…Disucikanlah Mereka, Para Klinser…
rating: +1+x

Empat orang tengah berjalan secepat yang mereka bisa menyusuri gelapnya koridor yang hanya diterangi satu dua obor. Dua orang pria – keduanya mengenakan jas lab meski salah satunya lebih kusam – tengah memapah seorang pria berseragam keamanan berlapis pelindung zirah besi bermotif keemasan. Seragamnya kini memiliki tambahan kemerahan tetesan darahnya dari luka tembak yang baru dia terima beberapa menit yang lalu. Di belakang mereka, seorang perempuan yang mengenakan jas lab juga mengiringi dari belakang.

Sudah sekitar sepuluh menit sejak mereka berjalan sejauh yang mereka bisa. Tidak ada yang tahu kapan mereka bisa terus berjalan. Tepatnya, tidak ada yang tahu kapan ada yang muncul dan menghentikan upaya mereka.

“Tuan Tharmin, lihat!” Salah satu peneliti yang mengenakan masker gas berkata.

Di depan mereka, terdapat sebuah pintu yang tidak disinari lampu petromak di sampingnya. Tharmin segera berlari mendekati pintu tersebut dan mencoba membukanya. Tetapi setelah mencoba selama beberapa saat, dia berbalik dengan ekspresi kecewa.

“Maaf, Bale. Pintu ini terkunci.”

“Yang benar saja-“ Pria bermasker gas tadi berkata sebelum mencoba menyandarkan personel yang ditolongnya. “Kau tak keberatan bersandar dulu kan, Kris?”

Pria berbaju zirah besi yang diajaknya bicara menggeleng dan membalas pelan, “Coba sana. Aku tidak masalah berdiri sendiri.”

Bale lalu menoleh ke perempuan di belakang mereka. “Bu Ratna, anda bisa menemani Kris sebentar?”

“Tentu.” Ratna membalas tanpa berkomentar seperti biasanya. Sepertinya dia mengerti betapa parahnya keadaan mereka saat ini. Dia segera berjalan mendekat sampai tongkat besinya menyentuh kaki Kris. Dia lalu berdiri di sampingnya selagi memperhatikan apakah ada suara lain yang mendekat.

Bale sendiri segera bergegas dan mencoba memutar gagangnya, meski Tharmin baru saja mencobanya. Akhirnya dia mulai mendobraknya sekuat yang dia bisa, menghasilkan bunyi dentuman besi keras.

“Apa yang kau lakukan?!” Kris bertanya dengan panik.

“Kapan pintu ini diganti?” Bale malah balas bertanya.

“Kapan?? Kita tidak ada waktu memikirkan kapan Fikser mereparasi pintu mereka! Kita harus lari secepat yang kita bisa dari sini!” Kris berkata selagi mencoba berjalan cepat, tetapi dia tak bisa menyembunyikan rintihan kesakitannya.

“Kris, Tharmin, saya perlu kalian berdua untuk membantu menendang pintu ini sekuat yang kalian bisa bersamaku.” Bale berkata. “Aku pernah beruntung sekali membobol pintu seperti ini sebelumnya. Semoga pintu ini juga sama.”

Kris melirik ke arahnya dan berkata, “Tunggu, pintu di samping ruang pengujian Normalis itu, kau yang menghancurkannya?”

“Tanya lebih lengkap mengenai kronologinya nanti. Sekarang, kita harus fokus menendang ini bersamaan.” Bale memotong pertanyaannya.

Kris melirik ke arah Tharmin yang tanpa banyak bertanya segerea melakukan apa yang dia minta. Kris lalu menghela nafas, memutuskan untuk setidaknya mati mencoba. Mereka bertiga segera berjejer di depan pintu besi di depan mereka. “Dalam hitungan tiga, tendang di gagangnya.” Bale berkata. “Satu, dua, tiga!”

Mereka bertiga menendang pintu hampir secara bersamaan. Pintu jelas terdorong dan handle pintu telah terlepas.

“Banyak langkah kaki cepat terdengar!” Ratna berkata dengan panik.

“Berdoa kepada dewi kalian dalam hitungan-“ Bale berkata. Tharmin dan Kris merapalkan doa selagi Bale menghitung mundur.

“-Tiga!”

Dengan tendangan berikutnya, pintu terbuka sedikit ke dalam. “Tenang, ini pintu tarik!” Bale berkata selagi menarik pintu yang sudah kehilangan handle termasuk kunciannya itu.

“Kalian, cepat masuk!” Bale berkata selagi mendorong Tharmin masuk. Kris mengikutinya dari belakang. Kemudian Ratna segera mendekat, hampir menabrak daun pintu. Lalu akhirnya giliran Bale. Dia bisa mendengar suara rusuh di kejauhan. Bale mengangkat masker gasnya sebentar untuk dapat melihat lebih baik.

Dia bisa melihat puluhan sosok hitam mendekat segera.

Dengan cepat dia masuk dan menutup rapat pintunya. Dia hampir saja melepas pegangannya di lubang bekas handle pintu ketika Kris berkata, “Tahan pintunya tetap tertutup!”

Dengan perintah singkat tersebut mereka bertiga menahan daun pintu dari ditarik sekuat yang mereka bisa. Suara gemuruh puluhan langkah mendekati pendengaran mereka. Mereka semua bersiap akan apa pun yang akan terjadi di balik pintu tersebut. Perintah Kris ternyata benar adanya karena tak lama kemudian, pintu ditarik hebat dari sisi seberang.

“Mereka memaksa masuk?!” Bale berkata selagi tangannya mulai kesakitan menarik daun pintu tersebut agar tidak terbuka.

“Mereka mencoba- nggghhh… membukanya dulu.” Jelas Kris selagi menahan rasa sakit di bahunya yang terpaksa ikut menahan pintunya. “Jika mereka merasa tidak mampu membukanya, mereka akan meninggalkan kita.”

Mereka dikejutkan hentakan mendadak pada pintu, memaksa mereka menahannya agar tidak terbuka. Ratna mendengar erangan mereka bertiga sehingga akhirnya ikut membantu menarik. Setelah dua sampai tiga hentakan serupa, pintu tidak lagi ditarik.

Suara di balik pintu hening selama beberapa saat. Mereka bertiga ingin melepaskan pegangan mereka, tetapi Ratna berkata pelan, “Mereka semua masih di luar… Semuanya…”

Keempat orang di ruangan tersebut bersiap dengan upaya apa pun yang akan terjadi nantinya. Tiba-tiba, pintu terhentak kembali. Untungnya karena peringatan Ratna, mereka sudah siap akan hal tersebut sehingga mampu menahannya sampai seakan tak bergerak.

Baru akhirnya pintu ditinggalkan sepenuhnya. Begitu Ratna mengonfirmasi mereka semua telah pergi, keempat orang di ruangan tersebut akhirnya bisa bersandar dengan lega. Satu persatu mereka duduk di lantai dan bersandar pada dindingnya. Ruangan kecil mereka gelap, tetapi dari ukuran ruangannya yang samar-samar terlihat, sepertinya mungkin dulunya itu merupakan tempat penyimpanan peralatan kebersihan semata.

Setelah keheningan selama beberapa menit. Kris merupakan yang pertama berkata, “Jadi… kau yang menendang pintu di dekat perbatasan sebelumnya?”

Bale mengangguk. “Ya. Kami terkunci di ruangan pengujian saat terjadi insiden teknis sebelumnya. Listrik ruangan padam, padahal anomali yang kami teliti memerlukan daya untuk sistem penahanannya. Heh, ironis kau tahu? Anomali yang kami teliti adalah konsentrasi awan sentien dan ia memerlukan kipas angin yang memakan daya listrik untuk menetralisirnya.”

“Bale! Jangan terlalu memberi detail penelitian!” Ratna menegur cepat.

“Ah, ya. Louis pernah mengatakan hal serupa.” Balas Bale. “Jadi, intinya kami perlu keluar dari ruangan sebelum… mungkin saja terpanggang hidup-hidup dalam sekali lonjakan jutaan voltage sambaran petir konstan anomali kami. Untungnya kami berhasil keluar dari sana dan setelah membobol sela-sela tangga, kami menemukan pintu tua itu. Aku yang menendangnya terbuka.”

“Jadi bagaimana kalian bisa berakhir di sini, kalau begitu?” Kris kembali bertanya.

“Koridor kalian lumayan gelap bagi kami, kau tahu. Kami awalnya hendak kembali ke depan area penahanan, tetapi kami bertemu seseorang dari kalian.”

“Siapa?” Kris tiba-tiba duduk tegak.

“Seorang kakek tua berjubah gelap. Mungkin merah. Dia berkata dirinya.. Luminity apa lah.” Jawab Bale.

“Luminitas Brethennia!” Tharmin tiba-tiba ikut bicara.

“Tepatnya Luminitas Brethennia Bapa Kriyot, bukan?” Kris menambahkan seraya bertanya kembali.

Bale mengangguk seraya berkata, “Ya, benar!”

“Jadi dia masih hidup saat itu? Apa yang terjadi di sana saat itu?” Tanya Kris.

Bale diam sejenak, mencoba menyusun kata. Akhirnya dia berkata, “Dia… menuntun SCP-041-ID dengan senter dan mencoba menyerangku dan Ratna menggunakannya.”

Tentu saja, perkataannya menimbulkan reaksi keras dari kedua Brethenitas di ruangan. “Tunggu, ulangi lagi?!” Tharmin terkejut mendengarnya. Kris memilih segera mencengkram kerah Bale dan berkata, “Apa?! Jangan main-main, Normalis! Katakan yang sebenarnya!”

“Dia memang benar!” Ratna berkata nyaring, membuat mereka semua terdiam. “Aku memang tidak bisa melihat kejadiannya, tetapi yang saya ingat adalah dia yang membakar seluruh koridor dengan bensin.”

Kris menatap ke arah Ratna – yang jelas tidak dapat menatap balik dari kacamata hitamnya – sebelum menatap kembali ke arah Bale dan berkata, “Bapa Kriyot adalah pasifis! Dia selama ini mencoba mengajarkan akan bagaimana Brethennia dan Yayasan bisa hidup berdampingan tanpa perbatasan. Jadi bagaimana bisa dia melakukan itu semua?!”

“Demi dewi kalian, aku tidak tahu kenapa! Dia mengatakan sesuatu mengenai ‘tidak ada perubahan rencana’ dan semacamnya sebelum menyinari kami di hadapan SCP-041-ID! Bahkan, saat aku menahannya untuk ditanya, dia berkata tugasnya selesai sebelum dia membakar dirinya!” Bale menjawab sebisanya.

Kris diam sejenak mendengarkan itu. Dia tahu Kriyot ditemukan hangus terbakar. Dia juga tahu SCP-041-ID hampir mencapai area perbatasan jika Kriyot tidak menghalangi mereka dengan api. Tetapi sesuatu mengenai Kriyot menyerang mereka dan melakukan pengorbanan tidaklah saling menyambung.

“Kami tidak menemukan senter di lokasi kejadian.” Kris mencoba memberikan fakta mereka.

“Entahlah mengenai itu. Aku sibuk mengamankan Ratna untuk menjauh saat itu. Oh ya, apa kalian tahu dia membawa pelontar api standar Yayasan di punggungnya?”

Kris tertawa sekilas mendengar absurbnya hal tersebut dan berkata, “Oke, jangan main-main! Kami tidak menemukan sentermu dan sekarang kau bilang dia membawa pelontar api juga!?”

Dia sedikit mendorong Bale saat mengatakan itu. Bale dengan cepat membalas, “Iya, dan itu meledak di sampingku! Aku pingsan dan terbangun di ruangan para Fikser itu setelahnya!”

Kali ini Kris tertegun. Dia perlahan memikirkan kronologinya sekali lagi. Menambahkan keterlibatan Fikser, bisa saja mereka di lokasi dan menghilangkan barang bukti di lokasi. Mereka bahkan bisa saja merupakan orang yang menuliskan coretan di dinding.

Tetapi dia kemudian berpikir bagaimana bisa darah di dinding cocok dengan darah Kriyot. Dia juga kini kembali memikirkan mengenai surat Kriyot yang dia temukan sebelumnya.

“Kenapa Fikser hampir mengeksekusi kalian di koridor tadi?” Kris mencoba menanyakan hal tersebut.

“Perintah perempuan yang tadi itu. ‘Simpul longgar’, katanya.” Bale menjawab.

Kris terdiam. Dia tahu perempuan yang melawan mereka tadi bekerja untuk siapa. Dia juga ingat Kriyot merekomendasikan siapa sebagai penggantinya di dewan. Semua terasa mulai menyelaras menjadi sebuah alur kejadian konkret.

“Doktor Tharmin,” Kris berbalik ke arah Tharmin yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka dengan skeptis, tetapi penuh rasa penasaran. “Anda ingat saat saya menceritakan mengenai coretan darah Bapa Kriyot di dinding, kan? Dengan surat yang didapat darinya, Brian bisa menjadi dewan. Dengan terlibatnya Fikser dan tangan kanannya Brian dalam insiden ini, apa menurut anda seluruh kejadian ini adalah hasil campur tangannya?”

Tharmin hanya diam tak mampu membalas apa-apa selain, “…Bunda Brethennia tolonglah kita, kalau begitu…”

“Maaf, tapi konspirasi apa yang tepatnya kami berdua baru saja alami tadi?” Bale berkata selagi mencoba menurunkan pegangan tangan Kris yang masih memegang kerahnya.

Kris melepaskan cengkramannya tadi dan berkata, “Maaf, tetapi kalian mungkin adalah saksi dari rangkaian rencana seseorang untuk menjadi anggota dewan Brethennia.”

“Aku mengharapkan penjelasan darimu, kalau begitu.” Bale berkata seraya merapikan kerah jas labnya. “Kita punya waktu semalaman, kau tahu.”

“Baik, apa… apa kalian tahu sesuatu mengenai faksi dalam Brethennia?” kris memastikan terlebih dahulu.

“Kami mendapat pelajaran singkat mengenai itu dari Si Mochtar tadi di ruangan mereka.” Jawab Bale, mewakilkan Ratna.

Kris melirik ke Tharmin. Akhirnya dia menghela nafas dan mulai bercerita. “Ku asumsikan kalian tahu mengenai dewan Brethennia kalau begitu. Mereka yang mengatur tempat ini. Jadi, ada seorang Brethennia yang lumayan berpengaruh akhir-akhir ini, seseorang dari subfaksi Logistika bermana Brian Chandra. Dia dulunya peneliti senior untuk bidang finansial. Sekarang dia yang berwenang untuk urusan logistik tempat ini.”

Jeda sekilas selagi Kris mencoba menyusun kata. “Brian… dia lumayan kontroversial akhir-akhir ini. Bapa Kriyot sudah lama terkenal mencoba meyakinkan dewan untuk mengakhiri perbatasan teritori dan membiarkan Brethennia keluar dari teritori. Itu dosa bagi Bunda Brethennia, setidaknya menurut tafsiran para pemuka dulu. Brian? Dia lebih ekstrem. Dia menginginkan kita semua kembali menjadi personel Yayasan dan mulai menyelidiki karakteristik sebenarnya dari Bunda Brethennia.”

“Faksi pertama yang pertama mendukungnya adalah para Fikser. Dia sudah lama bekerja bersama mereka untuk urusan logistik, jadi itu tidak mengejutkan.” Kris menoleh ke arah Tharmin. “Dia juga berhasil meyakinkan subfaksi Saintika untuk mencoba meneliti Bunda Brethennia. Dewan bereaksi cepat saat menyadari itu terjadi, dan kalian kena konsekuensinya.”

Tharmin hanya terkekeh. “Dia bilang itu untuk kebaikan Bunda Brethennia, jadi kenapa kami menolaknya? Itu saja sudah dua burung dalam sekali lemparan.”

Kris hanya menggeleng. Dia lalu melanjutkan, “Jadi, tujuan Brian sudah jelas. Dia ingin menjadi anggota dewan. Sayangnya jumlah anggota dewan sampai sekarang hanya lima. Dan semuanya terisi, dua dari Luminitas, dua dari Kontinensia dan satu dari Saintika…” Dia memberi jeda sejenak. “…sampai malam ini.”

“Bapa Kriyot itu, dia anggota dewan yang diperlukannya.” Bale menanggapi.

“Bahkan jika Kriyot meninggal, seharusnya yang menggantikannya adalah Bapa Galih Rangga dari subfaksi Luminitas seperti dirinya. Tetapi kami menemukan coretan darah dari Bapa Kriyot di ruang koridor itu yang mengarahkan kami ke surat wasiatnya, menyatakan bahwa Kriyot ingin yang menggantikannya adalah Brian.”

“Tunggu, jika dia ingin si Brian itu menggantikannya, kenapa tidak langsung saja bilang seperti itu?” Ratna tiba-tiba bertanya.

“Karena dia harus meyakinkan dewan terlebih dahulu.” Kris menjawab. “Dan sejujurnya, Kriyot hanya disukai karena keramahannya saja. Dia… tidaklah terlalu berpengaruh selain karena itu. Pasifis, seperti kataku tadi.”

Bale perlahan menggeleng. “…Tidak jika dia mengorbankan dirinya untuk menghentikan pelanggaran penahanan.” Dia berkata. “Permintaan terakhir seorang pahlawan, orang-orang kalian akan menuntut untuk wasiatnya dilaksanakan. Tuhan, ini membuatku teringat akan Angels & Demons…”

Kris dan Tharmin saling pandang mendengar hal tersebut. “Itu… sangat masuk akal sekarang…” Tharmin berkata pelan. Kris hanya mengangguk, tak sanggup mengatakan apa-apa akan hal tersebut.

Kris lalu mendekati Tharmin dan berkata, “Baik doktor, koreksi saya jika ada teori saya yang salah. Asumsikan Brian mampu meyakinkan Bapa Kriyot, mereka harus melakukan pelanggaran penahanan dulu. Bagaimana caranya?”

“Fikser, seperti kata tuan sebelumnya, bekerja sama dengan Brian kan? Mereka bisa mengaturnya… menghubungkannya dengan aliran listrik koridor Normalis. Itu kenapa lampu koridor bisa nyala.” Tharmin mencoba memberikan teorinya.

“Tetapi Normalis seharusnya tahu mengenai itu, kan?” Kris membalas.

Tharmin hanya mengangkat bahu. Bale menyimak percakapan mereka. Mengetahui Normalis adalah panggilan mereka untuk personel Yayasan, dia merasa perlu menyampaikan sesuatu.

“Aku mencurigai sesuatu yang lain mengenai Bapa Kriyot kalian.” Bale berkata.

Kris dan Tharmin menoleh ke arah Bale dengan tatapan heran dan penasaran. Bale lalu berkata, “Aku sebenarnya tidak dari situs ini sampai setengah tahun lalu. Aku dikirim ke sini sebenarnya untuk satu tugas khusus.”

Bale menatap ke arah mereka, bersiap akan reaksi apa pun. “Ku rasa kalian mungkin masih ingat mengenai Kelompok Dalam Pengawasan. Aku dikirim kesini untuk mencari agen ganda sebuah KDP, dan aku mencurigai Bapa Kriyot itu antara memiliki kontak dengannya, bahkan direkrut oleh mereka.”

“Jadi itu yang kau lakukan tadi…” Ratna dengan pelan menanggapi.

“KDP, sudah lama sejak saya mendengar kata itu.” Tharmin menggumam.

“Ku rasa itu mungkin menjelaskan beberapa hal, tetapi jika kubawa itu ke dewan atau bahkan ke Komandan, itu hanya akan memperumit keadaan. Tetapi itu informasi yang sangat berguna.” Kris akhirnya membalas.

“Tentu.” Bale menerima pujiannya.

Kris merasa tidak ada lagi yang bisa dia jelaskan, jadi dia berkata, “Ku rasa tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain menunggu pukul enam pagi. Kalian berdua akan kuarahkan ke perbatasan nanti sementara aku mencoba membahas hasil pembahasan ini ke Komandan dan – jika Bunda Brethennia merestui – nantinya ke dewan. Untukmu Bale, kami mungkin akan meminta kau ke perbatasan nanti jika testimonimu diperlukan.”

“Terdengar baik untukku. Aku cuma perlu mengamankan Bu Ratna keluar dari sini sebagai prioritas Peneliti Senior.”

“Tentu.”

Mereka pun saling diam, memulai penantian selama satu setengah jam sampai pukul enam pagi. Tentu masing-masing ingin saling bicara satu sama lain, tetapi baik kedua peneliti maupun kedua Brethenitas masih merasa asing satu sama lain. Hanya ada beberapa percakapan singkat antar kedua kelompok.

Kelompok peneliti Yayasan hanya berbicara satu dua pertanyaan mengenai pelanggaran penahanan sebelumnya dan apa yang harus mereka lakukan setelahnya, hanya berhenti setelah Ratna memutuskan untuk istirahat saja sampai jam malam berakhir. Bale dengan paranoianya lebih memilih terjaga sepanjang waktunya. Dia ingin menanyakan beberapa hal, tetapi mengamati kedua personel Brethenitas yang bersamanya sepertinya masih membahas urusan politik mereka.

Kris maupun Tharmin sesekali melirik ke arah kedua personel Yayasan di dekat mereka. Secara hukum para pemuka mereka dulu, Normalis dilarang memasuki area suci Brethennia. Itu adalah topik yang Bapa Kriyot dulu upayakan untuk dihapus. Mereka saling membicarakan teori mengenai kenapa dia melakukannya.

Kris perlahan melepas pelindungnya dan mengamati luka tembak yang didapatnya tadi. Kualitas senapan runduk Yayasan semakin tinggi tiap tahunnya, proyektil tadi jelas menembusnya. Dia bersandar dan mencoba perlahan mengurus lukanya sepelan yang dia bisa. Dia rasa dirinya akan mencoba memejamkan mata, mencoba menghemat tenaga sebisanya untuk malam ini. Besok jelas hari yang sibuk.

Tharmin diam mengamati kedua peneliti Yayasan di dekatnya. Sebenarnya dia ingin bertanya ke para peneliti tersebut akan bagaimana hidup sebagai Normalis, tetapi satu tertidur di lantai sedangkan yang satunya mungkin tertidur selagi bersandar di dinding. Sulit memastikannya dengan masker gasnya, jadi setidaknya dia mencoba untuk tidak mengganggu mereka. Dia sendiri lebih terbiasa tidur di ruang kerja mereka. Setidaknya dia bisa mencoba berbaring sebagai gantinya.

Menit berganti ke jam, pada akhirnya terdengar suara keras alarm. Itu cukup untuk membangunkan Bale mendadak, membuatnya meraih kapaknya dan mengangkatnya segera. Kris terkejut sekilas karenanya sehingga hampir meraih pedangnya juga, tetapi dia lalu mengembuskan nafas dengan tenang dan bertanya, “Aku tidak tahu peneliti seperti kalian membawa senjata.”

“Mereka selalu bilang begitu, tetapi tidak pernah bertanya kenapa.” Bale terkekeh pelan selagi meletakkannya kembali.

Kris perlahan berdiri. Rasa sakitnya masih ada, jelas tidak mungkin hilang dalam semalam. Dia perlu meminta perawatan di ruang Medika. “Jadi, kenapa kau memilikinya? Karena tugas agen gandamu itu?”

“Sebenarnya aku mendapatkannya saat pelanggaran penahanan lantai Euclid, tetapi ternyata ini sangat berguna dalam membuatku tetap hidup sejauh ini.” Bale menjawab seraya ikut berdiri juga.

“Bale… Kau adalah peneliti yang lumayan menarik, kau tahu. Eksentrik, tepatnya. Mungkin kau lebih cocok berada di sini?” Kris berkata dengan nada bercanda.

“Kau tahu? Aku mungkin akan mempertimbangkan itu.” Bale membalas. Tetapi Kris tidaklah akan tahu kalau dia memang serius memikirkan itu.

Dia mengamati Ratna yang terbaring di lantai. Dia memikirkan bagaimana cara membangunkannya. Pada akhirnya dia memilih menyenggol kakinya dan berkata, “Bu Ratna, sudah pukul enam pagi.”

“Tepatnya pukul enam kurang sepuluh menit, mungkin delapan.” Tharmin yang perlahan bangun membenarkan. “Alarm peringatan jam malam dinyalakan sepuluh menit sebelum jam malam dimulai dan berakhir.”

Ratna sepertinya terbangun dari tidurnya dan perlahan meraba lantainya. Dia baru perlahan bangun dan merapikan rambutnya.

“Jadi kita harus menunggu beberapa menit lagi sebelum bisa keluar?” Bale bertanya.

“Tidak,” Kris berkata selagi berjalan menuju pintu keluar. “Kita bisa langsung keluar.”

Dia lalu membuka perlahan pintu yang sebelumnya telah menyelamatkan mereka semua. Masing-masing berjalan keluar dari ruangan, sesekali mengamati gagang pintu yang hancur tersebut.

Di luar ruangan, lampu koridor jelas sudah menyala, meski sangat redup. Obor-obor yang berjejer di dinding koridor masih berkobar. Bale mengasumsikan para Klinser yang mengurus obor tersebut sehingga mampu menyala sepanjang malam.

Mereka menyusuri koridor sunyi Teritori Brethenitas, dengan Kris berada di depan mereka mengarahkan jalan. Tharmin hanya berjalan di belakangnya dengan diam. Dia jelas memikirkan banyak hal, sama halnya dengan Kris, meski orang itu lebih memilih fokus pada tugasnya saat ini menuntun kedua orang peneliti Yayasan yang bersamanya keluar dengan aman.

Mereka mendekati ujung koridor yang hanya mengarah ke kanan. Mereka segera sampai di sebuah koridor panjang lainnya, yang ini sepertinya memiliki beberapa simpang empat di depan sana. Kris sepertinya tahu arah yang benar, jadi dia segera belok kiri begitu mencapai persimpangan koridor pertama.

“Di balik dinding ini adalah ruangan Anomalis.” Tharmin berkata seraya menunjuk dinding kanan koridor yang kini mereka lalui. “Area penahanan, maksudku. Kalian sudah paham mengenai itu, kan?”

Bale mengangguk sebagai jawaban. Dia mengamati sekeliling koridor yang masih sepi minim orang. Biasanya setidaknya ada penjaga berdiri di depan pintu sel. Jelas tidak memungkinkan mengingat adanya jam malam.

“Apa yang terjadi jika terjadi pelanggaran penahanan saat jam malam?” Bale bertanya.

“Itu urusan Klinser. Bahkan jika itu terjadi, kami sebagai Sekuritas tidak diperbolehkan membantu mereka.” Kris yang menjawab. “Aku pernah membicarakan ini dengan komandanku dulu, dan dia bilang setidaknya kita bisa mengawasi keadaan sampai Klinser dinyatakan tidak dapat melaksanakan tugas pembersihannya lagi.”

“Dan Yayasan menyetujui itu?? Ku kira protokol Yayasan mengharuskan pelanggaran penahanan diatasi semaksimal mungkin?” Ratna tiba-tiba menyela.

“Kalian berdua tahu kalau kalian tengah berada di sebuah ruang penahanan itu sendiri, bukan?” Kris membalas. Ratna sepertinya tidak dapat membalas itu. “Tenang saja, kami punya pengalaman kerja 20 tahun, setidaknya. Heh.” Kris melanjutkan.

“Jadi anomali di sini… ku asumsikan semuanya Keter, bukan?” Bale kembali bertanya.

“Ya, contohnya seperti Resepsi Abadi. Kami juga punya tambahan Anomalis baru setengah tahun lalu, Pemanen Raya.” Tharmin kini menjawab.

“Huh,” Bale tertarik mendengarnya. “Apa mereka adalah orang-orangan sawah?”

Kris mengangguk. “Ya! Dulu kami Angelika yang mengurusnya. Mereka tidaklah terlalu bisa melukai zirah besi kami, meski ada beberapa bagian yang tak terlindungi. Tetapi setelah prosedur penahanannya diganti menjadi menggunakan pelontar api, bahkan Sekuritas biasa bisa melakukannya.”

“Yah, itu penelitianku. Maksudku penelitian Peneliti Senior Louis, tetapi teknisnya aku yang melakukan penelitiannya.” Bale berkata, jelas ada nada bangga padanya.

“Nahh, tidak. Christ peneliti yang jauh lebih kompeten dari pekerja kasar sepertimu.” Ratna berkata di belakang.

“Maksudku, aku yang mengetiknya, aku yang ke lapangan- tidak, mencari lapangan untuk pengujiannya lalu mengujinya, dan aku yang mengusulkan pelontar api itu. Louis awalnya memakai herbisida. Jadi ya, itu penelitianku. Aku juga kompeten dalam urusan ini, kau tahu.” Bale membantahnya.

Ratna hanya terkekeh. “Yah, jika kau kompeten, kau yang memimpin penelitian dan menugaskan orang untuk itu. Yang kau sebutkan tadi hanya menekankan bahwa kau hanya asisten peneliti semata.”

Bale termenung memikirkan itu. Dia ingin menyangkal, tetapi dia memanglah lebih nyaman sebagai asisten peneliti. Dia setidaknya bisa menyalahkan atasannya jika terjadi kesalahan. Dia tahu dirinya hanya setengah tahun bekerja untuk Yayasan. Dia memang berasal dari organisasi pengurus anomali, tetapi ideologi mereka bak dua arah mata angin berbeda. Solusi penahanan SCP-012-ID dia dapatkan karena cara berpikirnya untuk menghancurkan.

Lagi pula, meskipun dia menyukai bekerja untuk Yayasan, dia tidak benar-benar merencakaan bekerja bersama mereka selamanya. Bahkan itu jika dia bisa tetap hidup sampai akhir kontraknya dan jika mereka mengizinkannya bekerja bersama mereka. Dia punya tujuan di luar sana, jadi dia tidak bisa terkurung di dalam sublantai bangunan dingin ini selamanya.

“Kau dulu berteman dengan Louis?” Bale melambatkan langkahnya dan berjalan sejajar dengan Ratna. “Kau memanggilnya dengan nama depannya. Dia tidak menyukai sembarang orang melakukannya.”

Ratna diam. Dia tidak menjawab itu. Bale mengamatinya dengan penasaran selagi mencoba mengingat percakapannya dengan Ratna di ruang pengujian sebelumnya. “Kau juga bilang kau kenal dengannya sebelum dipindahtugaskan ke situs lain. Kau bilang dia waras.”

“Tentu saja!” Ratna tiba-tiba berkata dengan kesal. Tharmin menoleh ke belakang, menunjukkan ekspresi heran. Bale mengisyaratkan dia untuk tidak memedulikan mereka saat ini. Tharmin sepertinya mengerti dengan dirinya mengangguk dan mendekati Kris.

“Dia hanya… dia…” Ratna mencoba berkata, tetapi dia sendiri terlihat bingung. “Dengar, apa pun yang dia lakukan sekarang ini, dia punya alasannya.”

“Oh, andai aku mendapat 500 perak setiap mendengarnya.” Bale terkekeh. “Semua biaya, semua rencana, semua upaya, hanya untuk balas dendam semata. Dia selalu mengulang alasannya dalam naratif grandiosenya sebelum dan sesudah membuat rencana. Semua untuk istrinya, katanya.”

“Yah…” Ratna menanggapi pelan. Sayangnya Bale tidak bisa melihat ekspresinya karena kacamata hitamnya. Dia memutuskan tidak ada lagi yang bisa dibicarakan sehingga dia perlahan berjalan kembali ke depan.

“…Idiot…”

Mereka berjalan menyusuri koridor tersebut saling diam. Di kejauhan, terdapat dua personel berbaju zirah besi berjalan mendekati mereka.

“Siapa mereka?” Bale bertanya.

“Sekuritas. Shift pagi dimulai setelah pukul enam untuk melihat apakah Klinser menyelesaikan tugas mereka dan sebagainya.“ Kris menjelaskan.

“Huh, itu membuatku teringat sesuatu, kau menyebut dirimu Angelika, bukan? Apa itu berbeda dengan Sekuritas biasa?” Bale kembali bertanya.

“Angelika adalah semacam tim yang terdiri dari Sekuritas terbaik yang diakui dewan. Terdiri dari lima orang termasuk diriku.” Kris menjawab, kali ini sedikit bangga akan itu.

Kedua orang Sekuritas tadi sepertinya sudah menyadari adanya orang di depan mereka. Tetapi mereka kemudian saling menunjuk ke arah depan. Mereka kemudian segera berlari mendekat.

“Pasti perlu sesuatu…” Kris menggumam selagi mempercepat langkahnya.

“Untuk Bunda Brethennia!” Salah satu berteriak nyaring.

Dan dengan teriakan tak wajar itu, Kris bereaksi cepat dengan meraih pedangnya dan segera bersiap akan apa pun yang akan mereka lakukan. Salah satu Sekuritas menahan pedang tersebut dengan batonnya, sedangkan seorang Sekuritas lain berlari melalui mereka, tepat ke arah Bale.

Bale yang menyadari bahaya tersebut segera mengeluarkan kapaknya dan menahan baton tersebut. Sayangnya baton bukan lawan yang baik bagi kapak karena dengan cepat Sekuritas tersebut menarik kembali batonnya dan memukul minggir kapak Bale. Dan dengan sekali putaran gagangnya, dia menghantamkan ujung baton ke dagu Bale.

Dia terlindungi masker gasnya yang sebagian besar menerima hantamannya kembali, tetapi rasa sakitnya tetap ada. Sekuritas tersebut awalnya ingin mengayunkan batonnya ke arah Ratna yang hanya bisa mengambil posisi bertahan dengan tongkatnya, tetapi tiba-tiba, dia mendengar suara tembakan dan saat dia berbalik untuk melihat, dia menerima hantaman gagang pedang di helmnya.

Kris mengait kakinya dan menghantam helmnya sekali lagi dengan kedua tangannya memegang pedang sampai Sekuritas tersebut jatuh. Awalnya dia ingin segera berdiri, tetapi dia dapat melihat dari celah helmnya bahwa Kris menodongkan handgun ke kepalanya.

Dia terkekeh. “Sekarang semuanya masuk akal…”

“Aku Baneret Kris, apa yang tengah kau dan rekanmu itu lakukan tadi?!” Kris bertanya selagi mendekatkan pistolnya ke samping badannya, salah satu bagian rompi besi mereka yang tidak terlindungi.

“Kau… Kau tak pantas jadi Baneret! Kau bukan Angelika! Kau telah teperdaya! Kenapa kau melindungi pembunuh Bapa Kriyot?!” Dia berkata dengan tiap pernyataannya tak terkendali.

“Apa yang kau bicarakan?! Jelaskan semuanya!” Kris menekankan pertanyaannya.

“Si Setan Bertopeng itu, mereka bilang dia yang membunuh Bapa Kriyot! Membakarnya!” Sekuritas tersebut mulai meronta.

BANG

Kris menembaknya seketika. Sekuritas tersebut mengerang kesakitan. Perlahan gerakannya melambat. Kris lalu mencoba melepaskan helm Sekuritas tersebut. Di baliknya merupakan seorang pria berambut gondrong tak terawat. Dia menatap Kris dengan senyum berdarah, tatapan penuh kebencian.

“Bunda Brethennia akan menghukum kalian semua!” Dia berkata dengan nyaring. “Si Setan Bertopeng ada di sini! Dia-“

Kris menembaknya di kepala, mengakhiri teriakannya. Perlahan dia berdiri, menatap ke arah Bale yang sama bingungnya akan apa yang mereka lihat.

Kris memutuskan menjadi yang pertama bertanya untuk itu.

“Apa… yang tengah terjadi?”


Seorang perempuan berseragam putih kusam khas personel keamanan tengah berjalan menyusuri koridor yang mulai diterangi cahaya artifisial. Dia akhirnya sampai di depan sebuah pintu ganda. Tanpa kanannya membuka salah satu daun pintu tersebut sedangkan tangan kirinya masih memegang sabuk yang menahan senjatanya yang kini terbungkus kain putih.

Dia memasuki sebuah ruangan yang kini terisi empat sampai lima orang berseragam kemeja putih, sama kusamnya seperti dirinya. Di sekitar ruangan terdiri dari beragam kotak berisi beragam suplai untuk area penahanan yang juga merupakan perumahan abadi mereka. Terdapat juga beragam meja kerja tempat beberapa personel di sana tengah bekerja. Tiap subfaksi hanya memiliki satu ruangan besar untuk tempat mereka bekerja.

Perempuan tersebut berjalan terus tanpa memedulikan aktivitas pagi tiap personel di ruangan tersebut. Dia berjalan lurus ke arah sebuah pintu di ujung ruangan dan membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang lebih kecil, berfungsi sebagai kantor.

“Jadi, kau gagal, Lian.”

Seorang pria gendut mengenakan kemeja dengan jas hitam kusam duduk di balik meja besar di ujung ruangan. Dia menatap perempuan tersebut dari balik kacamata bacanya dengan ekspresi tak puas.

Terdapat plakat di meja tempatnya menyandarkan tangannya selagi bertopang dagu. Sebuah lilin menerangi dengan samar tulisan yang tertera padanya.

Brian Chandra
Kepala Logistika

“Dia punya sayap, seperti yang ku katakan. Sayap kanan, malah.” Perempuan tersebut membalas. Dia melepas sabuk senjatanya dan meletakannya di samping sebuah sofa di ruangan. Dia lalu duduk di sofa tersebut seraya merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel darinya sebelum meletakannya di meja. Ponsel yang dia dapat dari Mochtar di ruang aman mereka tadi. “Jadi beritanya sudah tersebar?”

“Ya.” Pria tersebut membalas. Dia segera berdiri dari kursinya dan melanjutkan, “Untungnya dengan telepon cepat darimu, aku bisa membalik naratifnya segera begitu jam malam selesai.”

“Menurutmu satu teritori akan setuju untuk membantumu?” Lian bertanya dengan tidak yakin.

“Lian, ini bulan Desember. Bahkan para Normalis di luar sana merasa bersemangat akan bulan spesial ini. Para fanatik itu akan merasa sedikit lebih dekat dengan dewi mereka, siap melakukan apa saja demi restunya. Jadi jika kuberikan kesempatan membalaskan kematian Bapa Kriyot, ku berikan sesuatu untuk dibenci bernama Si ’Setan Bertopeng’ itu, sesuatu untuk menyatukan mereka dalam satu tujuan, tentu pada akhirnya mereka akan menjadikanku ketua dewan, bukan?”

“Tapi kau serius? Satu miliar untuk membawanya hidup-hidup?” Lian bertanya selagi mulai berbaring di sofa tua tersebut. “Bukannya itu terlalu… berlebihan, Tuan Brian?”

“Itulah kenapa aku ingin kau yang menangkapnya duluan, Lian.” Brian berkata selagi menunjuknya. “Aku tidak masalah mengeluarkan simpanan gajiku mengingat aku sendiri tidak bisa menghabiskannya di luar sana, tetapi aku ingin sedikit kontrol dalam naratifnya nanti. Setelah kau selesai bermalas-masalan, segera cari mereka dan bawa kepadaku! Aku sendiri akan menemui para dewan pagi ini untuk mengambil hak milikku.”

“Heh, apa aku yang dapat bayarannya?” Lian terkekeh.

“Lian, kau tahu kenapa aku perlu dia, kan? Berbeda dengan fanatik di luar sana, kau tahu kenapa aku melakukan ini. Kau tahu tujuan kita apa.” Brian membalas.

“Kau tahu aku tidak bekerja menjadi sekretarismu tanpa bayaran juga, kan?” Bantah Lian.

Brian sepertinya menyerah. Dia berbalik dan berkata, “Baik, kau mau apa sebagai hadiahnya? Selain uang, tentu saja. Gajimu perbulan sudah setara gaji peneliti senior Yayasan, kau tahu itu.”

“Makanan luar untuk seminggu.” Lian dengan cepat menjawab, “Dan harus dari restoran favoritku itu.”

“人生, bukan? Tentu. Aku sangat merindukan kita makan langsung di tempat seperti dulu…” Brian mengiyakan. Tetapi dia terdiam setelah itu. Lian yang menyadarinya perlahan bangun dan bertanya, “Ada apa, Tuan?”

“Jika aku pada akhirnya sukses menjadi ketua dewan… jika rencana panjang kita selama ini sukses, kita akan bebas. Kita akan meninggalkan penahanan terkutuk ini dan kembali menjadi peneliti bermartabat Yayasan. Sudah waktunya kita mengakhiri teokrasi gila patung itu.” Brian berkata tanpa berbalik.

Lian diam mendengarnya. Dia perlahan bangun dari sofa dan meraih senapannya. “Untuk makan langsung di restoran.” Dia berkata dengan senyum licik.

“Semoga Yayasan merestui kita.” Brian berbalik dengan senyum yang sama.

Kronik Situs-79

Bab 7: Perburuan Penyihir(1)
« …Dihargailah Mereka, Para Fikser… | …Disucikanlah Mereka, Para Klinser… | …Diberkatilah Mereka, Brethennia… »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License