Bendera Merah di Atas Petak
rating: +2+x

Sebuah ketukan pintu terdengar.

Lucy menoleh sebentar ke arah pintu sebelum kembali berbaring. Dia mengamati revolver David di tangannya.

Aku adalah agen ganda.

Lucy menodongkan senjatanya itu ke langit-langit.

Tugasku di situs neraka ini untuk membunuh orang. Lalu aku kembali pulang.

Lucy mempertahankan posisi tangannya sebelum menyerah dan menurunkannya.

Tetapi sialan lah… Jika tembakan seperti itu saja membuatku trauma, bagaimana aku bisa membunuh targetku!

Lucy memutuskan untuk duduk di pinggiran ranjang. Dia mengamati pintu ruangannya yang tertutup.

Lagi-lagi dia mendengar ketukan pintu. Kali ini Lucy berdiri dan berjalan pelan ke arah pintunya. Dia membuka kuncinya perlahan dan membukanya.

Heru berada di sisi lain pintu. Dari tangannya yang terangkat, dia antara baru mengetok atau akan mengetok lagi. Lucy tidak mau memikirkan hal itu dan hanya membuka setengah pintunya. Dia berdiri di belakang pintunya dan berkata, “Ada apa?”

“Hanya mengecek keadaanmu. Kau tidak keluar kamar sejak kau mengurus kematian Agen David bersama Pak Hidayat. Maksudku, oke lah, kau perlu istirahat karena kau harus kembali bekerja nanti, tapi kau tidak berkata apapun setelah keluar dari ruangannya.” Heru berkata. Dia memasukan tangannya yang mengetok tadi ke dalam kantong celananya.

Itu mengingatkan Lucy kembali akan apa yang dia pikirkan sejak kemarin. Mengenai pembicaraannya dengan Hidayat.


14 Mei 2018

“Jadi… kau membunuhnya?”

Lucy diam mendengar perkataan Hidayat. Dia lagi-lagi ke ruang mess-nya dan berdiri di depannya. Heru saat ini menemui kepala keamanan situs untuk memberi laporan lengkap kejadian sebelumnya. Heru juga bilang bahwa dia yang akan mengurus insiden itu, jadi dia meminta Lucy istirahat saja.

Memang itu yang tadinya Lucy lakukan sampai ruangannya diketuk.

“Bagaimana rasanya?”

Lucy tersadar Hidayat masih berdiri di depannya. Ekspresi tenangnya membuat Lucy kesal kali ini. “Bagai menembak diri sendiri, tuan.”

Hidayat hanya mengangguk mengerti dan berkata, “Jawaban yang menarik. Terima kasih.”

Setelah itu dia berbalik, sepertinya melangkah keluar. Lucy jelas heran mengenai sikapnya itu. “Kau cuma ke sini untuk menanyai itu saja??”

Hidayat berhenti dan menoleh ke belakang seraya berkata, “Sebagai kepala SDM, sudah tugasku mengetahui kondisi personel, bukan?”

Dia berbalik ke depan dan kembali berjalan. “Tugasku sudah selesai.”

“Kau serius tidak menghukumku atau semacamnya?!” Lucy setengah teriak, kesal karena keacuhannya.

Hidayat sudah memegang gagang pintu. “Kau sudah menjalani hukumanmu.”

Setelah membuka pintu, dia berbalik ke Lucy yang siap bertanya lagi dengan ekspresi marah dan menjelaskan, “Hukuman terburuk personel yang melakukan tindakan merugikan tidak terhadap Yayasan adalah dipindahtugaskan ke situs seperti Situs-79.”

“Tindakan merugikan tidak terhadap Yayasan?”

“Artinya kau melakukan pelanggaran yang tidak mengganggu moto Secure, Contain, Protect Yayasan. Saling bunuh antarpersonel termasuk kategori ini.” Jelas Hidayat.

Lucy hanya diam memahaminya. Jadi itu alasan banyak personel bermasalah di situs ini…

“Bagaimana jika melanggar moto Yayasan?” Lucy memutuskan untuk menanyakan itu juga.

Hidayat hanya tersenyum dan menjawab selagi berjalan keluar. “Mereka dipindahtugaskan ke Situs-333 sebagai Kelas-D.”

Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Hidayat membiarkan sedikit celah dan menambahkan, “Lihat ke bawah.”

Lucy berhenti menatapnya dan langsung melihat ke lantai. Ada revolver tergeletak di depannya.

Apa?? Sejak kapan??

“CCTV mati dalam tiga hari. Semoga beruntung.”

Hanya itu yang dikatakan Hidayat. Dia pun menutup pintu ruangannya, meninggalkan Lucy yang duduk kebingungan.


Sekarang

Lucy tiba-tiba tersadar dirinya masih berdiri di depan pintu, dengan Heru berdiri

“Aku baik-baik saja.” Jawab Lucy selagi mencoba tersenyum. “Aku memang akan kembali kerja seperti biasa nanti jam enam sore.”

“Setengah jam lagi ya… kau mau aku menemanimu?” Heru berkata. Tawarannya sedikit mengejutkan Lucy. Dia awalnya ingin menolak, tetapi dia melihat ke arah Heru. Dia bisa melihat pandangan khawatirnya.

“Bisa… kau tunggu di sini selagi aku siap-siap.” Lucy menjawab sebelum menutup pintunya.

Dia perlu mengganti pakaiannya. Selagi berganti, dia memikirkan apa yang terjadi kemarin. Lucy tidak sadar setetes air matanya keluar.

Kak Jones benar, mereka benar-benar melemparnya ke lift…

Selagi mengancing kemejanya, Lucy menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Menyadari matanya sedikit basah, dia mengusapnya segera.

Aku akan menuntaskan misiku segera,

Lucy menurunkan lengannya dan menatap bayangannya dengan penuh determinasi.

Aku akan keluar dari neraka ini secepat mungkin.

Setelah merapikan kemejanya, dia memasang jas labnya dan berjalan menuju pintu. Dia membuka pintunya dan menyadari Heru tidak ada di depan pintunya. Dia menengok keluar dan mendapati Heru bersandar di dinding di samping pintunya. Lucy tak sadar tersenyum baru ingat kebiasaannya.

“Kau siap?” Heru menegakkan dirinya.

Lucy mengunci pintu ruangannya dan menoleh ke arah Heru yang berdiri di sampingnya.

Aku harus mencari cara mengalihkan pikiran dari trauma atau aku tak akan sanggup menodongkan senjata ke targetku nanti.

Lucy tersenyum dan berkata, “Ya!”

Mereka mulai berjalan…

…Beberapa langkah sebelum pintu di seberang ruangan Lucy terbuka dengan cepat. Seorang personel dengan seragam keamanan terburu-buru mengunci pintunya dan berbalik. Dia dan Lucy saling bertatap mata sekilas. Dalam waktu singkat itu, Lucy menyadari mata personel keamanan ini biru. Dia lalu melirik ke arah nomor ruangan mess personel itu.

Ruang nomor 38.

Hansel.

Dia sendiri menatap Lucy untuk beberapa saat sebelum berlari ke arah koridor.

“Itu Hansel, kan?” Lucy bertanya kepada Heru selagi menunjuk pria tadi yang semakin jauh.

Heru cuma tersenyum dan berkata, “Sepertinya dia tahu kau tetangganya sekarang.”

“Heh, sialan kau.” Lucy membalas candaan Heru.

Ku rasa aku mulai bisa menangani trauma ku.

Mereka kembali berjalan pelan menuju koridor kantor pribadi. Lucy mengamati pintu ruangan-ruangan di depannya.

Dia sudah memberitahukan Onyx dan Jones mengenai kebenarannya kemarin. Selain memberitahukan mengenai David, dia memutuskan untuk tidak menyembunyikan kesalahannya menuduh Hansel. Onyx terlihat sedikit kecewa pelakunya bukan Hansel dan awalnya memberi teori-teori konspirasi sampai Lucy menyinggung Pak Hidayat. Setelahnya dia diam dan menerimanya. Sepertinya pasrah. Sedangkan saat memberitahu Jones, dia terlalu khawatir mengenai pertemuannya dengan David sehingga tidak memedulikan kesalahannya menuduh Hansel sebelum kembali ke dalam ruangannya sendiri setelah menguap beberapa kali.

Dia belum mengatakan apapun ke Herman. Dia akan menceritakan pengalamannya begitu sudah di ruangan. Samar-samar, Lucy bisa melihat papan tanda lantai basah di depan ruangan Pak Herman. Begitu di dekati, lantai yang awalnya berlubang pasca penggalian sudah diberi keramik.

“Apa-apaan itu?”

Lucy mendengar pertanyaan Heru di belakangnya, awalnya dia mengira Heru membicarakan keramik baru di lantai, tetapi saat dia berbalik, pandangan Heru lurus ke depan. Ke ujung koridor. Dia mengikuti arah pandangannya dan melihat adanya semacam kerumunan di depan mereka.

Merasa penasaran, Lucy tanpa sadar berjalan perlahan ke ujung koridor. Heru yang melihatnya memutuskan untuk mengikutinya juga. Begitu sampai di ujung, mereka menyadari kerumunan tadi adalah sepuluh personel keamanan yang berkumpul jadi satu grup.

Lucy menyadari ada seseorang selain personel keamanan di tengah-tengah mereka. Tidak, dua orang. Pikir Lucy. Dia melihat seorang pria mengenakan jas lab dan satu pria lain mengenakan kemeja. Mereka berdua berjalan perlahan keluar dari lift, diikuti sekumpulan penjaga tadi yang mengelilingi mereka.

Apa-apaan mereka berdua itu?? Lucy heran mengamati mereka berdua. Yang memakai jas lab menarik perhatian Lucy duluan karena dia mengenakan masker gas di kepalanya. Lucy sama sekali tidak tahu untuk apa dia mengenakannya dalam situs. Yang memakai kemeja putih dan celana hitam tidaklah terlalu mencolok bagi Lucy. Dia hanya mengenakan kacamata berbingkai persegi.

“Ngapain Louis lewat lift?!” Heru berkata heran.

Lucy menoleh ke arahnya dengan bingung. Dia ingat nama itu pernah disinggung sebelumnya. Dia mengamati lagi kedua pria di depannya selagi mencoba mengingat.

”Kuasumsikan kau tahu mengenai Louis. Peneliti Senior Christopher Louis.”

“Tunggu, Si Christopher itu?! Yang mana???” Lucy terkejut dan langsung fokus ke kedua orang tadi.

“Yang pakai kacamata. Itu Louis. Dan kurasa yang memakai masker gas di sampingnya itu si asistennya, Balefire. Namanya itu kode nama, kata temanku. Dia pernah mendampingi penelitian asistennya.” Heru menjelaskan.

“Asistennya ya… Kalau atasannya dalang pembunuhan, aku tak akan heran asistennya terlihat seperti penjahat perang.” Lucy menanggapinya.

Heru tertawa kecil mendengarnya sebelum membalas, “Yah, aku dan temanku juga berpikir begitu. Kata temanku dia mengalami trauma yang membuatnya tak bisa melepas masker gasnya.”

Trauma, ya… Seperti aku? Tentu tidak. Aku membuat orang terbunuh, apa dia juga?

“Tidak setiap hari kau melihat mereka, kau tahu.” Heru tiba-tiba berkata. “Seingatku, Louis selalu keluar situs lewat lift barang. Aku tak pernah bertanya kenapa, tetapi ku rasa ada hubungannya dengan Onyx.”

“Kau menebak seperti itu karena jumlah penjaga yang mengawalnya?” Lucy tak melepaskan pandangannya dari mereka.

Heru mengangkat bahunya selagi tersenyum dan berkata, “Entahlah, ku rasa dia cuma pamer.”

Mereka berdua tertawa kecil, tetapi mereka akhirnya diam mengamati mereka berjalan menuju koridor pembatas. Dua orang personel keamanan mendorong pintu pembatas agar mereka lewat. Menyadari mereka ke area penahanan, tanpa sadar, Lucy perlahan berjalan ke arah mereka.

Kali ini Heru tidak tinggal diam dan langsung menahan pundak Lucy. “Jangan coba-coba mendekatinya.”

Lucy menggeleng cepat dan berkata, “Aku tak akan mencoba menghadang pria yang anak buahnya mencoba membunuhku dua kali.”

“Dan bisa kau jelaskan apa-apaan tadi barusan? Dispenser di sebelah kiri dan bukan kanan jika kau beralasan ingin mengambil minum.” Heru mengangkat tangannya dari bahu Lucy.

Lucy menoleh ke arah rombongan kerumunan tadi, “Ku rasa aku cuma ingin melihat mereka dari dekat. Memahami sifat asli mereka dari bagaimana ekspresi mereka.”

Heru cuma diam mengamati Lucy. Akhirnya dia berjalan di depannya dan berkata, “Tetap di belakangku.”

Lucy menurut dan mereka berdua pun berjalan menuju pintu pembatas.


“…Dan Bapak terpaksa harus lewat lift biasa?”

Seorang pria berkacamata menghembuskan nafasnya dengan berat dan berkata, “Untungnya dia mau tutup mulut sampai akhir meski terancam dikeluarkan dari penelitian SCP-033-ID. Menerimanya kembali ke proyek SCP-014-ID bukan perjanjian buruk.”

Pria dengan masker gas di belakangnya menggeleng. Suara serak terfilter masker gas keluar darinya, “Jika boleh ku beri saran, lain kali jangan meminta bantuan ke orang yang pernah Bapak buang.”

“Shush, yang sudah biarlah sudah. Banyak bicara kau ini.” Balas pria berkacamata di depannya dengan kesal. Dia berjalan cepat keluar dari kerumunan personel berseragam keamanan yang tadi mengelilinginya dan terus lurus berjalan ke depan.

Pria dengan masker gas menoleh ke salah satu personel keamanan yang tadi mengiringinya. “Jadi dia membayar kalian hanya untuk mengawalnya sejauh ini saja?”

Ja! Tuan Louis bilang dia akan ke laboratorium dan langsung ke lift utama.” Balas personel keamanan yang diajak bicara olehnya. Pria bermasker gas sebenarnya mengangkat alisnya dari balik maskernya saat mendengarnya. Dia yakin, meski visornya tertutup, pria yang diajaknya bicara bukan orang Indonesia. Mengingatkannya akan seorang agen yang dulu menemani penelitiannya.

“Jujur saja, aku cuma mendengar rumornya, tapi apa dia suka pamer dengan menyewa kalian semua hanya untuk mengawal sejauh ini?” Pria dengan masker gas bertanya.

Sang penjaga tersebut menggeleng, “Itu tidak tanpa alasan. Peneliti Onyx yang disinggung Tuan Louis tadi benar-benar seperti agen senior. Meski begitu aku yakin sepuluh orang cukup untuk membawa Tuan Louis keluar dari situs tanpa terluka.”

“Eh, seperti itu ya… Menarik sekali. Lantai atas ini cukup menarik juga, ya.” Si masker gas mulai berjalan kembali menuju pintu pembatas.

“Yah, Kalau menurutmu begitu.” Balas penjaga tadi, mengikutinya dari belakang.

“Menurutmu aku bisa berkeliling ke area kantor sebentar?” Si masker gas mencoba menawar.

“Sayangnya tidak. Aku tetap personel keamanan, kau tahu. Memastikan kau tidak berkeliaran lebih lama lagi di sini sudah tugasku. Jujur saja aku tidak tahu kenapa Louis mengajakmu naik.” Sang penjaga tadi membalas. Personel keamanan lain mulai terpencar. Sebagian besar berjalan melewati mereka berdua dan keluar dari area penahanan.

“Entahlah, dia cuma minta temani dia ke atas. Ku kira dia cuma ingin pamer.” Si masker gas mengangkat bahu.

“Tidak, jelas bukan. Aku mendengar mengenaimu, kau tahu. Rumor mengenaimu lumayan berkembang sejak kau pertama ke sini, terutama setelah percobaan malam itu. Entah apa, tetapi aku tidak ingin tahu apa yang kau lakukan dulu sehingga berakhir di sini.” Jawab si penjaga.

Dia memegang gagang pintu keluar, tetapi tidak ditariknya. Dia menoleh ke arah pria di sampingnya dan berkata, “Tapi aku ingin tahu apa yang kau katakan kepada David.”

Si masker gas hanya membalas, “Maaf?”

“Pertemuan di ruangan Tuan Louis sebelumnya. Tuan Louis dan aku kan keluar untuk mencoba merekayasa scenario lepasnya SCP-033-ID bersama Jerry, jadi cuma tersisa kau dan David di ruangan itu. Apa yang kau bicarakan kepadanya?”

“Yah… mengenai kehidupan situs ini? Kehidupannya dan semacamnya? Aku masih peneliti junior, kau tahu?”

“Tidak, bukan itu yang ingin ku dengar. Aku jarang bicara dengannya, tetapi jika ada yang kutahu darinya adalah dia tidak mungkin punya tendensi swasida. Pria itu kehilangan kedua kakinya tetapi dia tetap bekerja di sini sampai sekarang. Sampai kemarin, setidaknya. Jadi apa yang kau katakan kepadanya?” Si penjaga menatap lurus ke arahnya.

“Tunggu, tunggu. Dia ditembak, bukan? Apa maksudmu menghubungkannya ke sana?” Si masker gas bertanya.

“Dia menggunakan senjata asli. Dia tidak akan berhenti pada peneliti junior itu saja. Dia siap mati menghadapi siapapun saat itu. Jadi kenapa?”

Si masker gas tadi cuma diam sejenak mengamatinya. Tidak ada yang tahu ekspresi di balik penutup muka mereka selama saling tatap tadi. Si masker gas akhirnya memecah keheningan dengan berkata, “Menurutmu, kenapa orang hidup?”

“Apa jawabanmu?” Si penjaga membalas, tidak ingin mengikuti permainannya.

“Karena dia punya tujuan. Selama tujuannya belum tercapai, dia akan terus hidup atau bahkan mati demi tujuannya.” Jawab si masker gas dengan tenang.

Si penjaga diam mendengarnya. Akhirnya dia berkata, “Itu yang terjadi dengan David?”

“Itu yang mungkin terjadi dengan David. Aku cuma psikolog, bukan pembaca pikiran.”

Si penjaga tadi akhirnya menyerah dan menarik pintu pembatas. Dia keluar duluan. Pria bermasker gas tadi mengikuti di belakangnya.

Sebelum keluar, pria bermasker gas tadi menoleh ke arah dua orang yang berada di sisi kanannya. Seorang personel dengan seragam hitam yang seingatnya merupakan seragam agen lapangan.

Dan di sebelahnya seorang perempuan dengan rambut kuning keemasan yang mengenakan jas lab. Dia berada tepat di belakang pria tadi sehingga jika dilihat sekilas, perempuan itu tak akan terlihat karena jas labnya mirip warna dinding.

Penjaga di sampingnya menyinggung seorang peneliti junior. Seorang perempuan dengan rambut diwarnai kekuningan yang baru-baru ini bekerja di sini seperti dirinya.

Tidak salah lagi, dia yang kabarnya menembak David.

Dia yang namanya Lucy.

Pria itu setengah menduga perempuan itu tidak tahu mereka saling pandang karena masker gasnya. Dia tersenyum di balik maskernya dan berjalan keluar.

Misiku cuma perlu mencari tiga orang. Dia pasti bukan yang ku cari.

Kau sepertinya perempuan yang baik, semoga kita tidak saling bersimpangan arah nanti.


“Ku rasa dia tahu aku berada di belakangmu.” Lucy berkata kepada Heru. “Si pria dengan masker gas itu. Dia menatap ke arahku untuk beberapa saat.

“Kau benar-benar mencoba sembunyi? Kau tahu kau bukan anak kecil, kan? Ya kau pasti kelihatan.” Heru membalas selagi menahan tertawa.

Melihat Heru, Lucy jelas tidak dapat menahan rasa kesalnya. “Sialan, jadi kau minta aku berdiri di belakangmu tadi buat apa?”

Setelah tertawa kecil, Heru menjawab, “Yah, kalau situasinya memburuk, setidaknya kau bisa lari.”

Lucy diam, dia tidak memikirkan itu sebelumnya. Sesaat kemudian dia menggeleng cepat dan berkata, “Ah, sudahlah. Aku sudah terlambat kerja ini. Menurutmu kita bisa kembali ke area kantor?”

Heru membuka sedikit pintu pembatas. Setelah memastikan keadaan aman, dia membukanya dan menahannya untuk Lucy.

“Aku punya kerjaan juga, kau tahu.” Heru berkata. “Yah, meski waktu kerjaku lebih bebas.”

“Yah, terimakasih sudah menemaniku tadi, ya! Kau selalu bersandar di dinding itu kan, jika aku perlu kau nanti?” Tanya Lucy.

“Heh, yang benar saja, mending tiduran.” Heru tertawa dan menutup pintu pembatas. Lucy pun berbalik dan berjalan menuju area kantor pribadi.

Misiku cuma membunuh satu orang.

Semoga cuma dia korban keduaku. Entah apa aku bisa menahan diri untuk tidak terlibat masalah lagi…

Di tengah lamunannya, sesuatu tiba-tiba terlintas di benak Lucy, membuatnya terhenti seketika.

Sialan! Gue lupa nanya Heru apa gue bisa nitip beli makanan dari kantin bawah! Lucy menepuk dahinya sendiri. Akh, nanti saja lah!

Lucy kembali berjalan dan memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya di situs ini, entah apa yang terjadi kedepannya.

Kronik Situs-79

Bab 3: Ladang Ranjau
« Melewati Ladang Ranjau | Bendera Merah di Atas Petak |

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License