Berandalan Kampungan Situs
rating: +4+x

Setiap malam, situs selalu sepi akan langkah kaki, tetapi tetap tidak pernah terlalu sunyi. Koridor Lantai Euclid Situs-79 tidak banyak dilalui personel saat malam. Sebagian besar personel ada di ruangan tertentu dalam situs ini; menghabiskan shift malam mereka.

Tidak terkecuali ruang istirahat teknisi.

Ruangan ini luas, meja dan kursi di mana-mana. Berbagai perlengkapan berjejer di pojokan. Di bawah sekumpulan lampu ruangan tersebut, beberapa orang tengah bermain kartu di salah satu meja di pojokan.

Tiba-tiba, salah pintu di sisi dalam ruangan tersebut terbuka. Seorang pria yang mengenakan masker gas keluar dari ruangan tersebut setelah mendorong pintunya. Salah satu tangannya memegang satu rim kertas A4 dan F4 sementara tangan satunya menekan sakelar yang mematikan lampu ruangan tempatnya tadi.

“Sudah nulis nama?” Salah satu dari teknisi di meja tersebut bertanya.

Pria bermasker gas tersebut menutup kembali pintunya, “Nama, jumlah barang, dan tanda tangan sudah ditulis, jadi tenang saja.”

Teknisi yang lain ikut menoleh, “Langsung ke ruangan, dok?”

Orang dengan masker gas yang dirujuk ‘dok’ tadi mengangguk, “Langsung aja. Mau santai di ruangan aja.” Selagi berjalan menjauh.

Teknisi tadi hanya mengangkat bahu selagi kembali fokus ke rekannya yang lain. Pria bermasker gas tadi juga tidak membuang waktu lebih dan mulai berjalan lagi.

Satu hal yang menghentikan langkahnya adalah suara sirene situs yang muncul mendadak.

Lampu merah yang tertempel di ruangan istirahat teknisi menyala terang, membanjiri ruangan dalam warna merah cahayanya. Para teknisi yang berkumpul di meja pojok langsung berdiri dari kursi mereka.

“Sirene?” Apa terjadi sesuatu?” Kata pria bermasker gas kepada teknisi yang mulai mengambil perkakas mereka.

“Yah, pelanggaran penahanan di lantai ini.” Salah satu teknisi menjawab selagi meraih kunci inggris.

Pria itu meletakan dua rim kertas yang dipegangnya di meja, “Tunggu, anomali di sini? Mereka bisa lepas?”

Suara tertawa didengarnya, “Heh, antara terjadi kecerobohan atau anomalinya berhasil bikin masalah. Kami sih, bisa menebak siapa yang lepas.”

Sang pria bermasker gas di dekat ambang pintu tersebut tidak mengindahkan ocehan mereka dan mulai mendekat ke luar secara perlahan. Dia hampir saja mencoba menengok ke luar jika tidak ada kilatan putih di depan wajahnya.

Si masker gas terjatuh karena terkejut. Sesosok makhluk menyerupai manusia pendek kurus dan berkulit pucat berdiri di depannya. Tangan kanannya yang memegang pisau daging berada di bawah setelah mencoba menebasnya.

Makhluk di depannya mengeluarkan suara raungan keras bak monyet dan maju selagi mengangkat tinggi pisau dagingnya ke arah pria bermasker gas yang masih di lantai.

“Woy, ambil!” Kata suara di belakang pria tersebut. Sebuah palu terdorong ke samping kiri kepalanya. Dengan cepat tangan kanannya meraih palu tersebut dan mengayunkannya bersamaan dengan makhluk tersebut mengayunkan pisau dagingnya ke arah kepalanya. Palunya berhasil menghantam pergelangan tangan makhluk tersebut, membuat pisau dagingnya terlempar. Sayangnya pegangan pria tersebut tidaklah erat sehingga palu yang dipegangnya juga ikut terlempar.

Makhluk tersebut meraung di depannya dan langsung memukul kepala pria tersebut dengan tangan kanannya. Pukulan makhluk tersebut cukup untuk membuat retak kecil pada masker gas yang dikenakan pria itu, tetapi makhluk itu langsung berteriak kesakitan selagi mengayunkan pergelangan tangannya.

“Masker ini keras, keparat!” Katanya selagi tertawa lega.

Tetapi tawanya berakhir singkat karena makhluk di depannya langsung memukul perutnya dengan tangan kirinya. Sang pria yang awalnya mencoba bangun langsung terbaring lagi, menahan sakit selagi mencoba bangun.

Makhluk itu tidak membuang waktu, begitu tangan kanannya tidak terasa sakit, dia langsung menghantamkannya ke arah dada pria itu. Belajar dari yang pertama, pria itu langsung menahan tangan kanan makhluk tersebut dengan tangannya. Dia langsung mengangkat kaki kanannya untuk menendang makhluk tersebut dari belakang.

Sang makhluk di depannya menoleh ke belakang. Belum sempat dia berurusan dengan kaki pria tersebut, sebuah pukulan langsung diterimanya.

Seorang pria yang mengenakan kemeja putih dengan jas rompi abu-abu masuk ke ruangan dan langsung memukul jatuh makhluk tersebut. “Ku kira keamanan sudah mengurus semua berandalan ini, mate.” Katanya selagi menendang makhluk itu sampai jatuh. Dia langsung menendang kepala makhluk itu dan membalik badannya. “Tali, cepat! Sampai mati, kita yang kena masalah”

Salah satu teknisi langsung membuka salah satu laci meja ruangan dan melempar seikat tali ke arah pria yang baru masuk tersebut. Dia langsung mengikat kedua tangan dan kaki makhluk itu dibantu oleh beberapa teknisi.

“Tepat waktu, ku rasa.” Kata pria dengan masker gas selagi mencoba bangun lagi. Kali ini dia bisa, dan dia pun berjalan mendekati pria yang baru masuk tersebut. Dia bisa melihat cambang di pipinya selagi dia membenarkan posisi topi flat cap di kepalanya.

Setelah selesai mengikat makhluk tersebut, pria itu berdiri dan berbalik ke arahnya. “Masker gas, kau pasti Balefire, bukan?” Dia mengulurkan tangannya dan tersenyum. “Nama ku Toni Ivansyah. Ku rasa ini pertama kali kita bertemu, no?”

Balefire memutuskan menjabat tangannya tidaklah apa-apa, “Yah, ku rasa aku belum pernah melihatmu di lantai ini sebelumnya.”

Toni tertawa kecil, Balefire sekilas melihat dia kehilangan satu gigi depan atasnya. “Karena aku sebagian besar di mess atau di sini, mate. Bagaimana denganmu?”

Balefire mengangkat bahu, “Sama sepertimu. Mencoba menjadi asisten yang baik.”

“Ah,” Toni mengangguk. Dia lalu duduk di pinggiran meja. “Junior atau biasa?” Dia bertanya.

“Statusku? Peneliti junior. Kau?” Balefire balas bertanya.

“Cuma peneliti. Bidangku teknologi, meski sekarang sedikit menganggur sejak proyek terakhirku. Jadi ku habiskan waktu bersama orang-orang ini.” Katanya selagi memandangi para teknisi yang mendudukkan makhluk itu di pojok dinding.

“Jadi…” Balefire ikut memandangi makhluk itu, “Setidaknya kau mungkin sedikit tahu makhluk apa itu?”

Toni mengalihkan pandangannya ke Balefire, “Kau pernah membaca SCP-014-ID, mate?

Balefire diam sejenak, mencoba mengingat. “Ku rasa pernah sekilas ku baca. Itu mereka?”

“Heh, setengah benar. Dokumennya mengatakan bahwa SCP-014-ID adalah sekumpulan manusia berukuran pendek dengan kondisi abnormal di mana tubuh mereka pendek, buncit, dan pucat seperti itu. Mereka juga dikatakan sedikit cerdas di sana untuk memenuhi tiga kebutuhan primer mereka; membuat perkakas dan rumah dari bahan yang ada, semacam itu. Ditemukan di mal terbengkalai dan diurus staf dan pemilik mal tersebut sampai mereka membuat keributan dan memancing Yayasan untuk menyelidikinya.”

“Yah, seingatku juga begitu samar-samar.” Balefire mengangguk mengerti, “Tetapi kenapa kau bilang setengah benar?”

Toni tidak langsung menjawab, dia berdiri dan berjalan mendekati makhluk itu. “Karena di dokumennya mengatakan mereka ditahan di Pulau Kalimantan.”

Balefire memutuskan untuk bersandar di dinding. “Jadi, kalian mengambil makhluk ini untuk diteliti di sini?”

Toni tertawa kecil, “Oh, mate, sejarah makhluk ini sangat panjang, kau tahu? Singkatnya, dua orang peneliti dulu berlomba naik pangkat sampai mereka merespon temuan SCP yang terletak di pulau lain. Pada akhirnya, kedua peneliti itu sama-sama naik menjadi peneliti senior, tetapi salah satu di antara mereka tidak puas dan melanjutkan penelitiannya di sini.”

“Dan siapa peneliti itu?” Tanya Balefire.

Toni menjawab singkat, “Christopher Louis, mate.

Balefire hanya diam dan menunduk selama beberapa saat sebelum membalas, “…Masuk akal.”

Toni menoleh ke arahnya, “Kau pernah bertemu dia? Kabarnya dia jarang keluar dari ruangannya sekarang. Jadi semoga kau tidak berpapasan atau bermasalah dengannya. Pria itu penuh dendam, determinasi dan uang, kau tahu?”

“Heh, Tuhan tidak menjawab doa mu, Toni. Dia atasanku dan aku asistennya.”

Toni hanya tertawa mendengarnya. Balefire juga.

“Kau mendapat simpatiku, mate. Tetapi aku heran, dia belum pernah memberitahukanmu mengenai proyeknya ini? Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk ini, lho.”

Balefire kembali mengangkat bahu, “ Dia ada menyinggung dia menjadi peneliti senior karena suatu penelitian, tetapi aku baru tahu penelitian apa itu sekarang. Akan ku baca mengenai SCP-014-ID ini nanti setelah lampu situs ini kembali normal di ruangan; tidak bisa membaca apa pun dalam warna merah ini.”

Pernyataannya hanya dibalas gelengan kepala oleh Toni, “Basis data Yayasan? Kau hanya akan menemui dokumen SCP-014-ID di sana.”

Balefire menatap Toni dengan bingung, “Uhh… Bukannya itu memang dokumen untuk makhluk ini?” Katanya selagi menunjuk makhluk yang menatap liar ke sekeliling selagi diikat di pojok.

“Ini adalah rahasia Situs-79. SCP-014-ID-B.”

“Maaf?”

Toni menghela nafasnya, “Seperti yang ku katakan tadi, mate, atasanmu Louis membawa sekumpulan SCP-014-ID ke situs ini. Singkatnya, situs provisional sudah dibangun di sana karena para pengurus SCP tersebut tidak ingin mereka dibawa Yayasan. Tetapi Louis merasa mereka hanya manusia yang dibesarkan di kondisi abnormal sehingga menjadi seperti sekarang – itu topik penelitiannya, by the way – dan meyakinkan untuk membawa sebagian dari mereka ke situs untuk diteliti lebih lanjut.”

“SCP-014-ID merupakan koloni, dipimpin salah satu dari mereka yang… dianggap pemimpin. Jadi metode Louis adalah membawa sebagian dari mereka yang mencoba keluar dari mal karena menganggap mereka yang kabur tidaklah setuju dengan kepemimpinan pemimpinnya. Kau mungkin membacanya di prosedur penahanannya bahwa jika terjadi upaya pelanggaran yang membahayakan kerahasiaan Yayasan, maka Yayasan yang turun tangan. Jadi mengupayakan menculik beberapa dari mereka tidaklah sulit.”

“Jadi apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka setelah di sini?” Balefire memutuskan bertanya.

“Harapan Louis adalah mereka setidaknya menjadi sedikit beradab di lingkungan terkontrol seperti di sini sehingga teorinya benar dan dapat mengubah kelas SCP ini dari Euclid ke Explained. Tidak banyak orang di sejarah Yayasan yang mampu melakukan perubahan kelas SCP, mate, terlebih mengubahnya jadi Explained yang secara teknis membuktikan puluhan orang yang terlibat penelitian sebelumnya salah akan SCP tersebut.”

“Tetapi SCP-014-ID, mereka memang memiliki potensi menjadi Explained – atau Louis memang pandai bicara – sehingga berhasil meyakinkan sekumpulan peneliti membantu penelitiannya. Sayangnya sampai sekarang belum menghasilkan apa-apa dan mereka, meski ku akui setidaknya sedikit lebih maju dan cerdas dari saudara mereka di pulau lain, tetap bersikap layaknya kera.”

“Heh, mengingatkanku pada eksperimen tahun 1932 yang pernah ku baca” Balefire mengomentari akhir cerita Toni.

“Ku rasa kita bicara terlalu lama, lampu alarm ini tidak akan padam sampai mereka memastikan semua makhluk ini kembali ke ruang penahanan, jadi kau keberatan membantuku membawa makhluk ini, mate?” Toni berdiri ke samping kanan dan memegang kedua bahu makhluk itu dan mendorongnya berjalan.

Balefire berhenti bersandar, “Yeah, tentu.” Dan berdiri di samping kiri makhluk itu selagi ikut menuntunnya keluar.

By the way, mate, apa Louis ada di ruangannya?” Tanya Toni, membiarkan Balefire keluar ruangan terlebih dahulu.

“Nah, sebenarnya-“ Perkataan Balefire terputus selagi dia menyeret SCP-014-ID-B yang dipegangnya ke depannya. Sedetik kemudian sebuah kapak menancap di kepala makhluk tersebut, diikuti kapak kedua yang mengenai bagian dada makhluk tersebut.

Makhluk itu berteriak keras selagi dia dan Balefire terjatuh karena lemparan kedua kapak tersebut. Toni langsung mengarahkan pandangannya ke ujung koridor; dua entitas SCP-014-ID-B berlari ke arah mereka, dan salah satunya membawa nampan besi yang diangkat tinggi.

“Sialan,” Balefire menyingkirkan tubuh makhluk yang terluka parah di atas badannya dan langsung mencoba berdiri. Secara reflek dia langsung mengambil kedua kapak berganggang kayu yang menancap di tubuh makhluk itu dan mengayunkannya ke depan; hampir mengenai salah satu makhluk yang mendekat. Kedua makhluk tersebut mundur sebelum salah satu dari mereka mencoba menyeruduknya, hanya untuk ditahan Toni yang langsung memukuli punggungnya selagi menahannya.

Tersisa Balefire dengan kedua kapaknya dan salah satu entitas SCP-014-ID-B dengan nampan besinya. Makhluk itu mengayunkan nampannya menyamping selagi mendekati Balefire. Balefire bereaksi dengan mengayunkan kapak di tangan kanannya untuk memukul nampan itu ke bawah.

Balefire melihat makhluk tersebut terbuka untuk dipukul dan dia membalik kapak di tangan kirinya sehingga sisi tumpulnya yang menghadap makhluk tersebut sebelum memukul kepalanya sekuat tenaga dengan sisi kapak tersebut. Makhluk tersebut terjatuh.

Balefire tidak membuang waktu dan langsung memukuli kepala makhluk tersebut dengan kedua sisi tumpul kapaknya sampai makhluk tersebut tidak kuat menggerakkan badannya kecuali dadanya yang menandakan dia masih bernafas.

Dia melirik cepat ke belakang; Toni ternyata memiliki pisau lipat karena sekarang dia tengah menikam punggung makhluk yang dilawannya berkali-kali. Balefire berlari ke arahnya dan memukul kepala makhluk tersebut dengan ayunan kuat sisi tumpul kapak kanannya. Makhluk tersebut tumbang jatuh.

Sekumpulan teknisi langsung keluar membawa tali sebelumnya dan mengikat kedua makhluk tersebut. Balefire dan Toni mundur dan mengamati

“Kau kira dengan pisau kecil itu kau bisa menjatuhkannya?” Balefire melirik ke Toni di sampingnya.

“Setidaknya tidak cukup untuk membunuhnya.” Toni mendekatkan pisau lipatnya dan mengibasnya beberapa kali; mencoba membuang darah yang menempel sebelum melipatnya dan memasukannya kembali ke kantong celananya. “Kau cukup baik dengan kapakmu.”

“Yah,” Balefire mengamati kedua kapak yang digenggamnya. “Aku pernah memakai kapak dulu.”

Toni mengalihkan pandangannya ke ujung koridor dan berkata, “Nampan besi cuma ada di kantin. Masukk akal karena berdekatan dengan ruang pengujian yang berdekatan dengan koridor penahanan Euclid… Kita harus ke sana!”

“Tunggu, kenapa?”

Toni mulai berlari ke ujung koridor yang masih dibanjiri warna merah alarm, “Mencoba menyelamatkan situs, mate!” Suaranya menggema.


“Jadi aku masih belum membaca dokumen SCP-014-ID, terlebih lagi menanyakan Louis mengenai SCP-014-ID-B” Kata Balefire selagi menengok ke sisi kanan luar ruang kantin; bangsal medis berada di sisi seberang kantin, dan enam personel keamanan bersiaga dengan senapan mereka di balik barikade yang disusun dari meja besi kantin yang berhasil dikuasai kembali oleh mereka sebelumnya. “Apa saja perbedaan di antara mereka berdua?”

“Yah, sebagai permulaan, mereka lebih komunikatif terhadap manusia. Salah satu berhasil belajar bahasa isyarat, kau tahu?” Toni berhenti sejenak, mendengarkan suara tembakan di sisi kantin yang lain. “Mereka juga lebih cerdas sedikit, meski itu digunakan mereka dalam hal kekerasan dan pelanggaran penahanan. Tetapi itu tidak cukup untuk menjadikan mereka anomali baru dan mereka hanya bisa mendapat designasi -B. Mereka bahkan tidak dicatat Yayasan di dokumen mereka sendiri karena minimnya perubahan sifat mereka.”

Begitu suasana tembakan berhenti, mereka berdua maju mendekati sekumpulan penjaga tersebut. “Toni? Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjenguk Rina, kau tahu itu?” Kata salah satu penjaga dari balik visor kuning khas para personel keamanan yang dikenakannya. Suara tembakan dimulai lagi.

“Itu awalnya prioritas pertamaku, tetapi aku tidak tahu mereka bukan dari ruang pengujian. Bagaimana kondisi Lira dan stafnya?” Toni balas bertanya.

“Sudah dibawa ke tempat aman. Mereka tengah meneliti kondisi SCP-014-ID-B-1 ketika sekumpulan -B lain menyerang. Pintu ruang penahanan mereka diganjal sesuatu saat kita membawa keluar pemimpinnya sehingga mereka berhasil membuatnya terbuka sedikit. Sekarang mereka sedang membobol pintu ruang listrik.” Kata penjaga tersebut selagi menunjuk ke arah kiri; kantin dan bangsal medis dipisah oleh koridor yang di sisi kiri ujungnya terdapat pintu ruang listrik.

Blast! mereka mau mematikan listrik satu lantai lagi? Bukannya pintu paling ujung itu pintu belakang ruang istirahat penjaga?” Tanya Toni selagi mencoba mengintip sisi lain barikade.

“Mereka memblokade pintu kita dengan meja kantin. Kita keluar lewat koridor pembatas.” Jawab sang penjaga.

“Pertanyaan bodoh dari personel baru, kenapa kalian membarikade diri kalian sendiri dan tidak mulai menembaki mereka? Dari yang ku lihat, mereka cuma bisa melempar barang.” Tanya Balefire dari belakang.

Toni dan penjaga tadi saling pandang, dengan Toni memberi gestur yang mengisyaratkan ‘yep, dia memang orang baru’ kepada si penjaga. Sang penjaga mengangguk mengerti dan mengatakan satu kata, “SCP-014-ID-B-1.”

“-B-1, pemimpin koloni SCP-014-ID-B bukan? Toni mengatakan designasi -1 diberikan kepada pemimpin koloni. Jadi apa spesialnya?” Balefire lanjut bertanya.

“Gelar kepemimpinan bagi SCP-014-ID didapat dari mengalahkan pemimpin sebelumnya. Kau mau tahu bagaimana SCP-014-ID-B-1 mendapatkan dan mempertahankan gelar kepemimpinannya?”

Terdengar suara tembakan dua kali sebelum hening tiba-tiba. Seluruh orang termasuk Toni dan Balefire ikut berdiri dari balik barikade dan mulai menembakkan senapan bius mereka.

Sekumpulan SCP-014-ID-B bersembunyi di balik pintu ganda ruang bangsal medis yang sepertinya diganjal sesuatu agar tetap terbuka. Mereka berurutan melempar apa saja yang mereka bisa lempar ke arah penjaga. Dua SCP-014-ID-B berhasil tertembak di bahu dan dada.

Sesosok entitas SCP-014-ID-B yang mengenakan ikat lengan dari kain merah tebal muncul dari balik pintu. Tubuhnya memiliki banyak luka cakar dan jahitan, meski sama seperti sebagian besar SCP-014-ID-B lain yang dilihat Balefire sebelumnya. Tetapi yang satu ini mulai mengangkat sebuah pistol dan menodongkannya ke arah barikade.

“SCP-014-ID-B-1 merupakan penembak terbaik koloninya saat ini.”

SCP-014-ID-B-1 mulai menembak; peluru yang digunakannya bukan peluru bius, tetapi peluru timah sungguhan. Seluruh orang kembali menunduk di balik barikade.

“Yang benar saja?! Maksudku, bagaimana dia punya pistol itu beserta pelurunya??” Tanya Balefire dengan cepat.

“Jangan tanya kami, kawan. Suatu hari dia melanggar penahanan dengan SCP-014-ID-B lain dan membawa pistol itu untuk menembaki penjaga. Pelurunya lebih misterius lagi. Kita tidak pernah menemukan seluruh penyimpanan pelurunya dan dia sepertinya tidak akan pernah kehabisan peluru.” Salah satu penjaga menyahut selagi mempersiapkan senapannya.

“Dan-“ Perkataan Balefire terhenti sejenak ketika mendengar bunyi tembakan. “-dan kalian tidak mencoba menyita semuanya?!”

Penjaga tersebut diam sejenak sebelum membalas, “Tidak diwajibkan. Jangan tanya aku. Tanya kepala penahanan. Kami pernah merampasnya dulu, tetapi dia memakai pistol baru setelahnya.”

“Yah, itu kesalahan kalian karena tidak mencoba lebih keras.” Balas Balefire.

Suara tembakan berhenti dan terdengar suara rusuh dari balik barikade. Para penjaga langsung menembakkan senapan mereka. Toni dan Balefire ikut melihat ke luar barikade; SCP-014-ID-B-1 berlari ke arah kiri diikuti salah satu entitas lain yang membawa sekumpulan magasin di tangannya.

“Sial, Jagoan keluar! Kejar dia!” Kata salah satu penjaga selagi meloncat keluar barikade, diikuti seluruh orang. Dua penjaga langsung memosisikan diri dan menembakkan senapannya.

Peluru bius mulai menancap di punggung SCP-014-ID-B-1 dan rekannya. Rekannya jatuh terkena tembakan. Sang pemimpin koloni menoleh sebentar sebelum terus menghadap ke depan selagi menembak ke arah belakang. Salah satu tembakannya mengenai bahu salah satu personel yang tertutup rompi. Dia terjatuh selagi lebih banyak penjaga menembakkan senapannya sampai sang pemimpin koloni SCP-014-ID-B tersungkur.

Meskipun begitu, dia tetap menembak tanpa arah sebelum dia kehabisan peluru. Setelahnya dia hanya terbaring tak sadarkan diri.

Para penjaga maju selagi menembak SCP-014-ID-B lain yang tengah menendang pintu masuk ruang listrik. Satu mencoba lari dan membongkar setumpuk meja yang sebelumnya menghalangi pintu keluar ruang istirahat personel keamanan. Setelah beberapa saat, pintu terdobrak maju tiba-tiba, membuat makhluk tersebut terpental ke belakang; sekumpulan personel muncul dan langsung menembaki makhluk di depan mereka dengan senapan bius.

“Kurang dari satu jam. Rekor baru ku rasa, mate!” Kata Toni selagi menepuk pundak penjaga di dekatnya. Dia pun berjalan menjauh.

“Ku rasa tidak ada yang kita selamatkan, eh.” Balefire mengiringi dari belakang.

Toni menggeleng, “Heh, siapa tahu saja. Bantu aku menyeret tiga berandalan tadi, ok?”

Balefire menanggapinya dengan mengangkat bahu, “Yah, ku rasa tidak ada yang ku kerjakan saat ini.”

Thanks, mate. Setelah lampu situs ini kembali normal, aku perlu mengunjungi teman.”

Mereka berdua berjalan menuju koridor di depan mereka.


“Ku rasa kesadaranku makin menjauh, yang.” Kata seorang pria yang mengenakan baju oka berwarna biru muda selagi dia tengah terbaring di meja panjang ruang kantin.

“Mas Saimun, jangan ngomong gitu lah!” Kata seorang perempuan yang mengenakan jilbab hitam dan pakaian serupa dengan panik di sampingnya. Terlihat bekas air mata dari balik kacamata berbingkai bundarnya.

“Mereka memberi perlawanan yang baik. Apakah memang waktuku sudah tiba?” Kata Saimun selagi menoleh ke arah perempuan yang duduk di sisi kirinya.

“Mas! Serius ini mas!” Suara perempuan di sampingnya terdengar serak.

“Lantas mengapa ada malaikat duduk di sisiku?” Katanya selagi tersenyum.

“Mas!”

“Ya ampun, Ulya! Dia cuma memar kena pukul aja.” Kedua orang tadi langsung menoleh ke arah suara; seorang perempuan yang lebih tua dari mereka berdua berjalan masuk selagi menekan ponselnya.

Dia mengenakan jas dokter dengan kemeja putih di dalamnya serta celana hitam panjang. Rambut hitam panjangnya dikuncir ke belakang menjadi ponytail. Cahaya layar ponselnya memantul ke kacamata yang dikenakannya karena ponselnya didekatkan ke wajahnya selagi mengetik.

“Tapi- tapi Mas Saimun dari tadi kesakitan, Bu Lira! Siapa tahu tulang rusuknya retak atau apa!” Bantah Ulya.

“Karena pukulan monyet kerempeng itu?” Lira membalas selagi berdiri di depan meja mereka. Matanya menatap tajam ke arah Saimun.

“Eh, nggak kok, bu. Ga sakit kok sekarang.” Kata Saimun dengan cepat selagi tersenyum gugup dan mencoba duduk.

“Lah, tadi katanya kesakitan?!” Kata Ulya kebingungan selagi membantunya duduk. Saimun menoleh dan memberi gestur supaya dia berhenti bertanya selagi melirik cepat ke arah Lira.

Lira hanya menggeleng melihat mereka berdua, “Kau orangnya terlalu panikan, Ulya.” Katanya selagi berbalik dan mendekatkan ponselnya ke telinganya, menunggu teleponnya terhubung.

Pintu ganda kantin, ruangan mereka bertiga tengah berada, terbuka. Dua orang lagi masuk ke dalam. Satu memakai topi flat cap, sedangkan satunya memakai masker gas mengiringi dari belakang.

“Lira! Bagaimana keadaan kalian?” Kata Toni selagi mendekatinya. Lira juga berjalan mendekati mereka, tetapi dia melewati pria tersebut dan langsung menuju ke pria kedua.

“Kau! Kau jadi asisten Louis, kan? Di mana dia sekarang?” Tanyanya dengan gusar selagi mengetik lagi di ponselnya.

Balefire terkejut ditanya tiba-tiba sebelum menjawab, “Pak Louis tidak masuk kerja hari ini. Dia mengambil cuti sejak kemarin.”

“Kan! Pantas kantornya kosong. Emang tu orang…” Balasnya dengan keras sambil mendekatkan ponselnya ke dekat telinganya.

Toni menyilangkan lengannya selagi duduk di tepi salah satu meja di sana. “Perlu apa dengan Louis?”

“Jadwal penelitian SCP-014-ID-B hari ini. Padahal dia yang ngatur harinya, malah ga ada. Ditungguin sampai spesimen kabur, ternyata malah di rumah.” Lira menurunkan ponselnya dan menatap layarnya. Dia jelas terlihat tidak sabaran.

“Mencoba menelpon Pak Louis, bu?” Tanya Balefire, “Bukannya tidak ada sinyal di bawah sini?”

Dia tidak menoleh ke si masker gas. “Aplikasi komunikasi khusus antarpersonel Yayasan. Jangan tanya aku, mereka langsung memberikannya saat pertama bergabung.”

“…Saya baru tahu itu. Bagaimana cara mendapatkannya?”

“Kau sudah punya. Bagaimana lagi kau bisa ditelpon atasanmu?” Balasnya.

Asisten Louis tersebut diam memikirkan hal tersebut dan bagaimana hal tersebut tidak terpikirkan olehnya selama ini. Lira kembali fokus mencoba mengontak Louis. Tidak ada yang menduga sebuah suara akhirnya muncul di teleponnya, “Lira? Kenapa nelpon berkali-kali?”

Lira langsung bicara, “Louis! Lu napa ngambil cuti hari ini sih?”

Hening sejenak dari sisi lain ponsel sebelum terdengar suara, “Astaga! Inspeksi 014 hari ini?! Gue lupa sumpah!”

“Kan! Lu lupa! Ini aku nungguin sampai tu monyet ngerusuh ruanganku nih!” Lira menanggapi dengan emosi.

Manusia, Lira. Jadi tadi mereka sempat kabur dari bangsal medis?” Louis bertanya.

“Sebentar aja sih. Kabur sepuluh gegara ngeganjal pintu ruangan mereka sebelum penjaga menutupnya kembali. Tapi stafku satu jadi kena pukul mereka!”

Tidak terdengar balasan, tetapi semacam suara percakapan samar. Meski menggunakan suara luar, Lira tetap mendekatkan ponselnya untuk mendapat kejelasan suara sebelum Louis merespon kembali, “Ya maaf, ini gue juga mendadak cutinya lho.”

Lira tidak merasa cukup akan itu dan kembali bertanya, “Lagian dari semua hari, napa lu milih cuti hari ini sih?”

Suara ponselnya hening sejenak sebelum Louis menjawab, “Dua hari yang lalu Stellia ma timnya dapat cuti lima hari karena penelitian kognitifnya sukses. Dia milih liburan kembali Indonesia dan baru sampai kemarin pagi.”

“Bentar, Stellia kembali ke Indonesia kemarin? Lah baru tahu aku.” Nada suara Lira berubah menjadi murni terkejut.

“Iya, ini dia lagi di kamar. Lu mau ngobrol ma dia?” Tanya Louis.

“Ga, ini lagi agak kacau keadaan di sini. Nanti aku telepon balik ya. Nitip salam ke Stellia.” Lira menolak sebelum panggilan berakhir. Dia diam sejenak selama mengantongi ponselnya dan terlihat menggumamkan sesuatu selagi perlahan duduk di salah satu kursi kantin.

“Jadi Stellia kabarnya pulang?” Tanya Toni selagi berjalan mendekatinya. Lira hanya mengangguk, masih terlihat berpikir.

“Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihatnya langsung. Menurutmu dia akan mengunjungi 79?” Tanyanya lagi.

Lira hanya tertawa kecil dan menoleh ke arahnya, “Kau tahu Louis tidak akan membiarkannya kembali ke sini, Toni. Tempat ini kenangan buruk baginya. Jujur ku rasa lu dan aku merupakan kenangan buruk baginya juga.”

“Heh, yeah. Katakan aku nitip salam juga untuknya.” Kata Toni selagi berjalan menjauh. Saat berpapasan dengan Balefire, dia berkata, “Aku punya seseorang untuk dikunjungi, mate. Ku rasa kau bisa menemani mereka.” Setelah itu dia berjalan ke pintu keluar.

Balefire diam sejenak, tidak tahu harus melakukan apa.

“Jadi…” Dia akhirnya berjalan mendekati Lira, “Siapa yang kalian berdua bicarakan tadi?” Tanyanya.

“Istri Louis pulang dari Amerika. Dia juga peneliti Yayasan, spesialis bahaya kognitif. Jujur sekarang aku memaklumi Louis cuti hari ini.” Jawab Lira.

Balefire mendekatkan sebuah kursi dan duduk di dekat Lira. “Huh, semakin banyak yang kau tahu, eh. Tapi kenapa dia ditugaskan di luar negeri dan bukan di, entahlah, situs sekitar sini?”

“Sebuah insiden pernah terjadi di sini,” Lira terhenti sejenak. Wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan membicarakan topik tersebut. “Mengakibatkan… cedera pada mata Stellia. Louis awalnya tidak membiarkannya bekerja lagi setelahnya, tetapi perempuan itu gigih ingin bekerja kembali dan berhasil kerja di situs lain. Setelahnya mengambil pelatihan peneliti bahaya kognitif dan bekerja di Amerika sampai sekarang.”

“Kelihatannya keinginan perempuan itu lebih besar dari keinginan Louis, eh.” Balefire berkomentar.

“Aku tak menyalahkannya sama sekali untuk paranoid. Jika aku bisa pindah kerja ke situs lain, akan ku upayakan meski harus menyewa pembunuh bayaran untuk membuat lowongan.” Balas Lira.

“Sheeesh, tenanglah sedikit. Cuma berkomentar saja.” Kata si masker gas.

Mereka berdua diam, mengamati Saimun dan Ulya saling mengobrol tanpa henti di seberang mereka.

“Jadi sekarang apa?” Tanya Balefire.

Lira menoleh dengan heran, “Kau tidak punya kerjaan?”

Balefire berdiri dari kursinya, “Yah, ada beberapa hal sih. Dimulai dengan aku harus mendatangi ruang istirahat teknisi dan mengambil rim kertas yang tadi ku tinggalkan. Bu Lira sendiri bagaimana?”

“Yah, tenangkan suasananya sampai ruangan dirapikan dan kami akan kembali ke bangsal medis.” Jawab Lira.

Balefire berjalan menjauh, “Yah, saya pergi dulu ya, bu.”

Lira hanya mengangguk. Kedua siku tangannya ditopang ke pahanya. Digenggamnya kedua tangannya untuk menopang dagunya. Matanya menatap ke lantai

Dia mulai terlarut dalam pikirannya sendiri, mengingat kembali masa lalu.

Kronik Situs-79

Bab 2: Sang Jagoan
| Berandalan Kampungan Situs | Negosiasi Dengan Orang Kampung »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License