja terlambat sampai nanti. Selalu ambillah kesempatan selagi tersedia, itu kata orang. Dan itulah sepertinya tujuan mereka sekarang.

“Aku tak pernah suka iring-iringan gini.” Heru tiba-tiba berkata selagi mengemudi. “Jujur menurut kalian, tidak ada yang curiga apa, jika mereka melihat ada sekumpulan mobil hitam melalui jalanan umum seakan mereka rombongan pejabat?”

Sepertinya Heru mengatakan hal tersebut kepada Lucy, meski dia juga menginginkan pendapat rekannya yang lain. Tidak mungkin pertanyaan semacam itu pertama kali ditanyakan olehnya kepada rekan timnya.

“Kau punya saran yang lebih baik jika salah satu tim diserang seperti barusan?” Personel di samping merupakan yang pertama menanggapi.

Heru menggeleng tidak setuju, “Tidak ada bedanya dengan sekarang. Jika aku ingin menyerang iring-iringan Yayasan, cukup kulempar granat ke mobil terdepan sebelum menembaki mobil di belakangnya.”

“Bagaimana dengan mobil ketiga dan seterusnya?” Rekannya kembali bertanya.

“Ku kira kita seharusnya menghindari korban jiwa dari awal?” Heru bertanya balik. Rekannya hanya diam, sepertinya kehabisan argumen.

Konvoi mobil Yayasan kini melewati area pemukiman penduduk. Mereka berkendara ke sisi berlawanan dari Sungai Ciliwung. Semakin jauh mereka melaju, semakin sedikit rumah warga. Tidak salah lagi kalau menduga bahwa mereka tengah menuju pinggir kota.

Lucy menatap pemandangan di luar berganti perlahan selagi berpikir, Arma berkata kalau pemberi plastik-plastik tersebut adalah semacam perusahaan dan mereka mengambilnya di pabrik mereka. Pabrik memang umumnya jauh dari pemukiman umum kalau berukuran besar.

Pada pukul dua siang, konvoi mulai melambat. Lucy melihat ke arah kacanya, tetapi tidak dapat melihat apa-apa. Dia lalu sedikit ke tengah dan mendapati adanya bangunan di depan mereka. Semakin dekat, semakin terlihat bahwa bangunan tersebut terlihat luas. Bak gudang suplai mungkin.

Tiba-tiba Lucy melihat mobil di depannya melaju masuk ke halaman bangunan tersebut. Heru sepertinya memahami apa yang terjadi dan ikut mempercepat kecepatan mobil mereka. Dengan segera dia masuk ke area halaman. Heru tidaklah mencoba parkir dengan benar dan langsung berhenti di dekat mobil pertama. Penumpang mobil tersebut sudah turun semua, bersenjata lengkap termasuk ketua mereka Dilan. Perempuan yang bersama mereka tangannya masih diborgol.

“Tidak ada nama, ya…” Heru menggumam mengamati sekelilingnya dari balik setir.

Sekumpulan mobil lain akhirnya tiba dan bermunculan di sisi kiri dan kanan mereka. Personel satu per satu keluar setengah berlari dengan senapan mereka.

“Siap-siap!” Heru meraih senjatanya dan turun seketika setelahnya. Rekan di sampingnya ikut turun, tetapi agen di samping Lucy tetap di mobil. Dia masih terbaring dengan mata terpejam. Lucy menatapnya dan mendapati senapan agen di sampingnya berada tepat di bawah kakinya. Dia melihat ke luar sebentar, mengamati betapa besarnya bangunan tersebut dari dekat meski sepertinya hanya dua lantai tingginya. Dia lalu menunduk dan melihat revolvernya sendiri. Dia yakin sekali pelurunya terlalu sedikit untuk operasi ini.

Akhirnya dia meraih senapan tersebut sebelum keluar mobil.

Heru mendengar langkah kaki mendekat dari belakangnya dan menoleh, mendapati Lucy berlari ke arahnya. “Hei, apa yang kau pikir kau lakukan?!” Dia bertanya dengan ekspresi khawatir.

“Aku terlatih memakai ini.” Lucy berkata untuk meyakinkannya selagi mengangkat senapan agen tadi. Dan itu memang benar, dia pernah dilatih menggunakan ini oleh GOC, meski dia lebih terlatih menggunakan pistol karena tugasnya adalah agen ganda.

“Setidaknya ambil rompi dulu darinya!”

Lucy tersentak baru ingat hal tersebut dan berlari kembali ke mobil. Dia dengan perlahan mencoba melepaskan rompi antipeluru yang tengah dikenakan agen tadi.

“Apa… yang kau tengah lakukan?” Agen tersebut tiba-tiba membuka matanya. Sepertinya tadi dia tertidur.

“Kau masih terluka. Aku yang akan menggantikanmu.” Balas Lucy.

Agen tersebut diam sejenak memikirkan harus membalas apa sebelum dia berdiri dan membiarkan Lucy melepas rompinya. Lucy lalu mulai mengenakan rompi tersebut melapisi jas birunya. Entah kenapa agen tersebut tersenyum melihatnya. Setelah semua selesai. dia kembali berlari ke arah tim Yayasan lain yang sudah berkumpul di samping pintu besar bangunan tersebut.

Dua orang agen berdiri di depan pintu tersebut. Dengan aba-aba satu dua tiga, mereka menendangnya dan menjauh. Agen-agen di sisi kiri dan kanan pintu masuk bersamaan, berteriak ‘angkat tangan’ seketika.

Begitu Lucy masuk, dia dapat melihat interior bangunan tersebut; sebuah ruangan besar, cukup muat untuk menampung banyak mesin di mana-mana. Beberapa mesin tersebut dihubungkan oleh Conveyor Belt. Dia juga bisa melihat tumpukan kardus yang belum dirangkai, serta tumpukan kotak kardus yang sudah dirangkai. Tidak ada gambar di kardus-kardus tersebut.

Tidak ada kantong plastik putih di mana pun.

Ada banyak pekerja di dalam pabrik tersebut. Semuanya menatap ke arah pintu masuk begitu agen Yayasan mendobrak masuk. Mereka menghentikan apa pun kegiatan mereka dan berdiri diam di tempat. Meski ekspresi mereka terlihat terkejut dan ketakutan, tidak ada yang mengangkat tangannya seperti yang diperintahkan.

Suara mendengung nyaring tiba-tiba terdengar, tidak diketahui asalnya. Semua personel reflek menutup telinga kecuali Lucy, yang tersentak mendengarnya. Ternyata suara tersebut muncul dari beberapa pengeras suara di dalam ruangan.

Akhirnya terdengar suara dari sana.

“Kalian nunggu bel? Cepetan serang mereka!”

Dengan perkataan tersebut, para pekerja tadi langsung meraih apa pun benda berbahaya di dekat mereka dan berlari ke arah para personel. Beberapa berteriak selagi berlari.

Para agen masih berdiri diam di posisi mereka menghadapi hal tersebut. Meski senapan masih tertodong, belum ada yang menembak masa yang mendekati mereka dari berbagai sisi. Lucy berdiri gugup memegang senapannya. Dia mengangkatnya dan membidik orang terdekat; seorang pria yang mengenakan kemeja merah tua selayaknya yang lain. Ekspresinya terlihat panik. Begitu dia dan Lucy saling kontak mata, pria tersebut lari ke arahnya membawa sebuah pisau daging.

CK.

CK. CK. CK.

…Tidak ada peluru?!

Lucy dengan segera melepas magasin senapan agen yang diambilnya tadi. Tidak ada isinya sedikitpun.

Pantas saja-

Senapan yang dipegangnya hanya bisa dipakai untuk memukul lawan dengan bagian popornya, dan Lucy sangat lemah untuk urusan itu, dirinya yakin senapannya bisa ditahan dengan tangan mereka jika dia mencoba hal tersebut melawannya.

Pilihan Lucy adalah mengambil revolvernya kembali, tetapi begitu dia berhasil mengeluarkannya, pria tersebut sudah terlalu dekat. Lucy bahkan belum sempat memejamkan mata.

Tiba-tiba Lucy mendengar suara tembakan di depannya. Pria yang dilihatnya tadi terjatuh, diikuti satu per satu orang di belakangnya. Agen-agen mulai menembaki mereka. Lucy melihat bagaimana seiring waktu mereka dikelilingi korban-korban yang bergelimpangan.

Tetapi mereka memang terlalu banyak sehingga para agen mulai melawan dari jarak dekat dengan popor senapan mereka. Arma, tahanan mereka tadi, dilindungi beberapa agen selagi terus menjaga jarak dengan para pekerja. Salah satu dari pekerja tadi berhasil melewati agen di depan Lucy dan kini mengayunkan sebuah tongkat besi ke arahnya.

Pistolnya tepat di hadapan pria tersebut seperti tadi. Lucy hanya perlu menarik pelatuknya atau dia dalam bahaya seperti tadi. Dia harus membuat keputusan dalam beberapa detik berharga tersebut.

Aku tidak akan mati di tempat ini!

Lucy siap menembaknya.

“Satu orang sudah cukup bagimu.”

Lalu sepatah kalimat dari Heru muncul di benaknya. Dia berhenti menggerakkan jarinya dan menatap pria di depannya hampir mengenainya dengan tongkatnya.

Hampir!

Pada detik-detik itu Lucy langsung mundur menjauh dari ayunan tongkatnya. Dia berhasil menghindar, tetapi dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tetapi agen di depannya akhirnya berbalik dan memukul pria tersebut di wajahnya.

“Kau baik-baik saja, Lucy?”

Ternyata Heru yang berdiri di depannya, Lucy baru menyadari hal tersebut dan mengangguk sebagai jawaban pertanyaannya. Heru melirik ke arah pria yang menyerang Lucy tadi dan berkata, “Untung kau tidak menembaknya, eh?”

Lucy hampir menembak pria tersebut sebelumnya. Apa bedanya? Pikir Lucy selagi melihat Heru kembali menghadapi para pekerja pabrik…

…Sampai dia mengamati arah tembakan agen-agen di depannya.

Mereka menembak kakinya?!

Lucy tidak menyadari kalau agen-agen di depannya membidik area kaki para pekerja. Pekerja-pekerja di lantai, mereka masih hidup dan merintih kesakitan. Hampir saja Lucy jadi satu-satunya yang membunuh orang di ruangan itu.

Melihat kondisi saat ini, para pekerja lain mulai berhenti menyerbu dan berdiri diam, menatap ke belakang dengan ekspresi khawatir.

“Nunggu apaan? Habisin mereka!” pengeras suara kembali terdengar. Entah siapa pria yang memberi perintah tersebut, tetapi sepertinya para pekerja mulai menggeleng, melempar senjata mereka, dan tidak lagi menerima perintah darinya.

Setelah hening beberapa saat, akhrinya sebuah kalimat terdengar dari pengeras suara, “Pak Darus, siap-siap.”

Mendengar kata-kata tersebut, para pekerja tadi lari. Bukan lari untuk menyerang, tetapi benar-benar lari keluar dari bangunan secepat yang mereka bisa. Yang tergeletak di lantai begitu mendengarnya langsung mencoba berdiri sebisanya

Salah satu agen berhasil menghentikan satu pekerja yang lari keluar dan menahannya. Pria tersebut meronta seraya berteriak, “Lepasin gue! Tolong lepasin gue!”

“Kenapa kalian semua lari?” Agen tersebut mencoba menanyainya, tetapi pria tersebut tetap tidak menjawab. Akhirnya dia berhasil melepaskan diri dan lari keluar secepatnya.

“Ketua, apa tempat ini akan meledak?” Heru merupakan yang pertama bertanya.

Ketua mereka hanya menggeleng. Dia menunjuk pengeras suara di ujung ruangan dan berkata, “Speaker itu bukan jenis wireless. Siapa pun yang berbicara di sana, dia di sini bersama kita. Juga si ‘Pak Darus’ tadi.”

“Arah pukul sebelas!” Salah satu agen berteriak. Semua personel sontak melihat ke depan mereka. Mulai terdengar suara besi diseret. Dari kejauhan, dari balik mesin-mesin di ruangan tersebut terlihat seorang pekerja yang mengenakan helm proyek berwarna putih tengah membuka semacam gerbang besi dengan menggesernya perlahan. Bagian dalam gerbang tersebut terlalu gelap untuk dilihat.

“Woy, berhenti!” Salah satu agen berteriak. Pria tersebut tidaklah berhenti dan terus menggesernya terbuka sampai tidak lagi kelihatan.

Agen tersebut berlari hendak mengejarnya, tetapi tiba-tiba, terdengar suara lonceng dari pengeras suara. Suara tersebut berlangsung untuk beberapa saat. Setelah tertegun selama beberapa saat, agen tersebut kini didampingi beberapa agen lain dalam upayanya untuk mendekati pria di depan mereka secara perlahan selagi terus mengamati situasi apa pun yang selanjutnya akan terjadi di sekitar mereka.

Mengiringi suara lonceng tersebut, terdengar perintah, “Ternakku, habisi orang-orang di depan pintu!”

Begitu pengeras suara tersebut bicara. Segerombolan orang baru muncul dari balik gerbang, melewati pria yang membuka gerbang di sampingnya. Mereka tidaklah mengenakan seragam seperti pekerja, tetapi hanya pakaian sehari-hari. Mereka juga berteriak, tetapi ekspresi mereka kosong dan teriakan mereka berat dan panjang bak lenguhan.

Para agen mencoba menembak kaki mereka seperti sebelumnya, tetapi mereka tidak melambat sedikitpun. Bahkan mereka mulai berlari dengan kaki dan tangan mereka memijak lantai.

“Apa-apaan mereka!” Arma yang bertanya keheranan sekaligus takut.

“Ketua, mereka kemungkinan anomalus. Perintahmu?” Salah satu agen berbisik kepada ketua mereka.

“Tembak area nonfatal.” Balas ketua mereka.

Para agen mulai menembak. Mereka berhasil melambatkan mereka, tetapi mereka tidaklah berhenti. Satu persatu menubruk para agen terdepan.

“Akh!”

Beberapa agen terpental ke belakang. Mereka mencoba berdiri, tetapi tangan mereka bergetar hebat sebelum kembali roboh. “Terlalu… kuat…” Bisik salah satu mereka. Beberapa bahkan mulai batuk berdarah.

“Tembak titik fatal! Tembak titik fatal!” Sang ketua berteriak sebelum langsung menembak dua orang di depannya tepat di kepala mereka. Keduanya langsung terkapar.

Dari ujung ruangan tiba-tiba terdengar suara bel nyaring menggema. Pria pekerja tadi tidaklah kelihatan, sepertinya dia yang membunyikan bel tersebut.

Awalnya para personel tidak tahu apa efek bel tersebut, tetapi tiba-tiba orang-orang yang menyerang mereka mulai berteriak keras. Itu pun tidak dapat dikatakan sebagai teriakan. Dua orang yang ditembak ketua tiba-tiba bergerak, mengagetkannya sehingga mundur beberapa langkah. Bukan hanya mereka, semua orang termasuk pekerja yang awalnya masih merangkak menjauh mulai gemetar dan bangun perlahan. Para agen tanpa sadar berjalan mundur dan membuat formasi lingkaran mengelilingi Arma. Tidak ada yang tahu harus menodongkan senjata ke siapa tepatnya.

Tidak ada yang sadar Lucy berdiri sendirian di tepi formasi, termasuk dirinya sendiri.

Akhirnya salah satu diantara mereka berdiri dan mengeluarkan suara lenguhan keras. Dia berlari ke arah para personel dengan kaki dan tangannya di lantai.

Dia lari tepat ke arah Lucy.

Heru dan seorang agen lain langsung menubruk pria tersebut jatuh. “Pak, mereka jelas bukan manusia lagi!” Salah satu agen berteriak. Dia menembak pria tersebut di kepala beberapa kali sebelum mundur mengamati bersama Heru. Pria tersebut masih menggeliat meski sudah ditembak.

Lalu para personel menyadari, tangannya bukan lagi berbentuk tangan, melainkan menyerupai kaki hewan. Lucy lalu menatap ke arah wajahnya, wajahnya sedikit aneh, tetapi yang membuatnya merasa tak nyaman adalah betapa besarnya pupilnya saat menatap balik dirinya.

“Apa-apaan itu!?” Arma bertanya dengan panik. Dia bisa melihat keadaan pria tersebut di balik para agen yang melindunginya dan kini meronta ingin lari. Salah satu berusaha menenangkannya segera.

Lucy tidak tahu bagaimana rasanya mengetahui dunia anomalus ada untuk pertama kalinya, jadi dia rasa itu reaksi yang sangat wajar. Tetapi dia sendiri pun hanyalah personel yang sejauh ini berpengalaman dengan benda mati, bukan manusia. Jika dia tidak menyiapkan dirinya secara mental untuk ini seperti saat malam pengujian sebelumnya, dia yakin dirinya akan panik juga sekarang.

Tiba-tiba seseorang – atau sesuatu sekarang – menyerang kumpulan personel yang mengawal Arma. Dia adalah salah satu pekerja di lantai tadi. Dia mendorong agen terdepan dengan kepalanya dan entah bagaimana agen tersebut beserta satu agen lain dan Arma terpental ke belakang.

Tidak membuang waktu lagi, sang ketua langsung mulai menembaki mereka semua, baik yang masih gemeteran atau yang sudah berdiri. Dia diikuti personel lain satu persatu sebelum mereka semua secara sistematis menembaki semua orang di dekat mereka.

Meski begitu, mereka masih perlahan bagun. Seiring waktu tubuh orang-orang tersebut mulai kecoklatan. Lalu akhirnya satu berhasil bangun meski tengah ditembaki dua orang agen.

Kepalanya merupakan kepala sapi seutuhnya.

Dia langsung lari mendekati ketua dan agen-agen di dekatnya. Sang ketua sendiri mengeluarkan pisau di rompinya dan langsung berlari seraya terus menembaki kepalanya. Begitu cukup dekat, dia mencoba mengait leher makhluk tersebut dengan lengannya yang membawa pisau.

Makhluk tersebut meronta dan mencoba melepaskan kaitan sang ketua, tetapi dia mengunci lengannya dengan genggaman tangan satunya. “Jangan ngg- meremehkan agen Yayasan!” teriaknya sebelum menggorok leher makhluk tersebut. Merasa belum cukup, dia menikam bagian atas lehernya sampai makhluk tersebut benar-benar tumbang.

Aksi solonya sayangnya tidak mendapat sorakan dari agen lain karena begitu dirinya menoleh, terdapat tiga sampai empat makhluk serupa yang mulai berdiri.

“Siapkan pisau! Pertarungan jarak dekat tidak dapat dihindari sekarang.” Dia berteriak selagi menodongkan senapannya kembali.

Para agen mulai bersiap pula. Beberapa menggenggam pisau mereka dengan erat, beberapa lagi memasangnya di depan senapan mereka. Lucy mengamati Heru yang berdiri di depannya mengeluarkan pisau standar dari rompinya. Dirinya lalu mengamati senjatanya sendiri. Dirinya tidak yakin apakah peluru revolver kecilnya mampu melukai makhluk-makhluk tersebut. Dia juga tahu dirinya tidaklah cukup kuat untuk bertarung dalam jarak dekat. Yang dia bisa lakukan sekarang hanyalah diam selayaknya seorang peneliti junior.

Begitu salah satu diantara makhluk tersebut lari menyerang mereka, neraka Yayasan menyambutnya.

Para agen menghabiskan peluru mereka sebanyak mungkin sebelum mulai menyerang mereka dari jarak dekat dengan pisau mereka. Gaya menyerang mereka berbeda-beda, tetapi tujuan mereka semua adalah leher makhluk tersebut. Satu persatu makhluk tersebut berjatuhan.

Di tengah kekacauan tersebut, Arma perlahan bangun selagi memegang kepalanya. Dia meraba perlahan kepalanya yang sepertinya membentur sesuatu tadi. Dirinya menyadari berat borgol di tangannya dan tersadar dirinya masih tahanan Yayasan. Dia lalu melihat bagaimana agen-agen yang bersamanya tadi kini melawan makhluk jadi-jadian untuk pertama kalinya, jelas tidak percaya akan penglihatannya sendiri.

Salah satu makhluk tersebut jatuh ditubruk salah satu agen. Makluk tersebut menggeliat sebelum matanya tiba-tiba tertuju ke arah Arma. Menyadari bola mata tak wajar makhluk tersebut menatapnya, Arma berteriak selagi mencoba lari, hanya untuk menyadari kalau jalan dibelakangnya dihalangi Conveyor Belt. Ban berjalannya sudah mati, membiarkan kumpulan daging di atasnya tergeletak diam. Tetapi tak jauh darinya, gergaji mesin pemotong daging masih menyala, naik turun memotong angin. Arma menatap ke borgolnya dan berlari secepatnya ke arah mesin tersebut.

Dengan segera dia mendekatkan rantai borgolnya ke arah gergaji yang mulai memercikan api begitu bersentuhan dengan rantainya. Arma menatap dengan panik ke arah makhluk tersebut yang sekarang mulai berlari ke arahnya. Tiba-tiba dia mendengar bunyi keras dan menoleh, menyadari rantainya hancur. Arma tidaklah sempat bersorak karena dirinya langsung melompat menghindari tubrukan makhluk tersebut yang mengenai mesin pemotong daging.

Suara ledakan terdengar oleh Arma yang perlahan mencoba berdiri. Tiba-tiba gergaji besar tadi terlempar tepat ke hadapannya. Dirinya terlonjak kaget menatap benda tajam di depannya. Dengan perlahan dia meraih bagian gagangnya selagi berdiri. Arma lalu menoleh perlahan ke belakangnya

Asap membumbung tinggi dari mesin di belakangnya yang jelas hancur. Kepala sapi makhluk tersebut dipenuhi darah, tetapi matanya tetap menatap Arma.

“Berhenti menatap gue, njing!” Arma berteriak selagi berlari ke arahnya dengan memegang gergaji besar tadi. Dia sudah tidak peduli lagi dan memutuskan menyerangnya duluan agar tetap hidup. Tebasannya mengenai wajah makhluk tersebut yang sudah tertutup darah.

Merasa belum cukup, Arma lalu menyeret gergaji tersebut menyusuri wajahnya sebelum mengayunkannya menjauh. Ini diikuti dengan serangkaian tebasan ke arah badan makhluk tersebut. Arma tak hentinya berteriak selagi terus menebas makhluk yang sudah terjatuh tersebut. Salah satu agen akhirnya menyadari hal tersebut dan mencoba menenangkannya.

Sayangnya baik dari sisi ketua, para agen, ataupun Arma barusan, makhluk-makhluk tersebut terus bangkit kembali, tidak peduli seberapa parah luka mereka.

Lucy menyadari satu hal di kekacauan tersebut. Bunyi bel nyaring dari ujung ruangan masih tak henti-hentinya memenuhi ruangan. Lucy merasa itu ada hubungannya dengan perilaku makhluk-makhluk tersebut tadi dan juga sekarang ini.

Begitu melihat celah, dia berlari seketika, menjauh dari para agen. Heru yang menyadarinya berteriak memanggilnya, tetapi sepertinya tidak dihiraukan. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menembaki makhluk-makhluk yang mencoba mendekati Lucy.

Setelah berlari secepat yang dia bisa, Lucy berhasil berada di sisi lain ruangan. Di balik mesin-mesin ruangan ini terdapat sebuah ruangan kosong yang awalnya menyimpan orang-orang barusan. Tercium aroma tak mengenakan dari dalam sana, membuat Lucy menarik nafas dalam-dalam dulu sebelum masuk. Lucy perlahan memasuki ruangan tersebut dengan pistolnya terangkat. Ruangannya tidaklah terlalu gelap begitu dimasuki. Secercah cahaya menarik perhatian Lucy terlebih dahulu begitu dia di dalam. Cahaya tersebut berasal dari gerbang lainnya di depannya yang tidak ditutup dengan rapat.

Awalnya Lucy ingin mendekatinya, tetapi suara bel yang berdentang nyaring membuat Lucy akhirnya mendongkak dan mendapati bahwa memang terdapat bel besi besar di atasnya. Lebih banyak cahaya masuk dari atas, sepertinya terdapat jendela di lantai atas sana. Seseorang tengah membunyikannya dengan memukulnya secara terus-menerus.

Lucy dengan segera menodongkan senjatanya ke arahnya. Dia bisa menembak kakinya dari tempatnya berada. Orang tersebut kembali memukul bel. Pada saat itu, Lucy menyadari bahwa yang tengah memukul bel tersebut adalah seorang pria tua. Helm putih yang dikenakannya membuat Lucy berpikir dia orang yang sama yang membuka gerbang di sini tadi.

Lucy menurunkan senjatanya dan menggeleng. Dia merasa bisa membujuk orang tua seperti dia. Lucy lalu melihat sekelilingnya, mencoba mencari akses untuk bisa naik ke atas. Tidak berhasil menemukannya, Lucy lalu berlari ke luar dan melihat ke sekeliling. Terdapat tangga monyet dari besi di sisi kiri yang terhubung ke lantai mezzanine di atasnya. Dia mengamati lantai tersebut dan mendapati bahwa ia memang terhubung ke ruangan kosong di depannya. Dengan segera dia lari dan mulai memanjat. Tangga tersebut tidaklah terlalu tinggi sehingga Lucy bisa sampai ke atas dengan segera.

Dia melihat pria tua berseragam pekerja tersebut masih memukul bel di sampingnya, sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Dengan perlahan Lucy mendekatinya sampai dia merasa cukup dekat sebelum menodongkan pistolnya dan berteriak, “Berhenti membunyikan bel itu!”

Pria tua tersebut terkejut mendengarnya dan langsung berbalik. Dia jelas tidak mendengar Lucy mendekatinya sampai sedekat ini, mungkin bel itu mengacaukan pendengarannya. Dia langsung melepas tongkat kayu yang dipakainya untuk memukul bel dan mengangkat tangannya setelah itu. Sepertinya dia tidak berniat melawan seperti pekerja lain. Lucy berasumsi dia terlalu lemah untuk itu.

“Pak Darus, bukan?” Lucy menebak, “Kenapa kau membunyikan bel tersebut?”

Dia tidak membalas. Mulutnya tertutup rapat.

“Apa yang telah kau lepaskan? Kenapa mereka seperti itu?” Lucy terus menekan selagi maju perlahan. Pria di depannya mundur selangkah demi selangkah karenanya.

“Apa pun untuk menghabisi kalian.” Dia menjawab pelan. Ekspresinya tegas saat menjawab.

Lucy melirik ke samping mendengar hal tersebut. Dia bisa melihat keseluruhan ruangan dari atas sana. Para agen sepertinya hanya mengamati beberapa jasad yang tergeletak. Tidak ada lagi suara tembakan, jadi cukup aman bagi Lucy untuk menduga bahwa makhluk-makhluk tersebut antara berhenti menyerang mereka atau berhasil dibunuh mereka.

Lucy mengalihkan perhatiannya ke pria tadi. “Kenapa?” Cuma itu yang ditanyakannya.

Dia berjalan mundur beberapa langkah lagi, “Apa pun agar perusahaan ini tidak bangkrut.”

Sayangnya beberapa langkah terlalu banyak untuk lantai yang dipijaknya.

Dia terlambat menyadari kaki kirinya tidak lagi memijak lantai. Gravitasi menarik badannya ke belakang, membuatnya menghantamkan kepalanya ke bel di belakangnya. Dengan dentang terakhir darinya itu, dirinya terjatuh ke ruangan yang Lucy masuki sebelumnya.

Lucy tentu saja reflek berlari mencoba membantunya, tetapi terlambat. Dia bahkan tidak sempat melihatnya menghantam tanah. Yang dilihatnya hanyalah jasadnya menatapnya di bawah. Darah mulai menggenang.

Lucy mundur seketika, memproses apa yang barusan terjadi. Dalam hatinya, mau bagaimana pun, dia hanya pria tua. Hanya pekerja bahkan. Lucy mulai berpikir ini salahnya karena dia yang pertama mencoba mendekatinya, berpikir dirinya bisa mengamankan pria itu

Setelah beberapa saat duduk di pinggir lubang tersebut, Lucy merasa dirinya mulai menangis. Dia terisak-isak perlahan.

Lucy menyapu tangisnya dan menatap ke depannya. Di balik bel besi di hadapannya, terdapat semacam pintu. Lucy menatapnya untuk beberapa saat. Papan kayu putih dengan tulisan hitam bertuliskan ‘Ruang Pimpinan’ terpampang di atas pintu tersebut.

Tiba-tiba Lucy meremas erat gagang revolvernya dan berlari ke arah pintu tersebut. Dia yakin mengenai apa atau siapa yang ada di ruangan tersebut.

Begitu di depannya, dia menendangnya dan langsung mengamati siapa di ruangan tersebut. Seorang pria yang mengenakan kemeja putih dengan dasi dan celana kerja hitam. Meski begitu rambutnya cukup berantakan. Dia tengah menghadap ke arah kaca ruangan yang menunjukkan seluruh ruangan selagi memegang mikrofon ketika Lucy masuk, membuatnya terkejut dan melepaskan mikrofon tersebut.

Lucy ingin sekali menembaknya, tetapi dia masih dapat mengendalikan emosinya sehingga yang pertama dia lakukan adalah berteriak, “Angkat tanganmu!”

Tiba-tiba, di samping kiri dan kanannya nya muncul personel lain Yayasan, semuanya menodongkan senapan mereka ke arah pria tersebut seperti Lucy. Salah satu agen di sampingnya adalah Agen Heru.

“Syukurlah kami tidak terlambat.” Heru berkata kepada Lucy. “Aku menduga kau membunuh pria di bawah sana. Aku juga menduga dia melakukan sesuatu dengan membunyikan bel tersebut sehingga makhluk-makhluk tadi masih tidak mau mati.”

“Tidak!” Lucy menggeleng kuat, “Dia jatuh. Aku tak sempat menyelamatkannya…”

“Kau yang memaksa dia membunyikan bel tersebut, bukan!?” Lucy tiba-tiba berteriak ke arah target mereka.

Pria tersebut diam untuk beberapa saat, tetapi Lucy memaksanya dengan berteriak “Cepat jawab!”

“Dia yang memaksakan diri ingin melakukannya!” Pria tersebut berteriak pula.

“Peneliti Lucy, tolong diam untuk saat ini!” Kali ini sang ketua para agen yang bersuara dengan tegas. Lucy menoleh ke arahnya sebelum menurunkan senjatanya. Ekspresinya jelas tidak senang, ini seharusnya tugasnya dan dia akan senang hati melakukannya, tetapi yang barusan adalah perintah tegas ketua operasi ini.

“Sebutkan identitas anda!” Sang ketua bertanya, tetap dengan suara lantang.

“M. Fathur, pimpinan perusahaan ini.” Pria tersebut membalas. Ketua melirik ke arah agennya di belakang untuk sesaat sebelum kembali bertanya, “Perusahaan? Apa nama perusahaan ini?”

Pria tersebut kembali diam, tetapi kali ini dia memutuskan untuk tidak berlama-lama dalam menjawabnya. “PT. Benar Top. Kami perusahaan pengolahan produk daging sapi.”

Ketua mengangguk seakan dia sudah mencurigai hal tersebut. Ini terbukti dengannya berkata, “Jadi dugaan mereka benar… Kami menelurusi pabrik ini begitu sampai. Tetapi data menunjukkan bahwa perusahaan kalian sudah bangkrut minggu lalu.”

“Tch,” Dia terlihat kesal mendengar itu. “Jadi kalian tahu ya. Iya, perusahaan bangkrut tak lama setelah bapakku mati. Dia pun matinya karena stress mikirin utang perusahaan. Saya yang jadi pimpinan perusahaan sekarang. Memang ga mungkin sih ngelunasin sebanyak itu…” katanya, menggumam di kalimat terakhirnya.

“Oh ya, kami sekarang diakuisisi sebuah grup perusahaan. Kami tidak tahu kenapa mereka memilih perusahaan kami, tapi beginilah kondisinya sekarang.” Dia melanjutkan.

Ketua terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum bertanya lagi, “Apa nama grup perusahaan yang mengakuisisi kalian?”

Pria tersebut hanya diam. Bukan diam karena enggan menjawab, tetapi dia memang terlihat kebingungan. Seakan-akan dia mencoba mengingatnya.

“Tentu saja…” Ketua menggumam. Dia lalu berkata, “Lupakan pertanyaanku tadi. Apa kau tahu perusahaan lain yang bekerja sama denganmu? PT lain atau semacamnya?”

Tindakan ketua yang tiba-tiba mengganti pertanyaan membuat Lucy menatapnya bingung. Pria di depan mereka sepertinya tidak memedulikan perubahan tersebut dan menjawab, “Tentu, apa kalian pernah mendengar PT Bening Cahaya Sejahtero?”

Sang ketua sepertinya menduga jawaban seperti itu dan langsung saja berkata, “Itu menjawab beberapa hal. Grup yang kau sebutkan ini, mereka yang memberi kalian bel raksaksa di sana, bukan?”

Pria tersebut awalnya enggan menjawab, tetapi akhirnya dia mencoba menjawab, “Kalian bukan polisi biasa, bukan? Polisi biasa bakal bertanya mengenai apa-apaan yang mereka lihat barusan di bawah terlebih dahulu.”

“Hey, kami yang bertanya, bukan kamu.” Ketua membalas.

“Yah, saya sudah curiga ini mungkin bakal kejadian. Grup yang mengakuisisi kami yang memberikan bel tersebut untuk digunakan dalam produksi. Sekali lagi, kami tidak tahu sama sekali mengenai bagaimana mereka membuatnya.” Pria tersebut akhirnya menjawab yang ditanyakan sebelumnya.

Ketua mengangguk. Dia lalu bertanya, “Jelaskan bagaimana kalian beroperasi dengan menggunakan bel itu.”

“Ngg, operasinya maksudnya-“

“Awal kalian menggunakannya, bagaimana kalian menggunakannya untuk usaha kalian, modus operasi kalian, semuanya.” Ketua langsung menjawab pertanyaan pria tersebut sebelum dia sendiri selesai bertanya.

Pria tersebut terlihat berpikir untuk beberapa saat. Mungkin agak susah baginya di tengah todongan senjata sebanyak itu. Akhirnya dia seakan menyerah dan berkata, “Agak susah ngejelasin yang ini-”

“Jelaskan apa pun yang kau bisa.” Kali ini ketua mengangkat senapannya. Beberapa senapan lain yang awalnya diturunkan kini diangkat naik kembali, menegaskan kondisi pria tersebut.

“Baik, baik! Ngg, sebelum memakai bel besar di sana, kami diminta ngelakuin ritual dulu.” Jelas pria tersebut. “Saya dikasih buku tata caranya oleh mereka, mereka sendiri ngakunya pegawai grup itu. Mereka sampai ngasih orang buat itu.”

“Kau masih tidak bisa menyebutkan nama grup orang itu?” Ketua memotong tiba-tiba. Pria tersebut menggeleng sebagai jawaban. Ketua mengangguk seakan dia mengerti kondisinya dan berkata, “Baik, lanjutkan dulu yang tadi.”

Pria tersebut mengangguk dan melanjutkan, “Ritualnya ini kayak ritual suku pedalaman gitu. Kami… kami harus mewarnai badannya dengan darah gitu. Baca mantra juga. Saya nebaknya itu dalam Bahasa India gitu dari tulisan dan pelafalannya. Baru kita taruh dia tepat di bawah bel raksaksa itu. Setelahnya kami bunyikan bel itu.”

“Itu menjelaskan ukirannya.” Heru berbisik kepada ketua di tengah penjelasannya. Sang ketua lalu bertanya, “Lalu apa yang terjadi.”

“Mungkin kalian sudah lihat di bawah. Dia perlahan jadi sapi, seperti mereka di bawah.” Kata pria tersebut.

“Tunggu sebentar, bukannya kalian cuma diberi satu orang, bagaimana semua orang di sana bisa terpengaruh efek bel tersebut?” Ketua bertanya kembali.

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan Lucy dalam hati sejak dirinya menghadapi pekerja yang memukul bel sebelumnya. Bel tersebut mampu tetapi sepertinya memerlukan syarat tertentu untuk bisa mengubah seseorang menjadi hewan. Tetapi apa? Apakah mereka harus mengikuti ritual serupa? Lucy bertanya-tanya mengenai hal tersebut.

Pria tersebut tersenyum, “Untungnya itu bagian mudahnya. Siapa pun yang memakan daging sapi hasil bel tersebut akan jadi sapi juga begitu mendengar bunyi bel itu.”

Apa?

“Kalian memasarkan daging sapi tersebut, bukan?” Ketua kembali bertanya. Pria tersebut mengangguk. Lucy tidak tahu bagaimana pria tersebut atau sang ketua bereaksi seakan hal tersebut merupakan hal wajar untuk dilakukan.

“Jadi…” Lucy akhirnya memberanikan diri untuk bicara kembali, “Orang-orang di bawah, mereka memakan produk kalian?”

“Ya, kami tidak lagi harus memikirkan-“

Pria tersebut tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena Lucy tiba-tiba meraih senjatanya dan berlari ke arahnya selagi menodongkan pistolnya ke arahnya. Dia dengan cepat ditahan dua orang agen yang langsung menundukkannya ke lantai. Tiga agen, dengan Heru yang memegang tangannya yang menggenggam revolver miliknya.

“Tolong tenangkan dirimu!” Heru berkata di sampingnya.

“Nggak! Mereka dengan entengnya ngorbankan orang ga berdosa buat bisnis setan mereka!” Lucy mencoba berdiri dan mengarahkan tangannya untuk menembaknya. Dia sangat menyesal dirinya tidak menembak orang tersebut sebelumnya.

“Kau pikir kami senang melakukan itu?” Pria tersebut kembali emosi. “Bapakku, keluargaku, karyawanku juga sudah mengabdi seumur hidup mereka untuk perusahaan ini, saya tidak akan membiarkan usaha yang keluargaku bangun sejak dulu bangkrut bagaimanapun caranya. Persetan kalau kami harus kerja sama setan sekalian!”

“Bodoh amat!” Lucy berteriak membalas. Tetapi akhirnya dia berlutut selagi menangis. Heru dengan perlahan melepas pegangannya, meski kedua agen lain tidak.

“Apa pun agar perusahaan ini tidak bangkrut.”

Lucy memukulkan tangannya ke lantai. Kenapa orang-orang melakukan hal bodoh untuk tetap hidup?! Sekumpulan orang egois yang mementingkan diri mereka sendiri!

“Jadi, kalian menyebar produk kalian dengan plastik-plastik putih yang kalian minta bagikan?” Sang ketua kembali bertanya, tidak memedulikan kondisi Lucy.

“Huh, ya. Kalian juga tahu mengenai plastik itu, ya? Masuk akal sih." Pria tersebut mengiyakan. "Itu plastik-plastik ajaib yang diberikan pegawai grup kepada kami. Di dalamnya sudah ada produk dari PT lain yang ikut terlibat, jadi kami cuma menambahkan produk kami di dalamnya dan mendistribusikannya ke warga. Ku katakan ajaib karena setiap lewat tengah malam, selalu ada setumpuk uang sepadan dengan jumlah produk yang kami berikan. Sisi baiknya kami tidak perlu menjual produk kami secara langsung, tetapi sayangnya kami juga harus bagi jatah dengan perusahaan lainnya.” Jawab pria tersebut.

“Maksud distribusi, menggunakan geng lokal?” Sang ketua berkata selagi melirik ke arah kaca. Pria tersebut mengikuti arah pandangannya dan melihat ke luar. Di bawah sana, tahanan mereka Arma bersama dua orang agen masih memandangi jasad di lantai. Entah kenapa pria tersebut tersenyum melihat hal tersebut.

“Ya, kami membayar geng lokal untuk membagi-bagikannya. Setelahnya orang-orang yang memakannya itu, mereka muncul di bawah bel raksaksa itu melewati tengah malam.” Katanya selagi menunjuk ke belakang para personel, ke arah bel di belakang mereka. “Mereka biasanya akan kebingungan kenapa bisa ada di sana, jadi kami bunyikan bel itu sekali dan mereka akan diam. Yah, biasanya kami tidak membuang waktu dan langsung mengubah mereka menjadi sapi untuk diolah.”

Ketua menangguk selagi kembali menoleh ke arah pria tadi. “Mengenai itu, ada yang perlu ku tanyakan,”

Pria tersebut kini mencoba mendekati mejanya, sepertinya mencoba untuk duduk di kursinya. “Apa?” Tanyanya

“Saat kau memegang mikrofon itu,” Ketua menunjuk ke arah mikrofon di meja. ”Apa mereka mampu mematuhi perintahmu? Dan kenapa aku mendengar bunyi lonceng di latar belakangnya.”

Pria tersebut terkekeh, dirinya menurunkan salah satu tangannya, mencoba mengambil sesuatu dari kantongnya. Para agen langsung siaga, membuat pria itu berkata, “Tunggu- aku cuma akan mengeluarkan lonceng tadi!” Dengan nada panik.

Dengan itu dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah lonceng kecil berwarna keemasan. “Tak ku sangka kalian berhasil menebak sampai sejauh itu. Iya, lonceng ini berbeda dari bel tersebut. Bel itu hanya bisa merubah manusia menjadi sapi, tetapi lonceng ini mampu membuat mereka patuh.”

Dia lalu menghidupkan mikrofonnya sebelum tiba-tiba membunyikan loncengnya dengan cepat dan berkata, “Ternakku, jadilah satu dan habisi semua orang!”

“Apa-apaan itu!” Ketua diikuti agen lain langsung mendekat dan menodongkan senjata ke arahnya dari segala sisi.

“Mungkin kalian akan lebih memilih untuk melihat apa yang terjadi di bawah.” Dia tersenyum licik.

Satu-persatu agen menoleh ke arah kaca, mengamati sesuatu tengah terjadi di bawah.


“Gue masih ga percaya aja…” Kata seorang perempuan. Dia bersandar di salah satu mesin yang sudah penyok. Tangannya memegang erat gergaji yang sebelumnya menyelamatkan nyawanya. Di depannya adalah dua orang agen Yayasan, saling mengamati jasad-jasad di lantai.

“Yah, ini semua? Aku pernah melihat yang lebih aneh.” Salah satu agen berkata. Mereka secara terbuka berbicara mengenai makhluk anomalus yang bergelimpangan di sekitar mereka. Perempuan ini akan diberi amnestik juga nanti, itu pikirnya.

Tiba-tiba pengeras suara berbunyi nyaring, “Ternakku, jadilah satu dan habisi semua orang!” merupakan perintah yang diberikannya.

“Huh?”

Sebelum salah satu di antara mereka bertiga bisa bereaksi, tiba-tiba jasad-jasad di lantai merayap seakan mereka masih hidup. Para agen kembali menembaki mereka, dan sekali lagi itu tidak memengaruhi mereka. Mereka saling berkumpul, salin menumpuk satu sama lain. Secara perlahan kulit mereka berubah warna menjadi merah. Setelah beberapa saat, berubah warna bukanlah kata yang tepat, tetapi kulit mereka perlahan menghilang, menunjukkan warna daging mereka.

Si perempuan hanya berteriak, sedangkan dua orang agen di sampingnya bersiap menembak dengan ekspresi gugup. Seiring waktu kumpulan makhluk tersebut semakin membesar. Secara perlahan makhluk-makhluk tersebut mulai kehilangan wujud manusia setengah sapi mereka. Mereka kini menjadi semacam gumpalan daging yang masih terus bergerak.


Pria yang mengaku pimpinan tadi tiba-tiba lari dengan cepat saat para agen di atas teralihkan perhatiannya. Sebelum salah satu agen sempat menembaknya, dia berhasil meloncat ke arah kaca, memecahkannya, dan jatuh ke lantai dasar.

Dia tergeletak untuk beberapa saat, tetapi kemudian dia tiba-tiba bangun dan lari secepat yang dia bisa ke arah pintu keluar.


Dua agen Yayasan tadi tiba-tiba melihat seseorang berlari ke arah mereka, mereka langsung mengalihkan arah senapan mereka ke pria tersebut selagi berkata, “Berhenti!”

“Jangan alihkan pandangan kalian darinya kalau kalian tidak mau mati!” Pria tersebut berteriak.

“Apa yang-“ Kedua agen tersebut kembali menodongkan senapan ke arah gumpalan daging di depan mereka yang sepertinya mulai membentuk wujud sesuatu berkaki empat.

“Tunggu! Kau bos pabrik ini, bukan?!” Perempuan tersebut berkata tiba-tiba.

Pria tersebut sudah cukup dekat dengan mereka untuk berkata, “Kalian harus mengurus kakinya dulu sebelum kepalanya. Bakar ia jika sudah mati.”

Dan dia pun melalui mereka. Para agen ingin mengejarnya, tetapi mereka harus mengamati keadaan di depan mereka.

“Woy, jangan lari!” Perempuan tersebut berteriak selagi hendak lari mengikutinya, tetapi salah satu agen langsung berkata, “Jangan ke mana-mana! Kau saksi kunci sekarang! Tetap bersama kami!”

“Lu pasti bercanda!” Perempuan tersebut jelas ragu-ragu untuk melanjutkan pengejaran atau mematuhi perintah mereka. Akhirnya dia berlari mendekati kedua agen di depannya selagi ikut bersiap dengan gergajinya.

Pada akhirnya, gumpalan daging tersebut membentuk wujud seekor sapi raksaksa. Ketiadaan kulitnya membuatnya berwarna merah pekat. Darah terus menetes dari badannya.

Ada alasan kenapa kedua agen tersebut menunggu makhluk di depan mereka selesai berubah. Itu karena terakhir mereka menembaki mereka di tengah dentuman bel, makhluk-makhluk tersebut tak kunjung mati dan hanya membuang peluru semata. Mereka tidak akan membuang peluru kecuali yakin makhluk tersebut bisa ditembak dan bisa mati karenanya.

Tiba-tiba, terdengar suara dari kejauhan. Bukan suara dari pengeras suara, tetapi suara teriakan lantang khas ketua mereka.

“Tembak!”

Dan dengan itu makhluk tersebut dihujani peluru.

Kronik Situs-79

Bab 5: Rumah Jagal
« Bandit Kelas Coro | Bisnis Untuk Menjagal | Omong Keadilan »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License