Terdapat sebuah meja besar di sebuah ruangan luas. Meja tersebut sebenarnya adalah empat buah meja biasa yang disusun rapat dan ditutupi kain putih, jelas sudah kusam termakan usia. Ruangan tersebut memiliki dinding beton kokoh yang seharusnya berwarna putih pucat jika saja penerangan ruangan memadai. Lampu artifisial ruangan telah lama diganti sejak penggunaan perdananya dengan lampu gantung gelap, menerangi ruangan tersebut dengan belasan lilin terpasang. Para pendahulu merekalah yang menggantinya saat pertama kalinya mencoba menafsirkan apa yang direstui dan dibenci dewi mereka. Di seluruh dinding ruangan, terdapat sebuah simbol yang diukir oleh mereka; sebuah lingkaran dengan salib di antaranya, tanpa satu garis di bagian kanannya.
Ruangan tersebut lumayan terisi orang. Terdapat dua orang mengenakan jubah gelap kemerahan, lalu ada empat orang lainnya yang mengenakan seragam hazmat putih kusam, dan tiga orang mengenakan seragam putih berlapis jas lab kusam. Sisanya mengenakan seragam personel keamanan Yayasan berlapis pelindung besi, mengelilingi ruangan.
Nafas orang-orang tersebut dapat terlihat di dalam ruangan setiap mereka bernafas. Suhu ruangan di bawah 5 Celcius, lebih dingin beberapa derajat dibanding ruangan lain di Teritori Brethennia. Ruangan tersebut terisolasi dengan rapat jika tidak digunakan, mengakibatkannya menjadi bak ruang pendingin seiring waktu karena minimnya penggunaan.
Empat orang di antara mereka tengah duduk di kursi yang dijejerkan mengelilingi meja besar di tengah ruangan tersebut. Mereka hanya melakukan pertemuan ini sekali dalam sebulan. Mereka sebenarnya sudah melakukan pertemuan berkala beberapa hari yang lalu bahkan, tetapi mereka kembali berkumpul pagi ini.
Mereka semua berkumpul untuk membicarakan kursi kelima yang tengah kosong pagi ini.
Suara hantaman palu menghantam alas kayu terdengar dua kali, berasal dari seorang pria berjubah merah gelap yang duduk di paling ujung meja. Suara itu mengheningkan bisikan dari pembicaraan para personel lain yang tengah berdiri mengamati mereka.
“Tolong tetap tenang selama pertemuan!” Pria tersebut berkata. “Kita baru memulai pertemuan!”
“Dengan segala hormat Ketua Dewan Hilman, anda harus mengerti bahwa kita membicarakan pembunuhan seorang dewan di sini.” Seorang perempuan dengan rambut mulai keabu-abuan berseragam peneliti berkata seraya dia berdiri dari kursinya. “Ditambah lagi dengan rumor akan pembunuhnya ini. Anda tidak dapat meminta seluruh teritori untuk tenang setelah mengetahui itu.”
“Dan kita akan membahasnya setelah ini, dewan-dewan.” Hilman membalas seraya menghela nafas. “Kita semua tengah berada di tanah pertama Bunda Brethennia memberkati kita! Menurut kalian Sang Bunda Brethennia merestui perdebatan ini?”
Hening menyelimuti ruangan tersebut. Tetapi kemudian, seseorang berdiri dari kursinya. Dia mengenakan seragam hazmat, tetapi dari kaca beningnya dapat dilihat bahwa dia adalah perempuan. “Izin berbicara, Ketua Dewan Hilman.”
“Akhirnya, seseorang dengan rasa hormat.” Hilman tersenyum lega. “Saya mempersilahkan Dewan Tirta Pulani untuk bicara.”
“Terimakasih,” Dia berkata. “Tentu kita sudah mengetahui bahwa kita berkumpul di sini karena telah mendengar betapa mengejutkan dan tragisnya kematian Dewan Kriyot malam tadi.”
Ruangan hening, terdiam memikirkan hal itu.
“Tetapi seperti yang beberapa orang katakan tadi, mungkin kita harus mengamati kembali bagaimana Dewan Kriyot akhir-akhir ini mencoba mendorong perubahan baru dan – jika saya boleh katakan – sedikit… menyimpang.”
Kembali terdengar bisikan marah pada setengah ruangan, tetapi sebelum Hilman mengetuk palu kembali, para hadirin sepertinya dapat mengontrol diri sehingga ruangan tenang kembali.
“Jika saya boleh lanjutkan, bisa jadi kematiannya merupakan perwujudan nyata akan keinginan Bunda Brethennia. Kitalah anak-anaknya, para Normalis di luar sana sudah jelas tidak ingin memilih Sang Bunda Brethennia. Tindakan Dewan Kriyot jelas telah melanggar hal itu dengan terus berbicara kepada para Normalis.”
“Jadi apa yang ingin anda sampaikan?” Salah satu anggota dewan bertanya.
“Belajar saja darinya. Tidak peduli betapa sempurnanya kami sebagai Kontinensia dalam menjalankan tugas penahanan, jika Bunda Brethennia berkehendak memberikan pelajaran, siapalah kita untuk mencegahnya?”
Perempuan berseragam peneliti sebelumnya terkekeh. Dia kemudian berkata, “Sepertinya anda memang sengaja meninggalkan detail penting tadi ternyata.”
Kontinensia tadi menoleh ke arah perempuan tersebut dan berkata, “Jika anda ingin melanjutkan teori anda tadi, silahkan saja.” Dia lalu kembali duduk.
“Saya izin berpendapat, Ketua Dewan Hilman.” Perempuan tersebut berkata.
Hilman menghela nafas sebelum berkata, “Saya mempersilahkan Dewan Vanessa Cassandra untuk bicara.”
Vanessa mengangguk. Dia membenarkan kacamata bingkai persegi yang dipakainya sebelum berkata, “Dewan-dewan sekalian, dan semua yang hadir hari ini… Saya Vanessa Cassandra merepresentasikan Ordo Saintifika Brethennia Kedua kita, izin berbicara. Kita telah membicarakan mengenai tragedi yang menimpa Brethennia malam tadi. Terlepas akan apa yang telah dilakukan oleh Dewan Kriyot selama ini, kita tidak dapat mengabaikan bagaimana dia terbunuh tadi malam. Dan kita telah mendengar rumor yang sepertinya telah menyebar dalam semalam, akan tersangka yang telah membunuh Dewan Kriyot. Seseorang bernama ‘Si Setan Bertopeng’.”
Kembali terdengar suara bisikan di kerumunan penonton mereka sekilas. Vanessa melirik ke sekelilingnya sebelum melanjutkan, “Tentu saja, seseorang sepertinya berasal dari luar Teritori Brethennia. Dia pasti dikirim oleh Yayasan, untuk membunuh Dewan Kriyot!”
Kali ini suara bisikan tak terbendung, Hilman segera mengetuk palunya kembali dengan keras. “Dewan Vanessa, tolong perjelas kenapa anda berteori seperti itu?”
“Tentu.” Dia mengiyakan. “Kita semua bertanya-tanya, kenapa Yayasan mengirim orang untuk membunuh petinggi kita. Saya punya satu teori. Mungkin… dan ini hanya kemungkinan saja, tetapi Yayasan merasa sudah cukup akan eksistensi kita.”
Ruangan kembali ribut. “Ini lagi…” Salah satu dewan berkata.
“Aku serius! Mereka bisa merancang pelanggaran penahanan yang dialami saudara Kontinensia kita, mereka bisa dan mungkin saja memang membunuh anggota dewan kita! Yayasan mungkin mengamati kita akhir-akhir ini, mengamati apakah Kriyot berhasil menyatukan kembali teritori kita dengan mereka. Bisa saja Yayasan merasa Kriyot telah gagal sehingga memutuskan untuk mengambil langkah ekstrem!” Vanessa menegaskan.
“Bunda Brethennia tak akan mengizinkan Yayasan melakukan-“
“Kitalah yang berada di depan Bunda Brethennia! Dan saat ini ancaman Yayasan lebih nyata dibandingkan restu Bunda Brethennia.” Vanessa terus bicara.
“Beraninya-“
“Harap tenang!” Hilman kembali menghantamkan palunya dengan keras. “Tidak bisakah kalian semua menunjukkan martabat sebagai mantan personel Yayasan terhormat!”
Keadaan perlahan tenan kembali, tetapi ketegangan masih dapat terasa. Hilman memutuskan untuk bertanya kembali, “Tetapi untuk apa mengirim ‘Si Setan Bertopeng’ ini alih-alih bernegosiasi dengan kita? Dan bicara mengenai itu, bukankah ini melanggar perjanjian damai kita dengan mereka kalau begitu?”
“Sebenarnya, kitalah yang bergantung akan perjanjian damai itu.”
Suara tersebut bukan dari para dewan. Mereka menoleh dan mendapati pintu baru saja dibuka. Seorang pria gendut mengenakan jas dan dasi hitam menyelimuti kemeja putih pucatnya perlahan melangkah masuk. Para hadirin termasuk para dewan mengamati dia berjalan menuju ke tengah ruangan sampai dia berdiri di belakang kursi kelima meja tersebut yang kosong.
“Izin berbicara, Ketua Dewan.” Dia berkata dengan senyum.
Hilman menatapnya dengan ekspresi terganggu. Akhirnya dia berkata, “Ahem, saya tidak mempersilahkan Tuan Brian untuk bicara dalam pertemuan ini.”
“Dewan Brian Chandra, selayaknya yang dinyatakan oleh mendiang Bapa Kriyot.” Brian mencoba membenarkan.
“Kami belum memutuskan hal tersebut. Anda tahu betapa… kacaunya situasi yang anda telah buat.” Hilman berkata.
“Maaf? Saya hanya mencoba mencari kebenaran akan kejadian yang terjadi malam tadi dan membalas kematian teman dekat saya Bapa Kriyot.” Brian membalas.
“Anda membuat seluruh teritori rusuh dan siap membunuh orang itu! Kami semua sudah mendengar rumornya, Tuan Brian. Kami sudah mendengar bagaimana anda menjelaskan kejahatannya dan memengaruhi seluruh teritori untuk menegakkan keadilan atas nama Bunda Brethennia. Melempar kekayaan anda untuk memastikan hasilnya. Bahkan ku dengar anda menyarankan untuk menerapkan kembali Tiang Gantung.” Hilman membantah. Bahkan menjadi Luminitas tidaklah bisa menahan kekesalannya yang terselip dalam nadanya.
“Saya cuma mengatakan kepada relasi saya akan apa yang saya dengar terjadi. Lalu mereka menceritakannya ke relasi mereka, dan begitulah keadaannya sekarang. Mungkin itu keinginan Bunda Brethennia.” Brian membalas dengan tenang.
“Jangan coba-coba berlindung di balik nama Bunda Brethennia! Satu teritori tidak pernah sepanas ini sejak Hari Nativita!” Salah satu dewan berkata keras.
“Sudah cukup akan perdebatannya!” Hilman berseru kesal. Dia menoleh ke arah Brian, mengamati dia memegangi pinggir kursi kosong tersebut. “Apa yang sebenarnya anda ingin sampaikan?”
“Sederhana,” Brian tersenyum. “Tangkap saja ancaman baru ini. Saya merekomendasikan kita harus Bersatu dan menangkapnya demi Bunda Brethennia. Kita dapatkan kebenaran darinya!”
Terdengar sorakan setuju dari kerumunan personel yang menyaksikan. Hilman sendiri tidak mencoba menenangkan mereka. Dia diam memikirkan hal tersebut. Setelah beberapa saat mempertimbangkan, dia menoleh ke belakang dan berkata, “Saya mempersilahkan Komandan Angelika Sarah Valentina untuk mendekat.”
Seorang personel di dekat dinding perlahan mendekati tengah ruangan. Dia berjalan melalui ketua dewan dan para dewan lain sampai dia berada di sisi seberang meja.
“Sekarang, ulangi kembali laporan anda mengenai kasus tadi malam.” Hilman berkata.
“Terima kasih, Ketua Dewan.” Sarah berkata dengan sopan. Dia lalu berkata, “Pada tepat tengah malam, terjadi pelanggaran penahanan serangkaian Anomalis, salah satunya adalah Resepsi Abadi, yang dimana lampu koridor tiba-tiba menyalah terang, mendukung pertumbuhan intensifnya. Kami tidak sempat mengurusnya karena percaya pemadaman seharusnya sudah menanganinya. Kami baru mengetahui bahwa Bapa Kriyot tewas di koridor perbatasan setelah mendengar suara ledakan di kejauhan. Saat itu ada empat orang Fikser terlebih dahulu di lokasi.”
“Tunggu,” Salah satu dewan menyela, “Kenapa tidak terlintas bahwa mungkin mereka pelakunya?”
“Karena mereka tengah menangani lampu sebelumnya, ini dikuatkan kesaksian beberapa Sekuritas yang bersama mereka sebelumnya.” Sarah menjawab. Para dewan mengangguk mengerti.
“Jadi, apa pendapat anda mengenai kematian Dewan Kriyot?” Hilman kemudian bertanya.
Sarah diam sejenak, memikirkannya. Akhirnya dia menghela nafas dan menjawab, “Sejujurnya, ada terbesit bahwa mungkin ada yang salah akan kematiannya. Awalnya kami mengira dia tewas membakar dirinya saat menghentikan pelanggaran penahanan, tetapi kemudian beredar rumor di pagi harinya bahwa dia telah dibunuh. Saya menyempatkan menginterogasi beberapa orang yang saya temui dalam perjalanan kemari dan mereka menyebutkan ‘Si Setan Bertopeng’ ini. Perlu diketahui bahwa sebelum jam malam, saya telah menginterogasi beragam tokoh penting kita dan tidak disinggung orang seperti ini.”
“Mungkin anda mewawancari orang yang salah, Komandan.” Brian menanggapi.
“Tuan Brian, harap selesaikan penjelasannya!” Tegur Hilman. Dia lalu bertanya, “Jadi apa pendapat anda mengenai orang ini?”
Sarah menatap ke arah Brian, yang menatapnya dengan tegang di balik senyumnya. Akhirnya dia menjawab, “Terlepas rumor yang telah beredar, saya merasa perlu mendapat kebenaran dari orang ini.”
Hilman mengangguk mendengarnya. Dia mengalihkan perhatiannya ke para dewan di depannya dan perlahan berdiri seraya berkata, “Baik… dewan-dewan sekalian, yang setuju untuk mengerahkan Angelika untuk penyelidikan ‘Si Setan Bertopeng’ ini terlebih dahulu?”
Tiga orang mengangkat tangan. Dua Kontinensia dan dirinya sendiri. Brian menatapnya dengan senyum, meski tangannya tengah mencengkram bangku di depannya.
“Baik, 3 dari 4 orang setuju. Jika 2 dari 2, aku akan mempertimbangkan untuk menerima suaramu sebagai calon dewan.” Hilman berkata kepada Brian. Dia menoleh ke arah Sarah dan berkata, “Baik, saya izinkan anda pergi untuk menjalankan tugas kalian. Semoga Bunda Brethennia merestui anda.”
Sarah menangguk dan melangkah pergi ke arah pintu. Dia bisa mendengar suara ketukan palu sebanyak tiga kali di belakangnya.
Dia membuka pintu besi ganda tersebut dan melangkah keluar. Dia diam merasakan suhu luar yang lebih hangat. Tak lama setelah dia menutup pintu, sekumpulan orang melangkah keluar mengikutinya.
“Jadi apa tugas kami?” Salah seorang di antara mereka.
Tanpa berbalik, Sarah berkata, “Pertama, kita cari Baneret Kris.” Perintahnya singkat dan pelan, tetapi rekannya dapat mendengar dinginnya intonasinya.
Dalam diamnya keadaan itu, mereka dapat samar-samar mendengar suara langkah kaki berat mendekat. Awalnya dikira sebagai Sekuritas, begitu ada yang menoleh, mereka mendapati seorang personel berseragam besi serupa dengan mereka berjalan pelan seraya memegangi bahunya yang ternodai warna kemerahan.
“Kris!”
Dua orang personel segera berlari ke arahnya. Mereka mencoba membantu Kris bersandar ke dinding, tetapi dia mengangkat tangan kanannya dan menolak.
“Baneret Kris, kau dari mana saja?” Sarah perlahan mendekat. Meskipun nadanya terdengar datar dan memerintah, wajahnya yang tak tertutup helm menunjukkan ekspresi khawatirnya.
“Aku menemukan… dua orang peneliti Normalis yang hilang itu…” Kris berkata, masih menahan rasa sakitnya.
“Sialan. Komandan, sebaiknya kita bawa Kris ke ruang medis dulu!” Salah satu Angelika berkata.
“Tentu.” Balas Sarah dengan singkat. Dia mengamati kedua Angelika di samping Kris membantunya berjalan cepat menuju ruang medis Teritori Brethennia. Dia sendiri mengikuti mereka dari belakang dengan perasaan tak pasti memikirkan perkataannya.
Ruang medis berada di belakang ruang umum subfaksi Saintika. Masuk akal karena yang mengurusnya memang mantan personel Yayasan yang kebetulan memiliki pengetahuan medis. Sayangnya Bunda Brethennia melarang mereka untuk meminta pengobatan Normalis.
Salah satu Angelika segera mengetuk pintu. Seorang berseragam peneliti kemudian membuka pintunya. Dia segera menjelaskan keadaannya kepadanya sebelum mengintruksikan sisa rekannya membantu Kris masuk. Mereka mulai melepaskan baju zirah Kris sebelum dia dibaringkan di salah satu diantara dua ranjang mereka.
Para Angelika segera mundur dan membiarkan dua orang personel ruang medis segera bekerja mengurus lukanya. Saat seragamnya dibuka, Sarah tertegun begitu menyadari dia mengalami luka tembak. Dia melirik ke sesama Angelika di sampingnya. Mereka jelas menyadari hal serupa dan pasti akan memiliki pertanyaan tentangnya. Mereka tahu senjata api merupakan hal langka di Situs ini dulu, terlebih di Teritori Brethennia sekarang dan seharusnya hanya ada beberapa yang memilikinya. Mereka sebenarnya bisa mulai menebak siapa yang menembaknya, tetapi mereka semua hanya diam mengamati operasinya.
Ruang medis Teritori Brethennia bisa dibilang sederhana. Seluruh bangsal medis di situs ini sejak dulu berebut sumber daya untuk ruangan mereka, dengan bangsal medis lantai Keter adalah yang terlengkap. Dengan perintah Bunda Brethennia untuk memutus kontak dengan Normalis, mereka harus membuat ruang medis sendiri untuk Teritori Brethennia. Personel di ruangan ini hanya bisa menangani cedera normal semata. Jika ada yang terkena efek anomali, mereka hanya bisa mengikatnya di tengah koridor dan menunggu jam malam tiba.
Tentu saja, mereka sudah memiliki pengalaman puluhan tahun untuk menghindarinya sebisa mereka.
Tak berselang lama, luka tembak Kris telah dirawat dan dibalut perban. Para personel ruang medis mulai merapikan kembali peralatan mereka. Sebelum para Angelika di sampingnya mulai bertanya, Sarah segera menoleh ke arah mereka seraya berkata, “Kalian keluar dulu. Aku perlu menanyainya secara tertutup.”
Para Angelika menatap ke arahnya. Beberapa yang tak memakai helm menunjukkan ekspresi heran, tetapi akhirnya mereka menurut dan segera beranjak pergi. Sarah juga menginstruksikan personel ruang medis untuk keluar juga.
Pada akhirnya, hanya tersisa Sarah saja bersama Kris yang masih terbaring di ranjang.
Sarah melirik ke arah pintu ruangan yang sudah tertutup sebelum akhirnya berjalan mendekati ranjang. “Baik Kris, ceritakan kronologi akan apa yang kau lakukan setelah berpisah denganku tadi malam.”
Kris melirik ke arah komandannya yang menatap dengan penasaran. Akhirnya dia berkata, “Dua orang peneliti itu… Mereka ditahan oleh Fikser… Aku menemukan mereka hampir dieksekusi di koridor.”
Sarah memang merasa terkejut mendengar hal tersebut. Sama halnya dengan Kris, dia memang mengetahui Brian dekat dengan Fikser, jadi jelas entah apa yang Fikser tersebut inginkan dengan peneliti Normalis itu, Brian pasti terlibat. Tetapi entah kenapa dia juga tidak heran Kris melanjutkan investigasinya sendiri.
Sarah memutuskan untuk memastikan kecurigaannya. “Dan yang menembakmu itu?”
Kris menatap ke arah Sarah sejenak sebelum menjawab, “Sekretarisnya Brian Chandra, Lian.”
Sarah mengangguk mengerti. Dia berjalan perlahan membelakangi Kris. Kris sendiri tidak tahu apa yang tengah dipikirkan komandannya selagi dia berdiri diam dan mendongkak menatap langit-langit.
Akhirnya, Sarah berkata tanpa menoleh, “Jadi apakah itu sepadan?”
Hening sekilas. Kris sebenarnya mengkhawatirkan ini, tetapi komandannya tadi memang terlihat khawatir tentangnya. Tetapi tetap saja, pada akhirnya dia tetaplah komandannya.
“Maaf?”
“Simpan itu untuk Bunda Brethennia.” Sarah berkata. Dia berbalik dan berjalan cepat ke arah Kris. Kris ingin bereaksi, tetapi dia masih merasakan sakit, jadi dia hanya setengah terpejam ketika Sarah mengeluarkan belati rondelnya dan menikamnya ke ranjang, tepat di samping kepala Kris.
“Bunda Brethennia secara spesifik menyatakan tidak boleh ada interupsi dalam jam malam! Kau bahkan bohong padaku untuk itu.” Tuduh Sarah.
“Kau mengharapkan apa? Jam malam sudah dikuasai Fikser sekarang! Mereka bebas berkeliaran menodai kesucian jam malam selama bertahun-tahun!” Elak Kris dengan tegas.
“Dan menurutmu sudah waktunya bagi Sekuritas – Angelika malah – untuk ikut mengabaikan perintah Bunda Brethennia? Kita adalah malaikat pilihan Bunda Brethennia, ditugaskan menegakkan perintahnya!”
Kris menggeleng, “Jika Fikser berhasil meloloskan rencana mereka… Jika Brian sukses menjadi dewan karenanya, bukankah itu artinya kita gagal sebagai sayapnya?”
Sarah tidak menjawab. Dia diam menatap Kris yang menatap balik dengan gugup. Perlahan dia menarik kembali belatinya, meninggalkan bekas lubang tikaman di ranjangnya. “Logikamu itu, mungkin akan diterima oleh Baneret Starla atau Angelika bawahan kalian, tetapi aku mengenalmu sejak awal. Aku membiarkanmu pergi karena aku percaya kau tak sebodoh itu untuk berkeliaran di jam malam. Kemampuanmu membuatmu bisa mendapat pangkat Baneret. Aku bahkan rela turun pangkat dan menjadikanmu komandan.”
Sarah menghela nafas, “Masalahnya adalah, kepatuhanmu akan Bunda Brethennia selalu kupertanyakan.”
“Komandan…” Kris berkata pelan. “Apa aku boleh jujur akan satu hal?”
“Kau diperbolehkan, Baneret.” Balas singkat Sarah.
“Menurutmu kenapa aku melakukan ini semua? Kenapa aku peduli akan keberadaan dua orang peneliti Normalis? Kenapa aku melawan Fikser di tengah jam malam sampai tertembak? Aku melakukannya karena aku percaya Bunda Brethennia ingin keadilan ditegakkan. Ku rasa kau juga sama.”
“Ada caranya untuk menegakkan keinginan Bunda Brethennia. Cara yang direstuinya.” Sarah menyanggah.
“Fakta bahwa aku masih hidup membuktikan kalau Bunda Brethennia bersamaku, bukan?” Balasnya.
Sarah diam memikirkannya. Dia menatap Kris selama beberapa saat sebelum dirinya berkata, “Keinginan Bunda Brethennia untuk mengampunimu, kalau begitu.”
Kris tersenyum lega sesaat setelah mengetahui nasibnya aman. Tetapi kemudian dia kembali bertanya, “Jadi apa yang terjadi di ruang rapat tadi? Aku mendengar sesuatu mengenai perburuan orang, sesuatu mengenai ‘setan bertopeng’ sepanjang aku ke sana.”
“Sebuah rumor yang tiba-tiba muncul pagi ini. Orang-orang bilang seseorang bertopenglah yang telah membunuh Bapa Kriyot. Ku rasa kau tahu sesuatu mengenai ini?”
“Salah satu peneliti Normalis mengenakan masker gas, tetapi baik dia maupun peneliti satunya sudah kupastikan tidak terlibat pembunuhan Bapa Kriyot.” Jawab Kris. Dia melirik ke pintu sekilas sebelum melanjutkan, “Bahkan, aku mungkin menemukan keterangan yang cukup mengejutkan dari mereka.”
“Tunggu, di mana mereka saat ini? Kita diperintahkan dewan untuk menemukan dan mendapatkan keterangan dari mereka.” Sarah segera bertanya.
“Benarkah? Aku mengarahkan mereka langsung ke koridor pembatas setelah kami diserang dua orang Sekuritas di koridor. Mereka tiba-tiba saja berteriak kalau Normalis itu harus mati. Aku terpaksa pakai pistol untuk itu.” Kris membalas.
“Kau menembak orang lagi?” Sarah meletakkan satu tangannya ke muka tanda kecewa. Dia tahu Kris tidaklah bisa memakai belati rondel seperti Angelika lain karena dia mantan agen lapangan yang lebih terlatih pakai pistol. Mereka berdua sudah lama menyetujui kalau Bunda Brethennia tidak mengatakan apa pun mengenai penggunaan pistol, tetapi mereka sebagai Angelika sudah dianugerahi zirah mereka lengkap dengan pedang dan belati rondelnya oleh dewan terdahulu saat awal-awal pembentukan faksi. Jelas para dewan tidaklah mengharapkan Angelika menggunakan senjata api.
“Aku terpaksa karena tidak menduga serangan mereka. Ditambah aku tidak bisa mengayunkan pedang dengan leluarsa dengan lukaku ini.” Kris beralasan.
Sarah mengembuskan nafas pasrah. “Baik, jadi di mana kau taruh mayat mereka?”
“Ruangan kita. Makanya aku tahu kalau kalian ke ruang rapat.” Jawab Kris. Mereka tidaklah masalah sebenarnya jika harus membunuh sesama Brethennia, tetapi mereka harus mempertanggungjawabkan alasannya ke hadapan para dewan, dan mereka harus membawa mayatnya ke hadapan mereka. Jelas mereka akan bertanya mengenai luka tembaknya.
“Sepertinya Bunda Brethennia ingin memberi kompensasi pada Klinser…” Sarah menggumam pelan. Dia lalu kembali fokus ke Kris dan berkata, “Jadi, apa yang peneliti Normalis itu ketahui?”
“Selamat datang di ruang utama Ordo Saintifika Brethennia Kedua.”
Seorang pria yang mengenakan jas lab kusam melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran sedang. Meja panjang berderet yang biasa ditemukan di laboratorium situs memenuhi tengah ruangan. Tetapi pinggiran ruangan dipenuhi tumpukan kardus berisi kertas dan map yang menyimpannya, beberapa terlihat berdebu bak mereka tengah di gudang.
“Jujur saja Tuan Tharmin, tempat ini seperti labirin kau tahu. Kenapa setiap ruangan tidak saling terhubung dan malah terpisah?”
Seseorang berjas lab juga melangkah masuk mengikuti pria itu. Selain masker gasnya yang mencolok, dia mengenakan jas yang, meski bernoda, tetap lebih bersih dibandingkan pria tersebut. Di belakangnya seorang perempuan dengan jas serupa masuk paling akhir dan menutup pintunya.
“Karena seluruh teritori ini awalnya ruang penahanan Anomalis, ingat? Dengan terbentuknya Teritori Brethennia dan para faksi, kami tentu harus menyesuaikan ruang penahanan yang ada untuk kebutuhan kami sendiri dengan menambalnya dengan papan kayu atau membobolnya hancur.” Tharmin menjawab selagi membuka tirai yang terpasang di dekat pintu. Meski koridor kini disinari cahaya artifisial, mereka terpaksa memecahkan lampu-lampu di dalam ruangan karena hanya lampu koridor yang diizinkan untuk hidup berdasarkan perumusan awal para pendahulu mengenai tafsiran perintah anti elektronik Bunda Brethennia.
Lampu koridor diizinkan para pendahulu karena ia bisa digunakan untuk menyimulasikan siang dan malam. Setidaknya mereka tidak harus membakar obor tiap saat. Mereka juga bisa memanfaatkan sinar artifisial lampu koridor untuk menerangi bagian dalam ruangan meski untuk itu mereka harus menghancurkan dinding ruangan mereka untuk jendela.
Setelah Tharmin membuka kedua jendela ruangan, dia segera berjalan ke pojok ruangan dan mencoba mencari sesuatu. Setelah beberapa saat, dia sepertinya menemukannya dan bergegas kembali.
“Sementara kalian pakai ini untuk jaga-jaga!” Tharmin berkata. Dia menyodorkan dua buah jas lab kusam tak terpakai kepada kedua orang yang baru datang. Orang pertama segera melepas jas labnya dan berkata, “Bu Ratna, lepas jasmu. Kita perlu ganti dengan jas mereka.”
“Aku tahu, Bale. Aku bisa mendengarnya, kau tahu.” Ratna membalas dengan nada terganggu. Dia memang ikut melepas jasnya juga di saat bersamaan. Bale sendiri tidak peduli dan berpikir setidaknya dia berniat baik dengan memikirkan kondisi atasannya itu.
Mereka segera memasang jas kusam tersebut. Selagi mengenakannya, Bale memikirkan kembali kenapa mereka berdua harus mengenakan jas punya Brethenitas.
Beberapa saat yang lalu
Kris mengangkat mayat personel Sekuritas dan menyandarkannya di bahunya. Terdapat dua sekuritas tergeletak dan dia hanya bisa mengurus satu dan menyembunyikan satunya di pojok koridor.
“Koridor perbatasan sudah diisi Sekuritas sekarang. Aku tidak bisa mengambil risiko terlihat oleh mereka mendampingi kalian, dan kalian sebaiknya tidak mengambil risiko menerobos perbatasan juga.” Dia berkata tanpa berbalik.
“Jadi apa saranmu, tuan?” Bale memutuskan untuk bertanya.
Akhirnya Kris menoleh ke belakang dan berkata, “Doktor Tharmin, tolong sembunyikan mereka berdua di markas Saintika sampai jam malam.”
Tharmin terkejut dan membalas, “Anda yakin?”
“Ya. Sejak Pemanen Raya, kalian tidak punya kerjaan lagi, kan? Ruangan utama kalian tidak digunakan kecuali untuk penyimpanan dokumen semata sekarang, kan?” Balas Kris selagi dirinya mulai berjalan menjauh.
Tharmin menatapnya menjauh sebelum berbalik ke kedua peneliti Yayasan di belakangnya dan berkata, “Baik, saya punya rencana…”
Sekarang
Bale dan Ratna sudah selesai mengenakan jas lab punya Saintika. Sepertinya Ratna terlihat tak nyaman mengenakannya, tetapi dia tidak punya pilihan lain.
“Dan tentu saja anda harus melepaskan masker gas anda, Bale.” Tharmin berkata seraya menunjuk masker gas miliknya.
“…Tentu, kalian punya masker medis sebagai penggantinya?” Bale bertanya terlebih dahulu.
“Uhh… ya, rasanya kami punya…” Tharmin sepertinya heran akan pertanyaannya, tetapi dia tetap mengecek tumpukan dokumen dan barang di pojok sebelum mengeluarkan sekotak penuh masker medis yang masih tersegel. “Ini.” Katanya seraya menyodorkan sebuah masker medis. “Tetapi untuk apa?”
Bale mengambil nafas dalam-dalam sebelum melepaskan masker gasnya. “Jaga-jaga.”
Meski hanya sekilas, Tharmin bisa melihat bekas luka besar di pipi Bale, membuatnya terkejut. “O… ohh…”
Ratna sepertinya penasaran dan bertanya, “Kenapa kau terdengar terkejut?”
“A… itu…” Tharmin sepertinya ragu apakah dia perlu mengatakan apa yang dia lihat. Bale sendiri yang sudah selesai mengenakan masker medisnya memutuskan untuk mendekati Ratna. “Kemarikan tanganmu sebentar.”
“Eh, untuk apa?” Ratna menunjukkan ekspresi bingung dan sedikit melangkah mundur.
“Sheesh, sebentar saja.” Bale tanpa ragu memegang pergelangan tangan Ratna yang terselimuti jas lab Saintika. Dengan cepat dia mengangkat masker medisnya dengan tangan satunya sebelum mendekatkan tangan Ratna ke pipinya.
“Eh, apa…” Ratna jelas terkejut saat merabanya sekilas, sebelum perlahan merabanya kembali. “…Yang…”
“Luka lama.” Bale berkata seraya melepaskan genggamannya. “Jangan salah, alasanku mengenakan masker gas karena aku pernah hampir diracuni sekali, dan aku tidak ingin mengambil risiko hal itu terulang kembali.”
“Apa… apa Christ tahu mengenai ini?” Ratna bertanya, tangannya perlahan diturunkannya kembali.
“Seluruh personel atas yang bisa melihat dan kebetulan sempat melihat tahu itu, termasuk Tuan Louis.” Bale menjawab.
Ratna hanya menghela nafas. “Kau tahu aku bertanya baik-baik, kan? Kau tak perlu menekankannya seperti itu.”
“Heh, maaf.”
Tharmin akhirnya mendehem dan berkata, “Baik, jadi rencananya tadi, kita ke sini cuma untuk mengambil jas lab Saintifika, lalu setelah itu kalian akan kubawa ke asrama Saintifika untuk istirahat. Kita kembali ke sini saat malam.”
“Ah, bawa saja Bu Ratna.” Bale membalas. “Kan dia yang ingin istirahat dari tadi.”
“Kenapa anda tidak ikut? Sekalian saja seharusnya.” Tharmin bertanya dengan heran.
“Seperti kataku di koridor tadi, aku sebenarnya lebih memilih kita berkumpul di sini dan menunggu sampai malam.” Bale menjawab.
“Dan ku bilang itu tidak semudah yang kau duga. Kita bicara mengenai 18 jam di ruangan ini. Di asrama mereka juga sama terisolirnya, tetapi setidaknya ada ranjang untuk berbaring.” Ratna membalas. Bale merasa dia jelas masih memikirkan pengalaman mereka tadi malam.
“Tidak masalah, kita punya banyak bahan bacaan di sini jika bosan. Lihat tumpukan arsip di sini. 18 jam bukan masalah, kok.” Bale berkata selagi mengamati ke sekeliling ruangan dengan nada percaya diri mencoba meyakinkan Ratna untuk tetap tinggal.
Dia melirik ke arah Ratna dan terlambat menyadari kacamata hitamnya yang diangkatnya ke dahi seakan itu sudah jadi balasan yang cukup. Ratna hanya menatap ke arah Bale. Ekspresinya bukanlah ekspresi kesal, tapi sudah seperti melihat sampah berjalan. “…Lu ini sebenarnya perhatian atau kagak ama keadaanku?”
“…Tharmin, bawa saja dia ke asrama.”
Tharmin yang sedari tadi mengamati percakapan mereka dengan bingung dengan cepat tersadar dan mengangguk mengerti. Dia perlahan menuntun Ratna keluar.
Bale mengembuskan nafas setelah pintu tertutup. Ada beberapa alasan kenapa dia memilih tinggal di ruang utama ini. Alasan utamanya adalah mengetahui dia akan terisolasi – dia sudah bicara bahwa sekamar dengan Ratna jelas bukan ide bagus – di kamar asrama mereka selama 18 jam tanpa kegiatan apa-apa. Dia tidak ingat berapa lama dirinya terjebak di ruang aman itu dulu, tetapi dia tidak berniat untuk mengulanginya kembali.
Bale segera berjalan mendekati kumpulan dokumen di dekat dinding dan mulai membukanya. Alasan keduanya adalah dia penasaran mengenai anomali – atau Anomalis – yang orang-orang Brethenitas ini miliki, tepatnya anomalinya sendiri, SCP-012-ID.
Dia mengamati beberapa dokumen paling atas. Tidak ada designasi, tetapi ada rangkaian laporan yang menyinggung mengenai ‘Resepsi Abadi’. Dia teringat kata Tharmin kalau mereka tidak memakai designasi di Brethenitas, tetapi panggilan atau kode nama mereka. Seharusnya yang dia cari dipanggil ‘Pemanen Raya’.
Dia segera mengamati sekilas rangkaian artikel penelitian dan laporan dan memindahkannya ke samping setelah mengetahui itu bukan yang dicarinya. Perlahan dia mulai melambatkan kecepatannya dalam mengamati. Sesuatu mengenai dia punya waktu seharian di tempat ini. Bermodal penerangan dari jendela buatan di dinding ruangan, Bale mulai membaca dengan seksama laporan dan artikel penelitian anomali mereka.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, mengejutkan Bale yang segera meletakkan dokumen yang dibacanya. Awalnya Bale mengira Tharmin telah kembali ke ruangan, itulah kenapa dia terkejut ketika mendapati seorang perempuan tua dengan jas kusam Saintika melangkah masuk ke dalam.
Perempuan itu sepertinya juga terkejut saat melihatnya. Dia segera berkata, “Demi Bunda Brethennia, kenapa kau tidak bukakan pintu tadi?”
“Aku… maaf, saya sibuk mengurus dokumen tadi.” Bale segera membalas.
Perempuan itu mengamati Bale selagi dia berjalan sebelum berkata, “Biar kutebak, dari maskermu, Tharmin memintamu menemaninya dalam mengurus Resepsi Abadi?”
Untungnya Bale sekilas sudah membaca dokumen terkait itu. “Iya, Tuan Tharmin sedang keluar saat ini. Dia bilang tadi seharusnya sebentar saja.”
Sialnya Bale hanya membaca sekilas karena awalnya dia cuma berencana mencari artikel anomalinya. Bale hanya berharap orang di depannya tidak mempertanyakan apa pun lagi.
“Apa dia sudah mendapatkan rangkuman kesimpulan?” Perempuan itu bertanya lagi sayangnya.
“Entahlah, aku… baru jaga. Mungkin Tuan Tharmin menyimpannya di sini.” Bale mencoba menjawab sebisanya berdasarkan informasi yang dia ingat selagi mencari dokumen yang dimaksudnya.
Perempuan itu hanya mengembuskan nafas. “Setidaknya kali ini dia meminta orang buat jaga ruangan sebelum keluar.”
Dia lalu bergegas ke ujung ruangan. Terdapat pintu di sana, tetapi mengamati perempuan tersebut merogoh saku jasnya sebelum mengeluarkan kumpulan kunci, sepertinya itu akses pintu tersebut terbatas. Dia masuk ke dalam, Bale sendiri memilih untuk tidak merasa penasaran dan mengikutinya.
Setelah beberapa saat, dia keluar dari ruangan dan berkata, “Jika Tharmin tidak kembali segera, kau saja yang kontak para Normalis nanti.”
Bale tertegun mendengar itu. Dengan segera dia berkata, “Tunggu, bagaimana?”
Perempuan tua tersebut membalas selagi melangkah ke pintu keluar, “Jangan bilang kau sudah terlalu lama nganggur. Tinggal ke pojok sana dan nyalakan radionya, bilang kalau dokumentasi penanganan Resepsi Abadi telah selesai.”
Bale menoleh ke pojok dan menyadari di tengah tumpukan dokumen di sana, terdapat meja kecil dengan beberapa barang di atas sana.
“Ingat, jangan bilang apa-apa ke Normalis mengenai ‘Setan Bertopeng’ itu. Tidak perlu kutekankan betapa berbahayanya Yayasan dan betapa harusnya kita mendapat ampunan mereka, kan?” Perempuan tersebut menambahkan sebelum membuka pintu.
Setelah dia menutup kembali pintu ruangan. Bale segera bergegas menuju ke meja tersebut. Ternyata terdapat serangkaian mesin tik juga di meja, membuat Bale terkesan mereka menulis semua kertas di sini menggunakan itu semata. Tetapi Bale akhirnya menemukan radio mereka. Entah kenapa Tharmin tidak menyinggung mengenai ini. Radio mereka sendiri jelas merupakan jenis walkie-talkie juga mengingat ini digunakan masih untuk dalam situs semata.
Dengan segera Bale menyalakannya. Mendapati bahwa frekuensinya sudah disetel, dia segera bersuara.
“Ya mungkin kau coba datang lagi nanti sore, siapa tau sudah boleh ngambil lagi.”
Seorang pria berseragam putih staf dapur bersandar di pinggir meja pos penjaga area penahanan kelas Keter. Rambutnya hitam yang pendek disisir rapi kesamping meski kini sedikit tak terawat. Dia menatap tanpa ekspresi dengan mata kurang tidurnya ke arah lawan bicaranya.
Berbanding terbalik, lawan bicaranya adalah seorang perempuan muda yang mengenakan seragam peneliti lengkap dengan jas labnya. Rambut hitamnya yang sepanjang bahu disisir rapi. Meski kulitnya lebih pucat dibandingkan lawan bicaranya, dia lebih ekspresif dibandingkannya.
“Tapi kau enak bisa ngemil ama Vi. aku mah perlu itu buat makan siang.” Dia berkata dengan cemberut.
“Kau tak coba nanya Pak Hidayat, Lip? Minta izin ambil D-Class satu.” Pria tersebut membalas, masih terlihat bosan.
“Gak bakal diizinkan sih.” Perempuan tadi menggeleng dengan nada skeptis sekaligus pasrah.
Tiba-tiba, pintu pembatas terbuka. Seorang personel keamanan melangkah masuk sebelum berhenti. Dia diam membiarkan orang di belakangnya berjalan mendahuluinya. Seorang pria yang terlihat tua mengenakan topi baret hijau tua lengkap dengan seragam hijau tua kusam yang melapisi kemeja putihnya melangkah masuk. Kedua orang yang sedari tadi nongkrong di depan meja pos penjaga terkejut melihatnya.
“Ada apa?” Pria tua tersebut bertanya ke penjaga pos yang sedari tadi mendengarkan keributan di depannya.
“Ah, tidak ada masalah apa-apa, Pak Birmanto. Peneliti Kartika cuma penasaran kapan ruang penyimpanan mayat diizinkan diakses lagi.” Penjaga tersebut berkata.
Birmanto sebenarnya sibuk bolak-balik sedari tadi mengurusi pelanggaran penahanan abnormal yang terjadi di koridor penahanan tadi malam. Dia yang menutupnya dengan alasan untuk penyelidikan penyebab pelanggaran penahanan.
“Kalian bisa melakukan percakapan itu di kantin, jadi kenapa di sini?” Dia bertanya, nadanya dingin penuh kecurigaan.
“Ah, itu…” Perempuan tadi mencoba mencari alasan.
“Identifikasi.” Birmanto menatap tajam ke arah mereka. Bukan hanya perempuan tadi, tetapi ke arah pria yang diajaknya bicara juga. Suaranya pelan, tetapi yang membuat keduanya mulai panik adalah personel yang mendampinginya menoleh cepat dan meraih senjatanya.
“Vincent Colesaw, asisten staf dapur lantai Keter dan kepala staf untuk shift malam.” Pria tadi menjawab, kini menunjukkan ekspresi gugup.
“Lipa Nadia Kartika, Peneliti biasa untuk bidang Entomologi!” Perempuan tersebut jelas menunjukkan ekspresi takutnya.
Birmanto tidaklah menunjukkan perubahan ekspresi. Dia langsung melanjutkan, “Tes darah sana.”
Penjaga pos segera memberikan alatnya. Dia hanya memberikan satu pen lancet yang dengan segera diambil Vincent. Dia meneteskan darahnya di wadah dan mengembalikan peralatannya setelahnya. Baru dia bisa merasa aman dan menunjukkan kembali ekspresi bosannya, meski begitu keringatnya masih mengalir.
Penjaga tadi tidaklah memberikan peralatan serupa untuk Lipa, tetapi dia malah memberikan sebuah pisau bedah untuknya. Lipa meraihnya dengan enggan.
Dia mulai menoleh ke arah Birmanto dan berkata dengan senyum gugup, “Pak Birmanto, apa gak bisa saya di-skip aja? Mana mungkin ada yang bisa-“
Birmanto entah kenapa mulai tertawa pelan. Tetapi personel di sampingnya mulai mendekat ke arah Lipa dengan senjatanya.
“Eh, eh, baik! Baik! Maaf Pak, cuma nanya doang.” Lipa segera mengangkat tangannya dengan panik. Akhirnya dia menghela nafas dan mulai mengulurkan salah satu jarinya. Dengan terpejam dia menyayat jarinya itu.
Darah tidaklah menetes dari jarinya, tetapi perlahan sekumpulan lipan berukuran 4 sampai 5 centimeter mulai berjatuhan dari lukanya. Mereka mulai merayap dan menyebar di meja sampai penjaga pos mulai menghantam mereka semua dengan sebuah buku tebal. Penjaga tersebut mengangkat kembali bukunya dan menunjukkan kepada Birmanto kumpulan lipan yang sudah tewas remuk di bawahnya. Lipa hanya terpejam dan meringis pada tiap hantaman selagi menutup kembali bekas goresannya dengan jari tangan lainnya.
Birmanto akhirnya berhenti menatap mereka dan berkata, “Baik, lanjutkan saja pembicaraan kalian di kantin sana.”
Vincent segera menuntun Lipa menjauh. “Ayo Lip, kau juga sudah tiap hari kan ngelakuinnya?”
“Kan biasanya aku buka mulut doang, keluarin satu anakku baru taruh di meja. Kalau pakai pisau kayak yang disuruh Pak Birmanto bakal banyak yang keluar. Anak-anak juga gak bisa nutup lukanya dengan instan.” bisik Lipa kepada Vincent dengan nada kesal dan sedikit sedih.
“Udah, entar ku kasih cemilanku sambil nunggu ruangan penyimpanan dibuka lagi.”
Birmanto hanya menatap dua orang tersebut menjauh sebelum akhirnya tersisa dirinya dan para personel keamanan. “Aku tahu kau agak toleran dengannya sejauh ini.” Birmanto tiba-tiba berkata.
Penjaga pos tadi sedikit terkejut mendengar perkataannya. Dengan cepat dia berkata, “Tidak, Pak. Prosedur tetap kulakukan dengan anak yang diserahkannya dan selalu saya pastikan mereka asli. Hanya saja-“
Birmanto hanya mengangkat tangannya, menyela penjaga tadi dengan berkata, “Aku mengerti, itu tak masalah. Tetapi aku tidak mungkin mengabaikan prosedur di depan mereka sebagai kepala penahanan, kan? Dipikir lagi aku jarang ketemu Kartika. aku perlu tahu apakah kau melihat sesuatu yang tak wajar darinya?”
Penjaga tadi menoleh ke arah kantin di tengah area penahanan. Dia lalu menjawab, “Dari pengamatanku, tidak ada… Hmm… Tidak, tidak ada yang berbeda darinya. Bahkan dia masih cuma perlu makan sekali sehari tanpa komplain… kecuali yang tadi.”
“Yah, itu sesuatu yang kupelajari dari kakaknya di Situs-67; semakin sedikit kerjaannya maka semakin berkurang rasa laparnya. Dia anak yang baik dibandingkan keempat saudarinya, jadi pastikan tetap seperti itu.”
Penjaga tadi mengangguk mengerti, dia lalu berkata, “Apa setidaknya untuk Peneliti Lipa bisa dipertimbangkan untuk memakai metodenya sendiri? Kita sudah tidak bisa mengecek darah darinya, jadi kenapa tidak sekalian saja rombak cara verifikasinya? Sejujurnya selain dia tak menyukainya, aku juga tak yakin bisa menghabisi semua anaknya seperti tadi di lain waktu, dan itu sendiri adalah risiko keamanan juga jika sampai ada yang lepas, kan?”
Birmanto hanya menghela nafas selagi terkekeh. Penjaga tadi mengangguk pelan bak itu menjawab pertanyaannya. Dia tahu jika Birmanto mulai terkekeh atau bahkan tertawa, itu kabar buruk. “Sebenarnya aku inginnya begitu, tetapi jika anomali terkutuk itu bisa meniru Kartika dan anaknya, kita akan terlambat menyadarinya. Beritahu aku nanti jika kau punya solusi yang lebih baik.” Jawabnya.
“Baik.” Penjaga tadi membalas.
“Kita beralih ke topik lain,” Birmanto berkata kembali. “Sekarang, apa kabar terbaru dari Brethenitas mengenai SCP-041-ID?”
“Tidak ada kabar terbaru. Tetapi saya kira semua sudah aman terkendali tadi malam?” Balas penjaga tersebut.
“Yah, tapi aku perlu dokumen laporan pascapelanggaran mereka. Jika mereka sudah selesai membuatnya, kita bisa mengambilnya. Situs administratif sana sayangnya mengharuskan kita membuat laporan itu setiap ada pelanggaran.” Birmanto membalas. Dia terdengar malas memikirkan hal tersebut.
“Pak Birmanto!”
Seorang personel keamanan berjalan cepat dari arah area penahanan. Dia tidak mengenakan helm, tetapi sebuah topi abu-abu usang.
Birmanto menatapnya dari kejauhan. Dia mengusap wajahnya sebentar dan termenung. Akhirnya dia menurunkannya dan mencoba tersenyum ramah. “Herria.”
Akhirnya Herria sampai di dekat pos. Dia segera berkata, “Apa… ada kabar dari dalam sana mengenai Peneliti Balefire itu?” Dia jelas kelelahan juga.
“Heh, relakan saja mereka. Aku sudah bilang jangan menaruh harapan pada orang buangan.” Birmanto membalas selagi mulai terkekeh.
“Masalahnya dia mendampingi Peneliti Senior Ratna, Pak.” Herria membalas dengan putus asa, hanya membuat mantan atasannya mulai tertawa.
Tiba-tiba, penjaga pos memotong percakapan mereka dan berkata, “Pak Birmanto, ada kontak dari Brethenitas.”
“Ahaha… balas saja. Haha…” Birmanta membalas di sela-sela tawa tak terkendalinya.
“Baik, Yayasan kepada Brethenitas, kalian sudah selesaikan laporannya?” Penjaga tersebut berkata ke radio.
“Carikan aku Pak Herria, bilang ini dari Peneliti Balefire.”
Penjaga tadi jelas terkejut. Dia mengamati ke radionya selama beberapa saat sebelum menatap ke depan, ke arah kedua orang personel penting di depannya. Dia perlahan berkata, “Pak Herria, anda… mencari seseorang bernama Balefire?”
Herria terkejut mendengar akan hal tersebut. Penjaga tadi menyodorkan radionya dan dengan segera diambilnya. “Kamerad, kau di sana?”
“Yeah.” Suara Bale terdengar meski serak karena radio.
“Tapi bagaimana kau bisa mendapat akses ke radio para Brethen?”
Terdengar suara hembusan nafas. “Ceritanya panjang…” Suara di radio membalas.
“…Dan kini kau tengah menunggu di… ruangan Saintika itu karenanya?” Herria menyimpulkan.
“Ya, kami tidak bisa menerobos koridor tempat ini sekarang. Terlalu banyak orang mencari kami, aku bahkan beberapa kali mendengar sorakan perburuan orang di kejauhan.” Bale berkata.
“Jadi di mana Ratna?” Herria segera bertanya.
“Dia memilih istirahat di ruang asrama Saintika. Tuan Tharmin menemaninya seharusnya.” Balas Bale.
“Sial, itu tidaklah cerdas sama sekali, Bale. Dia prioritasmu untuk diamankan.” Herria berkata dengan kesal.
“Yah, ku rasa kalian cuma bisa berdoa semuanya berjalan sesuai rencana sampai tengah malam nanti.” Bale membalas.
“Ya, kami akan bersiap di perbatasan nanti. Tapi pastikan Ratna bersamamu! Dia prioritas, jangan sampai kau keluar dari sana tanpa dia.” Herria menegaskan.
Bale termenung mendengar hal tersebut. Dia mengamati radio di tangannya selagi memikirkan perkataan Herria. Akhirnya dia menekannya lagi dan berkata, “Kau tahu, aku cukup penasaran akan siapa Ratna itu sampai kau lebih mementingkannya dibandingkan aku.”
“Apa maksudmu siapa Ratna? Dia peneliti senior!” Herria membalas dengan heran dan sepertinya mulai jengkel juga dengannya.
“Ya, tapi anda jelas terdengar khawatir akan nasibnya. Kita punya selusin peneliti senior di lantai atas dan tidak pernah sedikitpun anda memedulikan mereka kecuali jika masalah yang perang di atas timbulkan mulai keterlaluan.” Bale berkata.
“Apa pedulimu dengan itu, dokter? Dia peneliti luar, jadi aku harus memastikan keselamatannya.” Jawab Herria.
Tetapi sepertinya Bale tidak puas akan jawaban itu. “Dia mantan personel sini. Kalian jelas punya sejarah, jadi tolong jangan berlagak tidak ada sesuatu yang mencolok di antara kalian. Aku psikolog, Tuan Herria. Lebih dari itu, aku agen yang kau kirim untuk mengatasi penyusup kalian, jadi setidaknya aku perlu tahu sesuatu untuk kerja sampinganku ini atau aku menolak mengambil risikonya.”
Herria tidak dapat berkutik akan hal tersebut. Dia ingin membalas dengan ancaman, tetapi dia rasa dia harus memakai pendekatan melalui bujukan untuk situasi di luar kendali ini. Dia diam memikirkan apa yang harus dia katakan selanjutnya.
“Katakan saja keadaannya, heh.”
Birmanto yang sedari tadi bersandar mengamati pembicaraan mereka memberi komentar. Dari ekspresinya, diragukan apakah itu saran tulus atau dia ingin kekacauan karenanya.
Tetapi Herria sepertinya serius mempertimbangkan hal tersebut. Dia selalu menaruh kepercayaan kepada mantan atasannya. Dia menghela nafas sebelum akhirnya berkata, “Peneliti Senior Ratna memang pernah bekerja di Situs-79.”
“Lebih banyak yang ku tahu, eh. Tapi serius, siapa dia sebenarnya?” Bale jelas tak sabaran untuk mengetahuinya.
“Nama lengkapnya adalah Peneliti Senior Stellia Ratna. Mengingatkanmu akan sesuatu?”
Bale tertegun. Dia jelas ingat nama depannya itu. Dia terlalu sering mendengarnya dulu di lantai atas. Dengan pelan dia mencoba mengonfirmasi satu hal ke Herria,
“Dia… istrinya Tuan Louis?”
Herria mengembuskan nafas pasrah. “Ya.” Jawabnya singkat.
“Tapi apa yang dia lakukan di situs ini? Ku kira Louis sudah memastikan dia dipekerjakan jauh dari situs ini demi keselamatannya.” Tanya Bale, murni bingung karenanya.
“Semua bermula akhir November yang lalu.” Herria mulai bercerita. “Dia baru pulang ke Indonesia dan mengontakku. Dia bilang penelitiannya di sana selesai lebih cepat dari dugaannya. Itu artinya dia punya sebulan penuh tanpa melakukan apa-apa sampai Januari tahun depan.”
“Jadi tujuan dia mengontakku ini, dia ingin bekerja selama beberapa minggu di Situs-79. Awalnya jelas aku menolak, terlalu banyak masalah untuk itu. Tetapi kemudian Yayasan menangkap anomali awan itu dan memilih Situs-79 untuk menahannya, jadi aku rasa aku bisa menuruti permintaannya mengingat itu bidangnya. Lalu kemudian di saat yang bersamaan kau perlu turun ke lantai Keter dan kau jelas perlu supervisor. Semua alasan itu membuatku menerima risiko ini.”
Bale mengangguk mengerti akan penjelasan Herria. Dia jelas perlu memikirkan lebih dalam mengenai fakta itu, tetapi untuk saat ini dia memutuskan untuk membalas balik melalui radio, “Baik kalau begitu, tenang saja Tuan Herria, aku akan membawanya kembali ke perbatasan.”
“Semoga beruntung, kamerad.” Balas Herria sebelum menutup komunikasi mereka.
Bale meletakkan radio Brethinitas kembali ke meja. Dia jelas ingin menanyakan beberapa hal ke Ratna saat mereka berkumpul kembali nanti di sini. Sementara itu, dia kini hanya perlu menunggu sampai malam tiba. Dengan perlahan dia berjalan kembali ke tumpukan dokumen di dekat dinding, melanjutkan bacaannya tadi.
“Tidak bisa di luar saja ya?”
Kris mengamati sekelilingnya selagi mengatakan itu. Di sekitarnya banyak Brethennia dari beragam faksi berlutut, sebagian besar adalah dari subfaksi Luminitas, diikuti Sekuritas. Ada juga beberapa orang berseragam overall kusam para Kontinensia, sepertinya mereka meminta ampun akan insiden tadi malam.
Dia kini berada di koridor, tepat di depan ruangan Sang Bunda Brethennia. Para Brethennia akan kemari untuk memohon ampunan bagi dosa mereka, terkecuali Luminitas yang seharian di sini jika tidak sibuk. Mereka harus melakukan pengakuan dosa terbuka seperti ini, makanya mereka kebanyakan berbisik dan menunduk.
Kris mengamati para Sekuritas. Mereka memilki fanatisme lebih besar dibandingkan faksi lainnya. Biasanya mereka kemari hanya karena mereka merasa berdosa semata meski tidak melakukan apa-apa. Itulah keinginan Bunda Brethennia, seperti yang komandannya percaya.
Kris mengamati ke komandannya di belakangnya. Dia kemari untuk menghapus dosanya karena telah melanggar jam malam. Sarah setidaknya cukup pengertian untuk tidak memberitahukan hal tersebut ke para Luminitas yang mengawasi koridor. Mereka hanya bilang kalau dirinya membunuh orang.
Tetapi Sarah lah yang memintanya untuk masuk ke dalam ruang Sang Bunda Brethennia. Sudah menjadi aturan lama bahwa jika dosanya dirasa berat, mereka harus melakukan pengakuan dosa tepat di hadapannya. Dan melanggar jam malam ditambah dengan dosanya yang lain mengharuskannya masuk ke dalam.
Sarah hanya menatapnya selagi Kris melangkah perlahan dituntun para Luminitas masuk ke dalam ruangan. Dia juga akan melakukan pengakuan dosa di luar, atas rasa bersalah seperti yang selalu dia lakukan.
Setelah masuk, Kris mengamati sekelilingnya. Terdapat berderet-deret bangku kayu panjang, digunakan oleh para dewan dan Brethennia pendahulu mereka saat masa-masa awalnya. Sekarang tempat ini seringnya kosong. Kris setidaknya bisa melihat seorang Luminitas duduk di sisi ujung kursi di pojok ruangan, berdoa dengan penuh perasaan sepertinya.
Di depan ruangan, Kris bisa melihat kaki Sang Bunda Brethennia. Dia tidak berani menatap wajahnya. Tidak ada Brethennia lain, bahkan Luminitas, yang berani menatap wajahnya. Hanya para pendahulu mereka yang bisa melakukannya. Jelas mereka bisa, karena mereka jelas tanpa dosa.
Kris memilih salah satu bangku di deretan tengah dan mulai menunduk.
“O Bunda Brethennia ampuni aku. Aku, Kris Erlangga, Angelika Sekuritas Brethennia, telah berdosa…” Kris mulai berkata.
“Dosa yang telah kulakukan adalah aku telah melanggar jam malam yang telah engkau titahkan kepada para pendahulu, jam malam yang telah engkau anugerahkan kepada para Klinser sebagai pengganti kelaparan mereka. Aku melakukannya demi mengetahui apa yang tengah direncanakan Brian Chandra dari subfaksi Logistika. Aku percaya dia yang telah membunuh Sang Bapa Kriyot.”
Kris awalnya merasa itu sudah cukup. Tetapi entah kenapa kakinya tak sanggup untuk berdiri. Tidak ada yang menahannya di kursi tersebut, melainkan kakinya sendiri yang tak kuat melakukannya. Sedari tadi dia merasakan hawa dingin ruangan menusuk badannya yang sudah berpelindung lengkap, tetapi kini rasa takutnya semakin menjadi-jadi sampai pada titik kakinya gemetar ketakutan.
“Aku… membawa serta Tuan Tharmin Mauza dari subfaksi Saintika untuk membantuku melanggar penahanan.” Kris merasa perlu berkata lebih, suaranya mulai terdengar gugup. “Ampuni aku karena telah mengikutsertakan Brethennia lain untuk dosaku. Ampuni juga dia karena telah membantuku.”
Kris tidaklah merasa lega sedikitpun. Dia memang masih menyembunyikan satu hal. Kini kedua tangannya mulai gemetar. Kris mencoba menenangkan dirinya sebisanya; berbeda dari seluruh orang di tempat ini, dia adalah Angelika. Dia mencoba mengingat masanya dulu sebelum menjadi Brethennia, akan bagaimana dia bisa tetap tenang selama misinya sebagai agen lapangan.
Tetapi dia kini adalah anak Sang Bunda Brethennia, dan dewinya tengah menghakiminya. Dia tahu Bunda Brethennia tengah menatap tajam ke arahnya. Dia hanya perlu mendongkak ke atas untuk mengonfirmasinya. Semua itu akhirnya mampu membuat Kris tak berdaya.
“Aku… kami sebenarnya melanggar perintah para dewan dan menyembunyikan kedua Normalis itu. Rencananya kami akan membawa mereka ke koridor perbatasan saat malam. Ampuni kami untuk itu… Itu semua dosa-dosaku, semoga engkau mengampuniku.”
Akhirnya dia berdiri dari kursinya seakan Bunda Brethennia kini telah merestuinya untuk berjalan kembali. Dia merasa kini dirinya tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia membuka pintu di depannya dan melangkah keluar dari ruangan. Dia melirik ke samping dan mendapati Sarah tengah duduk bersandar di dinding tak jauh dari pintu. Sarah sendiri menyadari pintu ruangan terbuka dan menoleh ke arahnya.
“Kau sudah mengakui semuanya?” Sarah bertanya begitu Kris cukup dekat.
“Komandan…” Kris membalas pelan, dia masih gemetar. “Ada yang harus kuakui begitu kita di kantor nanti.”
Bale tengah berbaring di meja ruangan Saintika, dikelilingi dokumen-dokumen mereka. Tiba-tiba pintu diketuk dengan keras. Bale tersentak mendengarnya dan langsung tahu kalau itu bukanlah Tharmin. Dia berharap yang berada di balik pintu adalah Kris, tetapi dari keadaan di luar yang masih terang, kemungkinan kumpulan Brethenitas yang sedari tadi mencari ‘Setan Bertopeng’ mereka tengah menunggu di balik pintu.
Bale segera turun dan berjalan ke arah pintu. Dia menaruh harapan semoga masker medisnya tidak menimbulkan kecurigaan. Dia juga berdoa personel Brethenitas Saintika tidak banyak dikenal orang karena itu alibinya.
Begitu dia membuka pintu. Hal pertama yang dia kenali adalah Kris. Dia sedikit lega karenanya.
Sayangnya itu hanya untuk beberapa milidetik karena dia segera menyadari sekumpulan personel berbaju zirah serupa dengannya tengah berdiri di depan pintu. Yang mengetuk pintu tadi sepertinya adalah perempuan dengan rambut terikat di depannya, kini menatap ke arahnya.
“Saya Komandan Angelika Brethennia, Sarah Valentina. Anda adalah peneliti Normalis yang kini dicari, bukan?” Perempuan itu langsung saja berkata.
Bale ingin berbohong, tetapi dia tahu jika perempuan itu berani menebak seketika dia melihatnya, artinya dia mendapat sumber paling terpercaya. Dan Bale melirik kembali ke Kris, yang hanya menatapnya dengan iba. Bale mengamati dia jelas tidak disiksa, jadi jelas dia pengecut, jadi Bale menatapnya dengan tajam. Terlintas di pikirannya pertanyaan akan kenapa dia selalu bekerja dengan orang inkompeten.
“Yeah, kau menemukanku.” Bale berkata. “Kris yang mengaku?”
Kris sendiri segera membalas, “Maaf, tetapi sebagai Angelika Brethennia, sudah seharusnya aku melakukan hal yang benar dengan menginformasikan komandan.”
Awalnya dia menatap ke arah Bale, tetapi pada akhirnya dia menoleh. Bale dapat melihat rasa bersalahnya saat dia berpaling.
“Saya perlu anda untuk ikut bersama kami. Anda diperlukan untuk bersaksi di depan para dewan mengenai apa yang terjadi pada malam sebelumnya.” Sarah berkata padanya.
Jadi aku perlu ikut bersama mereka… Pikir Bale. Tetapi kemudian terlintas di pikirannya bahwa mereka hanya mencari dirinya. Mereka tidaklah memedulikan Ratna yang kini tidak bersamanya. Kris jelas tidak tahu kalau Ratna memilih berdiam di asrama Saintika.
Bale kemudian berpikir, jika semua sesuai rencana mereka, saat malam nanti Ratna seharusnya dituntun keluar ke perbatasan dan diamankan oleh tim personel keamanan Herria yang sudah dimintanya untuk bersiap. Seharusnya Tharmin sendiri bisa melakukan itu.
Satu masalah saja terkait itu,
Sudah tugasnya untuk mengawal Ratna, bukan dia.
“Kau tahu aku cuma satu diantara dua peneliti Normalis yang hilang itu, kan?” Bale berkata. “Rekanku juga ada di lokasi tadi malam jika kau tertarik akan informasi darinya.”
“Benarkah itu? Di mana rekanmu itu?” Sarah sepertinya tertarik.
Bale tersenyum dibalik masker medisnya.
“Tentu, akan kuberitahu.”
Kronik Situs-79
Bab 7: Perburuan Penyihir(1)
« …Disucikanlah Mereka, Para Klinser… | …Diberkatilah Mereka, Brethennia… | …Diteguhkanlah Mereka, Sekuritas… »




