Koridor situs Yayasan pada umumnya terlihat serupa; lorong panjang berwarna putih pucat dengan penerangan dua puluh empat jam tiap hari sampai listrik situs mati. Tetapi berbeda dengan Teritori Brethenitas, lampu hanya dinyalakan setengah hari mengikuti perputaran matahari di luar sana.
Seluruh Teritori Brethenitas berbeda dibanding sisa situsnya. Tempat itu sudah dianggap terpisah dari situsnya sendiri. Setelah anomali besar berdesignasi SCP-090-ID menjadikan separuh personel di lantai Keter sebagai hambanya, mereka mendeklarasikan diri sebagai sebuah kultus bernama Brethenitas. Subjek loyal Sang Bunda Brethennia.
Para petinggi Yayasan di situs pusat awalnya ingin menembak mati saja mereka semua atas pengkhianatan terhadap Yayasan, tetapi setelah bujukan dari sejumlah besar pekerja situs tersebut, mereka berhasil meyakinkan separuh Komite Etnik dan bahkan membujuk satu atau dua pemimpin tertinggi O5 untuk setidaknya mempertimbangkan upaya negosiasi.
Dan pada akhirnya disetujuilah perjanjian yang menciptakan apa yang disebut Teritori Brethenitas. Separuh Lantai Keter situs dihuni oleh pengikut kultus Bunda Brethennia. Syarat eksistensi mereka sederhana: loyalitas tertinggi hanya untuk Yayasan. Itu artinya mereka tetap mengikuti PPK mereka sendiri dan anomali yang disimpan di teritori mereka. Itu artinya peraturan Yayasan tetaplah sebagian besar peraturan mereka.
Dan itu artinya, teritori mereka tidak luput dari upaya pelanggaran penahanan juga.
Sekumpulan personel tengah berkumpul di tengah koridor gelap yang merupakan akses masuk Teritori Brethenitas. Sebagian terdiri dari personel keamanan standar Yayasan. Sebagian lain, meski juga memakai seragam putih meski sangat kusam, tidak hanya terlapisi oleh rompi standar, tetapi juga dilapisi lempengan besi bak baju zirah. Visor kuning mereka kini digantikan pelindung besi bak helm besi kesatria. Angka 79 terukir di pelindung besi di bahu mereka, sedangkan sebuah logo terukir di pelindung dada mereka. Sebuah logo berbentuk salib, tetapi kurang satu garis di sisi kanannya. Terdapat lingkaran di tengah salib itu sebagai pengganti kekurangannya.
Simbol yang diyakini para pemuka mereka melambangkan sang dewi mereka.
Para personel itu saling berbicara kepada satu sama lainnya, tetapi seperti ada pembatas di antara mereka. Personel Yayasan merasa tidak perlu memasuki teritori lebih jauh, sedangkan Brethenitas memang tidaklah mengizinkan mereka masuk kalau bukan untuk kepentingan Yayasan.
Tetapi kemudian terdengar suara langkah dari kejauhan. Personel Yayasan merupakan yang pertama menyadari adanya beberapa personel Brethenitas mendekat dari kegelapan koridor, hanya bermodalkan obor sebagai penerangan.
Personel Brethenitas pertama yang melirik ke belakang terkejut dan reflek berkata, “Oh, Rangka Brethennia…” Para personel Brethenitas lain segera melirik ke belakang dan dengan cepat berjejer menepi ke dinding.
“Siapa? Lebih banyak Sekuritas?” Salah satu personel Yayasan bertanya, sepertinya tertarik setelah melihat mereka terkejut seperti itu. Dia mengamati personel yang datang tidak jauh berbeda dari orang Brethenitas di depan mereka.
“Mereka Angelika, kumpulan Sekuritas Brethennia terbaik yang diakui dewan.” Balas personel Brethenitas tersebut.
“Ah, sama seperti Luminitas tadi, ya.” Personel keamanan tadi mengangguk mengerti. “Bagaimana kalian bisa mengenalinya dari kejauhan? Bahkan dengan obor pun tempat ini cukup gelap sampai kalian semua terlihat sama saja.”
“Ornamen keemasan di pelindung mereka. Kau lihat helm mereka itu?” Jawabnya seraya menganggukkan kepalanya ke arah mereka. “Tetapi sejujurnya, kami sudah mampu mengenali mereka melalui firasat semata saat melihat mereka berjalan.”
Akhirnya personel Brethenitas yang baru datang tadi sudah cukup dekat sehingga personel tadi bisa melihat semua aksesoris tambahan yang disinggung tadi pada mereka. Personel Angelika Brethennia terdepan melepaskan helmnya, menunjukkan bahwa dia merupakan seorang perempuan dengan rambut panjangnya terikat menjadi ponytail. Dia perlahan mendekati para personel Brethenitas tadi.
“Jadi apa temuan kalian?” Dia berkata kepada mereka, tatapannya mengarah ke kumpulan personel Sekuritas.
“Titik api berakhir di koridor ini, tetapi jerigen yang digunakan untuk bensinnya ditemukan di ruang penyimpanan sana.” Personel Sekuritas yang ditanya menjawab seraya menunjuk ke pintu di dekat pos pembatas, baru-baru ini tidak memiliki daun pintunya.
“Aneh mengetahui pintu itu didobrak paksa meski kata kalian Luminitas diberkati kunci tiap ruangan di teritori kalian.” Salah satu personel keamanan menambahkan.
“Begitu ya…” Personel Angelika tadi mengamati area yang ditunjuk personel mereka. Selagi dia berpikir, salah satu personel Angelika lain di belakangnya mendekati mereka dan berkata, “Maaf Komandan, meski mereka telah membantu di sisi mereka, apakah para Heretika ini boleh masuk ke Teritori Brethen sejauh ini?”
“Heretika? Kalian memanggil kami heretik sementara kalian jelas-jelas merupakan kultus anomali?” Salah satu personel keamanan merespon duluan, kesal mendengarnya.
“Baneret Starla! Demi menjalankan keinginan Bunda Brethennia dengan lancar, gunakan designasi faksi!” Si Angelika tadi yang merupakan ketua mereka menegur. Dia menoleh ke arah para personel keamanan Yayasan dan berkata, “Maaf atas perlakuan tidak sopan anggota kami, dia… sedikit tegang dengan meninggalnya Bapa Kriyot. Semoga Bunda Brethennia mengampuni kita semua.”
“Nah, tidak apa. Sejujurnya beberapa dari kami tidaklah terlalu ramah juga seperti orang ini, heh.” Salah satu personel keamanan membalas selagi menepuk depan rompi penjaga yang kesal tadi dengan punggung tangannya.
“Fucking Malacoda…” Penjaga satunya menggumam pelan. “Kita kembali saja ke ruang pengujian. Mereka seharusnya sudah selesai memindahkan semua mayat terpanggang di ruangan tadi.”
“Yah, ku rasa kami sudah membantu sebanyak yang kami bisa. Semoga beruntung dengan penyelidikan di sisimu.”
Dan dengan itu para personel keamanan Yayasan berjalan pergi ke ujung koridor. Salah satu di antara mereka melirik ke arah pintu yang terbuka tadi. Mereka tadinya mengaku kepada pihak Brethenitas kalau mereka tidak tahu siapa yang mendobrak pintu itu. Mereka sebenarnya tahu kalau dua orang peneliti hilang dari ruang pengujian yang mungkin melakukannya. Entah bagaimana kedua orang itu bisa menyusup ke bawah tangga besi yang berjejer rapat itu, tetapi mereka berhasil keluar.
Masalahnya adalah tidak ada yang tahu mereka ke mana. Mereka cuma bilang dua orang peneliti itu lari ke koridor mereka sebagai alibi. Personel keamanan Brethenitas – Sekuritas – tidaklah melihat kedua orang itu meski seharusnya ada yang berjaga di perbatasan mereka. Jadi kecuali semacam anomali memindah mereka ke suatu tempat, kemungkinan besar mereka diculik oleh salah satu faksi mereka.
Kepala Keamanan Herria menjamin setidaknya faksi Sekuritas Brethennia memiliki moralitas dan kejujuran tinggi, meski fanatismenya sama. Jadi mereka hanya bisa berharap orang-orang itu mampu menemukan mereka. Herria sebelum investigasi mengatakan bahwa setidaknya salah satu di antara mereka memiliki prioritas tinggi untuk diselamatkan.
Sementara itu, mereka memutuskan untuk kembali ke kesibukan awal mereka, yaitu investigasi bagaimana bisa terjadi lepas kendali sebelumnya. Mereka satu persatu melewati pos pembatas koridor dan berjalan kembali ke area penahanan.
Salah satu personel di belakang rombongan menoleh ke arah pos pembatas kosong tersebut. Personel yang ditugaskan di sana sayangnya meninggalkan posnya tadi untuk mengurus pelanggaran penahanan di teritori mereka. Setelah melewatinya, dia melirik ke atas, ke langit langit koridor.
Terukir sebuah kata,
'Cocytus'.
Sudah lama ada di sana.
“Jadi apa kemungkinannya menurutmu, Baneret?” Salah satu personel Angelika bertanya. Kini koridor hanya diisi tiga orang personel Angelika termasuk dirinya. Investigasi di koridor tersebut diambil alih oleh mereka sepenuhnya, dengan sisa Sekuritas tadi dimintanya meninggalkan lokasi.
“Darah di dinding kanan masih dalam analisis Saintika, tetapi siapa lagi yang menulisnya kalau bukan Bapa Kriyot?” Personel Angelika yang ditanya membalas selagi mengangkat bahu. Begitu para personel Sekuritas pergi, dia melepas helmnya dan mengikat talinya di pinggangnya. Menunjukkan dia juga perempuan yang memiliki berambut hitam pendek. Personel Angelika ketiga tidaklah melepas helm berlapis besinya.
Mereka semua menatap ke coretan darah yang terpampang di dinding, sebuah kalimat yang bertuliskan,
‘Aku menghentikan mereka. Cari wasiatku di kamar.’
“Tetap saja… Dia memiliki kunci ruangan di sana itu, tetapi dia memilih menghancurkan pintunya. Aku cuma merasa itu tidaklah wajar…” Yang bertanya tadi berkata pelan seraya perlahan mendekat untuk mengamati darah yang sudah mengering itu.
Perlahan terdengar suara langkah kaki berat mendekat. Dua orang personel Angelika melirik ke samping mereka. Dua orang dengan seragam serupa perlahan mendekat, dengan yang satu lebih tinggi beberapa puluh centimeter dari yang satunya.
“Kau menemukannya, Kris?” Salah satu di antara mereka – yang melepas helmnya tadi – bertanya.
Personel yang lebih tinggi meraih sesuatu dari belakang pelindungnya, dia menunjukkan sebuah kertas yang sepertinya terlipat-lipat sebelumnya. “Ya. Dia memang memilikinya.”
Personel Angelika yang mengamati dinding tadi menoleh ke arah personel lain yang baru datang dan berkata, “Syukurlah. Jadi apa isinya, Baneret Kris?”
Kris berhenti setelah dirinya cukup dekat dengan mereka. Dia ikut melepas helmnya, menunjukkan rambut hitam cepaknya beserta beberapa bekas luka gores di dahi kanannya. Akhirnya dia mengamati lembaran kertas yang dibawanya dan berkata, “Komandan Sarah, Bapa Kriyot mengusulkan… Brian Chandra untuk menggantikannya di dewan.”
Perkataannya ditanggapi dengan ekspresi tidak percaya salah satu Angelika. “Kakek tua itu serius?! Dia? Wildan, kau percaya itu?”
“Aku sudah mengatakan hal serupa di ruangannya tadi, Starla.” Pria di samping Kris yang dipanggil Wildan hanya menggeleng. “Sepertinya ideologi mereka memang teknisnya sama.”
“Memang benar adanya kalau dia sudah lama memberikan ceramah di depan perbatasan. Akan bagaimana – meski berbeda – Heretika itu juga tetap anak Bunda Brethennia. Tetapi itu jelas berbeda dengan proposal Brian yang meminta kita meninggalkan ajaran Bunda Brethennia sepenuhnya, kan?” Starla membantahnya.
“Menurutmu pelanggaran penahanan Resepsi Abadi merupakan azabnya Bunda Brethennia? Apa ia tidaklah memberkati perbuatannya dan meminta Sang Bapa menebus dosanya dengan cara membakar dirinya?” Kris berkata tiba-tiba.
“Baneret Kris! Kau tahu Bunda Brethennia tidaklah sekejam itu! Dia mengampuni semua bahkan Normalis dan Anomalis sekalipun.” Sang komandan menegurnya segera.
“Maaf, Komandan Sarah.” Kris hanya membalas. Meski begitu, dia tidaklah mencoba menarik kalimatnya tadi.
“Baiklah, sepertinya kita harus menyerahkan itu semua kepada dewan besok. Sudah hampir pukul tiga, jadi ambil sisa barang bukti yang ada dan kumpulkan di ruangan.” Sarah berkata. Semua personel Angelika lain berseru mengiyakan sebelum segera bekerja. Kris dan Starla kembali mengenakan helmnya.
Tetapi Kris hanya diam mengamati personel Angelika lain meninggalkan mereka. Dia menoleh ke arah ketuanya dan berkata, “Menurutmu kenapa Bunda Brethennia melarang kita setidaknya memasang kamera, Sarah?”
Sarah hanya menatapnya dengan heran. “Ketidaksucian Normalis, ingat? Para Luminitas pertama telah menetapkan itu sejak para faksi dibentuk. Bukannya kau tidaklah memedulikan itu dulu?”
Kris terkekeh dari balik helm besinya. Itu membuatnya teringat samar-samar akan alasan CCTV dilarang di seluruh teritori.
“Aku mengingatnya kok. Bunda Brethennia membakar habis kamera CCTV di ruangannya, dan para pemuka menafsirkan pelarangan itu karenanya. Aku hanya tidak merindukannya dulu karena dahulu Sekuritas hanyalah faksi berisi kumpulan Personel dan Agen Yayasan yang menjadi pengikut Bunda Brethennia. Aku tidak mengira kita pada akhrinya sampai pada titik di mana harus melakukan investigasi kematian seseorang sepenting dia. Jadi ya, aku merindukan kamera CCTV sekarang.”
“Sejujurnya, rekaman setidaknya bisa memberikan kepastian akan kebenarannya.” Sarah membalas pelan. “Apa menurutmu Bapa Kriyot benar-benar memilih Brian untuk mengisi kursi dewan?”
“Tulisan di suratnya tadi sudah kupastikan memang benar merupakan tulisan tangannya. Apa… apa mungkin dia dipaksa untuk menuliskannya?” Kris mencoba menebak.
“….Itu memungkinkan. Sebaiknya kita amati saja reaksi Brian akan keadaan ini besok.”
“Aku tahu salah satu faksi yang harus diamati juga, kalau begitu.” Kris tiba-tiba berkata.
“Fikser Brethennia, bukan?” Tebak Sarah. “Kau dan Baneret Starla akhir-akhir ini mencurigai mereka.”
“Kami mengamati siapa yang kalian sebut sebagai sekretaris Brian seringkali terlihat di sekitar ruangan mereka malam-malam. Dia dulu temanmu kan, Komandan?”
Sarah tidak membalas. Dia diam mengamati coretan di dinding kembali. Kris kembali melanjutkan dengan berkata, “Maaf mengenai itu.”
Sarah mengibaskan tangannya dan membalas, “Tidak perlu dipikirkan. Kau dan Baneret Starla bisa menginvestigasi mereka besok. Prioritas kita saat ini adalah mencari dua peneliti Normalis yang hilang tadi. Aku punya firasat mereka pasti tahu sesuatu mengenai kematian Bapa Kriyot.”
“Itu… itu artinya kita harus mencari mereka duluan sebelum disapu bersih Klinser nanti.” Kris menanggapi.
Sarah mengembuskan nafas pasrah. “Kita lakukan yang kita bisa, jika jam pembersihan sudah tiba, kita hentikan pencarian.”
“Meski kau sendiri bilang kalau kedua peneliti hilang itu bisa saja mengungkapkan kebenarannya?” Kris memprotes.
Sarah hanya menggeleng. “Jika kematian mereka adalah keinginan Bunda Brethennia, tidak ada yang bisa kita lakukan.”
Kris diam mendengarnya. Akhirnya dia berkata, “Aku duluan ke ruang Brethennia, kalau begitu.”
Sarah mengangguk dan mengamatinya segera bergegas pergi. Dia berbalik dan menatap coretan darah di dinding dan meraba dindingnya. Darah yang menodainya itu akan dibersihkan besok beserta seluruh kekacauan di koridor ini, tetapi mereka sudah memiliki fotonya. Dia bersyukur Bunda Brethennia pengertian sehingga memperbolehkan mereka menggunakan alat elektronik jika itu untuk keberhasilan mereka dalam menjalankan perintahnya.
Tetap saja, dirinya merasa ada yang salah dalam seluruh kejadian ini. Dia berharap apapun yang akan terjadi nantinya, Bunda Brethennia merestuinya untuk terjadi.
Dia pun beranjak pergi juga.
“Uhhh…”
Seorang pria mengerang selagi perlahan memegangi kepalanya. Sejujurnya dia mulai merasa kalau rasa sakitnya berasal dari punggungnya juga.
“Ah,”
Terdengar suara dari kejauhan. Pria tersebut tersentak menyadarinya dan segera mencoba bangun. Dia menyadari dirinya tengah terbaring di sebuah sofa usang berwarna abu-abu gelap.
Dia mengamati ruangan tempatnya berada hanya disinari cahaya jingga redup dari beberapa petromak, setidaknya membuatnya bisa melihat detail kecil di ruangan seperti serangkaian pipa yang menghiasi dinding kusam tempatnya berada.
Awalnya Bale juga mulai menyadari akan adanya beberapa orang di ruangan yang mulai mendekatinya, tetapi Bale terlebih dahulu menyadari kalau penglihatannya lebih baik dari biasanya, baru dia mengetahui kalau dia tidaklah lagi memakai masker gasnya.
Dengan cepat dia segera mengamati sekelilingnya dan mendapati masker gasnya di lantai dekat sofanya. Dia segera mengenakannya dan bernafas sebanyak mungkin. Setidaknya sampai dia merasa tenang kembali.
“Itu mengejutkan, kau perlu itu?”
Bale melirik dari kaca masker gasnya, dia melihat yang berbicara merupakan seorang pria paruh baya brewokan yang mengenakan seragam biru gelap teknisi, jelas terlihat kusam termakan usia. Tetapi Bale lebih fokus pada caranya bernafas, seakan ingin mengonfirmasi sesuatu.
Akhirnya setelah dirinya sudah yakin dan siap, dia menurunkan masker gasnya dan berkata, “Jaga-jaga. Jadi, siapa kalian ini?”
Dia tahu mereka teknisi Yayasan, tetapi dia juga perlahan ingat kalau dia baru saja kena ledakan di koridor perbatasan Teritori Brethenitas. Dia bisa mengasumsikan orang-orang ini menemukannya dan membawanya ke ruang istirahat mereka. Membuatnya kembali teringat akan pengalaman pahitnya dengan teknisi.
“Kau peneliti Yayasan, bukan? Teknisnya kami semua SCP-090-ID-1 bagimu kalau begitu.” Pria tersebut berkata. Tidak dengan nada ketidaksukaan, tetapi malah dengan nada bercanda.
“Ah, memang. Tetapi kalian menyelamatkanku, jadi apa salahnya mencoba mengenalkan diri. Sayangnya aku diminta memakai kode nama di situs ini, tapi kalian bisa memanggilku Bale. Peneliti biasa.” Bale berkata selagi menyodorkan tangannya.
Pria itu menatapnya selama beberapa saat sebelum mengangkat bahu dan menjabat tangannya. “Mochtar, Kepala Fi… Ah, aku ingin menyebut asal faksi, tetapi kau mungkin tak paham itu. Tapi kau mungkin mengenali seragam teknisi kami, jadi anggap saja kami… Teknisi Brethennia”
“Menarik…” Bale menanggapi selagi dia mengamati sekelilingnya. Tempat ini lumayan terisi personel dengan seragam serupa, tetapi yang terpenting bagi Bale adalah setidaknya banyak orang di sini. Itu membuatnya merasa aman untuk melepaskan masker gasnya untuk saat ini dan mulai bernafas.
Tetapi Bale menyadari adanya seseorang di samping sofanya yang tidak mengenakan seragam teknisi. Dia merupakan seorang perempuan dengan jas lab, duduk bersandar di dinding ruangan. Bale terkejut begitu menyadari dia siapa.
“Bu Ratna?” Bale berkata segera selagi berjalan ke arahnya.
“Ah, tunggu. Dia masih belum sadar.” Mochtar segera menahan bahunya.
“Huh, dia juga pingsan tadi?” Bale bertanya heran selagi mengamatinya. Ratna sepertinya memang tidak sadarkan diri.
“Ya, untungnya suara ledakan yang kalian buat membuat kami menyadari keberadaan kalian.” Jawab Mochtar.
Itu membuat Bale teringat kembali akan seluruh kejadian yang baru saja terjadi sebelumnya. “Jadi, apa yang kalian ketahui mengenai pelanggaran penahanan di Teritori Brethenitas tadi?”
“Lampu koridor di seluruh tempat ini tiba-tiba menyala terang meski sudah memasuki jam malam. Kami jelas dipanggil untuk menyelidikinya segera, tetapi orang-orang Yayasan memilih memadamkan lampu seluruh Brethennia. Tindakan yang tepat, karena Sang Resepsi Abadi – di sini kami memakai panggilan dibanding designasi – dilaporkan keluar dari penjaranya. Ku dengar para Sekuritas- Ehm, personel keamanan Brethennia dikerahkan untuk itu, jadi kami tidaklah tahu bagaimana nasibnya.” Terangnya.
“Tetapi kemudian salah satu diantara kami yang tengah mengecek lampu mendengar suara ledakan di kejauhan dan menemukan kalian. Itu yang terjadi sebelumnya." Mochtar mengakhiri penjelasannya.
“Penyebab ledakan itu, kami bertemu dengan seorang pria tua di tengah koridor saat pelanggaran penahanan itu terjadi. Dia mengatasnamakan dirinya sebagai Bapa kriyot dari Lumie… entahlah. Dia yang menyebar bensin dan membuat koridor terbakar. Kau tahu sesuatu mengenainya?”
Mochtar diam mendengar pertanyaannya. Bale menyadari orang itu sesekali melirik ke beberapa personel lain yang mendengarkan percakapan mereka. Dia juga melirik ke Ratna. Akhirnya dia berkata, “Bapa Kriyot… merupakan salah satu anggota dari… anggap saja subfaksi religius dari faksi Brethennia bernama Luminitas. Akhir-akhir ini dia sedikit… kau tahu lah.” Selagi dirinya mengisyaratkan kegilaan.
“Faksi, ya… Aku baru di lantai ini, jadi seluruh kultus Brethenitas ini masih belum banyak ku ketahui.” Bale menanggapi selagi memikirkan kenapa ada jeda sebelum pertanyaannya tadi.
“Heh, tentu. Brethennia dulunya terdiri dari enam faksi, tujuh sekarang. Terdiri dari faksi Brethennia yang terdiri dari para peneliti dan… apa istilahnya… Ah, D Kelas yang pertama menjadi pengikut Bunda Brethennia.” Mochtar mulai menjelaskan.
“Heh, jadi peneliti dan Kelas-D digabung jadi satu faksi?” Bale menanggapi.
“Aneh, memang. Tetapi mereka teknisnya para pendahulu dan pemuka kami semua.” Balas Mochtar. “Selanjutnya adalah faksi Sekuritas. Terdiri dari personel keamanan dan beberapa agen lapangan yang tidak beruntung saat itu.”
“Apa mereka sadar kalau mereka berada dalam kendali anomali, mengingat mereka… dulunya personel keamanan?” Tanya Bale.
Mochtar menggeleng. “Sayangnya mereka sekarang adalah pengikut paling loyal kedua setelah subfaksi Luminitas. Lalu kemudian ada kami yang sayangnya dulu terpaksa harus mengamati wajah Sang Bunda Brethennia untuk tugas perawatan sebelum mengetahui akibatnya, faksi Fikser.”
“Ku lihat kalian tidaklah terlalu menyukai… dewi kalian.”
Mochtar menggeleng dan berkata, “Kau bisa bilang kami… bukanlah pengikut taat. Kami sudah bertahun-tahun bekerja bersama teknisi Normalis, dan seiring waktu, kami… anggap saja mendapat pencerahan kalau Bunda Brethennia… teknisnya tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap situs ini. Bahkan seluruh konsep Teritori Brethennia ini menggelikan!”
Terdengar suara berbisik di antara para teknisi lain, sebagian besar terdengar menyetujui itu.
“Normalis, ya… Itu kami – personel normal Yayasan – kan? Jadi apa ada ‘faksi’ untuk anomali juga?” Bale mencoba mengonfirmasi.
“Heh, pemuka terdahulu tidaklah terlalu kreatif dalam memberi nama faksi. Sebenarnya mereka bilang Bunda Brethennia yang memberikan pembagian faksi, tetapi jelas patung itu tidak mungkin melakukannya. Ah, tolong jangan pernah mengatakan apa pun yang ku katakan ini kepada personel Brethennia lainnya.” Jawab Mochtar, sedikit gugup di akhiran meski awalannya dia terdengar kesal.
“Tentu. Aku sebenarnya lebih memprioritaskan membawa Bu Ratna keluar dari sini untuk saat ini. Jadi ku rasa kalian mau membantu mengarahkanku ke arah keluar?” Kata Bale.
Mochtar melirik ke beberapa teknisi di belakangnya. Dia lalu berkata, “Ada satu faksi lagi yang harus kau waspadai. Klinser.”
“Dari namanya, mereka personel kebersihan?” Bale mencoba menebak.
“Ya.” Balas Mochtar. “Kau bisa bernegosiasi dengan Brethennia mana pun termasuk Sekuritas, tetapi jika kau bertemu seorang Klinser, lari darinya. Mereka diberkati oleh Sang Bunda Brethennia jam malam di mana mulai pukul tiga sampai enam pagi, mereka membersihkan seluruh Teritori Brethennia. Pada jam itu, semua yang berada di koridor adalah milik mereka. Itu termasuk personel malang yang mereka temukan di koridor.”
“Apa yang mereka lakukan dengan itu?”
Mochtar menatapnya diam selama beberapa saat. Akhirnya dia mengatakan. “Yayasan memberi kami jatah makanan dan keperluan lain tiap bulan. Untuk kasus kami, kami bisa meminta perkakas dan sebagainya.”
Dia diam sejenak sebelum melanjutkan, “Untuk kasus Klinser, mereka tidak mendapat jatah apa pun selain peralatan kebersihan. Bunda Brethennia memberikan larangan itu sebagai ganti jam malam mereka. Sebenarnya… banyak cerita mengerikan akan bagaimana mereka dapat makan, tetapi yang paling populer adalah saat seorang Brethennia melihat seorang Klinser memakan potongan tangan selagi berjalan.”
“…Jadi mereka juga membenci Sang Brethennia?” Tanya Bale.
“Itu jika kau bisa mengajak satu bicara. Dan percayalah, kau tak ingin melihat mereka selayaknya kau tak ingin mereka melihatmu. Kami semua berjumlah 30-an personel, tetapi tidak ada yang tahu jumlah pasti mereka. Yang jelas adalah mereka selalu terlihat bergerombol.” Balas Mochtar.
Dia menunjuk salah satu teknisi di pojok dan berkata, “Orang itu hampir ditangkap mereka saat jam malam. Kami menghabisi setidaknya lima atau enam Klinser, tetapi paling tidak ada sepuluh lagi di belakang mereka mendekat. Oh ya, mengenai Klinser, mereka hanya diizinkan mengambil apa pun di koridor. Jadi jika kau berada di koridor, masuk ke dalam ruangan mana pun asal ada pintunya dan tutup rapat. Mereka akan mengeceknya, tetapi tidak akan memaksa masuk jika tidak bisa dibuka.”
“Itu saran yang baik. Terima kasih untuk itu.” Bale berkata.
Mochtar hanya terkekeh. “Tidak perlu, kau tak akan memerlukan saran itu jika kau bukan Brethennia dari awal.”
Akhirnya ruangan hening. Bale mengamati para teknisi di ruangan hanya menganggur tidak melakukan apa-apa. Beberapa mengamatinya. Bale bisa melihat beberapa memiliki bekas luka di permukaan tubuhnya, entah di tangan, kaki, atau kepala. Dia bahkan merasa yakin kalau beberapa adalah bekas gigitan. Bale meraba bekas luka di pipinya dan berpikir mungkin punyanya tidak terlalu buruk.
Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri setelah sekian lama. “Jadi pukul berapa sekarang?” Tanyanya selagi mulai memasang masker gasnya kembali.
“Entahlah, alarm peringatan jam malam aktif beberapa saat yang lalu. Kami tidak memiliki jam di sini. Bunda Brethennia tidak menyukainya.” Balas Mochtar.
Bale merogoh ponselnya dan mengamati jam di sana. Tertulis di sana pukul 03.21 WIB, jam malam seharusnya sudah mulai.
Cahaya artifisial ponselnya menarik perhatian beberapa teknisi di ruangan. Mochtar meliriknya sekilas sebelum beranjak pergi menuju ke kumpulan teknisi lain di ruangan. Bale segera mematikan ponselnya begitu menyadari perhatian yang dia dapat. Selagi matanya mengamati teknisi di ruangan yang memperhatikannya, dia berjalan ke arah berlawanan, menuju ke arah Ratna.
Bale segera jongkok, mengamati perempuan di depannya terbaring tak sadarkan diri. Dia mendengar langkah kaki mendekat dan menoleh, mendapati Mochtar di sampingnya.
“Katakan, kau bisa diam di ruangan ini sampai pukul enam pagi, atau kami bisa membantumu keluar dari sini jika kau mau memberikan ponselmu. Bagaimana?” Tawar Mochtar.
Ponselnya merupakan model produksi masal murah, sesuatu mengenai pentingnya ponsel buangan jika dalam pelarian saat jadi agen ganda untuk GOC dulu. Dia bisa saja mengambil memori ponselnya dan menyerahkannya. Dia bahkan tidak perlu melakukannya mengingat tidak adanya hal yang berharga di ponsel itu selain serangkaian percakapan singkatnnya dengan atasannya yang terdiri dari perintah ke ruangannya atau ambilkan sesuatu. Kontaknya pemberian Yayasan, jadi dia bisa minta lagi nanti dengan Herria.
“Kau perlu ponsel untuk apa?” Bale memutuskan bahwa setidaknya tidak ada yang salah dalam bertanya.
“Dijual. Kami bisa bilang kepada orang Normalis kalau kami menemukan ponselmu, lalu mereka bisa saja kembalikan kepadamu padamu.” Jawab Mochtar.
“…Tentu.” Bale berkata selagi diam-diam mengeluarkan memori ponselnya. Dia lalu menyerahkannya ke Mochtar, yang menerimanya dengan senyum puas.
“Niksan! Pergi ke luar dan cek keadaan!” Teriak Mochtar kepada salah satu teknisinya. Personel tersebut segera pergi ke pintu depan ruangan. Dia diam selama beberapa saat di depan pintunya, mungkin menarik dan mengembuskan nafas dinilai dari gerakan bahunya. Akhirnya dia membuka pintunya dan melirik ke kanan dan kiri sebelum pergi ke luar.
“Kau perlu bantuan membawanya?” Mochtar bertanya selagi menatap ke arah Ratna yang masih terbaring.
“Nahhh, tidak. Aku bisa kok.” Bale berkata. Dia segera mendekati Ratna dan berpikir untuk mencoba memapahnya dulu sebelum berpikir untuk menyeretnya. Dia melirik mengamati apakah adanya tali selagi dia mencoba mengangkat tangan kanan Ratna.
Begitu dia meletakan lengan Ratna di bahunya, tiba-tiba dia diseret mendekat olehnya sebelum Ratna berbisik,
“Mereka menunggu untuk melempar kita keluar begitu Klinser lewat, bodoh!”
Bale menatap ke arah Ratna yang masih terpejam dan tak bergerak. Akhirnya dia terkekeh pelan dan berbisik juga, “Yah, aku menduga itu.”
Bale lalu berdiri dan berkata ke Mochtar yang berbicara dengan beberapa teknisi, “Ah, aku belum bilang perempuan ini siapa, kan?”
Mendapat perhatian Mochtar yang perlahan menoleh ke arahnya, Bale melanjutkan. "Dia di sini atas rekomendasi Kepala Keamanan Herria. Ku rasa kalian mengenalnya kan? Perempuan ini, dia bukan dari situs ini, tetapi dia yang kemungkinan akan menggantikannya nanti kedepannya. Jadi yah, dia lumayan penting.”
“Begitu ya.” Mochtar membalas. Dia perlahan mendekati Ratna yang Bale coba angkat. Dia lalu membantu Bale memapahnya.
“Jadi yah… ku harap kalian mau membantu kami keluar dengan aman. Kau tak ingin Herria melakukan investigasi mati-matian di tempat ini, kan?” Bale menambahkan, semakin menekankan pentingnya keselamatan mereka berdua.
Mochtar jelas menatapnya selama beberapa saat. Selama beberapa saat mereka hanya berdiri diam dengan Bale menunggu dengan gugup. Kedua kapaknya setidaknya masih di sampingnya, jadi dia siap-siap meraihnya jika dia kembali harus berkelahi dengan teknisi. Sayangnya dia mungkin dia harus menjatuhkan Ratna nanti seketika.
Hanya saja dia tidak yakin kemungkinan menangnya tinggi kali ini.
Setelah beberapa puluh menit, terdengar bunyi ketukan pintu. Bale menatap dengan tegang selagi beberapa teknisi berjalan mendekati pintu dan membukanya.
“Rute sudah diamankan.” Teknisi yang keluar ruangan tadi berkata.
“Baik, jadi begini cara kerjanya.” Mochtar berjalan mendekati Bale. Tentu Bale merasa sudah waktunya meraba salah satu kapaknya. “Kita akan mencoba menghindari rute pembersihan Klinser. Kami memiliki beberapa ruangan kecil di sekitar sini. Rute Klinser selalu acak, jadi jika mereka melihat kita, kita langsung masuk ke ruang aman terdekat. Aku dan dua orang Fikser akan bersamamu.”
“Tentu, tunjukkan arahnya, tuan-tuan.” Bale membalas. Dia perlahan menurunkan tangannya tadi. Setidaknya dia bisa merasa aman untuk saat ini.
Mochtar dan dua orang teknisi lain segera bergegas keluar dari ruangan. Bale hanya bisa berjalan secepat yang dia bisa selagi memapah Ratna.
“Setidaknya cobalah membantuku dengan ikut berjalan…” Bale berbisik perlahan begitu sudah berada di luar. Koridor di luar ruang luasnya sama seperti di koridor situs ini, tetapi perbedaannya adalah sepanjang koridor gelap dan hanya diterangi lampu petromak yang digantung di depan pintu saja. Terdapat beberapa obor, tetapi mereka letaknya saling berjauhan.
“Dan membuat mereka melihatku sudah sadar dari tadi?” Ratna berbisik kesal.
“Aku yakin kau tahu kalau mereka berada di depan kita. Lagipula, tidak ada yang bisa melihatmu diam-diam ikut berjalan dengan penerangan seredup ini.” Bale membalas.
Ratna sepertinya mempertimbangkan hal tersebut sebelum akhirnya mau ikut berjalan bersama. “Itu lebih baik… Jadi apa yang kau ketahui mulai aku pingsan sampai terbangun tadi?” Bale bertanya pelan.
“…Tak lama setelah ledakan itu, mereka datang. Awalnya aku meminta tolong kepada mereka. Mereka awalnya bersikap ingin menolong, tetapi ternyata mereka membiusku. Mereka tidaklah tahu kalau peneliti bahaya kognitif sudah dilatih untuk menjaga kesadarannya selama mungkin. Jadi aku pura-pura pingsan dan mereka membawa kita ke ruangan mereka. Keparat-keparat sialan…” Ratna menjelaskan. Di akhiran dia mulai terdengar kesal.
“Jadi… apa yang sebenarnya mereka rencanakan?” Bale mencoba mengarahkan topik kembali ke asal.
“Mereka mengatakan sesuatu mengenai intervensi kita dengan rencana mereka. Lalu saat di ruangan, mereka berkata akan mewawancaraimu sebelum melempar kita ke luar begitu Klinser mendekati ruangan mereka nanti. Baru saat mereka menjelaskan padamu apa itu Klinser, aku menyadari mereka ingin membuang saksi mata kejadian tadi.” Ratna mengakhiri penjelasannya.
“Sebuah konspirasi ya…” Bale menyimpulkan.
Bale mengamati Mochtar teknisinya berhenti di depan sebuah pintu besi. Bale mengamati mereka dengan waspada selagi perlahan mendekat.
“Ini mereka.” Kata Mochtar. Bukan kepada Bale, tetapi kepada seseorang di kegelapan koridor di depan mereka. Orang itu perlahan mendekati mereka semua. Seorang perempuan paruh baya berseragam putih – meski sudah kusam – khas personel keamanan tanpa rompinya berjalan mendekat. Dia memiliki rambut hitam panjang dengan potongan hime cut. Di belakangnya terdapat sesuatu yang terbungkus kain cokelat besar, terikat oleh serangkaian sabuk yang melingkari bahu sampai pinggannya.
“Jadi… siapa kalian?” Perempuan tersebut mendekat. Dilihat dari dekat, dia memilik mata sipit.
“Saya peneliti dengan kode nama ‘Balefire’, di situs ini untuk tugas tertentu dari Sang Direktur langsung.” Bale berkata duluan. “Di sampingku ini Peneliti Senior Ratna, juga di situs ini untuk tugas tertentu dari Kepala Keamanan Herria.”
“Senior ya… Baik, amankan dia.” Perempuan itu berkata singkat. Mochtar mengangguk dan segera meraih Ratna.
Dengan cepat Bale berlari menghindar ke samping dan berkata, “Tunggu dulu, ada apa ini!?”
“Simpul lepas.” Perempuan tersebut membalas. Dia melirik ke Mochtar dan berkata, “Kalian semua mengecewakanku, Mochtar. Pembayaran akhirmu akan dipotong untuk ini.”
“Bukannya si kucing anggora itu yang menentukan perjanjiannya!” Mochtar memprotes.
“Ya, menurutmu apa yang akan Brian lakukan jika mengetahui adanya saksi mata?” Perempuan itu membalas dengan tidak peduli.
Pria tersebut terlihat geram. Dia melirik ke arah Bale dan kemudian ke arah kedua teknisinya seraya berkata, “Kalian tunggu Klinser? Habisi mereka!”
Kedua teknisi Mochtar segera maju menyerang. Mereka masing-masing memegang kunci inggris sebagai senjata. Betapa original… pikir Bale. Dia meminta maaf kepada Ratna sekilas sebelum menjatuhkannya. Dia lalu segera meraih kedua kapaknya dan menghantam kunci inggris teknisi di sebelah kirinya. Awalnya dia ingin segera menahan serangan teknisi kedua, tetapi teknisi yang diserangnya ini lebih kuat dari yang dia duga. Dengan cepat dia menghalau kapak Bale dan segera mengayunkan kunci inggrisnya ke badan Bale. Dirinya menerima hantaman tersebut.
Bale dengan cepat mencoba menebas tangan teknisi tersebut, tetapi lawannya segera mundur. Sebagai gantinya, teknisi kedua melayangkan ayunan dari atas, mengarah langsung ke kepalanya. Bale mencoba menahannya dengan menebas lengan teknisi tersebut. Dia berhasil, tetapi itu tidak menghentikan ayunan horizontalnya yang dibantu gravitasi.
Bale menerima hantaman kunci inggris kedua di masker gasnya. Hantamannya membuat Bale harus terjatuh untuk meringankan dampak serangannya. Ini merupakan posisi berbahaya bagi Bale karena teknisi pertama tadi seperitnya siap menyerangnya juga. Dia akan berakhiran seperti Anna dulu nanti. Jadi dengan cepat dia mencoba menubruk jatuh salah satu teknisi dengan putus asa. Dengan cepat dia mengayunkan kapaknya menghantam kepala teknisi tersebut sekeras yang dia bisa berkali-kali.
Risikonya adalah teknisi satunya bisa menyerangnya dari belakang, tetapi Bale merasa setidaknya dia bisa menghabisi satu sebelum dihabisi juga. Tiba-tiba terdengar suara di belakangnya. Bale menoleh dan mendapati Ratna telah berdiri kembali dan menghantam teknisi kedua di punggungnya dengan tongkat berjalan besinya.
Teknisi tadi terlihat marah dan segera mengayunkan kunci inggrisnya, tetapi tanpa menoleh ke arahnya, Ratna segera mengayunkan tongkatnya ke leher teknisi tersebut. Bale mengamati teknisi tersebut hampir terjatuh, tetapi berhasil menahan dirinya. Pukulan tongkat Ratna mungkin tidak menyakitkan, tetapi ia cepat dan Ratna sepertinya mampu mengarahkannya ke titik vital untuk serangan maksimal. Ratna segera mengayunkan kembali tongkatnya dan menghantam lututnya, akhirnya membuatnya jatuh. Ratna mengakhirinya dengan hantaman terakhir ke kepalanya.
“Bayaranmu dipotong lagi untuk ini.”
Bale menoleh ke arah suara dan mendapati perempuan tadi kini mengangkat tinggi barangnya yang terbungkus kain cokelat tadi. Tangan kirinya membuka kain tersebut dan menunjukkan bahwa yang dipegangnya adalah senapan runduk hitam. Dengan cepat dia menodongkannya ke arah Bale.
Ratna yang mendengar suara segera menoleh dan bersiap menyerang, tetapi Bale segera berkata, “Senjata api.”
Ratna tertegun dan berdiri diam. “Rangka Brethennia, perempuan itu benar-benar buta? Pada titik ini Brian akan bertanya kenapa harus membayarmu sama sekali.” Perempuan tadi terkekeh selagi menatap Mochtar.
“Tolong jangan laporkan ini kepada Tuan Chandra, Bu Lian.” Mochtar terlihat khawatir selagi mendekati Bale. Tetapi Lian menghentikannya dan berkata, “Tidak, aku saja. Aku sudah susah-susah kemari, kau tahu.”
Bale bisa melihat perempuan itu tersenyum selagi siap-siap menembak. Tetapi dia melirik Ratna yang tiba-tiba menoleh ke samping. Lian menyadari hal tersebut dan ikut menoleh juga, hanya untuk ditubruk jatuh seorang personel keamanan lain.
Yang ini mengenakan lapisan besi di depan rompi pelindungnya, bahkan di helmnya juga. Terdapat hiasan warna keemasan padanya.
Setengah jam yang lalu
Terdengar suara ‘Beeb’ keras di seluruh koridor. Datangnya dari interkom yang dipasang sejak awal situs ada. Fungsinya dulu mungkin untuk meneruskan pesan yang ditujukan untuk seluruh situs, tetapi sejak dibuatnya Teritori Brethenitas, tugasanya selama bertahun-tahun cuma satu, memberi peringatan keras namun singkat di saat jam malam dimulai dan berakhir.
Sekumpulan orang di dalam sebuah ruangan saling mendongkak. Ruangan luas tersebut seperti berfungsi bak ruang umum, di mana terdapat kursi di beberapa lokasi, serta meja dan barang lain. Di ruangan tersebut terdapat beberapa orang yang mengenakan kemeja – sebagian besar putih kusam – tetapi ada juga sekumpulan orang yang menyelimuti diri mereka dengan jubah kain merah gelap. Mengingat waktu sudah mendekati pukul tiga dini hari, satu-satunya alasan mereka harus tetap berada di ruangan adalah karena mereka harus menunggu tugas mereka selesai.
Di depan kumpulan orang tersebut, berdiri dua orang personel berseragam keamanan dengan tambahan pelindung besi. Satu merupakan seorang perempuan dengan rambut hitam terikat ponytail, yang satunya merupakan seorang pria tinggi dengan rambut hitam cepak dengan beberapa bekas luka di dahi kanannya. Mereka ikut mendongkak saat mendengar bunyi keras sebelumnya.
“Ku rasa itu saja yang bisa kami tanyakan. Terima kasih Bapa Galih.” Yang perempuan berkata.
“Sulit dipercaya Bapa Kriyot telah meninggalkan kita…” Salah satu dari orang berjubah tadi berkata.
“Saudari Sonya, kita tidak bisa melawan keinginan Sang Bunda Brethennia. Jika dia menginginkan Saudara Kriyot, maka begitulah akhir perjuangannya.” Seseorang berjubah lain membalas.
“Tapi mengetahui dia memilih Logistika Brian Chandra sebagai penggantinya di dewan dan bukan anda sangatlah mencurigakan, bukan?” Seorang berjubah lagi membantah.
“Saudara Muriah, keinginannya adalah keinginan Bunda Brethennia. Maka saya tidak akan merasa keberatan sedikitpun.” Yang berjubah tadi kembali membalas. “Maaf mengganggu tugas kalian dengan perdebatan kami, Komandan Sarah. Semoga Bunda Brethennia mengampuni kita.”
Perempuan tadi mengangguk dan membalas, “Tidak apa, Bapa Galih. Kami berjanji akan memastikan kalau kebenaran insiden ini akan terungkap jikalau Bunda Brethennia mengizinkannya.”
Galih hanya mengangguk tersenyum. “Baik, kami tidak ingin membuang waktu kalian lebih lama lagi. Semoga Bunda Brethennia merestui usaha kalian, para Angelika.”
Kelompok berjubah tersebut segera pergi meninggalkan mereka. Kedua orang Angelika tadi mengamati mereka pergi keluar melalui salah satu pintu di ujung ruangan luas tempat mereka berada.
“Kita kembali ke ruangan. Sepertinya Bunda Brethennia tidak merestui pencarian kita.” Yang perempuan berkata.
“Menurutmu apa kita bisa sempat mengecek ruangan Fikser sebentar, Komandan?” Rekannya mencoba bertanya. Mereka cuma punya waktu sepuluh menit sejak bunyi nyaring sebelumnya sebelum Klinser mulai bergerak keluar dari ruangan mereka. Dan dia tahu ruangan mereka dan faksi Fikser berseberangan jauh.
Sarah menggeleng sebagai jawaban. “Kita tidak boleh mengganggu jam malam para Klinser, Baneret Kris. Itulah keinginan Bunda Brethennia.”
Kris hanya diam mengamati komandannya mulai berjalan mendahuluinya. Dia tahu komandannya tidak ingin membiarkan kasus seperti ini tak terselesaikan, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa jika takdir menghalangi jalannya. Sejak menjadi Angelika, dia mulai mendekatkan dirinya dengan Bunda Brethennia sampai pada titik dia menjadi Komandan Angelika.
“Komandan Sarah,” Kris berkata, membuat Sarah menoleh. “Aku akan menghabiskan malam di ruangan Saintika untuk mengamati situasi.”
Sarah menatapnya selama beberapa saat, sepertinya mencoba menebak apa yang tengah dia rencanakan. Tetapi akhirnya dia berkata, “Tetap di dalam ruangan itu. Jika kau melanggarnya, kau tak akan mendapat restu Bunda Brethennia.”
“Tentu.” Kris tersenyum selagi bergegas pergi ke salah satu pintu di ujung ruangan. Sarah diam melihatnya pergi sebelum akhirnya melangkah ke luar ruangan. Tentu dia mengharapkan yang terbaik baginya.
Kris sendiri berjalan cepat menyusuri koridor gelap minim pencahayaan obor yang menghubungkan tiap ruangan di Teritori Brethenitas. Ruang umum, ruang kerja, mess, semua faksi dan subfaksi memiliki ruangan berbeda di teritori mereka. Tempat ini jika dia bisa ibaratkan lebih seperti bangunan pasar umum dibanding seperti asrama.
Setelah beberapa saat berjalan, dia akhirnya sampai di sebuah pintu ganda berkarat. Kris segera mengetuk pintunya. Pintu tersebut terbuka dan menunjukkan seorang pria yang mengenakan seragam putih kusam berlapis jas lab putih pucat. Dia memakai kacamata berbingkai bundar yang sedikit retak di salah satu kacanya. Rambutnya sedikit panjang, tetapi mulai memutih.
“Doktor Tharmin, untuk pertama kalinya aku bersyukur pada Bunda Brethennia kalau kau sering bekerja lembur.” Kris segera berkata selagi melepas helmnya kembali.
“Baneret Kris! Silahkan masuk, tuan!” Tharmin terlihat terkejut tetapi juga bersemangat kedatangan tamu seperti dirinya.
Kris perlahan masuk ke dalam ruangan yang menyerupai ruang laboratorium situs pada umumnya, hanya saja lebih sedikit perlengkapan kimia dan lebih banyak tumpukan buku, kertas dan papan tulis di mana-mana. Ruangan juga hanya diterangi sebuah lilin semata yang ditaruh di tengah sebuah meja.
“Saya Dr. Tharmin Mauza merepresentasikan Ordo Saintifika Brethennia Kedua. Apa ada yang bisa saya bantu untuk anda pada malam hari ini.” Pria itu berkata seraya memberi hormat.
“Heh, bahkan saat hanya kita berdua di ruangan ini?” Kris berkata selagi meraih salah satu kursi di deretan kursi yang berjejer dekat salah satu meja
“Bunda Brethennia mengharapkan profesionalistas dari peneliti, bukan?” Tharmin hanya tersenyum selagi meraih kursi juga.
“Sayangnya sebagian dewan tidak mengharapkan apa-apa dari kalian sejak insiden penelitian kalian itu.” Balas Kris.
Tharmin menggeleng, “Saya masih menganggap tindakan kami tidak menghinakan Bunda Brethennia. Sampel diperlukan untuk mengetahui perkembangan dewi kita. Saya sudah mendapat izin Luminitas Brethennia untuk memasuki ruang Sang Bunda Brethennia saat itu.”
“Perlu kuingatkan, tolong jangan pernah menyinggung kemungkinan Bunda Brethennia bisa hancur termakan usia di depan siapa pun lagi bahkan di antara sesama peneliti kalian. Meskipun kita tidak mengetahui apakah itu ada benarnya atau tidak, Brethennia pada umumnya, para dewan, dan tentunya Luminitas tidak menyukai bahwa itu merupakan kemungkinan sama sekali.” Kris menanggapi.
“Jadi, apa anda kemari untuk kasus itu? Meski sudah lama?”
Kris menggeleng. “Tidak, aku perlu sesuatu mengenai pola rute pergerakan Klinser.”
Tharmin sepertinya terkejut mendengar itu. Dia lalu berkata, “Saya kira Komandan Sarah tidak ingin mengganggu jam malam Klinser? Saya lumayan diberitahu mengenai itu dulu, kan?”
“Memang. Ini… permintaan pribadiku. Ada yang sedang ku selidiki saat ini.” Jawab Kris.
“Ah, saya ada dengar. Apa ini mengenai kematian Bapa Kriyot?” Tebak Tharmin.
“Itu salah satunya. Dan jam malam Klinser sangat berisiko menghapus segala barang bukti yang mungkin ada mengenai itu. Aku perlu mengetahui mengenai pergerakan Klinser malam ini. Kau berhasil menemukan pola mereka dulu, bukan?”
Tharmin segera bergegas berjalan menuju salah satu tumpukan buku di salah satu meja. “Sebuah pengetahuan yang dilarang, seperti kata Komandan Sarah dulu. Tetapi kami para Saintika mendedikasikan eksistensi kami sebagai mantan peneliti Yayasan untuk mempelajari segala yang tidak dipahami. Tentu yang kami yakini dalam izin Bunda Brethennia saja.” Dia berkata.
“Sejujurnya aku setuju kalau tidak ada salahnya mempelajari itu, tetapi tentu saja, kita tidak bisa melawan kata Komandan dan Komandan tidak bisa melawan kata para dewan.” Kris membalas. “Jadi apa yang kau ketahui mengenai itu? Apa memang ada polanya?”
Tharmin mengeluarkan sebuah kertas besar dan menggelarnya di meja. Dia mendekatkan lilin satu-satunya yang menerangi ruangan ke kertas itu, menunjukkan gambaran kasar denah Teritori Brethenitas. “Pola pergerakan Klinser tiap malam mungkin terlihat acak tanpa pola, tetapi sebenarnya ada polanya. Setelah penelitian intensif selama empat tahun, kami bisa menebak ada sebanyak 54 variasi pergerakan mereka. Apa anda tahu kalau awalnya kami menduga cuma ada 52 variasi, tetapi terdapat 2 variasi khusus yang sayangnya kami tidak tahu apa kondisinya?”
“Jadi apa artinya itu?” Kris bertanya selagi mengamati peta di meja.
“Kita bisa menurunkan kemungkinan pola mana yang dipakai Klinser malam ini dengan mengecek rute awal mereka.” Tharmin menunjuk ke sebuah lokasi di petanya, bertuliskan ‘Klinser’. “ Kita mengecek apakah mereka belok kiri atau kanan setelah keluar, lalu kita cek apakah mereka tetap lurus, belok ke kiri, atau ke kanan, dan seterusnya. Tetapi intinya adalah yang sangat menentukan adalah apakah mereka tetap di satu sisi atau mereka mulai menyeberang ke sisi lainnya di awalan? Pada akhirnya… ini hanyalah menebak apakah mereka zigzag secara horizontal atau vertikal malam ini.”
“Seperti itu ya…” Kris sebenarnya meragukan apakah itu akan membantunya. Setidaknya mengetahui rute pergerakan mereka sedikit menenangkannya. “Proyek penelitian seperti ini, ini memerlukan observasi pergerakan mereka tiap malam, bukan?
“Ya, kami bekerja sama dengan faksi Fikser untuk penelitian ini. Mereka mendapat bayaran dari funding penelitian kami dari Yayasan.” Jawab Tharmin.
Kris tertegun mendengar kata itu. “Fikser… Jadi mereka tahu mengenai teori pola pergerakan ini?”
“Tentu, bahkan sampai sekarang mereka terus memberikan laporan rute mereka pertahunnya. Kami tidak meminta, tetapi mereka lebih ke arah menjualnya ke kami.” Jawab Tharmin. “Berguna untuk keperluan statistik, setidaknya. Kami praktisnya tidak-”
“Tunggu, itu artinya mereka menjalankan penelitian kalian sampai saat ini?” Kris tiba-tiba bertanya.
“Ah, mungkin? Data mereka sering bolong beberapa hari, tetapi dalam seminggu paling tidak ada empat atau lima observasi yang dilakukan.” Tharmin menjawab dengan bingung.
“Sebanyak itu…” Kris perlahan berdiri dari kursinya. Dia kemudian berkata kepada Tharmin, “Doktor Tharmin, apa kau keberatan mengikutiku dalam penyelidikanku malam ini?”
“Pada jam malam ini?” Tharmin mencoba mengonfirmasi.
“Ya. Saya memiliki kecurigaan kalau Fikser mungkin merencanakan sesuatu, dan itu hanya akan jadi prasangka jika tidak ada yang bisa kulakukan malam ini juga.” Kris membalas.
“…Tentu, tetapi jam malam Klinser telah dimulai, kan?” Tharmin berkata dengan ragu, meski tertarik.
“Anda mencoba mengambil sampel langsung dari Bunda Brethennia, anda takut melawan larangan yang ini?” Kris membalas selagi mulai bersiap.
Tharmin menggeleng, “Bukan, bukan. Saya bersedia melakukan apa pun untuk fakta baru. Tetapi ini faksi Klinser yang kita bicarakan. Apa kita akan baik-baik saja.”
Kris hanya terkekeh selagi memasang helmnya. “Aku Baneret Kris, sayap kanan Angelika. Tidak ada perlindungan yang lebih baik dariku di seluruh Brethennia. Kecuali mungkin dari Komandan.”
Tharmin melirik ke arah ruangan redupnya sekilas yang hanya disinari beberapa lilin. Lalu mengamati ke pintu keluar. Akhirnya dia berjalan menuju pintu keluar seraya berkata, “Tentu. Saya siap membantu.”
“Ah, petanya jangan lupa.” Kris mengingatkan.
“Oh, ya tentu. Maaf.”
Sekarang
Seorang personel berseragam keamanan berlapis zirah besi segera berdiri. “Saya Angelika Brethennia dengan pangkat Baneret, Kris Erlangga. Sebutkan apa yang tengah terjadi di sini!”
Di lantai, seorang perempuan terbaring kesakitan setelah ditubruk jatuh oleh beban seberatnya tadi. Perlahan dia meraih senapan runduknya yang tercecer jatuh di dekatnya dan menggunakannya untuk alat bantu berdiri.
“Seorang Angelik di jam malam? Bukankah menurut para dewan itu dosa?” Perempuan tersebut terkekeh selagi menyapu seragam keamanannya.
“Sekuritas Brethennia Lian Ningshi… Saya bisa meminta pengampunan dosa nanti setelah tugas penyelidikan saya selesai. Sekarang, apa urusan anda di koridor ini, tadi?” Kris bertanya. Dia melirik ke dua orang berseragam mirip Saintika, hanya saja lebih bersih. Mereka jelas merupakan dua orang peneliti Yayasan yang dilaporkan hilang di Teritori Brethennia sebelumnya tadi.
Dia lalu melirik ke arah Lian dan senapan runduknya. Perempuan itu hampir saja mengeksekusi mereka berdua.
Tangannya perlahan meraba ke senjata khas Angelika. Sebuah pedang besi. Sekuritas biasa hanya diberi pisau dan baton, tetapi Angelika diberi pedang oleh para dewan bersamaan dengan pemberian statusnya.
Tentu saja, dia juga memiliki handgun tersembunyi di seragamnya sebagai pengganti belati rondel. Kode kesatria tidak benar-benar ada kecuali untuk orang gila; senjata selundupannya adalah metode duel putus asa terakhirnya jika harus dikeluarkan karena bisa saja dia tidak lagi menjadi Angelika kalau tidak memiliki alasan bagus saat dihakimi dewan saat ketahuan nantinya.
“Jika aku menembakmu, apa kau tak akan bertanya lagi?” Lian berkata selagi tersenyum licik. Dia mengarahkan senapan runduknya ke arah Kris. Kris sendiri memegang pedangnya dengan gugup, tidak yakin apakah dia bisa menghindari tembakan pertama dan keduanya.
“Hey, aku bertanya di sini. Kau mau menjawabnya?” Lian berkata, membuyarkan Kris dari pemikirannya.
“Kau serius? Aku punya banyak pertanyaan yang antara kau mau jawab sekarang atau nanti saat sudah kubawa ke depan dewan.” Kris tetap membalas dengan percaya diri.
“Begitu ya…” Lian berkata. Kris diam mengantisipasi tembakannya, tetapi Lian perlahan menurunkan senapannya dan berkata, “Meskipun aku ingin menembakmu dan mengakhiri ini, satu tembakan saja di tengah koridor sunyi ini dan para Klinser akan menyerbu tempat ini segera.”
“Jadi kita selesaikan ini secara kesatria!” Lian segera mengayunkan senapannya dan mengarahkan stoknya ke Kris. “Aku ingin tahu sehebat apa anjing setia Sarah.”
Kris melirik ke belakang, tahu Tharmin bersembunyi di balik bayangannya. “Doktor, tolong cek keadaan kedua peneliti di sana dan bawa mereka menjauh.”
Tharmin segera keluar dari bayangan dan berlari mendekati dua peneliti Yayasan di lantai. “Oh, kau tak boleh-“ Lian awalnya ingin menghantam Tharmin, tetapi stoknya ditahan pedang Kris. “Aku tetap sayap kanan Angelika. Ingat itu.”
Dan Kris segera mengayunkan pedangnya berkali-kali ke arah Lian. Dia sudah bertahun-tahun mengenakan zirahnya, membuat pergerakannya cukup cepat untuk menyerang Lian. Tetapi Lian juga sama dengan senapannya. Dia memutarnya untuk menghalau hantaman pedang Kris sebelum menghantamkan stoknya ke badan Kris berkali-kali dengan cepat. Panjang senapan runduknya adalah masalah bagi Kris karena mampu menjangkau dan bahkan mengait pedangnya. Durabilitasnya lebih bermasalah lagi. Kris tahu itu kualitas standar Yayasan, meski merupakan selundupan, jadi dia sama sekali tak mengharapkan bisa menghancurkan senapannya. Ini adalah sebuah pertarungan bolak-balik antar mereka sampai ada yang melakukan kesalahan.
Tharmin sendiri mencoba mendekati kedua peneliti Yayasan di pojok, tetapi seorang pria besar berjenggot menghalangi mereka.
“Dok, apa yang orang seperti anda lakukan di sini?” Pria tersebut terkekeh menghalanginya.
“Tuan Mochtar, entah apa yang kalian lakukan di sini, tetapi saya, Tharmin Mauza sebagai representasi dari Ordo-“ Perkenalan Tharmin segera dipotong Mochtar yang berkata, “Tolong berhenti memperkenalkan diri selengkap itu setiap kita bertemu! Bunda Brethennia tahu betapa aku ingin menghantammu untuk itu, kau tahu!”
“Saya- ehm, saya lihat anda sedang dalam mood tidak baik malam ini. Jadi saya dan Baneret Kris kemari untuk mencari dan menemukan dua orang peneliti Yayasan yang dinyatakan hilang beberapa jam yang lalu.” Tharmin mulai gugup berkata. “Dan sepertinya kalian menemukannya! Kami akan pergi ke perbatasan kalau begitu, kami tidak ada urusan dengan apa pun urusan Nyonya Lian di sana.”
“Kau tahu, mereka cukup membuatku rugi malam ini.” Mochtar berkata pelan. Dia mengeluarkan kunci pas yang tidak hanya berukuran besar, tetapi juga terpasang ke semacam potongan besi di ujungnya yang berfungsi untuk berat tambahan. “Jadi anda bisa membawa mereka setelah aku selesai dengan mereka.”
Dia perlahan berbalik, tetapi sebelum Tharmin sempat berkata mengenai apa yang dia lihat di belakang Mochtar, Mochtar seketika dihantam ayunan sisi tumpul sebuah kapak, yang segera diikuti kapak kedua yang menghantam vertikal ke mukanya. Salah satu peneliti Yayasan yang entah kenapa mengenakan masker gas kemudian berputar dan mengait kaki Mochtar dengan kapaknya dan akhirnya memastikan dia jatuh.
“Untukmu,” Pria bermasker gas tersebut berkata seraya mundur dan memberi gestur menghadiahkan sesuatu kepada peneliti Yayasan lain di sampingnya. Seorang perempuan yang Tharmin bisa menebak kenapa mengenakan kacamata hitam segera menghantam kepala Mochtar dengan tongkat bantu berjalannya dengan keras.
Yang memakai masker gas mendekati Tharmin sebelum mengulurkan tangannya dan berkata, “Peneliti, anda bisa memanggil saya Bale. Dan perempuan itu Peneliti Senior Ratna.”
“Saya… Saya Doktor Tharmin Mauza… Merepresentasikan Ordo Saintifika Brethennia Kedua. Senang bertemu dengan kalian.” Tharmin berkata dengan ragu seraya menjabat tangan Bale.
“Kedua? Apa yang terjadi dengan yang pertama?” Bale bertanya begitu mendengarnya.
“Ceritanya panjang, tetapi sekarang kita harus ke perbatasan segera!” Tharmin membalas dengan gugup seraya berjalan cepat ke belakang kedua peneliti Yayasan tersebut dan praktisnya mendorong mereka agar cepat bergerak.
“Ku bilang tidak bisa!” Lian yang sekilas memperhatikan di tengah perkelahiannya berteriak. Dia tidak lagi menjaga nada suaranya agar pelan dan dengan segera berteriak kembali, “Fikser! Cepat bangun atau kalian akan habis dibersihkan!”
Mochtar dan seorang Fikser lain yang masih sadar segera berdiri secepat mungkin. Mereka segera berlari ke arah Lian dan Kris. Kris sendiri bersiap fokus ke arah mereka, tetapi kedua Fikser tersebut berlari melalui mereka dan segera membuka pintu besi di samping mereka.
Perhatian Kris yang teralihkan sebentar dimanfaatkan Lian sepenuhnya dengan mengalihkan pedang Kris menjauh dari dadanya. Dan dengan sekali putaran senapan, Lian mundur dan dengan cepat menarik pelatuk senapan runduknya.
BANG
Ruangan disinari sekilas oleh cahaya, tetapi suara tembakannya menggema ke seluruh koridor. Kris tertembak, tetapi di bahu kanannya saja. Itu cukup untuk membuatnya terkejut dan terjatuh. Selagi mencoba berdiri dengan menahan rasa sakit di bahunya dan mengalihkan pedangnya ke tangan kirinya, Kris berteriak, “Tembakanmu meleset!”
“Kau pikir aku ingin membunuhmu?” Lian berkata selagi memegang gagang pintu besi di dinding. Kris tertegun seketika.
“Meskipun aku ingin menembakmu dan mengakhiri ini, satu tembakan saja di tengah koridor sunyi ini dan para Klinser akan menyerbu tempat ini segera.”
Sebelum Kris sempat berkata apa-apa, Lian segera masuk dan menutup rapat pintu besi ruang aman mereka. Bale segera berlari melewati Kris dan mencoba membuka paksa pintunya. Setelah beberapa saat, dia menyerah. Tharmin sendiri segera membantu Kris berdiri.
“Tuan-tuan, ku harap kalian punya rencana akan apa pun yang akan terjadi nanti.” Bale berkata kepada mereka berdua.
Kris tahu risiko bahwa dirinya bisa berada di situasi ini. Tetapi selagi menahan rasa sakit tembakan di bahunya, dia tidak percaya harus mengatakan apa yang menurutnya merupakan opsi terbaik mereka saat ini.
“Kita lari… sejauh mungkin…”
Kronik Situs-79
Bab 7: Perburuan Penyihir(1)
« …dan dari kebuasan para Anomalis. | …Dihargailah Mereka, Para Fikser… | …Disucikanlah Mereka, Para Klinser… »




