Sekumpulan orang tengah berjalan cepat menyusuri koridor sunyi Teritori Brethennia. Sekumpulan personel berzirah besi bermotif keemasan jelas sangat mencolok di tengah koridor tersebut. Itulah kenapa dua orang personel mereka terlebih dahulu berjalan di depan mengamankan jalur merkeka dalam menavigasi labirin teritori yang merupakan bekas komplek area penahanan luas.
Di tengah kerumunan itu, terdapat dua orang peneliti Yayasan. Jas lab mereka kusam karena mereka tengah mengenakan jas lab milik peneliti Brethenitas untuk penyamaran tadinya. Salah satu diantara mereka adalah seorang pria. Dia mengenakan masker medis. Biasanya dia mengenakan masker gas, tetapi keadaan memaksanya menggantungkannya di sampingnya dan menyembunyikannya di balik jasnya. Perburuan orang masih berlangsung meski lampu koridor mulai meredup. Tidak ada yang mencari dua orang peneliti Normalis yang hilang, tetapi para Brethenitas masih mencari orang bertopeng mereka.
Mereka berdua tidak punya pilihan lain selain mengikuti kelompok Brethenitas di depan mereka. Komandan mereka, Sarah, sudah memastikan keamanan mereka asal dapat bersaksi di depan dewan nantinya, tetapi Bale sudah melihat bagaimana Kris kewalahan mengurus dua Sekuritas meski memang saat itu dia terluka, jadi dia tidaklah yakin akan kemampuan seluruh Angelika dalam pengamanan mereka nantinya.
Kedua orang Angelika tadi berhenti di depan sebuah pintu dan segera membukanya. Dari luar ruangan mereka tidak jauh berbeda dari ruangan lainnya. Sepertinya Angelika tidaklah memiliki jendela buatan seperti di ruang sebelumnya, jadi Bale menduga ruangan mereka akan lebih gelap. Mereka segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Begitu masuk, Bale menarik pendapatnya tadi, ruangan ini setidaknya empat kali lebih besar dari ruangan Saintika. Terdapat serangkaian sofa di samping ruangan, meja panjang di tengah sana, rak perlengkapan di dindingnya, dan sepertinya alat latihan lainnya di sana, belum lagi rangkaian loker besi dan meja kerja di sisi ujung ruangan. Di langit-langit terdapat lampu gantung gelap – entah apa bahannya – berbentuk lingkaran dengan deretan tempat menaruh lilin di atasnya, ditahan oleh rantai yang terhubung ke tuas di samping ruangan. Tentu saja ruangan juga dikelilingi penyangga lilin juga di dindingnya.
Meski ini benar-benar pengalaman pertamanya di Teritori Brethenitas, Bale dapat melihat betapa spesialnya subfaksi Angelika karena mereka dibolehkan memakai belasan lilin dan lampu gantung di saat koridor teritori hanya diterangi obor yang menyala liar atau ruangan Fikser dan Saintika hanya diterangi beberapa lampu petromak atau lilin semata yang hanya dihidupkan saat malam tiba.
Empat orang Angelika yang bersama mereka tadi berpisah, saling mengurus urusan masing-masing. Dua orang mulai melepas zirahnya dan berjalan ke arah sofa, satu tengah berjalan ke rak perlengkapan selagi melepaskan zirahnya juga, satu lagi sepertinya berjalan ke arah tuas lampu gantung selagi mencoba merogoh kantongnya di balik zirah besinya. Mungkin mencari pematik untuk menghidupkan beberapa lilin yang padam di atas.
Tersisa Komandan mereka Sarah dan wakilnya Kris yang menuntun dia dan Ratna sekarang. Dan mereka menuntunnya ke ujung ruangan. Terdapat pintu di sana, dan Sarah segera membukanya. Ruangan di balik pintu tersebut cukup kecil, tetapi mungkin ukurannya setara dengan ruangan utama Saintika. Bale menduga awalnya ini semacam gudang.
Ruangannya gelap gulita, jelas tidak sering dipakai. Selagi Sarah mendekati lilin yang dipasang di dinding ruangan, Bale melirik ke arah kiri ruangan. Biasanya masker gasnya lumayan mengurangi kemampuan melihatnya, tetapi sekarang dia dapat melihat dengan cukup jelas. Cukup jelas sampai dia menyadari siluet samar jeruji di sisi kiri adalah bagian dari sebuah sel tahanan.
Begitu Sarah selesai menyalakan lilin ruangan dan mengonfirmasi apa yang telah Bale lihat, dia berkata, “Maaf sebelumnya, tetapi untuk sementara kami harus menempatkan kalian berdua di sel kami sampai kalian siap menemui para dewan.”
“Sel?” Ratna bertanya dengan heran.
“Meski kami sudah mendengar sekilas cerita kalian dari Kris, kalian sebenarnya masih tersangka utama kasus pembunuhan petinggi kami, jadi kami harus mengamankan kalian dan melihat nanti apakah semua yang kalian katakan itu benar adanya.” Sarah menjawab seraya mulai menuntun kedua peneliti Yayasan tersebut ke sel mereka.
“Bale, tolong bilang selnya setidaknya terawat.” Ratna berkata dengan ekspresi tak nyaman dan jelas terganggu.
Bale mengamati bagian dalam sel dan terkekeh pelan. “Terbengkalai, tetapi tidak ada sampah atau bangkai setidaknya.”
“Ya itu mah sudah jelas, kan kita di situs Yayasan. Ku yakin mereka malah akan membayarmu jika berhasil menemukan seekor serangga saja, bahkan di sini.” Ratna berkata dengan nada kesal. “Sekali lagi berbaring di lantai berdebu, yah…”
“Ah, kasurnya di pojok kanan kok.” Bale segera berkata begitu mengetahui fokus utamanya.
“Oh, seharusnya kau bilang itu tadi.” Ratna membalas seraya berjalan mendahului Bale memasuki sel.
Bale ingin membalas, tetapi dia akhirnya hanya menggeleng dan mengikutinya masuk ke dalam. Sarah segera menutup pintu jeruji sel mereka dan menguncinya. Bale tanpa hentinya menatap mereka berdua dari balik sel. Meski dia terlihat tengah mencoba menunjukkan ketidaksenangannya ke mereka, sebenarnya dirinya tengah mencoba memikirkan akan metode keluar dari sel ini.
Sarah sepertinya cukup baik untuk mengaitkan wadah berisi lilin yang dia pegang tadi ke samping pintu sel sebelum meninggalkan mereka dalam gelapnya ruang belakang markas Angelika. Kris mengikutinya dengan patuh di belakang. Kini cuma mereka berdua di ruangan itu.
Bale melirik ke arah Ratna yang tengah menyapu debu menjauh dari kasurnya. “Kau memutuskan untuk kembali tidur?”
“Memangnya kita bisa apa sekarang?” Ratna membalas seakan itu seharusnya sudah jelas.
Bale mengamati kembali sekeliling sel mereka. Dari pengamatan sekilasnya, dia tidaklah melihat satu pun celah yang cukup besar untuk bisa dilalui di sel ini. Dia bisa kembali mencoba menendangnya, tetapi terlepas dari berkarat atau tidaknya jeruji ini, para Angelika di sisi sebelah ruangan jelas akan mendengar dengung nyaring besinya.
Bale akhirnya pasrah dan duduk bersandar di dinding. Dia jelas tidak bisa keluar dari teritori malam ini seperti rencana awal. Memikirkan itu, dia teringat sesuatu mengenai percakapannya sebelumnya dengan Herria. Dia melirik ke Ratna yang sepertinya hampir selesai. “Kita bisa saling bercerita, kau tahu. Terutama mengenaimu.”
“Hah? Apaan emang?” Ratna membalas dengan nada tak tertarik. Dia sepertinya siap tidur segera.
“Entahlah, mungkin mengenai awal karirmu di situs ini bersama Louis sebagai Peneliti Stellia?”
Ratna duduk diam seketika, tidak jadi berbaring. Dia sama sekali tidaklah bergerak seketika sejak mendengar itu. Dengan pelan dia berkata, “Aku terkejut kau akhirnya mengetahuinya…”
“Yah, aku punya kecurigaan sejak awal.” Bale berkata, mencoba terdengar percaya diri. “Menurutmu kenapa aku terus menyinggung Louis? Reaksi wajahmu, bahkan sikapmu tiap aku menyinggungnya semakin membuatku yakin akan itu.”
Ratna hanya terkekeh. “Aku bisa menerapkan hal yang sama dengan nada bicara dan kosakatamu. Kau benar-benar tidak tahu setidaknya sampai di koridor pagi tadi. Kau menyinggung Louis karena kau perlu menyinggung betapa hebatnya kau sebagai asistennya.”
Bale tertegun, tak menduga balasannya. Dia perlahan tersenyum, tertarik untuk memenangkan argumen ini. “Aku psikolog, sesuatu seperti bersikap natural dan menggali informasi selagi bersikap bodoh akan hal itu merupakan hal mudah bagiku.”
Ratna hanya tertawa selagi menggeleng pelan. Dia menoleh ke arah Bale dan berkata, “Jika kau tahu sejak awal, kau seharusnya sudah mengetahui nama lengkapku pada saat aku pertama mengenalkan diri.”
Bale mulai memikirkan balasan. Dengan segera dia membalas, “Aku tak berniat mempermalukan diriku menduga hal tersebut. Tidak saat aku tidak tahu berapa banyak orang bernama Ratna di situs ini.”
“Dan saat di ruang pengujian? Kau tahu aku memanggil Christ dengan nama dekatnya. Seperti dugaanmu, aku dekat dengannya. Seharusnya itu menjawab pertanyaanmu kan?” Ratna masih bertanya.
“Louis beralasan dia memakai nama belakangnya karena nama depannya sering salah disebut. Pertanyaanku selanjutnya adalah apa alasanmu memakai nama belakangmu juga.” Bale kembali menjawab.
“Heh, kau tak mencoba menanyakan itu sejak awal kita di koridor sampai di ruang Saintika tadi.” Ratna tak hentinya mengujinya.
“Aku menunggu kesempatan kita bisa berbicara secara pribadi seperti ini.” Bale membalas, mulai percaya diri mengetahui jawabannya sejauh ini cocok dengan fakta yang ada.
“Jadi apa alasanmu menolak sekamar di asrama Saintika kalau begitu?” Ratna terkekeh, berpikir untuk mengakhiri deretan pertanyaannya dengan ini.
Tidak ada yang dapat melihat Bale tersenyum puas saat akhirnya dia menjawab, “Nah, ku rasa Louis akan membunuhku untuk itu.”
Lagi pula aku punya seseorang di luar sana juga.
Ratna akhirnya tertawa pelan. “Yah, sudahlah. Aku mulai lupa apa yang kita debatkan semakin kita melenceng. Anggap saja kau benar.”
Ratna perlahan mendekati dinding. Dia sepertinya tidak jadi berbaring, malahan dia mulai duduk bersandar juga di dinding selagi menatap kosong ke arah luar sel. “Jadi, apa lagi yang kau ingin tanyakan?”
Bale diam selama beberapa saat, mencoba menyusun pertanyaannya. Tetapi pada akhirnya pertanyaannya cukup sederhana. “Kenapa kau kembali ke situs ini?”
“Kenapa? Aku tak boleh kembali ke situs tempat suamiku bekerja?” Ratna balas bertanya.
“Ku asumsikan Louis tidak tahu keberadaanmu di sini. Jadi kuasumsikan jawabannya sama dengan alasan kenapa kau tak memberitahukannya dan kau memakai nama belakangmu juga.” Bale menjawab. “Jadi kenapa?”
Ratna terdiam, tak lagi bertanya setelah itu. “Untuk melihat sendiri apakah alasan Christ untuk menjauhkanku dari 79 masih benar adanya. Apakah situs ini masih sama seperti saat terakhir ku tinggalkan.”
Bale terkekeh akan pilihan katanya. “Jadi apa pendapatmu mengenai Tuan Louis sekarang setelah ‘melihatnya’? Ku asumsikan dia menyembunyikan ambisi balas dendamnya darimu, bukan?”
Ratna menghela nafas. “Ya, Herria yang memberitahukannya padaku. Aku sudah lama mencari kesempatan kembali ke situs, bahkan hanya untuk jadi tamu semata. Anomali kita itu adalah tiket masuk yang selama ini kutunggu. Herria… dia tidak hanya menyembunyikan tindakan Christ, tetapi dia juga bersikeras agar aku tidak kembali kemari. Dia baru berani mengungkapkan segalanya setelah aku terdaftar sebagai peneliti undangan. Jelas aku tidak percaya saat itu.”
“Dan pendapatmu sekarang?” Bale bertanya.
Ratna tak menjawab. Dia hanya termenung menatap kosong ke lantai. Bale melirik ke arahnya, menyadari itu pertanyaan buntu. Ratna, tak peduli separah apa yang Louis lakukan di lantai atas, sepertinya tidaklah mampu mengatakan dia tak menyukainya. Tidak jika dia sendiri berkata dia tahu alasan Louis lakukan adalah untuk dirinya.
Membuatnya memikirkan hal lain yang berkaitan. Bale merasa kenapa tidak sekalian menanyakan kebenaran sebuah insiden darinya.
“Apa Herman memang pantas mendapat ancaman pembunuhan darinya?” Bale mencoba memicu jawaban darinya. Atau emosinya, tak ada bedanya karena itu pun termasuk jawaban juga.
“Jelas… tidak.” Ratna membalas. Awalnya dia reflek menjawab dengan nyaring, tetapi dia terhenti dan melanjutkan kata keduanya dengan suara yang lebih pelan.
“Kau tak yakin?” Bale bertanya. Itu jelas reaksi menarik darinya. Ratna segera membalas, “Tidak, Pak Herman jelas tidaklah harus mengalami itu! Yang Christ lakukan itu memang salah, tak peduli alasannya.”
“Kau ada rencana memberitahukan itu padanya nanti setelah kita keluar dari sini?” Tanya Bale dengan penasaran.
Sekali lagi, Ratna tak menjawab. Awalnya itu yang Bale kira sampai Ratna akhirnya membalas pelan, “Aku lebih memilih ada yang menghentikannya selain diriku. Aku mengetahui ini karena aku juga menyembunyikan kedatanganku darinya. Ini jelas hanya akan memperburuk percakapan nantinya.”
Ratna mendongkak, jelas tak termenung mengamati langit-langit sel mereka. “Tetapi nanti, nanti aku akan menemuinya langsung di situs ini. Aku tak akan keluar dari situs ini sebelum keadaannya berubah.”
Bale menatapnya selama beberapa saat sebelum ikut mendongkak menatap langit-langit sel. “Jika bukan melawan Herman, dia melawan Frederick dan pasangannya. Di situs ini, kau tak akan kehabisan alasan untuk membuat lawan, jadi perubahan yang kau inginkan itu hanyalah Impian yang mustahil.”
“Tunggu, serius? Dia ngelakuin apaan ke Pak Frederick?” Ratna sepertinya terkejut akan hal itu.
“Bukan dia yang memulai, tapi pasangan itu. Lantai atas itu dibagi menjadi dua faksi, dengan Frederick dulunya mendominasi. Louis terpaksa membuat faksi kedua untuk menentang dominasi paksa Frederick atas penelitiannya. Setelahnya dimulailah perselisihan panjang berkisar dari perebutan penelitian sampai baku hantam.” Bale menjelaskan. “Aku berpengalaman menghadapi anak buah mereka selama kira-kira seminggu sebelum pasangan itu menghentikan serangan mereka. Louis kemudian mulai merancang beragam rencana penyerangan ke Herman setelahnya, masih melibatkanku juga.”
“Kuasumsikan kau menyukainya, bukan. Kau selalu memilih opsi melawan sejak kita memasuki teritori ini.” Ratna bertanya.
“Suka maupun tidak, aku asistennya. Aku tidak bisa memilih ingin melakukan apa, tetapi setidaknya aku bisa memilih senang atau tidak dalam melakukannya.” Balas Bale selagi menunduk menatap lantai.
Sebelum dia mulai memikirkan nasib menyedihkannya, dia segera berkata, “Bicara mengenai menjadi asisten Louis, boleh aku menanyakan satu hal denganmu?”
“Yang awal tadi bukan pertanyaan?” Ratna berkata dengan nada sarkas.
Mata kanan Bale berkedut sekilas memikirkan perempuan ini masih saja memeras pikirannya untuk membuat alasan. Dia mengharapkan percakapan normal tanpa gelarnya dipertanyakan setiap saat. “Yang tadi… kau yang menawarkan ingin bertanya apa. Ku rasa aku perlu mengonfirmasi dulu untuk yang kedua.”
“Terserah, apa lagi yang ingin kau tahu?” Ratna terkekeh.
“Apa yang tepatnya terjadi di hari insiden itu? Apa yang Louis katakan mengenai Herman itu benar?” Bale akhirnya menanyakan apa yang selalu membuatnya penasaran sejak awal dia mendengar ocehan Louis mengenai Herman.
Ratna diam selama beberapa saat. Bale mengharapkan dia diam memikirkan jawabannya dan bukan diam tak ingin menjawabnya. Beruntungnya Ratna menghela nafas dan mulai bercerita, “Hari itu ya… apa saja yang kau ketahui mengenai itu? Sekedar meluruskan saja sebentar.”
Bale memikirkan kembali ocehan Louis sebentar. “Hmm… Insiden terjadi saat kau meneliti sesuatu untuk Pak Herman. Lalu… seingatku Louis bilang sesuatu mengenai Herman memaksamu kembali ke ruangannya di tengah pelanggaran penahanan. Dan kemudian kau dan pengawalmu Agen David terkena ledakan. Juga Herman tak pernah meminta maaf kepada mu atau Louis.”
Ratna mendengarkan cerita Bale dengan seksama. Kini gilirannya yang bercerita, dan Bale mengamatinya dengan seksama. “Saat itu aku memang di tengah penelitian lanjutan untuk Pak Herman. Dan… memang kami meremehkan pelanggaran penahanan itu dulu. Tidak banyak anomali berbahaya di lantai Safe, kan? Jadi kami mengabaikannya sampai Herman meminta kami kembali ke ruangannya.”
“Tunggu,” Bale menyela. Ketika dua kata terdengar mirip sampai sama, dia jelas merasa ada yang tak beres. Jadi dia memutuskan bertanya, “Yang pertama meyakinkan kalau keadaan selama pelanggaran penahanan itu aman untuk diabaikan itu apakah kau sendiri, Agen David, atau Herman?”
Ratna diam mencoba mengingat. Dari ekspresinya, dia sepertinya mulai ingat siapa yang pertama melakukan itu.
“…Pak Herman seingatku. Tetapi dia menenangkanku karena aku panik jadi aku-“ Ratna menjawab, tetapi Bale kembali memotong.
“Aku cuma perlu mengetahui itu. Alasan bisa dibuat setelah keputusan diambil dan konseksuensi diterima.” Katanya.
Ratna termenung memikirkannya. “Jadi kau percaya pada Christ? Percaya akan pendapatnya mengenai Herman?”
“Kau tidak membencinya karena itu?” Bale balas bertanya.
“Tidak? Dia atasan yang baik dan ramah, kau tahu. Tetapi dia selalu sibuk sehingga pantas rasanya jika aku membantunya sebagai asisten. Ku rasa pada akhirnya, itu salahku…” Ratna menjawab dengan yakin meski diam termenung setelahnya.
Bale hanya menatapnya sebagai balasan. Dia perlahan mengangguk dan menatap kembali ke depan seakan dia sudah mendapatkan apa yang dia ingin ketahui.
Setelah menatap ke kegelapan ruangan selama beberapa saat, dia kembali bosan. Jadi persetan dengan betapa menjengkelkannya mencoba mengajaknya bicara, Bale kembali menoleh ke arah Ratna dan bertanya, “Jadi apa yang kau teliti saat itu?”
“Jadi mereka tak akan kembali sampai malam?”
Salah satu Angelika yang tengah berbaring di sofa bertanya kepada rekannya yang tengah mengelap zirah mereka. Tanpa zirah besinya, kedua personel tersebut tak jauh beda dari personel keamanan Yayasan meski seragam mereka lebih kusam.
“Yah, tujuan pertama komandan adalah melaporkan temuan mereka kepada Bapa Hilman. Mereka seharusnya akan melaksanakan rapat segera setelah itu, tetapi kemungkinan kita harus menemukan sekretaris Brian itu untuk keterangannya.” Jawab lawan bicaranya.
“Yah, biarkan senior kita yang cari dia. Bersyukur kepada Bunda Brethennia kita diminta tinggal di markas sepanjang hari.” Balas pria pertama tadi.
“Tepatnya komandan meminta kita menjaga markas dan dua orang Normalis itu, kan?” Lawan bicaranya mencoba membenarkan.
“Tenanglah Rafli, mereka tak akan ke mana-mana.” Pria tadi melambai mengabaikan kekhawatirannya selagi terkekeh.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Pria tadi segera berdiri dari kursinya dan mengamati pintu mereka. Lawan bicaranya tadi juga, meski dia masih membersihkan zirah mereka. Dia segera mendekati perlengkapan mereka dan mengenakan zirahnya sebelum membuka pintunya. Dia tahu komandannya tak mungkin kembali secepat ini. Kris, mungkin, tetapi seingatnya komandannya memastikan Kris dalam pengawasannya terutama untuk menghadapi sekretaris Brian itu. Jadi kemungkinan besar di depan pintu bukanlah sesama Angelika.
Setelah dia siap, dia segera membuka pintu. Suasana di luar sudah gelap. Lampu koridor sudah padam dan seharusnya para Luminitas sudah mulai menghidupkan obor di dinding. Di depan pintu mereka berdiri seorang pria yang mengenakan jubah kemerahan Luminitas. Dia tidaklah mengenakan tudungnya, menunjukkan wajahnya yang mendekati 40-an. Lumayan muda bagi Brethennia.
“Saudara Antasan, selamat malam! Apa ada yang bisa kami bantu?” Dia segera berkata.
“Malam, tuan. Anda Satria Wildan, bukan? Ada yang ingin saya bicara di dalam. Apakah saya bisa masuk sebentar?” Antasan berkata pelan. Dia terdengar gugup, tetapi dari sikapnya dia mencoba menyembunyikan itu.
“Tentu!” Wildan tanpa rasa penasaran segera membiarkannya masuk. Antasan perlahan melangkah masuk ke dalam. Dia mengamati sekilas keadaan ruangan Angelika. Dia tidaklah terlihat penasaran sebenarnya, tetapi lebih ke arah mencoba mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.
Akhirnya dia duduk di sofa di tengah ruangan yang sebenarnya memang untuk tamu sejak awal. Wildan duduk di sisi seberang meja yang berada di antara keduanya. “Jadi, apa yang ingin anda bicarakan?” Tanya Wildan dengan penasaran.
Antasan sepertinya lumayan ragu-ragu untuk bicara, tetapi akhirnya dia memberanikan diri berkata, “Apakah cuma kalian berdua saja yang berada di ruangan ini?”
Wildan terkekeh selagi melirik ke arah Rafli. “Yah, cuma saya dan Satria Rafli di sini seperti yang anda lihat. Kedua Baneret kami tengah mendampingi komandan dalam penyelidikan kasus pembunuhan Bapa Kriyot. Kami kebagian jaga ruangan.” Jawabnya.
Selayaknya pertanyaan pembuka untuk mempersiapkan diri, Antasan kini bertanya dengan nada yang lebih tegas. “Apakah benar… Si Setan Bertopeng itu di sini?”
Jelas dua orang Angelika tersebut terkejut mendengarnya. “Dari… mana anda mendengar itu?” Wildan bertanya dengan ekspresi tenang, meski nadanya tidak berhasil menyembunyikan rasa gugupnya.
Informasi tersebut seharusnya hanya diketahui Angelika dan kolaborator kedua Normalis itu semata demi kebaikan mereka. Mereka berdua jelas tak akan bisa apa-apa jika markas diserbu massa nantinya. Apa senior mereka melakukan pengakuan ke Luminitas? Wildan berpikir di balik ekspresi tenangnya. Tidak… bahkan jika seperti itu, seharusnya Luminitas menjaga rahasia setiap pengakuan layaknya pastor pada umumnya…
“Sebagai Luminitas, saya harus merahasiakan siapa yang telah melakukan pengakuan tersebut.” Antasan berkata, mengonfirmasi teori Wildan. “Tetapi saya ke sini atas keinginan saya sendiri… Saya hanya ingin mengetahui yang sebenarnya.” Lanjutnya.
Wildan melirik ke arah Rafli, yang hanya mengangkat bahu tak tahu harus apa. Wildan menghela nafas selagi menatap kembali Luminitas di depannya. Setelah mempertimbangkannya selama beberapa saat, dia memilih mempercayakan rahasia mereka pada Luminitas seraya membalas, “Ya. Kami menahan mereka saat ini di belakang. Tentu kami tak berniat menyembunyikan mereka. Rencananya mereka nanti akan bersaksi juga di hadapan dewan, jadi sampai saat itu tiba, kami mengamankan mereka agar tidak terjadi apa-apa nantinya.”
“Boleh… Boleh saya menemui mereka?” Antasan segera melanjutkan permintaannya.
Wildan mempertimbangkannya sekilas. Tidak ada salahnya baginya untuk mempertemukan mereka seharusnya. Dia dengan segera menyetujui permintaan Antasan.
“Tentu, biar saya tunjukkan ruangannya. Rafli, ikut aku.” Wildan berkata seraya berdiri dari sofanya. Meski dia percaya diri akan keputusannya, dia tetap merasa perlu membawa rekannya sebagai saksi untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu nantinya.
Ketiga orang tersebut segera berjalan menuju pintu di ujung ruangan.
“…Jadi infohazard itu pasti cognitohazard?”
Ratna mengangguk. “Seperti kataku tadi, baik memetic hazard maupun infohazard hanya bisa diantarkan melalui satu atau beberapa pancaindra manusia, yang artinya keduanya seharusnya dikategorikan sebagai cognitohazard terlebih dahulu.”
“Jadi kenapa mereka mendebatkan kemungkinan akan kebalikannya dalam kasus infohazard tadi?” Bale bertanya kembali.
Dia sedari tadi menghabiskan waktu mereka dengan tanya jawab. Awalnya dia cuma menanyai penelitian Ratna dulu, lalu penelitiannya sekarang, lalu penelitiannya di Amerika sana, dan terakhir di sinilah mereka tengah membahas konsep dasar memetika. Sebenarnya awalnya Ratna membahas konsep memetika keatas, tetapi seluruh bagian mengenai saraf dan sinapsis yang dijelaskan Ratna hanya numpang lewat di telinganya. Bermodal Pendidikan CI semata – mereka lebih tertarik mengajarkan hal taktis – dia beruntung setidaknya paham teori sosial saja dan untungnya dia berhasil mempertahankan alibi itu saat gelarnya dipertanyakan beberapa kali karenanya.
“Karena idiot-idiot itu tidaklah mau mengerti kalau mendengar mengenai informasi tersebut juga dihitung cognitohazard. Maksudku, dari mana kau dapat infohazard di otakmu kalau begitu? Kinetohazard? Yang benar saja…” Ratna terkekeh.
Sayangnya percakapan mereka terpotong begitu terdengar suara dari arah pintu, seperti tengah dibuka. Benar saja, cahaya terang ruangan sebelah muncul begitu daun pintu terbuka, hanya tertutup oleh bayangan orang-orang yang segera masuk ke dalam ruangan membawa sebuah lilin.
“Selamat malam,” Salah satu diantara mereka berkata. “Kita kedatangan seorang Luminitas Brethennia, Saudara Antasan yang ingin berbicara dengan kalian mengenai insiden malam sebelumnya.”
Seseorang berjubah gelap perlahan mendekat melewati orang tadi. Dia berjalan mendekati pintu sel sebelum berjongkok, kini sejajar dengan Bale dan Ratna yang tengah duduk di lantai menatap ke arahnya.
“Saya… Luminitas Brethennia Antasan.” Dia berkata dengan nada gemetar. Bale mulai tertarik mendengarnya dan mencondongkan diri mendekatinya karena meski cahaya lilin samar, dia tidak melihat air mata darinya. “Apakah kalian terlibat dengan pembunuhan Bapa Kriyot?” Dia akhirnya bertanya.
“Tidak. Dia membakar dirinya sendiri dan hampir meledakkan kami karenanya.” Bale menjawab singkat. Sedari awal, hal tersebut memang terdengar hampir mustahil untuk terjadi bagi Brethenitas manapun yang mendengarnya termasuk Kris dan Tharmin awalnya. Bale sudah lama mengkhawatirkan seluruh rencana bertemu dengan para dewan itu karenanya.
“Begitu ya…” Dia berkata pelan. Dia perlahan berdiri, membuat Bale heran karena dia mengharapkan bantahan darinya.
Tetapi kemudian dia menoleh ke belakang dan berkata, “Tuan, apakah saya boleh memasuki sel ini? Saya ingin mendapatkan kebenaran langsung darinya.”
“Maksud anda?” Angelika yang mendampinginya kebingungan mendengarnya.
“Saya perlu menghadapinya dari dekat, memegangi tangannya dan merasakan nadinya. Melihat apakah dia benar-benar berkata yang sebenarnya. Apakah saya bisa melakukannya?” Antasan memperjelas. Dia kini terdengar tegas dan percaya diri.
“Uhh… Tentu.” Angelika tersebut berkata dan segera mendekati selnya. Dia mengeluarkan kunci sel dan mulai membukanya. Bale mengamati pintu sel yang perlahan dibuka. Sempat terlintas di pikirannya untuk mencoba kabur, tetapi dia tidaklah tahu apakah ada Angelika lain di luar sana. Lagi pula, dia perlu membawa Ratna juga, jadi dia mengurungkan niatnya dan memilih menjadi tahanan yang baik.
Dapat terdengar Luminitas itu menarik nafas yang dalam sebelum melangkah masuk. Dia kini mulai menarik tudung jubahnya dan menutupi kepalanya dengannya. Dia segera mendekati Bale. Kini dengan wajahnya ditutupi bayangan tudungnya, Bale tidak dapat melihat ekspresinya dengan jelas.
“Berikan tangan dominanmu.” Dia berkata.
Tentu saja rasa paranoid Bale yang sejak dulu ada membuatnya menyerahkan tangan kirinya untuk Luminitas itu pegang. Bale segera menyadari ada yang janggal saat melihat Luminitas itu memegang lengannya. Bukan pergelangan tangannya, tetapi tengah-tengah lengannya seakan dia ingin itu terbuka. Jelas dia tidak berniat mengecek nadinya sedari awal.
Dan Bale dapat merasakan genggamannya menguat.
“Saya bertanya sekali lagi, apakah anda yang membunuh Bapa Kriyot?” Dia bertanya kembali dengan nada yang lebih keras. Bale sedari tadi mencoba fokus mengamati ekspresinya di balik bayangan gelap tudungnya, dan sekarang dia cukup yakin dia mengetahui apa yang kini dirasakannya dari wajah samarnya.
Amarah.
Bale melirik sekilas ke arah kedua Angelika di luar sel yang sepertinya tak tahu apa-apa dan memikirkan kembali kenapa dia selalu dikelilingi orang inkompeten.
“Bukan. Pria tua itu mati membakar dirinya sendiri.” Bale akhirnya menjawab.
Dan dengan itu tiba-tiba saja Luminitas di depannya mengeluarkan belati dari jubahnya dan menggenggamnya dengan tangan kirinya. Dia mengangkat tinggi tangannya segera. Bale tidak tahu entah dia hendak menikam dada atau pergelangannya, tapi dalam detik itu juga Bale segera mendorongnya jatuh dengan lengan kanannya mendorong dagu Luminitas itu.
Keributan pun segera terjadi. Kedua Angelika tadi jelas terkejut dan segera bereaksi cepat mencoba memisahkan mereka. Ratna terkejut menyadari mereka jatuh di dekatnya, tetapi dia tahu dia tidak dapat berbuat apa-apa.
“Apa-apaan yang tengah kau lakukan ini?!” Salah satu Angelika yang menahannya berkata.
Luminitas itu tidak menjawab, dia sudah membulatkan tekadnya pada satu tujuan sejak ketukan pertamanya di pintu Angelika tadi.
Beberapa saat sebelumnya
“…Ampuni aku, ampuni aku, ampuni aku…”
Seorang Luminitas tengah fokus berdoa dengan segenap hatinya. Ruangan sunyi, hanya berisi permohonan maafnya kepada Sang Bunda Brethennia di depannya. Bahkan Luminitas tidaklah berani masuk ke dalam kecuali mereka benar-benar harus menghadap dewi mereka. Dibandingkan pendahulu mereka, mereka merasa tidaklah pantas menghadap dewi mereka seenaknya. Dan pria itu merasa dosa yang dipikulnya hanya bisa dijawab Sang Bunda Brethennia semata.
Dosa akan dirinya mengetahui kematian Bapa Kriyot tanpa bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya, atau ketidakbolehan dirinya untuk membalasnya. Perintah-perintah Sang Bunda Brethennia sangatlah manusiawi; di antara serangkaian larangannya, dia jelas melarang pembunuhan selayaknya agama lainnya.
Dan sedari tadi, dirinya mencoba menghilangkan keinginan mencari sang Heretika yang telah membunuh Bapa Kriyot dengan berdoa sepenuh hatinya.
Dia lumayan lama duduk di pojokan, merasa masih belum cukup upayanya. Ditengah-tengah doanya, dia mendengar pintu terbuka dan langkah kaki berat perlahan mendekat. Dia tidaklah memedulikan itu dan tetap fokus pada doanya. Sayangnya dalam ruang sunyi ini, dia tidak bisa tidak mendengarkan apa yang orang yang baru datang tadi katakan dalam pengakuan dosanya.
“Aku… kami sebenarnya melanggar perintah para dewan dan menyembunyikan kedua Normalis itu.”
Seketika pria itu menghentikan doanya. Dia tidaklah mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berdoa, tetapi dia tetap mendengarkan dengan seksama.
Setelah selesai mengakui dosanya, orang di depannya dengan tergesa-gesa melangkah pergi. Kali ini pria itu melirik ke samping, sekilas melihat bahwa dia memakai zirah Angelika. Dia tidak percaya apa yang telah dia lihat.
“Bisa-bisanya…” Pria tersebut berbisik. Dia tidak menyangka seorang Brethennia, Angelika malah, melakukan dosa sebesar itu. Dan kini dia tahu di mana harus mencari sang pembunuh itu.
“O Bunda Brethennia, apa maksud anda membiarkan saya menyaksikan itu semua?” Dia berdoa pelan selagi menunduk kembali. Tak ada jawaban, jelas. Hanya ada keheningan bak dirinya sendiri yang harus mencari kesimpulan itu.
Pria itu tanpa sadar mengangguk. Dirinya setuju akan pemikiran itu. Perlahan dia berdiri, berniat mencari kebenaran dari Angelika tadi. Dengan segera dia keluar ruangan, menoleh ke sekeliling berupaya mencari orang tadi. Dia tidak tahu orang itu ke mana, jadi dia memilih bergegas ke arah kiri koridor. Sebenarnya merupakan arah berlawanan dari yang diambil Angelika tadi.
Tanpa sadar dirinya memasuki koridor dekat markas Fikser.
Setelah beberapa saat berjalan, dia sepertinya menyadari Angelika tadi tidak lewat sini. Dia segera berbalik dan hendak melangkah kembali ke depan ruangan Sang Bunda Brethennia ketika pintu ganda di belakangnya terbuka.
Dari balik pintu melangkah keluar seorang perempuan berseragam putih Sekuritas tanpa zirahnya. Pria itu ingat itu merupakan tanda dia tidak sedang bertugas. Logo Yayasan di kedua sisi lengannya lama dicoret selayaknya seragam Brethennia lain yang memilikinya, mengikuti pendahulu mereka yang melakukannya sebagai tanda devosi mereka kepada Sang Bunda Brethennia. Rambutnya panjang, dihalangi oleh bungkusan kain besar di punggungnya yang dia bawa.
Perempuan itu melirik begitu mengetahui ada orang di koridor. Pria tadi berbalik kembali hendak pergi ketika dia mendengar suara, “Hey, kau kenal Bapa Kriyot, kan?”
Dia segera berbalik dan melihat perempuan itu tersenyum ke arahnya. “Tentu, saya Luminitas Brethennia, Saudara Antasan. Apa ada yang bisa saya bantu?” Dia berkata seraya perlahan mendekat.
“Kau sudah dengar rumornya kalau Bapa Kriyot dibunuh?” Perempuan tersebut berkata.
Tangan pria itu terkepal, amarah yang sedari tadi dia coba hapus dengan mudahnya muncul kembali. “Ya, seorang Heretika yang mereka panggil ‘Si Setan Bertopeng’ yang melakukannya…”
“Heh, kan Dewan sudah tidak menyarankan kita memanggil Normalis dengan nama asli faksi mereka lagi.” Perempuan itu terkekeh. Dia tersenyum selagi melanjutkan, “Apa kau tahu rumor akan keberadaannya?”
Pria itu terbelalak, tanpa sadar dia berkata, “Di… mana mereka?”
Perempuan itu tersenyum puas seakan dia ingin mendengar pertanyaan itu diucapkan. Dia segera mendekati pria itu sebelum mencondongkan dirinya dan berbisik di sampingnya, “Ku dengar para Angelika menahannya.”
Dia diam. Semuanya yang telah dia lihat dan dengar kini terasa masuk akal. Tetapi dia tidak tahu harus apa dengan informasi ini. Siapa yang mau mendengarkan seorang Luminitas berpangkat rendah semata dibandingkan subfaksi Angelika itu sendiri meski mereka berdosa, terlebih melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Dia bisa memberitahukan massa yang sedari tadi mencari pembunuh mereka, tetapi seorang Luminitas harus menyimpan semua pengakuan yang telah dia dengar sesuai perintah Bunda Brethennia.
“…Apa yang harus ku lakukan…” Dia tanpa sadar berbisik.
“Apa yang seharusnya kau lakukan.”
Pria itu tertegun dan menatap ke depan. Perempuan itu kemudian melanjutkan, “Kau harus menghadapi sendiri pembunuhnya. Ambil belati ritual Luminitas, pergi ke ruangan Angelika dan tatap pembunuh itu tepat di matanya selagi kau menikamnya!”
Pria itu tidak bisa berkata apa-apa. Semuanya kini jelas sekarang. Apakah ini pencerahan dari Sang Bunda Brethennia? Dia berpikir dalam diamnya.
Akhirnya hanya satu kalimat yang terucapkan. “Terima kasih.” Dan dengan itu dia beranjak pergi.
Sedari tadi sayangnya dia tidaklah menyadari, perempuan itu sebenarnya tersenyum licik saat menatapnya.
Sekarang
“Bagaimana ini bisa terjadi…” Seorang Angelika berkata seraya menghela nafas. Dia menggaruk kepalanya selagi mengamati sel di depannya. Luminitas tadi kini duduk sendiri menatap pojok sel. Keuda tangannya sudah diborgol dan belatinya sudah diamankan.
“Inkompetensi.” Balas Bale yang menatap mereka selagi dirinya bersandar di dinding di samping Ratna.
“Tch, kau tak perlu ikutan.” Angelika tadi berkata kesal. “Rafli, apa kau bisa mengamankan ruangan sementara aku keluar mencari senior? Kita tidak tahu apakah dia memanggil massa dalam perjalanannya kemari.”
“Apa tidak sebaiknya kau saja, Wildan. Kau tahu aku tak mungkin menahan massa sendirian jika mereka menerobos masuk.” Rekannya membalas.
Wildan hanya mengembuskan nafas pasrah. “Terserah, ayo.”
Dan dengan itu kedua Angelika yang mengawasi mereka melangkah pergi menuju pintu dan keluar meninggalkan tahanan mereka.
Bale menatap mereka pergi sampai pintu tertutup, menyisakan cahaya redup lilin di depan sel mereka semata. Dia lalu melirik ke Luminitas yang duduk di pojok itu. Dia merasa tidak ada salahnya mengajaknya bicara.
“Jadi, namamu tadi-“
Sebelum Bale selesai bertanya, Luminitas itu segera berteriak, “Diamlah Heretika!”
Lalu dia kembali bergumam. Bale sebenarnya mencurigai itu, tetapi kali ini dia bersuara cukup jelas sehingga jika dia diam, dia dapat mendengarkan apa yang saat ini dia tengah bisikkan.
“…Ampuni aku Bunda Brethennia, ampuni aku Bunda Brethennia, ampuni aku Bunda Brethennia…”
Dan dia terdengar terisak selagi membisikkan itu. “Biarkan saja dia. Dari suaranya aku bisa memastikan dia sedang tidak stabil saat ini untuk diajak bicara.” Ratna berkata.
“Yah, aku juga dapat melihatnya, heh.” Bale berkata, sedikit terkekeh menyadari pilihan katanya. Ratna hanya menggeleng dan memutuskan sudah waktunya untuk berbaring di ranjangnya.
Bale sendiri tak yakin bisa tidur dengan dirinya berada di samping Luminitas tak stabil ini. Dia juga tidak bisa mengajak bicara Ratna dengan Luminitas ini terus menggumam di pojokan. Pada akhirnya ia kembali memikirkan rencananya seharusnya untuk malam ini.
Dia tidak tahu pukul berapa sekarang, tetapi setidaknya saat ini dia seharusnya sudah berkumpul dengan Ratna dan dua orang Brethenitas itu di ruang Saintika. Mereka seharusnya tinggal menunggu jam malam dan pergi dari ruang penahanan yang diglorifkasi ini.
Sayangnya sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Sebenarnya dia bisa mencoba menghancurkan sel ini, tetapi dia jelas tak akan bisa menghadapi para Angelika yang berjaga tepat di sebelah ruangan.
Bale tiba-tiba tertegun memikirkan itu, dia ingat sekilas salah satu Angelika itu berkata sesuatu mengenai ‘memanggil senior mereka’ dan ‘berjaga sendirian di ruangan’. Dia reflek berdiri dan mendekati pintu sel mereka. Dia mencoba menajamkan pendengaran, meski tidak terdengar apa-apa di luar sana.
Tetapi kemudian Bale melangkah mundur. Meski hanya ada satu Angelika saja yang berjaga, dia harus punya alasan bagus kenapa dia harus kemari, terlebih membukakan pintu selnya. Setelahnya adalah memikirkan bagaimana mengalahkannya dan pergi keluar selagi berharap memang cuma ada satu orang saja yang berjaga di ruangan.
Dia kemudian kepikiran saat pintu sel dibuka mereka untuk memasukkan Luminitas tadi. Pemikiran itu membuatnya melirik kembali ke Luminitas di pojokan. Kedua tangannya terborgol di belakang. Belati yang dipakainya tadi ditaruh di sebuah meja tepat di seberang sel.
Apa yang harus ku lakukan…
Bale berpikir keras akan pertanyaan itu. Dia tahu kesempatannya terbatas sampai Angelika yang keluar tadi kembali dengan sisa personel mereka, jadi dia harus memutuskan rencananya saat ini juga.
Dia sebenarnya sudah mendapatkan satu solusi, tetapi dia tidaklah terlalu ingin melaksanakannya karena itu bagaikan rencana B. Tetapi rencana A adalah menunggu para Angelika untuk menuntun dirinya dan Ratna berkeliling teritori untuk menyelesaikan kasus mereka, semakin mengikis kemungkinan hidup mereka pada tiap langkah di tempat terbuka teritori ini.
Bale melirik ke arah Luminitas di pojok sekali lagi. Membulatkan tekatnya selagi perlahan mendekatinya. Dia mengibahkan jas labnya. Para Angelika tadi menahan mereka hanya sekedar supaya mereka tak kemana-mana, jadi mereka tak memedulikan masker gasnya yang tergantung, tersembunyi di balik jasnya. Tak memedulikan dia menyangkutkan maskernya ke kapakknya yang jelas tersembunyi juga.
Kenapa ini selalu terjadi…
Dengan cepat dia menyekap mulut Luminitas tadi dan segera menyayat pergelangan tangannya dengan kapaknya dalam sekali tebasan kuat. Jelas Luminitas itu mencoba berteriak, tetapi Bale menahan mulutnya sekuat tenaga. Darah mulai menggenang di lantai, menodai seragamnya.
“Kenapa selalu aku yang hampir mati…” Bale berbisik selagi menahan mulutnya. Lawannya jelas mencoba meronta, tetapi itu hanya menguras darahnya lebih cepat.
“Kau tahu, aku selalu menahan diri selama ini.” Bale sepenuhnya berbicara sendiri, tak memedulikan lawannya mulai melemah. “Aku pernah terkurung di ruangan kecil seperti ini dulu. Ada… lima? Mungkin enam orang di ruangan itu dan cuma satu masker gas. Kita semua akan mati kecuali memakai masker gas, jadi aku mengambil inisiatif dan kau tahu sisanya. Kapakku dulu merah karenanya.”
Lawannya sepertinya berhenti meronta dan perlahan terbaring lemah. Bale melepaskan sekapannya begitu yakin tak ada udara yang masuk di hidungnya lagi.
“Dibandingkan itu, kapak Yayasan ini masih putih bersih.” Bale berkata seraya berdiri. Dia mengayunkan kapaknya, mencoba mengeringkannya. Dia melirik ke belakang dan mendapati Ratna masih tidur membelakanginya. Bale menatap ke arahnya sejenak.
Lalu dengan cepat dia menendang pintu sel seraya mulai berteriak, “Tolong! Tolong!”
“Apa yang-“ Ratna sepertinya terbangun karena teriakannya. Bale menoleh cepat ke arahnya dan berkata, “Luminitas gila itu membunuh dirinya!”
Dia tidaklah terlalu fokus ke arah Ratna, dia lebih konsentrasi ke arah membuka pintu sel ini sebisanya selagi menghasilkan keributan senyaring mungkin sebagai rencana B barunya.
Dengan segera pintu di depan mereka terbuka. Angelika yang berjaga tadi segera berlari ke arah sel. “Ada apa?” Dia berkata selagi mendekat.
“Luminitas gila itu membunuh dirinya!” Bale mengulang kembali alibi yang telah dibuatnya.
“Apa… Saudara Antasan!” Angelika itu sepertinya baru menyadari darah yang menggenang di dekatnya. Dengan cepat dia membuka pintu sel dan masuk ke dalam.
Bale segera mundur dan mendekati Ratna. “Bu Ratna, apa anda punya memetik yang cukup untuk melumpuhkannya sejenak?”
“Kenapa- Apa kau membunuhnya?!”
Bale tertegun dan menoleh ke Ratna. Baru dia sadar saat mengetahui ekspresi Ratna, terlihat bahwa dia mulai takut.
“Memetik yang kau pakai untuk melumpuhkanku itu, cepat berikan agar kita bisa keluar.” Bale segera berkata kembali.
Ratna hanya menggeleng, jelas menginginkan penjelasan.
Bale melirik ke arah Angelika tadi yang duduk jongkok mengecek keadaan. Dia untungnya tidak memakai helm, jadi rambut hitam berantakannya terlihat. Bale menghela nafas dan segera mendekatinya. Kapaknya kali ini dikeluarkan dan diangkatnya tinggi. Dengan segera dia mengayunkannya sekuat yang dia bisa.
Dan dengan itu dia memukul kepala Angelika tadi dengan belakang kapaknya. Dia punya alibi untuk Luminitas tadi, tetapi tidak untuk Angelika. Untungnya pukulannya bekerja dan dia jatuh tak sadarkan diri.
Dia mengamati pintu sel yang terbuka. Lalu dia melirik ke arah Ratna. Bale menghela nafas dan berjalan pelan mendekatinya. “Aku tidak membunuhnya. Mungkin ini sifat bawaan Luminitas untuk selalu swasida dan menyusahkanku karenanya?”
Ratna menelan ludahnya, “Lalu bagaimana kau bisa menyusun rencana secepat itu?”
Kali ini Bale baru bisa tersenyum. “Aku asisten Louis, menyusun rencana dalam keadaan mendesak adalah keahlian yang cukup kuandalkan selama membantunya.”
Ratna sepertinya masih ragu akan jawaban Bale, tetapi perlahan dia berdiri. “Jadi… apa rencanamu sekarang?”
Bale melirik kembali ke pintu sel yang terbuka. “Keluar dari sini segera. Kau bisa mengecek keadaan di ruang sebelah sendirian kan? Aku perlu mengunci sel ini agar dia tidak mengikuti kita.”
“Tentu.” Ratna sepertinya tak banyak membantah, sepertinya mulai memahami situasi mereka.
Bale sendiri tidak langsung mengunci sel. Dia segera berlari ke meja di seberang dan mengambil belati Luminitas tadi. Dengan cepat dia kembali ke sel. Bale menatap belati di tangannya sebentar sebelum melemparnya ke dekat mayat Luminitas tadi. Belati itu membentur dinding sel sebelum tergeletak di lantai, terendam darah karenanya. Angelika tadi sepertinya masih pingsan, dan dari pengalaman menyakitkan Bale, ingatannya pasti kabur selama beberapa menit pertama setelah bangun, menciptakan alibi sempurna.
Tidaklah terlalu sempurna sebenarnya dengan Bale mengunci sel mereka, tetapi setidaknya dia bisa beralasan mereka mengambil kesempatan untuk kabur karenanya.
Begitu sampai di ruang utama Angelika, Bale mendapati Ratna berdiri dekat pintu. Dia sepertinya menyadari kedatangan Bale sehingga dia menoleh. “Jadi, apa sekarang?”
Bale tersenyum mengamati semua berjalan lancar sejauh ini. “Sekarang, kita punya janji temu di perbatasan malam ini juga.”
Kronik Situs-79
Bab 7: Perburuan Penyihir(1)
« …Diberkatilah Mereka, Brethennia… | …Diteguhkanlah Mereka, Sekuritas… | …Dari Ketidaksucian Para Heretika… »




