Koridor penahanan berwarna putih pucat lantai Keter berukuran luas, mampu dilalui sebuah mobil sebagai perbandingan ukuran. Terdapat dua buah koridor sebenarnya, dengan koridor kedua hanya bisa diakses dari koridor pertama. Tetapi itu semua hanya menegaskan kesunyian lantai yang minim kehidupan. Tidak peduli setelah matahari terbit atau tenggelam, deretan koridor penahanan hanya dilalui oleh personel untuk urusan pemberian makan dan perawatan semata. Sesekali para peneliti di sisi lain dinding koridor penahanan menemukan sesuatu yang baru dan kembali mengeluarkan anomali yang terkunci di dalamnya ke luar, tetapi kali sehari pemandangan hening inilah yang menghiasi kamera keamanan.
Sekumpulan personel yang terdiri dari enam orang bertugas sebagai pengawas seluruh koridor. Rangkaian layar menunjukkan tiap bagian berbeda dari area penahanan. Dua orang personel lah yang tengah mengoperasikannya. Satu mengawasi koridor, dan satunya mengawasi tiap sel yang bisa diobservasi. Kesunyian hanyalah bom waktu tanpa suara detiknya, mereka harus mengasumsikan heningnya tiap sel yang minim pergerakan dihabiskan penghuninya untuk merencanakan upaya pelanggaran sempurna. Tentu saja, setelah bertahun-tahun, mereka mampu menentukan prioritas dan mengabaikan sisanya untuk tetap menikmati pekerjaan abadi mereka.
Tiba-tiba salah satu layar menunjukkan bintik merah berkedip di pojok kanannya. Personel yang ditugaskan mengawasinya dengan segera menyadarinya dan mengoperasikan tampilannya. Notifikasi kecil itu berasal dari area pembatas di antara ruang pengujian dan koridor penahanan. Koridor penahanan sendiri teknisnya menghubungkan area tengah lantai dengan mess, tetapi yang biasanya lewat sana hanyalah personel yang benar-benar perlu akses cepat. Tentu, mereka harus benar-benar diakui dengan tim pengawas koridor dulu sebelum boleh memasuki koridor dengan alasan sesederhana itu; tes darah atasan mereka memang terbukti efektif dulu.
Tedapat dua area pembatas menuju koridor. Notifikasi berasal dari area pembatas yang menghubungkan lab tertutub dengannya. Layar monitor menunjukkan seorang pria tua dengan seorang perempuan yang mengenakan jaket abu-abu, melapisi seragam termasuk rompinya. Personel yang mengetahui itu segera memberitahukannya ke personel lain, yang kemudian menekan tombol untuk membuka pintu besi di sana.
Para personel sering melihat perempuan itu. Dia selalu mengenakan headphone hijau tuanya. Selain sang atasan menyuruh mereka untuk memberinya akses, dia memang satu di antara para personel sudah mendapat kepercayaan mereka, dan mereka mengetesnya secara fisik untuk itu.
Yang membuat beberapa personel mulai melirik ke monitor adalah siapa yang tengah bersamanya. Pria tua yang berjalan di depannya adalah sang direktur Situs-79 itu sendiri, Stefan Strider. Dia hanya keluar dari ruangannya hanya jika dia tertarik akan sesuatu atau memang diperlukan, jadi melihatnya berada di sana pada tengah malam ini sangatlah menarik perhatian mereka. Mereka mengamati bagaimana dua orang tersebut perlahan mendekati ujung koridor tempat ruangan mereka berada. Dengan segera salah satu personel membuka pintu besi ruangan pembatas mereka untuk membiarkan kedua orang tersebut masuk. Teknisnya terdapat tiga area pembatas, tetapi area di belakang mereka hanyalah ruang pembuangan dan gudang arsip. Entah apa urusan direktur di sisi lain ruangan mereka, tetapi mereka tidaklah ingin membuatnya menunggu.
Sang direktur mengamati pintu besi di depannya yang mengeluarkan suara ‘klik’ singkat. Dia mengiysaratkan perempuan yang mendampinginya segera membukanya seperti sebelumnya. Sebuah hinaan jika dia yang harus melakukannya sendiri. Mereka berjalan melalui area pembatas, Stefan melirik ke arah kaca tebal satu arah yang terhubung ke ruang pengawas di sisi satunya. Dia tahu mereka pasti menatapnya di sana selagi membuka pintu pembatas menuju area belakang, bertanya-tanya kenapa dia keluar dari ruangannya hanya untuk berjalan ke ruang pembuangan.
Pertanyaan mereka valid, karena perlu alasan bagus untuk membuatnya berjalan menyusuri situs terkutuk ini.
Mereka kini telah melalui ruang pengawas koridor penahanan dan kini berada ruang pembuangan. Tempat ini sebenarnya terbagi menjadi dua sisi: terdapat kompresor, insinerator, dan setumpuk sampah yang siap dibuang melalui lift barang nanti di satu sisi, tetapi terdapat deretan rak penyimpanan mayat serta serangkaian perlengkapan medis untuk autopsi singkat di sisi lainnya, meski juga terdapat meja lain yang berisi alat jagal. Perbedaan hawa insinerator bersuhu tinggi dan dinginnya suhu rak penyimpanan dapat terasa jika seseorang condong ke salah satu sisinya.
Terdapat tiga personel berseragam putih kusam, dengan wajah mereka tertutup masker dan hairnet putih tengah duduk di salah satu rak. Mereka adalah personel keamanan yang kebagian giliran mengurus ruang pembuangan. Tugas sederhana yang hanya terdiri dari mengurus sampah sisa baik organik maupun tidak, tetapi dikarenakan penempatan ruangannya yang sedikit terisolir membuatnya tidak diminati sama sekali. Para personel itu jelas tidaklah menyangka sang direktur sendiri muncul dari sudut ruangan dan segera berdiri diam menatapnya berjalan melalui mereka. Tentu saja sang direktur hanya melirik mereka sekali saja, dia sudah lama tidak memedulikan personel tempat ini. Dia ingin tempat ini hancur, dan tidaklah menyukai fakta bahwa Yayasan terus berupaya memaksa situs sekarat ini untuk tetap hidup dengan tranfer personel mereka.
Dia membenci situs ini. Dan dia benci harus keluar dari ruangannya untuk melakukan sesuatu untuknya.
Mereka kini berada di depan sebuah pintu ganda yang dulunya merupakan akses menuju ruang utama lantai ini, tetapi ujung ruangan telah disegel pasca setengah lantai tidak bisa digunakan. Sekarang ini hanya menuju ke ruang arsip dokumen. Perempuan yang mendampinginya membukakan pintu itu untuknya. Stefan melihat ke arah kiri dan mendapati pintu besi ruangan arsip yang tersegel rapat, jelas lama tidak dibuka.
Stefan melirik ke arah kanan. Terdapat tangga besar yang mengarah ke bawah. Itu adalah akses menuju lorong darurat yang terhubung ke sebuah gubuk jauh dari situ. Sebuah lorong yang diperintahkan oleh pihak O5 sendiri atas rekomendasi Komite Etik untuk dibangun. Sesuatu mengenai situsnya yang menjadi objek penelitian mereka sehingga diperlukan akses darurat untuk personel di sana jika terjadi insiden. Sesuatu mengenai Insiden Kodok dan teori seorang peneliti gila yang semakin menjadi kenyataan.
Stefan membenci semua mengenai itu. Dia membenci O5 yang menjadikan situsnya inang proyek terkutuk mereka. Dia membenci situs sekarat ini yang masih dipaksa hidup, digerakkan oleh personel terbusuk Yayasan. Dia hanya menginginkan ini semua berakhir. Bukan dirinya, tetapi situs ini juga. Dia tidak rela jika dia mati dan seseorang mengambil tempatnya.
Dia melirik ke perempuan yang sedari tadi mendampinginya. Perempuan tersebut menjauh dan bersandar di pagar besi di pinggir tangga ke lorong darurat, mengenakan headphone-nya.
Dia membenci keadaan situs akhir-akhir ini yang semakin memburuk dengan O5 mengetahui ancaman CI terhadap situs mereka. Sejujurnya, Stefan mereasa agen-agen CI itu seharusnya tidak perlu menunggu satu tahun dan langsung saja membersihkan seluruh situs, tetapi pimpinan mereka berpegang teguh ke sesuatu bernama Langkah, dan dia terpaksa harus ikut andil karenanya.
Dan tentu saja, dia membenci seorang yang disebut intel mereka sebagai ‘Judas’. Seseorang yang akan mengkhianatinya, mengkhianati mereka semua. Pada saat ini, semua di dalam kendalinya, tetapi langkah para agen CI adalah absolut; Judas akan mengkhianati mereka semua nanti dan dia akan mencoba menghentikannya sebisanya pada saat itu akhirnya terjadi.
Tetapi untuk sekarang, dia harus fokus pada tugasnya saat ini. Di depan Stefan adalah pintu ruang arsip. Terdapat pemindai biometrik yang hanya mengizinkan dia atau wakil direktur situs untuk masuk ke dalam. Mengesampingkan betapa terisolirnya tempat ini, pengamanan pintu besi di depannya adalah yang tertinggi sehingga membobol masuk adalah ketidakmungkinan. Seluruh dokumen mengenai situs ini berada di dalam sana. Semua rahasia yang hanya segelintir personel tahu terkunci rapat di dalam.
Sebelum dia memindai dirinya agar bisa masuk, dia merogoh sesuatu dari kantongnya. Sebuah sobekan kertas terlipat dengan catatan yang ditulis tangan. Meski ditulis tangan, terdapat instruksi yang terdiri dari kalkulasi lengkap dan grafik sederhana penggunaan daya, beserta serangkaian penanda waktu di beberapa bagian.
Dia meminta data ini kemarin dari kepala penahanan. Kekurangannya dalam selera humor dan kewarasan umum diimbanginya dengan strategi penahanan nyaris sempurna pada titik di mana dia bisa membuat skenario buatan darinya. Meski dia menerima tugas yang diberikan Stefan, meski dia tertawa terpaksa pada setiap perkataannya, matanya yang menatap tajamlah yang menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Kebencian.
Menurutnya, kebencianlah yang mampu menggerakkan tubuh tuanya sampai pada titik ini. Kebencian yang tidak dilepas dalam sekali ledakan seperti yang dilakukan personel lantai atas, maupun yang dilepas perlahan pada tiap perencanaan dan tindakan seperti yang dilakukan personel lantai tengah. Yang paling indah adalah yang disimpan dalam-dalam, melebih kedalaman Sungai Styx, jauh di jantung kota api Dis, terbenam jauh di dalam parit Malebolge. Kebencian yang telah terkondensi sampai pada titik di mana ia mendedikasikan manusia yang memilikinya akan satu tujuan semata. Kebencianlah yang menjaga kewarasan sang kepala penahanan agar tidak hilang sepenuhnya dan terus menghasilkan penanganan sempurna. Kebencianlah yang menghidupkan situs ini pada tiap detiknya, memotivasi setiap tahanan abadi dan mati situs ini untuk berlagak hidup sampai dicapainya tujuan mereka. Kebencianlah yang membuat dirinya akan melakukan segalanya agar bisa mengakhiri proyek gila para petinggi di atas sana.
Inilah arti sebenarnya neraka. Eksterminasi total seluruh ideologi dan tujuan yang berbeda tiap manusia yang ada di dalamnya sampai hanya satu saja yang tersisa. Dan dialah yang akan mati terakhir di tumpukan mayat mereka semua. Memastikan pada akhirnya, situs ini adalah miliknya semata.
Stefan segera memindai mata dan sidik jarinya. Pintu besi di depannya perlahan mengeluarkan suara. Stefan menghela nafas dan segera mengeluarkan senter dari sakunya; apa pun yang akan dia lakukan di dalam sana, hanya dia yang bisa melakukannya, dan dia harus melakukannya secepat yang dia bisa. Begitu pintu terbuka, Stefan segera melangkah masuk dan mengunci pintu ruangan kembali, sekilas menunjukkan bagian dalam ruang arsip yang gelap gulita.
Perempuan yang sedari tadi mengamati sang direktur hanya diam menunggu selagi menikmati musik di headphone-nya. Sesekali menganggukkan kepala mengikuti alunannya. Tiba-tiba lampu di atasnya padam sejenak, diikuti getaran yang mulai meningkat. Perempuan itu memejamkan matanya, tidak ingin penerangan di atasnya yang mulai nyala dan padam secara tak terkendali mengganggu irama lagunya selagi dia menunggu sang direktur keluar ruangan.
Itu jika dia berhasil keluar dari sana.
“Menurutmu apa yang dilakukan direktur di belakang sana?”
Seorang personel keamanan bertanya kepada rekan-rekannya yang duduk di salah satu kursi. Dia sendiri tengah bersandar di dinding.
“Mengecek arsip, mungkin?” Salah satu di antara mereka membalas selagi pandangannya fokus ke layar monitor.
“Ga, mungkin ngecek lorong itu kali?” Personel lainnya menjawab, menoleh ke belakang dan menunjuk ke arah pintu ke luar dengan ibu jarinya.
“Bisa-“
Tiba-tiba, lampu redup ruang pengawas – yang sengaja dibuat redup untuk kaca satu arah mereka – padam. Para personel yang mendapat shift sebagai tim pengawas terkejut akan hal itu, tetapi mereka lalu menyadari layar monitor masih hidup seluruhnya, jadi sepertinya cuma lampu yang padam. Lampu koridor juga padam seluruhnya, dan itu pertanda buruk bagi mereka.
Salah satu personel mencoba mengutak-atik sakelarnya, tetapi tidak nyala. Seorang personel segera meraih radio untuk mengecek, tetapi tiba-tiba personel yang mengawasi monitor berkata singkat, “Sel terbuka!”
Diikuti balasan tegang seketika. “Yang mana?!”
Seluruh tim pengawas segera mendekati monitor yang kini berganti ke tampilan tiap sel. Tanda notifikasi sel terbuka hanyalah petunjuk mereka satu-satunya. Tiap pintu sel bisa dibuka dengan dua cara: memasukkan kartu keamanan dengan Level Izin Tingkat 3 di pemindai kartu di samping pintunya, atau tim pengawas yang membukakannya. Jelas yang tengah terjadi adalah cara ketiga yang tidak mereka tahu bagaimana saat itu.
Pintu geser merupakan pintu yang dipilih karena jika terkunci, satu-satunya cara membobolnya secara paksa adalah antara meretasnya atau menghancurkannya. Sayangnya satu-satunya kekurangannya adalah jika terbuka, ia akan bergeser seketika.
Dan saat ini, para personel tengah mengamati dengan tegang tiap monitor di depannya untuk mencari pintu sel mana saja yang terbuka. Kegelapan seluruh koridor mengharuskan mereka berganti mode kamera malam.
“Sel Ula terbuka.” Salah satu personel berkata. Itu membuat beberapa personel segera bergegas ke belakang mengambil sesuatu.
“…Mus terbuka juga.” Salah satu personel lain menambahkan setelahnya, ekspresinya tegang saat mengatakannya.
“Kau, alihkan perhatiannya segera!” Salah satu personel berkata kepada seorang personel lain. Personel itu mengangguk dan segera berlari ke pintu luar. Sebelum keluar, sekumpulan personel yang pergi tadi kini kembali dengan membawa beberapa baton setrum. Salah satu di antara mereka melemparkan baton yang dipegangnya ke personel yang hendak keluar tadi. Setelah ditangkapnya, dia pergi ke luar.
“Cek Egret!” Personel yang memerintah tadi kembali berkata.
Personel yang mengawasi layar monitor segera mengecek sel yang dimaksud, tetapi pintu selnya tertutup. Beberapa mengembuskan nafas dan menunjukkan ekspresi lega mendengarnya.
“Sel terbuka lagi!” Personel lainnya yang mengawasi monitor lain berkata. “Untungnya sel Si Kolektor!”
“Kunci seluruh sel tersisa! Meleset satu sel tadi dan kita bakal ngehadapin Si Badut!” Perintah personel yang berdiri di belakangnya. “Artinya kita cuma mengatasi Ula kalau begitu.”
“Pak!” Salah satu personel yang sedari tadi berkomunikasi melalui radionya berkata tiba-tiba. “Teknisi mengatakan sakelar lampu di ruang daya turun dengan sendirinya tadi, serta beberapa pintu sel kemudian. Mereka tidak tahu penyebabnya.”
“Kita akan mengecek itu nanti. Minta mereka nyalakan kembali lampu koridor!” Balas personel yang sedari tadi mengomando mereka.
“Keadaannya sedikit lebih rumit, pak.” Personel tadi menghela nafas, bersiap memberikan kabar yang lebih buruk.
Lampu alarm merah menyala, diiringi sirine nyaring. Menyinari koridor gelap lorong yang sepertinya dipenuhi sulur tanaman putih. Mereka perlahan naik, menutupi lampu alarm yang memberikan mereka cahaya.
Seluruh tanaman putih itu berasal dari sebuah ruang sel yang pintunya terbuka. Seluruh ruangan hanya diterangi sekumpulan obor api di tengah-tengah ruangan, dikelilingi batang tanaman putih yang tumbuh di sekitarnya.
Terdengar suara tembakan, diikuti lampu alarm tadi yang tiba-tiba pecah.
“…Begitu keadaannya.” Personel yang memegang radio berkata.
“Sabotase macam apa yang membuat sakelar lampu koridor sel keter kita terhubung dengan koridor sel Brethenitas? Mereka sudah terisolasi!” Lawan bicaranya bertanya, tetapi secara retorik. Dia segera melanjutkannya dengan pertanyaan sebenarnya, “Jadi seberapa parah keadaannya?”
“Kabarnya hanya lantai Keter yang mengalaminya. Brethenitas saat ini tengah mengatasi pelanggaran penahanan di teritori mereka. Selain lampu koridor kita padam dan terhubung ke lampu mereka, listrik ruang sel Kelas-D dan ruang pengujian seluruhnya padam.”
“Untungnya sel tahanan masih memakai kunci putar.” Personel yang bertanya tadi menanggapi. “Baik, ku rasa kita cukup mengatasi Ula, sekarang. Kau, matikan radiomu. Kalian semua, ambil senter dan cepat ke luar segera!”
Tiap personel dalam ruangan itu segera mengambil perlengkapan mereka dan bergegas keluar. Mereka hanya bisa menggunakan bantuan senter untuk mengurus penahanan. Sebelum dia keluar, personel terakhir melirik ke arah pintu belakang menuju ruang pembuangan.
Apa direktur yang menyebabkan ini? Sekilas personel tersebut berpikir. Tetapi dia menggeleng dan segera mendekati pintu menuju koridor. Tidak, pasti siapa pun yang melakukan ini menunggu si direktur berada di area koridor. Semoga saja dia aman.
Malebranche para Brethenitas seharusnya bisa mengendalikan keadaan di teritorinya. Dan sel Kelas-D tidaklah terpengaruh kecuali dari segi pencahayaan.
Dia keluar dari ruangan dan mengamati keadaan. Dua personel keamanan sudah berdiri di depannya dengan baton listriknya menyala, terlihat jelas dalam gelap. Tiba-tiba sesuatu menggeliat cepat dari kegelapan koridor dan dengan segera melilit badan seorang penjaga. Sebelum salah satu di antara mereka bereaksi, penjaga yang dililit tadi diseret ke gelapnya koridor.
Tiba-tiba seorang perempuan berseragam oranye meloncat tinggi dari balik kegelapan. Dia mengambil ancang-ancang menendang di udara meski jaraknya dan penjaga kedua masih jauh. Tetapi kakinya melesat dan memanjang cepat, menghantam badan penjaga tersebut. Kakinya lalu secepat kilat melilit badan penjaga itu sampai ke lehernya. Perempuan itu menarik kembali kakinya mundur dan menyeret penjaga tadi sampai ke belakangnya. Mata kuningnya menatap ke arah para penjaga yang tersisa.
Personel yang baru datang tadi segera menyalakan miliknya. Dia tidaklah terlalu mengkhawatirkan upaya penahan kembali ini. SCP-037-ID hanyalah pemburu taksabaran, sayangnya senapan bius tidak bisa digunakan karena mereka harus membangunkannya. Semua penjaga di belakangnya sudah menyiapkan baton listriknya. Beberapa maju dan mulai mengayunkan baton mereka ke arah perempuan itu yang dengan lihainya menghindari serangan mereka. Tetapi tak peduli seakrobatik apa dia menghindar dan melompat, para penjaga semakin berdatangan dengan senjata serupa. Dia yakin mereka bisa mengatasi pelanggaran di sini.
Pertanyaannya adalah mengenai keadaan ruang pengujian. Rasanya ada pengujian anomali baru, tetapi seharusnya itu sudah dilakukan kemarin, jadi seharusnya tidak ada siapa-siapa di sana.
“Jadi, itu mengakhiri pengujian kami pada kesempatan ini.”
Seorang perempuan yang mengenakan sweeter berlapis jas peneliti berkata ke alat perekam sebelum mematikannya. Dia menoleh ke arah pria dengan jas peneliti serupa di sampingnya dan berkata, “Baik, hidupkan kipasnya.”
Pria tersebut menekan salah satu tombol di panel dan mengamati ke bawah. Di balik kaca observasi mereka, terdapat ruangan luas yang merupakan ruang pengujian yang sedari tadi mereka observasi. Dua buah kipas angin industial perlahan menyala dan seiring waktu berputar dengan sangat cepat. Di tengahnya, sebuah konsentrasi asap putih perlahan terhisap oleh kedua kipas angin itu, mengacaukan bentuknya sampai tidak ada lagi yang tersisa.
Di depannya, terdapat sebuah objek berbentuk topeng yang terbuat dari es padat. Ia ditahan oleh empat rantai sehingga tergantung dengan stabil. Di depan topeng tersebut ditempatkan layar kain hitam agar kedua orang di ruang observasi di atas tidak dapat melihat topeng tersebut.
Setelah kumpulan asap putih di belakang topeng itu hilang sepenuhnya, pria yang mengenakan jas lab tadi menekan kembali tombol yang ditekannya sebelumnya, dan secara perlahan, kedua kipas angin besar di sampingnya berhenti berputar.
Seorang personel berseragam oranye segera berjalan ke arah topeng es yang tergantung tadi dan perlahan melepaskannya dari penahan rantainya. Dia lalu menyelimuti topeng tersebut dengan kain hitam yang dibawanya dan membawanya masuk ke dalam sebuah kontainer. Tidak terlihat apa yang dia lakukan di dalam sana, tetapi setelah beberapa saat, dia keluar dari kontainer. Seorang personel lain berseragam keamanan yang sedari tadi dipojok ruangan perlahan berjalan menuju kontainer yang dimasuki personel berseragam oranye tadi dan melihat ke dalamnya. Tak lama penjaga tersebut mengangkat jempolnya tinggi.
Peneliti di ruang observasi tadi segera memutar sebuah sakelar di panel bertuliskan ‘Internal’ pada nomor 3 dari 5. “Rekamannya mati?” Dia akhirnya berkata, menatap perempuan di sampingnya dari balik masker gasnya.
“Ya, dokumentasi selesai.” Lawan bicaranya menjawab tanpa menoleh ke arahnya. “Sekarang tahap mengetik hasil penelitian.”
“Apa saya perlu menggambar grafik untuk eskalasi daya tadi?” Pria bermasker gas tadi kembali bertanya.
Perempuan tadi terkekeh sekilas. “Terserah, aku tak akan bisa menilainya juga. Tapi pastikan akurat dengan data yang ada.”
“Opsional, ya…” Pria tersebut menggumam. Selagi merapikan serangkaian data yang dicatatnya di kertas, dia berkata, “Sejujurnya, Bu Ratna, kau sedikit lebih baik dari atasanku dulu.”
Ratna sepertinya tertarik dan berkata, “Ku rasa sebagian besar orang-orang di sini sama tidak beradabnya, jadi standarmu sangat rendah. Jadi siapa keparat yang jadi atasanmu dulu, Bale? Frederick?”
“Saya lihat anda kenal beberapa orang di situs ini, ya… Tidak mengherankan sih, mengingat anda pernah bekerja di sini dulu…” Bale berkata. “Tidak, atasanku lebih muda darinya. Mungkin kau kenal orang ini, dia lebih banyak memerintah dibanding anda, dan aku yang biasanya ditugaskan mengurus semua urusannya, termasuk urusan kotornya juga.”
Ratna mengembuskan nafas mendengarnya. “Keparat baru ya… Aku sumpah keadaan situs semakin parah sejak aku pindah.” Dia perlahan meraba meja di depannya, sebelum meraih botol minum di sana dan membukanya. “Jadi siapa idiot baru ini?” Katanya sekilas sebelum mulai minum.
“Peneliti Senior Christopher Louis.” Bale menjawab.
Terdengar suara batuk mendadak dan pria tadi menoleh. Perempuan tadi sepertinya seakan tersedak. “Omong kosong apalagi itu!? Dia- Seingatku saat terakhir kali bekerja di sini dia satu-satunya orang waras di tempat ini!”
Lawan bicaranya hanya menggeleng selagi terkekeh. “Bu Ratna, Bu Ratna. Saya tidak tahu kapan anda terakhir di sini, tapi Pak Louis sudah lama terjebak dalam obsesi irasionalnya untuk mencoba membunuh Herman. Saya dan beberapa orang yang dipekerjakannya nyaris berhasil sekali, kau tahu.”
“…Herman…” Ratna hanya menggumam pelan sebagai balasan, “…Jadi dia benar…”
Dia lalu memperbaiki posisi kacamata hitamnya yang tadi bergeser karena tersedak selagi menyimpan botol minumnya di kantong jas. Akhirnya dia meraih rekaman di dekatnya dan berkata. “Ku rasa aku akan menemui Herria setelah ini. Kau urus laporan tadi dan serahkan kepadaku nanti di ruangan.”
Dia lalu meraba ke samping meja dan meraih tongkat berjalan besi yang disandarkannya di sana sebelum menggunakannya selagi dia berjalan ke pintu keluar. Bale sendiri mengamatinya sekilas sebelum menoleh ke arah panel di depannya dan memastikan semuanya terkendali. Dia lalu mengamati ke arah ruang percobaan di bawah. Seharusnya entitas yang mereka uji tadi aman-aman saja ditahan di dalam sana selama kipas di dalamnya menyala.
Sampai tiba-tiba ruang pengujian di depannya gelap gulita.
“Apa yang-“ Bale reflek berkata. Sama sekali tidak ada sumber cahaya bahkan dari lampu kecil panel di depannya. Dia segera menyalakan ponselnya, sepertinya diikuti personel di ruang pengujian yang mengalami hal serupa.
“Kenapa?” Ratna berkata dalam gelap. Kacamata hitamnya adalah penanda kalau pemadaman mendadak yang tengah mereka alami teknisnya tidak berefek padanya. Tetapi akhirnya dia menyadari ada yang salah saat dia mencoba membuka pintu ruangan dengan kartu izinnya.
“Listrik padam?” Dia bertanya segera selagi menoleh kembali ke arah Bale. Bale reflek mengangguk, sadar atasannya buta, dan segera menjawab, “Ya, baru saja.”
“Sial, kau seharusnya bilang dari tadi.” Ratna berkata dengan nada tegang.”Itu artinya kipas angin di dalam kontainer mati.”
“Situs ini punya listrik cadangan, kan?” Bale mencoba meyakinkan selagi mengamati keadaan di bawah yang hanya bisa dilihat secara samar, memaksanya mendekatkan dirinya sedekat mungkin ke depan kaca jendela.
“TENGAH TERJADI PELANGGARAN PENAHANAN DI LANTAI INI. PERSONEL KEAMANAN HARAP MENGATASI PELANGGARAN TERKAIT.”
“Apa yang… Interkom menyala!” Bale reflek berkata.
“JEFREY DI SINI, TERJADI KENDALA TEKNIS YANG DI MANA LAMPU KORIDOR PENAHANAN KITA DAN BRETHENITAS TERHUBUNG. PENYEBABNYA TIDAK DIKETAHUI SAAT INI.”
Interkom terus bersuara. Bale sedikit tertarik mendengarnya karena meski terdengar seperti pengumuman massal di lantai atas sebelumnya, gaya bicaranya lebih santai dan akrab. Membuatnya berpikir apakah selama ini pengumuman untuk lantai atas memang pesan otomatis terprogram atau cuma pesan biasa.
“SCP-041-ID LEPAS DI SANA DAN MEREKA TENGAH MENGUPAYAKAN PEMBERSIHAN KORIDOR, JADI LAMPU KORIDOR PENAHANAN TIDAK KAMI NYALAKAN. BAGI KALIAN YANG SEDANG MENGATASI ULA, SEMOGA BERUNTUNG.”
Sabotase Insurgent? Bale berpikir. Teknisnya cuma itu yang bisa dia pikirkan karena itulah alasan dia di lantai ini, jadi otomatis dia mengambil kesimpulan tersebut seketika.
“RUANGAN LAINNYA YANG TERDAMPAK ADALAH RUANG SEL KELAS-D. LISTRIK DI SANA ENTAH KENAPA PADAM SELURUHNYA. TETAPI MENGINGAT KONDISINYA, KU RASA KALIAN YANG KEBAGIAN GILIRAN JAGA DI SANA BISA MENGATASI KEADAAN SELAMA BEBERAPA JAM KEDEPAN, KAN?”
Ruang sel Kelas-D berada tepat di seberang ruang pengujian. Jika ruangan itu mengalami pemadaman listrik, sepertinya itulah juga penyebab ruangan mereka mengalami pemadaman juga.
“ADA JUGA RUANG PENGUJIAN YANG MENGALAMI PEMADAMAN LISTRIK SERUPA. TERDAPAT ANOMALI BARU KITA DI SANA DAN IA MEMERLUKAN DAYA LISTRIK UNTUK PENAHANANNYA. SETELAH LISTRIK RUANG PENGUJIAN BERHASIL DIAKTIFKAN KEMBALI, PERSIAPKAN KIPAS ANGIN INDUSTRI DI DEPAN PINTU MASUK RUANGAN. UNTUNGNYA SEHARUSNYA DI SANA TIDAK ADA PERSONEL. JADI, ITU SAJA KEADAANNYA UNTUK SAAT INI.”
“Apa yang-“ Bale reflek berkata kembali. “Bu Ratna, ku kira penelitian ini terjadwalkan?”
“Memang sudah, tetapi sepertinya itu terlupakan. Wajar saja, mengingat seharusnya penelitian diadakan kemarin jika saja kau tidak membuang waktuku.” Ratna membalas seketika.
“Kau duluan yang menantang!” Bale berkata dengan kesal. “Lupakan itu, apa yang harus kita lakukan dengan topeng itu?” Dia mengalihkan topik segera.
“Tanpa kipas angin di dalam kontainer, objek di sana mampu membentuk badannya kembali. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu listrik nyala kembali.” Ratna menjawab. Meski tidak bisa melihat, pandangannya diarahkan ke arah kaca observasi dengan raut wajah khawatir.
“Bagaimana kalau membuat Kelas-D memutar kipas itu secara manual.” Bale berkata tiba-tiba selagi berlari ke ujung ruangan. “Berdasarkan pengujian, untuk mengacaukan konsentrasi awan topeng itu, tidak harus ada pergerakan konstan. Cukup hancurkan awannya jika muncul menggunakan kecepatan tinggi, dengan Kelas-D memutar kipas itu secepat yang dia bisa.”
“Terlalu berisiko.” Ratna menggeleng. “Jika formasi terbentuk, Kelas-D itu bisa saja tersambar listrik yang dihasilkannya.”
Bale sedari tadi mencoba mencari sesuatu di pojok ruang observasi bermodalkan penerangan redup ponselnya. Akhirnya dia meraih sebuah radio dan menghidupkannya. “Mereka Kelas-D, kan?”
Tanpa menunggu balasan, dia mengatur radio tersebut sebelum akhirnya bicara, “Tes, apa suaraku terdengar?”
Hening sejenak, sebelum terdengar balasan. “Tunggu- Ini dari ruang observasi?”
“Ya. Asisten Dr. Ratna di sini. Kami juga terjebak di atas sini. Bagaimana kondisi anomali saat ini?” Bale kembali bertanya.
“Tanpa listrik, kipas sudah dipastikan mati di dalam sana, jadi kontainer telah dikunci total. Aku Sudah mengabari tim penahanan kalau kita ada di ruang pengujian, tetapi mereka meminta kita menunggu saja untuk sementara. Berdoa saja semoga kontainer itu mampu menahan anomali di dalam sampai mereka tiba.”
“Tidak, dia tidak akan kuat.” Ratna tiba-tiba berkata. Sepertinya dia bisa mendengar percakapan mereka meski Bale berada di ujung ruangan. Mungkin kondisi hening ruangan membantu pendengarannya yang sudah lama ditajamkannya.
“Berbeda dengan peti kontainer khusus situs transport 118, kontainer kita selain hanyalah kontainer biasa, telah dibelah dua untuk memasang kipas tersebut di tengahnya untuk pengujian. Selain konsentrasi awan yang mungkin bisa merembes keluar seiring penambahan ukuran, bahaya listrik yang ditimbulkannya akan semakin poten seiring waktu.” Jelas Ratna selagi dia berjalan mendekat.
Bale kembali menekan radio dan berkata, “Yah, untuk jaga-jaga, kirim Kelas-D tadi untuk masuk ke dalam sana dan putar kipasnya sesekali. Beri dia sentermu dan bilang padanya untuk memutar kipas angin sekuat mungkin hanya jika terdapat konsentrasi seperti pengujian tadi.”
“Apa yang-“ Ratna reflek berkata, tetapi sudah terdengar balasan, “Baik.”
“Kau tahu dia akan tersetrum, kan?!” Ratna bertanya dengan frustrasi, tetapi Bale tidak memedulikannya dan kembali bertanya kepada radionya, “Jadi, selagi kita menunggu listrik nyala kembali, apa kau mungkin tahu cara membuka paksa pintu ruang observasi ini? Pintu dengan kartu pasti punya semacam cara darurat untuk membukanya, kan?”
Hening selama beberapa saat. Bagi Bale itu merupakan pertanda baik karena dia awalnya memprediksi penolakan seketika. Akhirnya terdengar balasan, “Casing alat swipe-nya bisa dibuka. Terdapat sakelar untuk menggunakan sumber daya baterai darurat. Seingatku cuma teknisi yang diizinkan melakukannya. Akan kukabari mereka untuk membukanya.”
Bale menurunkan radionya dan berkata, “Kita akan terpanggang di tempat ini kalau menunggu mereka.”
Dan dengan itu Bale segera bergegas berjalan menuju pintu keluar. Dia melihat casing yang dimaksudnya ditahan empat baut. Bale dengan cepat berlari kembali ke tengah ruang observasi, kali ini ke tiap lemari di meja panel kontrol.
“Kau… sedang apa?” Ratna perlahan berjalan ke arahnya.
“Panel tambahan ini dipasang pakai baut, jadi berdoa saja ada obengnya tertinggal. Aku tahu teknisi meninggalkan peralatan mereka jika nantinya akan dibongkar lag- Ketemu!” Bale tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena dia dengan semangat menyeret keluar sebuah kardus dari salah satu lemari. Dia mengambil sebuah obeng dari dalam kardus itu dan segera kembali ke pintu keluar.
Begitu pelindungnya dibuka, Bale segera menemukan sakelar yang dimaksud penjaga tadi dan membalikkannya. Terdengar bunyi ‘klik’, tetapi itu saja yang terjadi. Bale mencoba menggeser pintu seperti instruksi yang didapatnya, tetapi ternyata ia lebih berat dari perkiraannya.
“Oh ya, itu cuma membuka kuncian pintu, jadi mereka perlu menggesernya secara manual setelah membukanya.” Penjaga tadi menambahkan begitu Bale bertanya kembali.
Setelah meletakkan kembali radionya, Bale kembali mencoba menggesernya terbuka. “Bu Ratna, anda keberatan untuk menolong sebentar?” Bale berkata selagi menggesernya sekuat tenaga.
“Kau pikir aku mau ikut menggeser pintu besi itu?” Ratna bertanya, meski dengan nada penolakan.
“Tidak, tetapi ku pikir anda mau keluar dari sini secepat mungkin sebelum terjadi masalah dengan kontainernya.” Bale membalas.
Terdengar hembusan nafas kesal, sebelum Ratna segera ikut menggeser pintu besi di depannya. Pergerakan pintu sangatlah lambat, tetapi begitu dirasa celah yang dihasilkan sudah cukup, Bale segera keluar dari ruangan diikuti Ratna.
Mereka berdua segera menuruni tangga besi sampai ke lantai dasar. Hanya saja, begitu mereka sampai di depan pintu keluar menuju koridor tunggu pengujian, tidak ada scanner di samping pintu tersebut; pintu hanya bisa dibuka dari luar.
“Sial, sekarang bagai-“
Tiba-tiba radio berderak, Bale segera mendekatkannya untuk mendengarkan dengan jelas.
“Terdengar bunyi gemuruh di dalam kontainer, Kelas-D tadi jelas sudah mati.” Penjaga di ruang pengujian melaporkan.
“Kami akan keluar dan membuka pintu ruang pengujian, tetapi saat ini pintu bawah tidak bisa dibuka dari dalam. Ada saran?” Bale membalas.
“Wah, kalian di tangga bawah? Kalau pintu yang itu aku tidak tahu lagi caranya…” Penjaga tadi menjawab.
Bale segera menurunkan radionya dan perlahan duduk di di ujung salah satu tangga. “Yah, setidaknya kita terlindung dinding beton ini sekarang, heh.” Katanya kepada Ratna.
“Jadi itu rencanamu?” Ratna – di luar dugaannya – membalas dengan nada kesal. “Penjaga tadi masih di sana! Kita harusnya menolongnya!”
Bale hanya terkekeh, “Dengar, kita berdua berhasil keluar dari ruang observasi saja merupakan keajaiban. Perlu keajaiban lagi untuk menyelamatkannya.”
Ratna hanya diam, tidak tahu harus membalas apa. “Kau tidak harus bersikap puas seperti itu, setidaknya…”
Bale meliriknya dari balik masker gasnya. Dia tidak memedulikan hal itu; dia puas dirinya sekali lagi berhasil bertahan hidup dan itu sudah cukup.
Tiba-tiba radio berderak kembali. “Dengar, aku bicara dengan penjaga di luar tadi. Sayangnya mereka lagi sibuk dan meminta kita bertahan selama mungkin. Tetapi mereka ada mengatakan kalau awalnya pintu keluar ruang pengujian berada di sisi ujung ruangan, tetapi sejak dibuatnya Teritori Brethenitas, pintu dialihkan ke posisi sekarang.”
Terdapat jeda. Sepertinya terdengar bunyi statis juga, tetapi penjaga tersebut kembali melanjutkan. “Itu artinya ada pintu keluar lain di sisi belakang tangga besi sana. Dan karena itu ditinggalkan sejak lama, kemungkinan besar pintu tersebut adalah pintu dengan handle dan kunci fisik. Mungkin kalian bisa mencoba masuk ke sela-sela anak tangga?”
Bale melirik ke tangga besi di belakangnya yang panjangnya selebar koridor ini sendiri sampai ke atas. Perhatiannya terfokus pada sela-sela tangganya. Ukurannya mungkin pas-pasan untuknya, meski dia tidak tahu apakah juga sama untuk Ratna. Tetapi dia tidaklah terlalu ingin mencobanya, mengingat dirinya sudah cukup aman berada di sana.
“Itu terlalu kecil untuk kita.” Bale berkata kepada Ratna. Dia berharap perempuan ini tidak mencoba meraba dan mengukur sendiri tingginya.
Tetapi Ratna malah berkata, “Sebenarnya, bicara mengenai tangga ini, aku merasakan sensasi berbeda di dua buah tangga dekat sana sejak kemarin. Awalnya ku rasa bunyinya agak berbeda, tetapi kemudian tiap injakan pada kedua anak tangga tersebut terasa berbeda juga. Mungkin kau bisa coba cek di sana?”
Apa yang… Pikir Bale selagi dia menaiki anak tangga kembali. Dia mendekati anak tangga yang ditunjuk Ratna. Bale bisa merasakan sensasi bergoyang saat menginjaknya, seakan anak tangga tersebut tidak dipasang dengan benar. Dengan cepat Bale berlutut dan memegangi anak tangga tersebut. Tiap anak tangga besi ini sudah dilas dan terpasang erat sampai dimakan karat, jadi kenapa anak tangga yang diinjaknya terasa berbeda merupakan pertanyaan bagus untuknya.
Ia terangkat. Bale tertegun sekilas, mengetahui dirinya bisa mengangkat anak tangga besi tersebut. Dia kemudian meletakannya ke belakangnya. Bale kemudian mencoba mengangkat anak tangga kedua di atasnya dan berhasil juga. Dia menyinari ke bawah sela yang telah dibuatnya; bisa terlihat lantai dasar di bawah mereka. Bale mencoba menyinari lebih lanjut, tetapi sepertinya jangkauan senter ponselnya tidaklah bisa menyinari sampai ke ujung ruangan.
Terdengar suara langkah kaki di belakang Bale. Sebelum Ratna melangkah lebih jauh, Bale segera berkata, “Bu Ratna, saya mendapati kedua tangga yang anda maksud bisa diangkat.”
“Jadi kita bisa turun?” Tanya Ratna segera.
Bale melirik setinggi apa jarak mereka dari lantai. Meski ketinggian lantai Keter termasuk ruangan ini mendekati dua lantai, tingginya bukan masalah baginya; dia sudah pernah loncat pada ketinggian lima kali lipat lebih tinggi dari ini, tetapi selagi dia melirik ke belakang, yang dipikirkannya adalah apakah orang buta di belakangnya ini mau loncat turun ke bawah.
“Ketinggiannya lumayan mendekati satu lantai, apa anda bisa turun?” Bale mencoba bertanya terlebih dulu.
Ratna diam sejenak, tetapi dia kemudian berkata, “Duluan saja, jaga aku di bawah.”
Bale mengangkat bahu dan segera loncat. Begitu menghantam lantai, dia segera berguling ke depan begitu mendarat. Tidak seburuk yang ku duga… Bale berpikir selagi berbaring sejenak. Meski begitu, dia merasa lebih baik meloncat dari gedung lima lantai ke air daripada satu lantai ke beton.
Dengan segera dia beranjak dan berkata, “Giliranmu, Bu!”
Bale mengamati Ratna perlahan mendekati tepian tangga dan memegangi pinggirannya. Kemudian dia perlahan menurunkan kakinya satu persatu sampai keduanya tergantung di udara. Akhirnya dia melepaskan pegangannya dan jatuh. Tidak sekeras Bale, tetapi dia pun langsung berbaring begitu sudah di dasar.
Bale merasa dia akan baik-baik saja, jadi dirinya perlahan berjalan melewati Ratna untuk menuju ke ujung ruangan. Dia mendapati pintu keluar yang dimaksud penjaga tadi, entah bagaimana nasib orang itu saat ini. Bale menyinari ke lantai, mendapati sekumpulan jerigen kosong tergeletak. Mungkin sisa ruangan dulu. Pikirnya.
Bale mencoba memegang gagang pintu keluar. Meski dia mencoba mendorong dan menariknya, sepertinya pintunya memang terkunci. Tetapi berbeda dari pintu besi yang selama ini ditemuinya, pintu ini terasa lebih tipis. Bale perlahan mundur sampai ke ujung ruangan. Selagi berharap semoga pintu tersebut tidak pernah diganti sejak awal situs dibangun, Bale dengan cepat berlari dan menendang pintu tersebut. Jelas tidak cukup untuk membuatnya penyok, tetapi hampir cukup untuk membuat handle pintu nyaris terlepas.
Ratna yang mendengar suara nyaring perlahan mendekat selagi menahan rasa sakitnya. “Tidak ada kuncinya?” Tanyanya.
Bale hanya membalas dengan tendangan keduanya yang sepertinya masih belum cukup untuk menghancurkan mekanisme tua pintu tersebut. Selagi berjalan mundur, dia akhirnya berkata, “Ini kuncinya,”
Dan dia menendang untuk ketiga kalinya. Kali ini gagang terlepas sepenuhnya, tetapi pintu hanya terbuka sedikit ke depan. Bale terkekeh selagi memegangi lubang yang dulunya merupakan tempat gagang.
“Ternyata harus ditarik.”
Dan dia pun menarik pintu besi di depannya tanpa hambatan, tetapi dia mendapati koridor di depannya sangat gelap. Dia merogoh kembali ponsel yang tadi dikantonginya saat menendang pintu. Ratna perlahan mendekatinya dari belakang. Bale melirik ke arah kanan yang di mana dia bisa melihat cahaya di ujung koridor. Awalnya dia mengira lampu koridor juga ikut padam seperti di dalam ruangan, tetapi kemudian Bale teringat kalau koridor yang berada di antara ruang pengujian dan ruang sel Kelas-D adalah koridor menuju Teritori Brethenitas. Bale mengamati lebih cermat – meski sedikit sulit karena kaca buram masker gasnya – dan mendapati memang terdapat pos perbatasan di ujung koridor. Masalahnya dulu Bale ingat kalau dia sekilas melihat obor yang digunakan sebagai penerangan. Entah di mana mereka berada.
Ratna ikut keluar dari ruangan dan berkata selagi melewati Bale, “Baik, ayo ke pintu depan, kita-“
Langkahnya terhenti dan dia berhenti mengayunkan tongkat bantunya. Dia menoleh ke arah Bale dan berkata, “Kau, kenapa kau tidak memanggil penjaga di ujung sana untuk membantu kita?”
“Penjaga apa?” Bale bertanya dengan bingung. Dia melihat ke arah belakang dan menyinarinya, tetapi dia tidak mendapati siapa-siapa. Meski gelap, seharusnya dapat terlihat pergerakan orang. “Maaf, tetapi lampu koridor ini padam. Anda familiar dengan Teritori Brethen? Karena kita berada di koridor masuk mereka.”
“Tentu, aku sudah membaca tiap anomali yang disimpan di sini. Bahkan aku sebenarnya pernah mendengar beberapa dulu sebelum pindah situs.” Jawab Ratna. “Jadi koridor ini gelap tanpa sumber penerangan?”
“Ya, tempat ini juga sepi, tidak ada orang yang terlihat, setidaknya di sekitar sini.” Bale berkata selagi berjalan lebih jauh memasuki Teritori Brethen. Dia menyinari ke sekelilingnya dan menemukan penyangga di mana obor seharusnya dipasang, tetapi jangankan api, wadahnya saja tidak ada.
“Tidak, tadi aku dengar ada suara di ujung sana, tapi tiba-tiba berhenti.” Ratna menggeleng dan mulai berjalan cepat mengikuti Bale. “Halo? Apa ada orang di sana?” Dia berkata.
Hening tidak ada jawaban. Bale kembali mengamati dinding koridor. Kini dia menemukan apa yang seharusnya menjadi lampu alarm penanda terjadinya pelanggaran penahanan, tetapi sepertinya telah dihancurkan juga. Bale menyinari ke lantai dan mendapati bahwa serpihannya masih ada di lantai. Dia perlahan jongkok dan meraba serpihannya. Begitu merabanya, dia tertegun, menyadari sesuatu. Dengan cepat dia berdiri dan meraba lampu yang sudah pecah tadi.
Masih hangat… Pikirnya. Tapi kenapa…
Bale dengan cepat menoleh ke arah koridor selagi berkata, “Kami tahu kau bersembunyi di sana! Tunjukkan dirimu sebelum ku paksa!”
Dengan segera dia mengantongi ponselnya dan mengambil kedua kapak di sampingnya sebelum dia bersiap. Dia menghantamkan kedua mata kapaknya, membuat suara benturan keras. Ratna terkejut mendengarnya, tetapi dia sepertinya paham akan apa yang tengah dilakukannya sehingga dia perlahan meletakkan tangan kirinya di punggung dan mengangkat tongkatnya.
Meski begitu, tidak ada balasan yang terdengar. Bale menatap tajam ke arah kegelapan koridor di depannya. Dia memutuskan untuk perlahan maju seraya terus mengarahkan kedua kapaknya ke depan.
“Saya sarankan jangan mendekat selangkah lagi…”
Sebuah suara terdengar dari kegelapan koridor. Bale dan Ratna terdiam seketika. Secara samar, terdengar suara langkah kaki. Bale tidak tahu apakah orang yang bicara tadi tengah mendekat atau menjauh, tetapi dia bersiap jikalau dia mencoba lari. Dia meletakkan kembali salah satu kapaknya ke samping dan mengg ponselnya.
“Sekali lagi, siapa di sana!” Teriak Bale.
Tidak ada balasan sekilas, tetapi akhirnya dia menjawab, “Luminitas Brethennia, Kriyot.”
Brethennia… Pikir Bale sekilas. Itu artinya dia personel teritori ini. Dia sudah membaca mengenai SCP-090-ID kemarin, jadi dia mengetahui mengenai SCP-090-ID-1 yang merupakan penyembah patung besar itu. Orang di sana itu pasti salah satu entitasnya.
Tunggu dulu…
“Siapa namamu, tadi?” Bale mencoba memastikan kata terakhir yang didengarnya.
Sebagai balasan, tiba-tiba terlihat percikan api dan muncul nyala api kecil. Bale menurunkan cahaya ponselnya ke lantai untuk melihat lebih jelas nyala api di depannya. Cahaya api kecil dari pematik menerangi wajah seorang pria tua berjenggot yang mengenakan jubah gelap. “Luminitas Brethennia, Bapa Kriyot. Kau tak pernah dengar?”
Sesuatu terlintas di pikiran Bale. Nama yang sangat familiar baginya, mengingat dia turun ke bawah sini hanya untuk mendengar nama itu semata. “Judas Iskariot?”
Pria tua di depannya diam menatap Bale. Dia melirik ke pematik yang dipegangnya dan akhirnya berkata, “Judas, pria dari Kriyot. Itu maksudmu?”
Apa dia benar-benar… Bale menggenggam kapaknya dengan tegang. Dia menyadari dirinya masih memegang ponsel, yang di mana dia segera matikan senternya dan dia kantongi sebelum menggantinya dengan kapak keduanya.
“Apa yang kau tengah coba tanyakan?” Ratna perlahan mendekati Bale dengan nada bingung.
“Aku ingin tahu…” Bale berkata selagi tersenyum gugup, bersiap akan balasan sesuai dugaan. “…apakah itu pengetahuan dilarang?”
Entah beruntung atau tidak, tetapi tidak ada balasan. Pria tua itu masih menatap Bale seakan dia menunggu sesuatu. Bale tidak tahu dia harus mengatakan apalagi, sebagian besar karena dia tengah memikirkan kenapa satu-satunya kunci identifikasinya lagi-lagi tidak bekerja.
Pada akhirnya pria tua di depan mereka memecah kesunyian dengan berkata, “Saya singkat saja, apa kalian bekerja untuknya?”
Bale tertegun. Pada saat itu, pikirannya mendapat solusi paling memuaskan baginya: bahwa mungkin karena mengingat arti kode namanya yang ikonik, kode identifikasi mungkin tidaklah berguna. Jadi Bale mencoba mengambil taruhan yang ditawarkan pria itu dengan menjawab, “Ya, aku dikirim untuk menemui anda, tetapi karena keadaan gelap seperti ini, saya perlu memastikan terlebih dahulu anda orang yang tepat.”
Pria tua tadi menunduk. Tiba-tiba dia mematikan pematiknya dan berkata, “Tidak ada perubahan, ya…”
Dan tiba-tiba, muncul cahaya terang darinya. Dia ternyata memegang sebuah senter sorot selagi berlari mundur. Bale tidak sempat bereaksi karena dia melihat apa yang senter itu sinari.
Setumpuk tanaman menjalar berwarna putih pucat yang memenuhi sisi kiri koridor. Mereka bergerak seketika begitu disinari, membuat Bale mengira mereka hewan sebelum memperhatikannya lebih teliti. Sorotan senter menuntun pergerakan tanaman tersebut dengan cepat ke arah Bale.
Terlintas di ingatannya saat dirinya mengatasi anomali SCP-031-ID-A, jadi dia merasa dirinya harus mencoba menghindari tanaman yang tengah menjalar ke arahnya itu. Bale berlari mendekati dinding, mencoba menghindari titik tengah koridor dan dengan cepat mencapai ke arah orang yang memegang senter tadi.
Pria tadi sepertinya mencoba mengarahkan tanaman tersebut ke arah Bale, tetapi dia sedikit tergesa-gesa sehingga cahaya senter meninggalkan tanaman di tengah koridor dan hanya menyinari Bale yang berlari secepat yang dia bisa ke arahnya.
Akhirnya dia menubruknya jatuh, menjatuhkan senter yang dipegangnya. Bale segera meraih senter yang tergeletak di dekatnya dan menyinari pria yang ditubruknya tadi, menunjukkan seorang pria tua yang sepertinya mengenakan kemeja kumal kecokelatan, tetapi sebagian besar tertutupi oleh jubah merah yang menyelimutinya.
Dilihat lagi, Bale tidak yakin itu memang dari sananya merah atau terkena cairan merah, mengamati betapa lusuhnya itu. Yang pasti ia terasa sangat lembab.
Bale memutuskan untuk memikirkannya nanti selagi dirinya tengah berdiri. “Baik, jangan bergerak!” Dia berkata. Dia memindahkan senter tadi ke tangan kirinya selagi tangan kanannya mengangkat kapaknya.
“Apa… apaan tadi?” Ratna perlahan mendekati mereka berdua.
Bale menoleh ingin menjawab, tetapi dia menyadari tanaman putih di sekelilingnya perlahan merayap mendekati mereka semua. Jadi dia segera mematikan senter di tangannya.
“Bu Ratna, apa anda mengetahui anomali yang berupa tanaman merambat berwarna putih? Mereka sepertinya tertarik akan cahaya.” Bale berkata.
Ratna tertegun, tetapi kemudian berkata, “Tanaman, ya… Lantai Keter memiliki anomali tanaman dengan designasi SCP-041-ID… tunggu, di interkom tadi, yang lepas itu SCP dengan designasi itu, kan?”
“Ya, dan sepertinya, kemungkinan besar pria yang ku tahan ini pelakunya.” Bale berkata sebelum kembali menoleh ke arah pria tua yang masih terbaring di lantai. Dia tidak yakin ingin menyalakan senter kembali, jadi dia hanya berlutut dengan satu kakinya dan berkata, “Jadi, apa yang tengah kau lakukan dengan tanaman-tanaman ini? Kau yang melepas mereka?”
Pria tua tersebut tidaklah membalas. Mereka diam dalam kegelapan selama beberapa saat. Dalam keheningan tersebut, Bale menyadari adanya bau samar yang sangat familiar baginya, bau bensin.
Dengan segera dia berdiri dan perlahan berjalan mendekati dinding kiri koridor. “Bu Ratna, apa anda menyadari adanya bau bensin sejak di koridor ini?” Bale berkata selagi mendekatkan tangannya ke dinding.
“Iya? Sejak di pintu keluar ruang pengujian tadi, sebenarnya. Ku kira itu wajar.” Ratna menjawab, sepertinya baru terlintas di pikirannya juga.
“…Terkutuklah masker gas ini…” Bale menggumam. Sebenarnya dia tahu masker gasnya tidak berfungsi, tetapi hanya setelah tangannya merasakan basahnya permukaan dinding kiri koridor baru dia menyadari kalau aroma samar bahan mudah terbakar itu tidaklah normal.
Dengan cepat Bale menoleh kembali dan hendak berkata, “Hey, apa yang tengah kau-“ hanya untuk pria tua tadi menyalakan pematik yang tadi dinyalakannya saat dia pertama terlihat tadi.
Cahaya redup pematik menerangi senyum samar pria tua itu seraya dia berkata, “Tugasku selesai.” Mengabaikan Bale yang mencoba menghentikannya, dia menjatuhkan pematik itu ke dirinya sendiri di lantai.
Dengan cepat jubahnya diselimuti api. Bale sekilas memang menduga jubah usangnya sudah dibasahi bensin saat menubruknya tadi. Koridor gelap tempat mereka berada perlahan mulai terang dikarenakan api unggun manusia di tengahnya.
“Apa- Apa dia membakar dirinya sendiri!?” Ratna pertama bicara. Dia sepertinya bisa menebaknya dari suara teriakan pria tua itu dan bunyi kobaran api yang perlahan merambat ke arah dinding kiri koridor.
“Ya, dan-“ Bale berkata selagi mendorong Ratna menjauh ke dinding kanan. “-Semoga dia tidak benar-benar menyelimuti koridor ini dengan bensin.”
Dia tahu Ratna tidak bisa melihat, tetapi dia yakin Ratna bisa merasakan suhu koridor semakin panas seiring api di koridor menyebar melewati mereka, sampai mendekati pintu keluar mereka tadi. Kobaran tersebut berhenti di sana dan menutupi koridor bak dinding api. Mereka terjebak sekarang, tak akan bisa melaluinya sampai api itu padam.
Bale mengamati kumpulan tanaman anomalus tadi yang kini bisa terlihat dengan jelas. Mereka tumbuh cepat ke arah kobaran api seakan terpancing akan sinarnya seperti layaknya senter tadi, tetapi bahkan sebelum menyentuhnya, tanaman tersebut terlihat hancur, berubah menjadi cairan bak cat putih. Sepertinya Bale tidak perlu mengkhawatirkan tanaman itu membahayakan mereka saat ini.
Bale mengarahkan Ratna mendekat ke dinding sisi seberang yang tak terselimuti api. “Tetap di sini.” Bale berkata padanya. Dia lalu kembali mendekati mayat pria tadi yang masih diselimuti api. Dia sekilas melirik ke atap, mempertanyakan kenapa sprinkler tidak dinyalakan. Tetapi setelah diperhatikan lagi dengan bantuan kobaran api di sekitarnya, dia bahkan tidak menemukan satu pun sprinkler di atas sana.
Baru kemudian Bale melirik ke bawah. Dia mengamati pria yang masih terbakar itu. Begitu dia berlutut kembali untuk mengamatinya lebih jelas, dia bisa mendengar bunyi mendesis samar, bak suara ketel mendesis saat mengeluarkan uap di dalamnya.
Bale berdiri segera selagi menatap mayat terbakar itu selama beberapa saat, mempertimbangkan apakah ia coba padamkan apinya atau biarkan dia terus terbakar sampai padam dengan sendirinya.
Bale mengembuskan nafas dan menggumam, “Jadi apa yang kau lakukan-“
Tiba-tiba mayat itu meledak, melontarkan Bale sampai menghantam dinding. Mayat barusan hancur menjadi cincangan, kecil maupun besar. Di tempatnya tadi hanya tersisa kain lusuhnya tadi yang masih terbakar.
Dan ditengahnya sekarang, terdapat dua buah tangki berwarna hijau tua berukuran sedang, terpasang ke sebuah alat. Sebuah logo bergambar api terlihat di sisi samping kedua tangki yang telah hancur bagian depannya. Salah satu kepingannya terlontar juga sebelum akhirnya menghantam lantai, menunjukkan logo lainnya, logo Yayasan.
Suara ledakan tadi mengejutkan Ratna yang sedari tadi berdiri gugup di pojokan. Dia kemudian mendengar bunyi hantaman tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Bale, apaan itu?!” Ratna segera berjalan mendekati sumber suara yang didengarnya tadi. Begitu dia jongkok, dia mencoba merabanya. Dia tertegun ketika menyadari kalau yang menghantam dinding tadi orang.
“Ngghh…” Bale hanya bisa mengerang kesakitan. Ratna terkejut dan berkata, “Bale, itu kau?! Hey, jawab! Bale!”
Suara panik Ratna perlahan terdengar samar semakin kesadarannya memudar. Dia terbaring pingsan di sana.
Ratna mencoba menggoyangkan badannya, lalu mencoba menamparnya, hanya untuk menyadari kalau dia memang memakai masker gas seperti katanya dulu.
Tetapi kemudian Ratna terdiam, dia melirik ke sisi lain koridor, ke sisi gelap Teritori Brethenitas. Di balik suara kobaran api yang mengelilingi mereka, dia bisa mendengar suara langkah kaki di kegelapan itu.
Banyak langkah kaki.
Kronik Situs-79
Bab 7: Perburuan Penyihir(1)
| …dan dari kebuasan para Anomalis. | …Dihargailah Mereka, Para Fikser… »




