“Jelaskan apa yang telah terjadi di sini!”
Sarah berteriak tegas kepada seorang Angelika yang terjebak di balik sel mereka. Di sampingnya adalah mayat seorang berjubah Luminitas. Darah masih menggenang, tetapi mulai mengering.
“Luminitas Brethennia Antasan membunuh dirinya. Normalis itu yang melaporkan, jadi aku segera masuk ke dalam.” Angelika itu melaporkan. Dia sedikit gugup untuk melanjutkan, “…Dan dua orang Normalis itu sepertinya memanfaatkan keadaan dan lari keluar.”
“Kau serius?! Itu dua Luminitas mati sekarang, lho!” Salah satu Angelika di belakang Sarah berseru.
“Aku… aku tidak tahu kenapa dia punya belatinya lagi. Mungkin dia punya lebih dan kami tidak mengeceknya.” Angelika tadi menjawab gugup.
Sarah hanya mengembuskan nafas pasrah. “Kita hanya bisa pasrah dan menganggap itu keinginan Sang Bunda Brethennia kalau begitu.”
Lalu dia berbalik dan menatap ke arah pintu. “Tetapi kaburnya dua orang Normalis itu jelas bukan.”
“Siap-siap, kita cari mereka! Jika massa tadi sampai menemukan mereka duluan, hilang sudah saksi mata kita.” Sarah berkata kepada Angelika di belakangnya. Dia lalu fokus kepada Kris seraya bertanya, “Baneret Kris, kau tahu kemana mereka mungkin pergi?”
Kris tahu sebenarnya apa yang harus dilakukan mereka jika rencana bertemu mereka gagal. Setelah mempertimbangkan sejenak apakah harus jujur lagi atau tidak, Kris akhirnya memberanikan diri menjawab, “Mungkin kembali ke ruang Saintika?”
Bale dan Ratna dengan cepat menyusuri koridor, mencoba menebak arah keluar teritori berpegang pada ingatan mereka sejauh ini. Bale sebenarnya ingin lari, tetapi dia tidaklah mau menyeret Ratna. Dia bisa mencoba mendorongnya, tetapi Ratna pasti tidak mau juga. Untungnya Ratna cukup cepat berjalan bermodal mendengarkan langkah kakinya dan mengayunkan tongkatnya dekat dinding.
Sayangnya langkah mereka terhenti begitu Bale semakin mendekati ujung koridor. Dia melihat bahwa di ujung sana adalah sepenuhnya jalan buntu. Belokan terakhir jaraknya beberapa puluh langkah di belakang mereka.
“Kenapa kau berhenti?” Ratna berkata begitu menyadarinya.
“Jalan buntu.” Balas Bale dengan singkat.
Mereka terhenti mengamati koridor buntu di depannya. Bale menebak sepertinya ini sisi belakang asrama di samping mereka. Dia segera berbalik dan bergegas ke arah sebaliknya. Tanpa Bale memberitahukannya, Ratna mengetahui perubahan arah mereka dan segera berbalik mengikutinya juga.
Mereka kembali berjalan cepat mencapai persimpangan koridor. Sebenarnya terlalu jauh, tetapi setidaknya mereka masih punya waktu untuk menyusuri koridor.
Sayangnya Ratna tiba-tiba berkata, “Ada langkah kaki mendekat di kejauhan.”
Bale terus melangkah, tetapi dia bisa melihat ada yang bergerak di kejauhan. Cahaya redup puluhan obor di dinding membantunya melihat pergerakan seseorang di ujung lorong. Dan tiap detik semakin terlihat bahwa orang itu mengenakan zirah besi. Bale merasa dia tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk memastikan kalau dia Sekuritas biasa atau Angelika akhirnya berhasil mengejar mereka.
“Kita pergi sekarang!” Bale segera menarik pergelangan tangan Ratna. Jelas Ratna terkejut, tetapi dia tidak sempat komplain atau berkomentar. Mereka berlari secepat yang mereka bisa, tetapi persimpangan koridor masih cukup jauh. Berdasarkan perhitungannya, mereka akan berhadapan tepat di depannya. Bale awalnya pasrah dan mulai memikirkan bagaimana melawannya. Untungnya sejauh yang dia lihat cuma ada satu Angelika di ujung sana, tetapi dia tidak tahu apakah ada banyak lagi yang berdatangan di belakangnya nanti.
Saat mereka berlari, Bale sekilas melihat sesuatu dan membuatnya menoleh ke belakang. Ratna terkejut ketika Bale segera berbelok dan menariknya ke belakang.
“Kenapa?” Ratna bertanya segera.
Bale tersenyum menatap ke depan. “Pintu.”
Bale mencoba membukanya, untungnya terbuka sehingga dia dan Ratna segera masuk. Dari aroma yang dia cium, dia bisa menebak ini dapur mereka. Terdapat beberapa Brethenitas yang menoleh begitu dia masuk. Salah satu diantara mereka yang berdiri di balik meja panjang berseru, “Hey, makan malam sudah dibagikan. Jangan bilang kalian ketiduran!”
Sepertinya mereka untungnya mengira mereka masih merupakan Saintika. Bale tidak menjawab awalnya. Dirinya fokus pada ujung ruangan yang sepertinya merupakan pintu ganda. Dia segera mengambil taruhan dan menyusuri ruangan seraya berkata, “Numpang lewat saja, buru-buru.”
Sepertinya orang-orang di ruangan mulai berbisik membicarakan mereka. Bale tidak memedulikan itu karena mereka akan keluar segera. Begitu membuka pintu ganda, untungnya dia menang taruhan karena pintu itu terhubung ke ruang yang lebih luas puluhan kali lipat. Sepertinya ini ruangan utama mereka.
Sayangnya keberuntungannya habis untuk taruhan tadi karena tepat di depan mereka adalah kumpulan massa memegangn obor dan belati. Orator mereka yang sepertinya Brethennia biasa masih berseru marah akan kejahatan mereka.
Bale segera mencoba menuntun Ratna mengitari mereka, tetapi tak lama kemudian dia melihat salah satu pintu di ujung ruangan terbuka. Angelika tadi keluar dari ruangan dan melihat ke sekeliling. Bale balik arah dan segerea menuju langsung ke kerumunan massa.
Dia membawa Ratna menyelinap di tengah-tengah Brethennia yang terkumpul. Bale berbisik agar Ratna mengusahakan mengarahkan badan dan pandangannya ke depan. Mereka dengan perlahan berjalan ke samping dan sesekali berseru ketika diharuskan.
Setelah beberapa saat, mereka mencapai ujung seberang kerumunan. Bale melirik ke belakang, tak melihat Angelika tadi. Dia mengembuskan nafas lega dan segera menyeret Ratna keluar kerumunan. Dia melihat sebuah lorong yang sepertinya mengarah ke koridor lainnya. Bale memutuskan untuk mengarahkan mereka ke sana dengan harapan itu koridor keluarnya.
Tepat di tengah-tengah area, tiba-tiba dia mendengar suara di kejauhan. Tepat di seberang mereka, sekumpulan personel berzirah memasuki ruangan. Dan yang terdepan sepertinya melihat Bale dan Ratna yang hendak keluar ruangan.
Dan dengan diarahkannya pedangnya ke arah mereka, jelas para Angelika itu mengenali mereka.
Bale segera berkata, “Kita ketahuan!” ke Ratna sebelum menyeretnya lari ke koridor tadi. Para Angelika tadi jelas meneriaki sesuatu seperti ‘Berhenti!’ di kejauhan selagi mulai mengejar mereka.
Mereka berhasil menemukan pintu ganda lain. Bale mulai menyadari kalau ini merupakan persimpangan empat arah. Dia melihat ke arah kanan dan memastikan jalan ke sana buntu. Dia terus berjalan dan pada persimpangan kedua di depannya menemukan bahwa inilah seharusnya koridor yang mereka lalui karena ia sepertinya tidaklah buntu di ujungnya.
Bale segera berlari bersama Ratna. Koridor kosong untungnya, jadi mereka bisa lari tanpa khawatir terlihat mencurigakan. Sayangnya tiba-tiba Ratna tersandung karenanya dan jatuh. Bale segera berbalik dan hendak membungkuk untuk menolongnya.
Bang
Bale segera menunduk. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tetapi dia mendengar suara tembakan nyaring di kejauhan. Dan dia berani sumpah ada yang melesat di dekatnya tadi saat menunduk.
Puluhan meter dari mereka, di balik kegelapan koridor seseorang tengah tiarap di lantai. Belasan obor di dekatnya sengaja padam. Dia mengokang senapan runduk yang baru saja dia tembakan tadi. Dengan tersenyum licik dia mengamati teropong senapannya.
“Hmm hmm hmm~ 在哪里在哪里見過你~”
Lian mengamati Bale berhasil membantu Ratna berdiri selagi tetap berjaga akan tembakan susulan. Dia tidak suka tembakannya meleset, tetapi sepertinya tidak ada orang selain mereka.
“…你的笑容這樣熟悉~”
Dan dengan itu dia tinggal menarik pelatuk untuk menembakkan tembakan keduanya. Di saat yang bersamaan, sekumpulan Angelika yang mengejar mereka sampai di koridor juga.
Lian terkejut, tetapi dia sudah terlanjur menembak. Meski mengejutkannya, tembakannya sepertinya berhasil mengenai bagian atas bahu Bale yang tengah menuntun Ratna keluar. Bale segera berteriak kesakitan.
“Apa yang…” Sarah jelas mendengar suara tembakan di kejauhan dan menoleh ke arahnya. Dia lalu menoleh kembali ke arah Bale yang tertembak selagi Ratna mencoba membantunya.
“Itu Lian!” Kris yang berada di belakangnya berkata. “Dia mencoba membunuh mereka lagi!”
“Sial, dia yang menembakmu kan, Kris?” Salah satu Angelika berkata kesal. “Komandan, kita harus menangkapnya untuk ini!”
“Jangan macam-macam! Ini bukan keinginan…” Sarah awalnya berpegang teguh akan misi mereka, tetapi dia tetap melihat ke arah koridor gelap di sebelah kirinya. Lalu dia menoleh ke arah Bale dan Ratna yang sepertinya mencapai belokan koridor di sebelah kanannya.
“Kalian tangkap Lian, aku akan menangkap mereka.” Sarah segera berlari. Angelika lain mengangguk mengerti dan segera berlari ke arah berlawanan.
“Ah, dalam mimpimu.” Lian terkekeh selagi segera berdiri. Salah satu keuntungan memakai senapan runduk di koridor ini adalah dia punya waktu untuk lari sejauh mungkin dari mereka. Dan dengan itu dia segera lari menenteng senapannya.
Sarah sendiri kini berbelok dan kini dapat melihat cahaya lampu artifisial sisa situs Yayasan di sisi seberang perbatasan. Kedua orang peneliti Yayasan itu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk mencapai perbatasan. Sarah tahu juridiksi Angelika berakhir di perbatasan dan sepertinya mereka berharap akan itu juga.
Dia harus menghentikan mereka sebelum mencapai perbatasan. Karena itu dia lari sekuat yang dia bisa. Dia tahu melepas zirahnya akan sangat membantunya untuk itu, tetapi dia tetap berpegang teguh pada perintah Bunda Brethennia. Sayangnya itulah alasan kenapa dia mulai kelelahan. Jaraknya dengan kedua orang itu sudah dekat, tetapi tiap langkah semakin berat.
Sarah merasa dia ingin menyerah dan berbaring, tetapi dia tahu dia tidak bisa berhenti sekarang. Mungkin ini ujian dari Sang Bunda Brethennia, mengetahui dirinya sudah bersantai tanpa melakukan apa-apa selain patrol semata untuk terlalu lama. Setelah ini apa pun yang terjadi, dia akan mulai latihan lari keliling teritori dengan zirahnya.
Sarah melirik sekilas ke arah pos penjaga yang kosong. Entah ke mana Sekuritas yang seharusnya berjaga tetapi pada saat ini dia sangat dibutuhkan untuk mencegatnya. Sepertinya semuanya bergantung pada dirinya semata.
Bale sedari tadi mencoba lari sebisanya dibantu Ratna yang memapahnya. Dia mencoba tidak memperhatikan Sarah yang semakin mendekati mereka. Perbatasan tepat di depan mereka. Untungnya tidak ada penjaga lagi, Bale berharap itu karena personel keamanan atas perintah Herria telah mengamankannya seperti perjanjian.
Mereka masih beberapa langkah, tetapi batas keramik antar teritori sudah jelas di depan mata. Bale berpikir untuk mengambil risiko dan mendorong Ratna ke perbatasan. Ratna jelas terkejut dan tanpa dia sadari saat menjaga keseimbangan pasca didorong, dia adalah yang pertama mencapai sisi seberang. Bale sendiri hanya bisa menahan rasa sakitnya saat melakukannya.
“Kembali!” Sarah akhirnya putus asa dan mengeluarkan pedangnya, siap menghentikan Bale bagaimanapun caranya.
Bale menoleh ke belakang dan memutuskan untuk loncat juga ke sisi seberang. Di saat yang bersamaan Sarah mengayunkan pedangnya dan siap menebasnya. Bale hanya bisa meloncat mundur, mereka saling berhadapan dengan Sarah hampir menebas badannya.
Clank
Bukan percikan darah yang keluar, tetapi percikan api hasil dari hantaman besi yang mengenai pedang Sarah. Sarah menyadari yang menghentikan tebasannya adalah sebuah tongkat besi dari seorang personel keamanan. Dia tidak mengenakan helmnya, menunjukkan rambut panjangnya yang tertutup headphone hijau tua, sepertinya menjadi alasan kenapa dia tidak mengenakan helmnya.
“Sebuah kehormatan bertemu personel senior sepertimu.” Dia tersenyum, tetapi jelas dia sedikit kesulitan menahan tebasan Sarah. “Aku Agen Senior Natalia Trisna, senang bertemu denganmu.”
“Tch,” Sarah segera menarik pedangnya dan mundur. Baik dirinya maupun Bale yang terduduk di lantai mengamati kalau di sekeliling area perbatasan sudah dikepung sejumlah personel keamanan dengan senapan. Bukan bius, tetapi sepertinya senjata api, dan semuanya diarahkan ke Teritori Brethenitas, terutama ke arah Sarah.
“Dia merupakan tersangka utama pembunuhan salah satu petinggi kami.” Sarah berkata selagi menyimpan pedangnya. “Kami hanya memerlukannya selama beberapa hari saja untuk keterangannya.”
“Kau yakin? Mungkin maksudmu kalian perlu dia hidup selama beberapa hari sebelum kalian bunuh di sana?” Natalia membalas sinis.
Sarah tidak bisa mengelak untuk itu. Dia segera mengeluarkan pedangnya dan membuat seluruh personel kembali siaga, tetapi kemudian dia menghantamkannya ke lantai – menghancurkan beberapa keramik di bawahnya – dan berlutut dengan satu kakinya. “Maafkan saya atas tindakan spontanku tadi. Semoga Sang Bunda Brethennia mengampuniku atas itu.” Katanya selagi menunduk.
“Natalia, sudah cukup.” Salah seorang personel berjalan mendekat. Akhirnya Herria melangkah masuk ke depan. “SCP-090-ID-1, Dengan mereka berada di luar Teritori Brethenitas, maka kewenanangan apa pun yang kalian miliki di dalam sana tidak lagi berlaku. Kalian bebas melakukan apa saja terhadap siapa saja di dalam sana, tetapi sekarang mereka sudah berada di lingkungan Yayasan. Kembali ke dalam!”
Sarah hanya bisa mengertakkan giginya untuk menahan kekesalannya. “Baik, saya mengerti.” Dia berkata, menerima kegagalannya. Dengan itu dia mencabut pedangnya dan segera berjalan kembali ke dalam. Di tengah langkah, dia menyempatkan berbalik dan melihat ke arah kumpulan personel Yayasan. Matanya menatap tajam ke arah Bale yang sudah berdiri. Dia perlahan melepas jas Saintikanya selagi balas menatapnya.
Sarah tahu tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk itu, jadi dia terus berjalan.
Para personel Yayasan akhirnya bisa menurunkan senjatanya dengan aman. Meski mereka menang dalam jumlah, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika Sarah berani melanggar perjanjian dan menyerang mereka. Mau bagaimanapun, dia tetaplah secara tidak ofisial seorang agen senior karena pengalaman kerjanya.
“Heh, bayangkan jika ini baton biasa…” Natalia berkata selagi mengamati tongkat besi yang tadi dipakainya. Sedikit penyok di ujungnya bekas hantaman pedang Sarah.
“Kau menyimpan tongkat besi untuk saat seperti ini?” Bale menoleh ke arahnya. Dialah yang menyelamatkannya tadi menggunakan itu.
“Ah, aku mengambilnya dari sisa pembangunan terowongan di belakang. Mereka punya banyak kelebihan barang.” Natalia membalas. Bale sebenarnya bingung apakah headphone yang dipakainya benar-benar berfungsi atau tidak dengan dirinya membalas secepat dan selancar itu.
“Dia tahu dia tidak bisa menghadapi Sarah dengan tangan kosong seperti biasanya, itu alasannya tiba-tiba saja membawa tongkat itu dari ruang belakang.” Herria tiba-tiba berjalan mendekati Bale. “Asalkan itu bekerja, aku tak memedulikannya.”
“Ah, kau tak akan keberatan jika kusimpan kalau begitu.” Natalia berkata senang selagi membawa tongkat besi itu pergi.
“Kau terluka, dokter.” Herria mengalihkan perhatiannya kepada Bale yang memegangi bahunya.
“Semakin banyak yang kau tahu, eh?” Bale membalas dengan sarkas pernyataan jelasnya. Tidaklah separah tikaman Tony dulu, sepertinya hanya melukai sedikit ke atas pundaknya ternyata. Tetap saja sangat menyakitkan.
“Sana ke bangsal medis. Aku akan menemuimu nanti setelah mewawancarai Peneliti Senior Ratna.” Herria menginstruksikan sebelum melangkah menjauh.
Bale melihatnya berjalan menuju Ratna yang berdiri di pojokan. “Jadi tak ada kata ‘terima kasih sudah membawanya keluar dari Teritori Brethenitas hidup-hidup’?” Dia memutuskan untuk berkata.
“Untuk apa? Itu memang tugasmu untuk membawa keluar Ratna, kan?” Herria tidaklah berbalik. “Tapi, aku bisa mengatakan kerja bagus untuk itu, dokter.”
Bale terkekeh selagi melangkah pergi ke arah berlawanan. “Heh, tidak ada dokter mana pun yang mau menerima tugas seperti itu, kau tahu?”
Herria menghentikan langkahnya. Dia segera berbalik dan berjalan cepat mendekati Bale. Bale tidak dapat bereaksi ketika Herria menarik kerahnya, mengabaikan luka di pundaknya. “Karena berbeda dengan dokter lainnya, kau tak punya pilihan selain mengikuti perintah kami, сука блять. Kau adalah pengkhianat, dokter, ingat tempatmu dan ingat tugasmu.”
Dengan itu Herria melepaskan cengkramannnya dan mendorongnya menjauh. Sepertinya Herria baru bisa melampiaskan kekesalannya saat di radio tadi sekarang. Bale menatap Herria kembali berjalan ke kumpulan personel Yayasan di pojok. Dia mengamati mereka selagi memikirkan perkataan Herria tanpa henti.
“Heh…”
Bale perlahan terkekeh selagi melangkah pergi ke bangsal medis. Semakin dia berjalan, tawanya semakin jelas. Bagaimana dia tidak tertawa menyadari dirinya kembali menjadi boneka teater semata, berdansa menghibur penontonnya dan tak akan pernah menjadi manusia seutuhnya.
Tidak peduli semua hal yang telah dia jalani selama setengah tahun di situs terkutuk ini, dia tak akan pernah menjadi personel Yayasan seutuhnya. Dia bukanlah asisten peneliti Yayasan. Dia sekarang menyadari dia hanyalah asisten seluruh personel Yayasan itu sendiri. Seorang boneka CI dan GOC yang dibuang, kini dipungut Yayasan untuk memainkan peran yang sama.
“Hahaha…”
Dan dia tidak memedulikan itu. Louis, Ratna, Herria, persetan personel Yayasan mana yang harus dia turuti kehendaknya, persetan apa pun yang harus dia lakukan untuk mereka, pada akhirnya semua itu agar dia dapat keluar dari sini hidup-hidup.
Dia punya tujuan di luar sana.
Ah… aku ingin ganti pihak saja jika saja ada jaminan kalau eksekusiku dilakukan setelah penyerangan CI selesai dan bukan sebelumnya…
Dia melirik ke belakang. Ke arah para penontonnya. Tatapan perpisahan sebelum dirinya membuang masker medis yang dikenakannya ke lantai. Dengan perlahan dia mengenakan masker gasnya dan mengisolasi dirinya dari segalanya kembali.
Mungkin akan kubakar tempat ini juga jika masih hidup nanti. Hitung-hitung nostalgia…
Dan dia tertawa lepas akhirnya.
Kronik Situs-79
Bab 7: Perburuan Penyihir(1)
« …Diteguhkanlah Mereka, Sekuritas… | …Dari Ketidaksucian Para Heretika… |




