Bandit Kelas Coro
rating: 0+x

Beberapa Jam Yang Lalu

“Jadi ga ada berita terkait itu?”

Seorang pria berkaus kumal berkata kepada seseorang yang mengenakan hoodie hitam kusam di depannya yang tengah menonton berita melalui televisi model tabung. Gambar yang dihasilkan tidaklah terlalu jernih, tetapi cukup saja bagi mereka yang sudah terbiasa menontonnya.

“Ga ada kasus. Apa harus nunggu viral mungkin, heh.”

Rekannya membalas selagi mengganti siaran berita lain.

Seseorang lagi muncul dari balik pintu setengah hancur ruangan tersebut dan berkata, “Lu pada ngapain di sini? Bos nyariin! Kita bakal berangkat bentar lagi!”

Kedua orang di ruangan saling menatap sebelum yang tengah duduk menonton televisi berdiri dan mematikan televisinya.

“Jadi ke mana lagi kita?” Dia bertanya selagi mendekat.

“Masih area pinggiran kali.” Pria di ambang pintu membalas.

Pria yang bertanya tadi mengangguk mengerti. Mereka berjalan ke luar bangunan yang mereka tadinya tempati. Mereka sepertinya berada di area pasar. Tempat tersebut cukup terbengkalai, dengan tumpukan sampah yang sudah sangat membusuk terlihat di beberapa sudut. Bangunan pasar itu sendiri juga sudah cukup kusam termakan usia.

Di depan mereka terdapat dua buah pick up. Beberapa orang tengah berkumpul di pick up tersebut. Hampir seluruh anggota mereka.

“Jadi kenapa di sana lagi? Kemarin juga di sana, apa kita tidak mencoba menjauh sedikit?” Pria tersebut kembali bertanya.

Lawan bicaranya mengangkat bahu tanda dia tidak tahu. Pria tersebut memahami hal tersebut dan tidak lagi bertanya. Menurutnya, tidak ada satu pun termasuk bos yang tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Tepatnya, tidak ada yang tahu apa yang mereka tengah bagi-bagikan. Mereka mendapat kontrak membagi-bagikan sekumpulan plastik kepada warga dan mereka dibayar untuk itu. Pasti ada sesuatu mengenai mereka, tetapi geng kecil seperti mereka tidak memiliki cukup moral atau uang untuk terlalu banyak bertanya mengenai itu. Jadi itulah tugas mereka, teknisnya. Mungkin pilihan teraman bagi bos mereka adalah membagikannya di pemukiman dekat sungai. Jika produk di dalam plastik-plastik tersebut berbahaya bagi kesehatan seperti yang mereka curigai, orang-orang akan mengira penyebabnya berasal dari sungai.

“Persetan. Yang penting pemasukan enteng, kan.”


Sekarang

Suasana pagi masih terasa meski sudah mendekati jam sepuluh. Matahari masih separuh jalan menuju puncak langit. Ini akan menjadi siang yang cukup panas dikarenakan sedikitnya awan menghiasi langit biru.

Jalanan mulai penuh akan kendaraan yang beraktivitas. Kebanyakan motor, tetapi sesekali mobil melewati jalan tersebut. Ini bukan jalan raya, bukan pula daerah pusat kota, hanya daerah pinggir kota yang tenang.

Sebuah mobil hitam terparkir di tepi jalanan. Dari luar, orang mungkin mengira itu mobil salah seorang warga yang rumahnya berada di samping mobil tersebut. Tetapi jika saja ada orang yang memperhatikan lebih seksama, rumah tersebut terlalu sederhana untuk penghuninya memiliki mobil sebagus itu.

Dan memang bukan itu kenyataannya. Jauh dari itu.

Di balik kaca gelap mobil tersebut, terdapat tiga orang pria berseragam taktis hitam; dua orang bahkan mengenakan helmnya. Satu hal yang mencolok dari mereka bertiga hanyalah sebuah logo berbentuk lingkaran putih kecil yang ditusuk tiga panah di lengan seragam mereka

Ada empat orang di dalam mobil tersebut; tiga orang pria tadi, dan seorang perempuan yang mengenakan jas biru dan kemeja putih. Dia terdiam mengamati pemandangan di luar yang hanya merupakan sebuah rumah sederhana.

“Sambil perhatikan situasi.”

Salah satu dari mereka yang duduk di kursi depan berkata ke belakang. Personel di sampingnya mengangguk sedangkan perempuan di sampingnya hanya diam. Personel di depan tadi mengalihkan perhatiannya kepadanya.

“Kau baik-baik saja, Lucy?”

Peneliti Junior Lucia Amelia tersentak. Dia sepertinya melamun tadi. Dengan cepat dia membalas, “Ya, aku baik-baik saja, Kak Heru.”

“Jujur, apa kau benar-benar yakin untuk ikut operasi semacam ini? Tadi malam terlalu tiba-tiba, kau tahu, jadi ku pikir ada semacam alasan tertentu. Keberatan untuk mengatakannya?” Heru kembali bertanya. Dia menatap Lucy, menunggu jawabannya. Lucy sendiri mengerti apa yang dia maksud. Seharusnya atasannya yang berada di sini, tetapi dia mengajukan diri menggantikannya. Itu memang bukan tanpa alasan, dirinya mengikuti operasi ini untuk menghindari berada di situs untuk beberapa hari ke depan.

“Aku menyarankan jika kau mau membunuhku, lakukan itu lusa, ku dengar CCTV mati nanti.”

Itu yang Lucy ingat dikatakan kepadanya. Semacam kekacauan pasti terjadi besok, jadi pilihan terbaik baginya adalah mengikuti operasi agen lapangan ini. Jarak lokasi mereka dari situs terpisah kota. Paling tidak akan memakan waktu lebih dari sehari untuk kembali ke situs. Itulah kenapa mereka bermarkas di salah satu rumah aman Yayasan di kota ini.

Tetapi dia tidak bisa mengatakan itu sebagai balasan pertanyaan Heru.

“Aku cuma ingin tahu bagaimana orang bisa sekejam itu untuk membagikan anomali berbahaya ke warga.” Balas Lucy.

Dia merujuk ke target operasi mereka. Seharusnya akan muncul semacam rombongan mobil pick up yang membagikan puluhan plastik sembako beranomali ke warga. Mereka di sini untuk mencoba mencegat mereka di jalur potensial mereka.

“Heh, begitulah jika seseorang mempunyai anomali. Mereka akan menyalahgunakannya dan kita akan membereskan kekacauan mereka.” Heru membalas. “Yah, kami kadang melihat hal semacam itu, jika kau penasaran. Bagus sih bagimu mencari pengalaman seperti ini, ku rasa.” Dia lalu kembali menghadap ke depan.

“Terkutuk orang-orang seperti itu…” Lucy membalas pelan, kembali menatap ke kaca di sampingnya.

Yang Heru tidak sadari adalah Lucy bersungguh-sungguh saat mengatakan itu; dia benar-benar tidak menyukai orang semacam itu. Selalu seperti itu sejak ayahnya tewas karenanya. Terjun ke dunia gelap anomali semakin memperdalam ketidaksukaannya. Dunia anomali ini cuma terdiri dari dua jenis orang: orang-orang yang ingin melindungi dunia dan yang ingin menghancurkannya.

Semua orang beranomali merupakan jenis yang kedua. Dia setengah bersyukur GOC yang mendidiknya karena mereka sepaham dengannya untuk urusan itu.

Tetapi dia lalu memikirkan tentang Yayasan. Dia secara kover memang personel Yayasan, meski agen ganda. Tetap saja, itu artinya dia dapat melihat sisi lain dunia anomali ini. Yayasan juga memiliki tujuan yang sama dengan organisasi asalnya, tetapi alih-alih memusnahkan anomali, mereka menyimpannya. Bertahun-tahun bersama mereka membuatnya mengakui memang tidak ada yang salah dengan itu sebenarnya. Yayasan berusaha memahami anomali mereka dan menggunakan pengetahuan itu untuk melindungi dunia darinya. Merupakan langkah berisiko, tetapi sama sepadannya. Lucy menghormati Yayasan karena itu.

Lucy mengamati sekelilingnya; personel tadi masih menunggu berita apa pun dari tim mana pun. Sejauh ini belum terjadi apa-apa dan mereka menunggu itu berubah. Lucy bersandar ke kursinya dan merogoh ponselnya. Dia mengamati kontaknya, memikirkan sudah cukup lama sejak mereka bertemu. Mungkin minggu ini dia akan membuat janji ketemu dengan mereka mumpung dia memiliki sinyal saat ini.

Keadaan hening di mobil untuk beberapa saat. Heru menggerakkan spion belakangnya untuk mengamati keadaan di belakang. Satu agennya tengah mengamati keadaan di jalanan, satu lagi adalah Lucy yang tengah sibuk dengan ponselnya. Heru mengembuskan nafas pelan sebelum mengembalikan arah spion tadi ke posisi semula.

Satu hal yang kini tengah dipikirkan Heru adalah Lucy yang masih seorang peneliti junior. Biasanya yang turun ke lapangan setidaknya adalah peneliti biasa. Itu pun paling tidak dua atau tiga orang. Tugas Lucy memang sederhana, bahkan terkesan sebagai formalitas semata. Peneliti Senior Herman memang bersedia secara sukarela ikut ke lapangan dan membangun hubungan baik dengan pihak luar, tetapi itu sebenarnya sama sekali bukanlah sebuah keharusan. Lucy tidak harus mengikuti atasannya. Dia tidak yakin Lucy mengerti betul risiko ikut ke lapangan seperti atasannya, apalagi ini pengalaman pertamanya.

Heru menggeleng pelan selagi tersenyum. Dia cukup mengenal Lucy sekarang. Dia yakin perempuan itu tidak bisa dihentikan jika menginginkan sesuatu. Dia jadi teringat perkataan Lucy mengenai target mereka; mungkin rasa keadilan dalam dirinya yang mendorongnya ikut operasi ini.

Dia lalu melirik ke arah matahari, lalu ke jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Heru setengah berharap tidak terjadi apa-apa hari ini.


Suara radio berderak memenuhi mobil tiba-tiba, diikuti suara menunggu respon. Heru merupakan yang pertama meraih radio dan membalas. Seisi mobil diam menunggu balasan.

“…Terlihat konvoi mencurigakan di jalur dua. Dua mobil pick up Mitsubishi hitam. Bak mobil ditutupi terpal. Personel samaran telah dikerahkan untuk menghadang mereka. Ganti.”

Balasan laporan tersebut berasal dari radio pula. “Dilan Bara kepada tim satu dan tiga, harap mendampingi. Ganti.”

Heru menengok ke belakang dan berkata, “Itu kita.” Jelas ditujukan untuk Lucy. Dengan itu dia meraih radio dan membalas, “Siap. Ganti.” Dia lalu langsung menjalankan mobil mereka menuju lokasi yang disebutkan.

Seluruh agen di kendaraan langsung bersiap dengan mengenakan helm mereka dan menyiapkan senjata mereka. Lucy sendiri mengantongi ponselnya dan duduk diam menunggu. Mereka akan menemui kelompok orang yang mampu menggunakan anomali. Dia ingat betapa banyaknya barang tak terhancurkan yang didapat situsnya, jadi Lucy menduga mungkin mereka akan menggunakan benda semacam itu.

GOC juga tidak pernah menganggap remeh orang-orang yang mereka rujuk sebagai Tipe Biru.

Dia belum pernah melihat operasi langsung, apalagi dari Yayasan. Dia tidak tahu apakah misi akan berjalan lancar bak menangkap buron biasa ataukah akan menyebabkan insiden bak penemuan pertama sebuah anomali di tempat umum.

Rute perjalanan mulai memasuki area pemukiman. Rumah dan ruko semakin banyak menghiasi pinggiran jalan. Yayasan cuma ahli dalam menyembunyikan bekas operasi, bukan meminimalkan risiko selama operasi. Lucy tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan erat.

Radio tiba-tiba berbunyi lagi.

“Terdapat perlawanan terhadap personel samaran! Target bersenjata tajam! Keduanya terluka! Izin terlibat. Ganti.”

Tentu saja. Lucy berpikir dengan khawatir. Dia melirik ke arah personel di sampingnya yang menggenggam erat senapannya.

“Ralat, target memiliki senjata api! Mereka menembaki kita! Sial, target kabur!”

Situasi semakin parah. Heru jelas mencoba mempercepat laju kendaraan begitu mendengar hal tersebut.

“Lapor, mereka sepertinya berhasil menembak salah satu ban depan mobil. Kami tidak yakin bisa mengejar mereka. Ganti.”

Radio berbunyi lagi, kali ini muncul suara berbeda. “Tim tiga, jemput personel samaran. Tim satu, lanjutkan misi. Ganti.”

Heru mengiyakan perintah yang didapat sekali lagi dan semakin mempercepat laju mobil mereka. Lucy mengamati mereka mencoba secepatnya mengejar tim dua. Jalanan masih minim kendaraan sehingga mereka bisa menyalip kendaraan di depan mereka sesekali. Jika target mereka mencapai area padat kendaraan, mereka bahkan bisa saja lari bak hidup mereka bergantung padanya, tetapi agen Yayasan mungkin akan kesulitan mengejar mereka di tengah warga biasa.

“Target membuang sesuatu dari bak pick up mereka! Tunggu, mereka membuang sekumpulan plastik putih ke pinggir jalan! Kemungkinan objek anomalus yang sama dengan yang kita temukan. Apa yang harus kami lakukan terhadap mereka. Ganti.”

Terdapat beberapa saat tanpa respon sebelum akhirnya terdengar balasan, “Tim dua, kalian bisa mengumpulkan objek di jalanan begitu bisa berjalan kembali. Ban kalian tertembak, jangan mengambil risiko.”

Tunggu, kita akan membiarkan target kabur? Lucy bertanya-tanya mengenai balasannya. Untungnya perintah tersebut belum selesai, “Tim satu, kalian yang memimpin pengejaran sekarang. Tim empat dan lima, harap mendampingi. Ganti.”

Dengan itu, tim yang Lucy tumpangi kini yang akan menghadapi taget. Itu jika mereka berhasil mengejar mereka. Heru jelas mengupayakan sebisanya untuk itu.

Dan setelah beberapa menit, mereka akhirnya melihat mobil tim dua, tengah memasukkan beberapa plastik putih ke dalam kendaraan mereka. Lucy mengamati setumpuk plastik putih yang masih berceceran. Jumlahnya jelas mencapai sekitar empat puluh buah.

Mereka jelas berhasil menghentikan upaya target mereka untuk beroperasi hari ini, tetapi bahkan Lucy mengerti kalau ini hanya akan berakhir sepenuhnya dengan menangkap target yang membagi-bagikannya. Jadi mereka melewati tim dua dan terus melaju.

Awalnya mengejar mereka terdengar tidak memungkinkan, tetapi setelah berkendara selama beberapa saat, Heru berkata kepada personel di sampingnya, “Dua pick up hitam, bukan? Menurutmu itu mereka?”

Heru menunjuk ke jalanan di depan mereka. Lucy mencondongkan diri ke depan. Dia bisa melihat salah satu pick up di depan kendaraan mereka. Terpal di bak mereka melambai tertiup angin akibat tidak diikat. Mobil mereka tidak memiliki plat, jelas baru saja dibuang karena mereka tidaklah mungkin bisa berkendara sejauh ini tanpa plat.

Dan mereka tidaklah mungkin bisa lebih jauh lagi berkendara.

“Mereka membuang plat mereka,” Lucy berkata. “Mereka jelas berencana meninggalkan mobil mereka nanti.”

“Aku juga berpikir seperti.” Heru membalas. “Makanya aku mencoba mendahului mereka sebelum mereka sempat memilih jalan kabur.

Heru serius mengenai itu; dia secara perlahan menyerong ke kiri, mencoba menyalip pick up pertama. Jelas tidak mungkin mereka tidak menyadari mereka tengah dikejar, apalagi membiarkannya, jadi pick up di depan mereka mulai mendekati tengah jalanan dengan kecepatan yang mulai meningkat untuk mencoba menghalangi upaya mereka menyalip.

Heru lalu mengulurkan tangannya ke arah personel di sampingnya seakan meminta sesuatu. Dia hanya berkata, “Gas.”

Personel di sampingnya paham dan memberinya semacam kaleng abu-abu selagi mengembuskan nafas dan menggeleng. Sebuah kaleng abu-abu dengan pin pengaman di atasnya. Heru menerimnya dan perlahan membuka jendelanya selagi menyiapkan ancang-ancang.

“Kau akan mengebom mereka?!” Lucy bertanya, jelas terkejut.

“Semacam itu, jika kau hitung gas air mata sebagai bom.” Balas Heru selagi tersenyum. Dia lalu mengamati keadaan jalanan selama beberapa saat sebelum memastikan cukup aman untuknya menancap gas sekuat tenaga. Kecepatan dadakan mereka berhasil menyejajarkan posisi mereka dengan kendaraan target untuk sesaat.

Jendela kendaraan target dengan cepat diturunkan, menunjukkan pengendaranya yang menodongkan pistol. Tetapi Heru jelas mengharapkan hal tersebut dan langsung melempar gas air mata di tangannya ke kursi penumpang pick up. Dia kembali menginjak gas dan mendahului pick up pertama yang tiba-tiba kehilangan kecepatan dengan cepat. Heru tidak menoleh saat pick up di belakangnya memunculkan asap pekat.

“Ketua tidak akan menyukai itu, kau tahu.” Personel di sampingnya berkata.

Heru tertawa kecil selagi membalas, “Itu bekerja dengan baik, bukan? Aku selalu ingin melakukan itu kepada Hansel.”

Rekannya menggeleng mendengarnya. Dia lalu meraih radio dan berkata, “Kita berhasil menghentikan pick up pertama.” – dia menghela nafas sejenak – “Dengan Heru melempar gas air mata ke pick up mereka.”

“Mereka mencoba menembaki kita!” Heru berteriak menambahkan.

Terdengar hembusan nafas kesal dari radio. “Heru, kita akan bicarakan ini nanti. Untuk sekarang, lanjutkan misi. Ganti.”

“Dan itulah kenapa kau dilarang untuk melakukannya.” Tanggap rekannya selagi meletakkan kembali radio. Heru hanya terkekeh dan kembali menginjak gas.

“Aku tidak tahu kau sendiri cukup ‘bermasalah’” Lucy akhirnya ikut menanggapi.

“Eh, kau bisa menyalahkan Hansel untuk itu. Aku selalu gatal ingin membubarkan perkelahian mereka dengan gas air mata. Mungkin mereka akhirnya akan berhenti melakukannya tiap ada kesempatan.” Heru membalas.

Lucy merasa bisa memaklumi alasan tersebut, meski tetap saja yang tadi dianggapnya berlebihan. Melupakan hal tersebut, dia menyadari mereka kini mulai menyalip mobil pick up kedua. Heru sepertinya tidak lagi mencoba menyerang mereka seperti sebelumnya. Dia kini fokus pada setir mobil selagi perlahan mendekati mereka.

Pick up di depan sepertinya punya rencana lain; mobil pick up tesebut mulai berbelok dan memasuki gang sempit yang kira-kira selebar satu setengah mobil mereka, sepertinya tujuan mereka adalah membatasi jalan kendaraan personel agar tidak mendahului mereka. Tetapi sepertinya Heru memang mampu menyetir dengan baik di dalam gang tersebut, terlebih karena jalan gang sepi tanpa kendaraan lain melaluinya.

Mereka kini di sepertinya keluar gang. Meski ukuran jalan tetap sama, sisi kanan mereka kini adalah pepohonan dan semak belukar. Tiba-tiba saja mobil tersebut berbelok tajam ke arah kiri, kembali memasuki gang kecil lain. Heru dengan cepat mengikuti arah mobil mereka mereka. Tetapi kemudian mobil pickup tadi mundur dengan cepat, menabrak kendaraan para personel. Tidak hanya menabrak, mobil pick up itu mendorong mereka ke sejauh mungkin ke dalam sekumpulan semak belukar di pinggir jalan.

Dua orang mulai keluar dari pick up. Dari pintu sisi pengemudi keluar seorang pria berambut gondrong mengenakan berkaus putih dan celana jeans. Dia membawa sebuah linggis di tangan kanannya. Dari sisi lain kendaraan, seorang perempuan yang keluar. Dia terlihat sedikit lebih muda dari pria di sampingnya meski tinggi mereka sama. Rambut panjangnya diikat, dan berbeda dengan rekannya, dia mengenakan jaket kulit hitam untuk melapisi kausnya. Mereka sepertinya berbicara atau sepertinya lebih ke arah berargumen di luar sana.

Personel Yayasan jelas tidak akan membiarkan mereka lolos. Tanpa diperintah, mereka semua kecuali Lucy langsung keluar mobil dan menodongkan senjata ke arah mereka.

“Diam di tempat!”

Kedua orang dari mobil pick up tadi sama sekali tidak menduga akan berhadapan dengan agen berseragam taktis bak tentara elit dari ekspresi mereka. Si pria langsung menjatuhkan linggisnya dan mengangkat tangannya, sama seperti rekannya.

“Anjing elit ini yang ngejar kita, oy!” Yang perempuan setengah berbisik ke rekannya. “Ya mana gue tau!” Balas si pria.

Dua agen setengah berlari mendekati mereka selagi salah satu tangan mereka merogoh borgol di rompi mereka. Sepertinya ini merupakan kesempatan bagi kedua orang tersebut karena si perempuan tadi langsung lari dan mengait leher agen yang mendekatinya dengan lengannya. Dia lalu memukul kepala si agen yang terlindungi helm berkali-kali. Melihat mereka teralihkan sejenak, si pria langsung menunduk dan meraih kembali linggisnya sebelum diayunkannya ke arah kepala agen lainnya.

Kedua orang tersebut langsung menjadikan agen tersebut sebagai tameng mereka, meski sandera si perempuan masih meronta. Merasa situasi sedikit terkendali, si perempuan berkata, “Biasanya para polisi anjing yang nyari kita. Siapa yang ngirim lo semua?”

Saat ini cuma tersisa Heru di luar. Lucy masih di dalam mobil mengamati keadaan. Orang-orang di luar sepertinya tidak tahu akan keberadaannya di kursi penumpang, jadi Lucy merasa dialah satu-satunya yang memiliki elemen kejutan untuk misi ini.

Tangan kanannya meraih revolver yang disimpannya di balik jasnya sedangkan tangan kirinya bersiap membuka pintu mobil begitu ada kesempatan.

“Sekali lagi, lepaskan mereka atau kami akan mengambil metode kekerasan.” Heru tetap tenang meski dua agen yang bersamanya kini jadi sandera mereka. Dia tahu mereka sengaja jadi ‘sandera’ dan bisa lolos kapan pun begitu diberi justifikasi untuk melawan. Pisau standar berada di rompi mereka, kini semua tergantung seberapa keras mereka sebenarnya tengah dipukuli saat ini.

Bukannya membalas ancaman Heru, si perempuan tersebut mulai berjalan mundur menyeret agen yang antara pura-pura lemah atau memang setengah tak sadar di sekapannya, diikuti pria di sampingnya. Dia berjalan menuju mobil pick up tadi dan mencoba meraih sesuatu di dalam mobil. Akhirnya dia mengeluarkan parang berukuran besar dan mendekatkannya ke leher agen tersebut.

“Oke lah, pakai kekerasan!” Heru berteriak.

Agen yang disandera sang pria langsung menendang kaki lawannya dan memukul kepala pria tersebut dengan sikunya yang tertutup pelindung bagaikan kepalanya tidak terpengaruh hantaman linggis barusan. Pria tadi langsung berlari mundur sebelum terkena serangan lebih jauh.

Agen yang bersama perempuan tadi langsung meraih pisau di rompinya dan mencoba menikam perempuan di belakangnya. Tetapi perempuan tersebut lebih cepat bereaksi dan berhasil melukai telapak tangan sang agen, menjatuhkan pisau yang hendak diangkatnya.

Perempuan tersebut terus menyerang dengan ujung gagang parangnya dihantamkannya ke helm agen tadi sampai dia jatuh ke tanah. Dia lalu memotong tali sandang senapan yang melingkari leher sang agen dan menyeret senapan itu menjauh sebelum menendang badannya. Dia dengan cepat menunduk dan meraih senapan tersebut. Yang pertama dilakukannya adalah menimang senjata tersebut dan menembak beberapa kali ke langit, sepertinya memastikan senapan tersebut berfungsi sebelum menodongkannya ke arah Heru.

“Kau pikir kau bisa menembak tepat sasaran?” Heru berkata setengah mengejek.

“Lu kira gue ngadepin anjing berapa kali dah?” Dia membalas, tersenyum meski sisa ekspresinya terlihat gugup.

Heru lalu menoleh ke kanan dan berkata, “Dri, tolong aku sini!” Agen yang diajaknya bicara tengah sibuk menendang badan si pria tadi sebelum menodongkan senapannya ke arah yang sama. Si perempuan hanya mengumpat selagi melihat rekannya sudah dilumpuhkan.

“Bersedia menyerah sekarang?” Heru kini mulai berjalan mendekat, diikuti agen satunya. Lawan mereka perlahan mundur mendekati agen ketiga yang masih terbaring. Tak sengaja menyenggolnya, si perempuan tadi langsung jongkok dan mendekatkan parangnya ke leher agen tersebut.

“Oh, ayolah. Menyerah saja, kau tidak akan lolos dari sini. Kau tahu ini akan memberimu masa tahanan yang lama, bukan?” Heru berkata, kali ini setengah kesal. Mereka semakin mendekatinya.

“Gue kenal beberapa anjing tinggi, kok. Ga usah mikirin gue, dah!” Balasnya, masih tidak ingin bekerja sama.

Heru sepertinya terkekeh mendengar balasannya. Kedua agen kini semakin dekat, tetapi tiba-tiba muncul kendaraan dari balik gang di kiri mereka. Sebuah pick up hitam. Ia berbelok cepat ke kiri dan menuju tepat ke arah para agen. Heru yang melihatnya langsung berlari mundur, tetapi rekannya sepertinya tertegun sebelum ikut berlari. Sayangnya itu mengakibatkan sisi badannya tersenggol pick up berkecepatan tinggi itu dan membuatnya terpental.

“Sialan!” Heru langsung berlari ke arah rekannya. Di sisi lain, pintu pick up terbuka dan seorang pria berkaus hitam yang menutupi separuh wajahnya dengan bandana keluar. Perempuan tersebut langsung lari meninggalkan agen di tanah dan menyeret rekannya tadi ke arah pick up kedua. Pria yang turun tadi ikut membantunya.

“Lu bawa dia balik, gue urus anjing-anjing elit ini. Mereka ga bakalan berhenti ngejar kalau kagak diurus sekarang.” Dia berkata kepada pria tersebut.

“Lah, bos sendiri gimana?” Pria dari mobil membalas selagi menggotong pria pertama naik ke bak mobil.

“Dah, lu tenang aja. Gue kenal kok anjing-anjing di sana.” Balasnya selagi ikut membantu mengangkat pria tersebut. Setelah berhasil diangkat naik ke bak, pick up tersebut mundur dan kembali masuk ke dalam gang, meinggalkan perempuan tersebut sendiri.

Dia sendiri mengangkat senapan tersebut dan sepertinya bersiap menodongkannya ke arah Heru yang masih di tanah, membantu rekannya berdiri.

Perhatian perempuan itu terfokus pada Heru, memberikan Lucy kesempatan untuk melakukan apa pun. Dia melirik ke arah revolver di tangannya sebelum kembali ke arah jendela. Dia bisa menembak mereka, tetapi bayangan kembali menembak orang masih melekat kuat di ingatannya. Dia juga merasa dia tidak harus menembak mereka; dia bisa saja mengancam mereka seperti Heru tadi.

Tetapi dia bukan Heru. Dia hanya bermodalkan revolver sedangkan lawannya berhasil merampas senapan Yayasan, kemungkinan lawannya tidak akan terintimidasi. Tetapi meskipun begitu, Lucy mencoba sebisanya untuk tidak menembak lagi. Untuk tidak membunuh orang lagi.

Dia melihat sekali lagi ke luar, mereka jelas tidak akan menunggu konflik batinnya lebih lama lagi. Lucy menghela nafas sebelum membuka pintu mobil dengan cepat.

Persetan!

BANG

“Aarkh!” Perempuan tersebut menjerit; Lucy berhasil menembak area pahanya, mengakibatkannya langsung terjatuh kesakitan selagi memegang pahanya.

“Anjing!” Dia berteriak begitu melihat Lucy mendekat. Dia langsung menodongkan senapannya ke arah Lucy.

Jangan bercanda!

Lucy yang masih menodongkan senjatanya terlebih dahulu langsung menembak area tangan perempuan tersebut. Dia kembali menjerit, sepertinya tembakan kedua mengenai lengan kanannya. Kini perempuan tersebut merayap mundur dengan ekspresi marah selagi menahan rasa sakitnya.

Lucy terus berjalan mendekat. Pistolnya diangkatnya sedikit; targetnya kali ini kepalanya.

Berhenti melawan!

BANG

“Hiiiiiiii-“ Perempuan tersebut bergidik. Tembakan tadi meleset, nyaris mengenai kepalanya. Lucy tiba-tiba sadar kalau kedua tangannya yang memegang revolver digenggam erat oleh Heru, tepat waktu sehingga mampu mengalihkan arah tembakannya.

“Apa-apaan kau ini?!” Heru berteriak. Lucy tersentak dan menurunkan pistolnya seketika. Dia benar-benar tidak sadar dia menembak perempuan tersebut berkali-kali.

“Dari mana kau dapat pistol itu?” Heru terlihat marah. Dia mencoba meraih pistol Lucy, tetapi Lucy reflek menjauhkannya darinya.

“Revolvel David. Ku rasa aku pantas membawanya setelah hampir dibunuhnya sekali.” Lucy mencoba membela dirinya, tanpa sadar mundur beberapa langkah.

“Kau tidak diperbolehkan memiliki senjata apa pun!” Heru kini mencoba mengambil paksa senjata Lucy.

“Setidaknya kau bisa berterimakasih padaku terlebih dahulu setelah hampir ditembaknya!” Lucy menodongkan senjatanya dengan kesal ke arah perempuan yang masih meringis kesakitan di tanah.

Heru mengalihkan perhatiannya ke arah perempuan tersebut sebelum melirik ke arah Lucy dan berkata, “Kita bicarakan ini nanti.”

Dia lalu berjalan ke arah perempuan yang berada di tanah. Dia sendiri yang menjauhkan senapan rampasan perempuan tersebut sebelum merebut parangnya juga. Kini gilirannya yang berdiri menodongkan senapannya selagi bertanya, “Sebutkan identitasmu!”

Si perempuan tadi masih merintih kesakitan sehingga Heru berteriak lebih keras, “Sebutkan identitasmu segera atau kami akan memaksamu melakukannya!”

Dia jelas tersentak mendengar ancamannya dan langsung menjawab, “Namaku Arma Yolanda Brizna, kepala geng di sini. Jadi siapa yang ngirim kalian?”

Heru hanya meludah ke samping dan berkata, “Kirain apaan tadi. Berandalan nekat doang.” Dia mengeluarkan borgol di salah satu rompinya dan mengenakannya ke perempuan tersebut sebelum meninggalkannya untuk membantu rekannya tadi berdiri. Perempuan tersebut seakan bukan lagi ancaman berbahaya sekarang meski beberapa saat lalu hampir mengungguli mereka.

“Lu gimana ceritanya bisa kena tabrak sih, Dri?” Terdengar suara tanya Heru di kejauahan selagi dia membantu rekannya kembali ke mobil Yayasan. Kini tersisa Lucy yang berdiri diam mengamati. Dia mengerti Heru sepertinya harus mengurus rekannya yang terluka dulu sebelum mengurus tahanan mereka. Memikirkan hal tersebut, perhatiannya kini teralihkan ke perempuan tadi yang kini kembali merintih kesakitan. Dia mulai berjalan ke arahnya, membuat perempuan tersebut tersentak dan mencoba menjauh.

Lucy berjongkok dan bertanya, “Jadi kenapa kalian menyerang kami?”

Perempuan tersebut berhenti meronta dan berkata, “Pakai nanya, kalian polisi kan? Setiap kami melakukan sesuatu, kalian pasti saja muncul. Tapi baru kali ini sih sampai Brimob yang muncul.”

Lucy mulai kesal akan sikapnya dan tanpa sadar mengacungkan revolvernya kembali selagi berkata, “Tipe Biru sialan, kenapa kalian nyebarin puluhan plastik-plastik putih ke warga? Apa kalian tahu apa yang kalian lakukan?!”

Sebelum perempuan tersebut menjawab, mereka diinterupsi Heru yang mendekati mereka berdua. “Lucy, simpan pertanyaanmu untuk rekaman nanti. Dan tolong jangan todongkan senjatamu kepadanya.”

Lucy melirik sekilas ke arah perempuan tersebut sebelum berdiri dan mengikuti Heru yang mulai berjalan menjauh.

Tiba-tiba Heru berhenti dan berbalik seraya berkata, “Dengar, aku berterima kasih kau menyelamatkan ku tadi, tetapi tolong jangan menembak orang lagi.” Dia diam sejenak menatap Lucy sebelum akhirnya menyelesaikan pesannya dengan, “Satu orang sudah cukup bagimu. Kau cuma peneliti, bukan agen.”

Dia lalu berbalik dan kini mengurus rekannya yang tadi disandera yang saat ini baru mencoba berdiri. Lucy diam memikirkan pesan Heru selagi mengamati pistolnya.

Dia tahu dia sebenarnya memang agen pembunuh. Dia dilatih untuk menggunakan ini dan dia salah satu yang terbaik di antara agen GOC lain berdasarkan kata atasannya dulu. Tetapi Heru sangat peduli terhadap topeng peneliti junior tak berdosanya agar tidak retak secepat itu dan menampakkan rupa aslinya.

Mungkin saja itu bukan topeng, mungkin seorang peneliti Yayasan memang merupakan identitas aslinya sekarang dan agen pembunuh GOC merupakan dirinya yang lama, mencoba muncul sedikit demi sedikit untuk memenuhi tujuan eksistensinya.

Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti memikirkan hal tersebut dan memilih untuk tetap menjadi seorang peneliti Yayasan. Setidaknya untuk sekarang ini.

Perempuan di tanah tadi tengah mencoba berdiri saat Lucy kembali berjalan ke arahnya, dia langsung mencoba menubrukkan dirinya ke arah Lucy. Sayangnya karena dirinya masih lemah, ditambah Lucy yang reflek menghindar mengakibatkan dia kembali terjatuh. Lucy lalu berlari ke sisi belakangnya dan memegang kedua lengannya.

“Eh, ngapain lu?” Dia jelas terkejut akan tindakan tersebut.

Lucy menjawab, “Membantumu berdiri? Harus ada yang membawamu ke mobil nanti, kan?”

“Ah, tentu saja…” Dia membalas. Sepertinya dia tidak mencoba lari lagi. Tangannya yang tidak terluka masih sesekali mengayunkan lengannya yang lain, sepertinya mencoba melepaskan borgolnya. Salah satu kakinya cuma diseretnya saja. Lucy akhirnya mengakui dalam hati kalau dia tadi memang sedikit berlebihan.

Mereka berdua berjalan perlahan ke arah mobil. Heru masih sibuk dengan radionya, sepertinya mengontak tim lainnya. Kursi belakang diisi salah satu agen yang paling parah kondisinya, jadi Lucy cuma menyandarkan perempuan tadi di samping mobil sebelum mendekati Heru.

“Jadi bagaimana sekarang?” Lucy berkata di belakang Heru.

Heru sendiri menoleh ke belakang dan sepertinya menyadari dia menyeret perempuan tadi ke samping mobil sebelum melupakannya dan berkata, “Tim 4 dan 5 terlalu jauh. Mobil pick up tadi tidak dapat ditemukan…“ – Heru berusaha tidak memedulikan sorakan senang mendadak perempuan di tanah – “…sehingga perempuan itu satu-satunya kunci kita sekarang.”

Seakan menegaskan hal tersebut, dia berjalan ke arah perempuan tersebut dan berkata, “Kau akan ikut kami dan membantu kami mengidentifikasi siapa penyedia barangmu.”

“Maksudmu plastik-plastik itu? Sumpah gue bingung peduli apa kalian sama mereka…” Perempuan tersebut berkata selagi dirinya dibantu masuk ke mobil oleh Lucy dan Heru. Lucy ingin membalas pernyataannya, tetapi dia akan simpan nanti saat interogasi. Kursi penumpang agak sesak karena kini terdiri dari seorang agen terluka yang malangnya terhimpit di pinggir seperti Lucy. Perempuan tadi di tengah.

Begitu pintu mobil ditutup, mobil tidaklah bergerak segera. Mereka hanya terdiam di tempat. “Alat rekaman di belakang. Lebih baik melakukannya di dalam sini.” Heru berkata dari depan. “Lakukan secara singkat, kau tahu pertanyaan standarnya kan? Ketua akan segera ke sini dan dia akan memerlukan perempuan itu untuk menuntun kita ke penyedia plastik tersebut.”

“Baik, apa sebenarnya yang kalian pedulikan mengenai plastik-plastik itu?! Dari tadi itu aja yang gue dengar!” Perempuan di tengah berkata dengan frustrasi selagi Lucy meraih perekam.

“Tenang sedikit, coba! Entar aku tanya juga kok mengenai itu.” Lucy membalas dengan jengkel. Dia akhirnya menggenggam alat perekam.

Dia untungnya punya pengalaman mengamati temannya di situs lama dulu untuk urusan merangkai pembuka dan pertanyaan dalam rekaman.

“Baik… kita mulai. Ehm, rekaman dibuat oleh Peneliti Junior Lucia Amelia. Subjek merupakan salah satu anggota kelompok tidak dikenal yang kemungkinan terkait dengan target operasi tanggal 17 Mei 2018. Bisa sebutkan namamu?”

Perempuan tersebut terlihat bingung dan memandangi alat perekam yang disodorkan Lucy kepadanya. Dia akhirnya berkata, “Arma Yolanda Brizna. Uhh… kepala geng lokal.” Dia lalu menggumam pelan, “Aneh amat…”

Lucy tidak memedulikan komentarnya dan melanjutkan, “Bisa jelaskan kenapa kalian melawan personel Ya-“ Lucy lupa bertanya apakah dia boleh menyebutkan afiliasi mereka sebagai agen Yayasan kepada Heru. Akhirnya dia melanjutkan, “Ehm, personel kami sebelumnya?”

“Ya, kalian ngejar kami ya kami lawan, lah. Tapi gue dari tadi nanya kali ini kesalahan kami apaan?” Arma menjawab.

“Kita akan menanyakan itu setelah ini.” Lucy membalas, sangat jengkel akan ketidaktahuan perempuan tersebut akan ‘plastik’ yang disebarnya sejak kemarin sebelum khawatir kalau suaranya tadi agak tinggi dan mengacaukan rekaman. Dia menghela nafas sebelum berkata, “Jadi, apa yang sebenarnya kalian rencananya lakukan?”

“Sudah gue bilang berkali-kali, kami cuma dibayar nyebar plastik-plastik itu ke warga. Sebenarnya terserah ke siapa sih, tapi kami milih ngebagikan ke warga dekat sungai.”

“Berhenti dulu, tanyakan siapa supliernya.” Heru berkata tiba-tiba. Lucy lalu bertanya kepadanya, “Baik, cukup mengenai itu, tolong beri tahukan siapa penyedia asli plastik-plastik tersebut dan apa hubungan kalian dengan mereka?”

Perempuan tersebut diam untuk beberapa saat, tetapi dia akhirnya menjawab, “Sebuah pabrik di ujung kota. Mereka ga nyebutin nama perusahaan mereka, tapi tempatnya kayak tempat jagal gitu. Awal ketemu ama mereka itu karena salah satu anggota kami diberi tawaran kerjaan untuk nyebarin plastik itu di daerah kami. Jujur, gue emang curiga ama tawaran mereka. Mereka nawarin untuk tiap kantong plastik yang dibagikan, kami dapat seratus ribu. Jadi kemarin kami diberi 50 kantong plastik dan pas kelar langsung dikasih duitnya. Sekarang mereka ngasih 60 plastik. Aneh bukan?”

Jawabannya cukup membuat Lucy terkejut. Terdapat sebuah kemungkinan yang tidak Lucy pikirkan mendalam sebelumnya, jadi itu yang akan dia tanyakan. “Kau tidak tahu sama sekali isi plastik itu?”

“Cuma produk biasa. Malah gue heran ngapain pabrik daging ngasih gituan. Ada sabun dan sampo semacamnya di sana.” Jawabnya.

“Kalian tidak tahu efeknya sama sekali?” Lucy bertanya, kali ini murni keheranan.

Perempuan tersebut diam sejenak sebelum akhirnya berkata, “…Mereka ilegal, bukan?”

“Huh?”

“Produk ilegal. Lu tau kan, yang kagak lulus BPOM semacam itu. Yang bisa nyebabkan gatal dan sebagainya. Mereka ngebagiin itu karena kagak bisa dijual, kan?” Perempuan tersebut menebak. Lucy hanya menatapnya, mengetahui tebakannya, meski secara teknis benar, meleset jauh dari kenyataan aslinya.

“Ehm… semacam itu.” Hanya itu balasan Lucy. Dia kini menyadari dia berhadapan dengan warga sipil yang tidak tahu sama sekali mengenai dunia anomali meski dia dan kelompoknya yang membagi-bagikannya.

“Lucy, tanyakan ke mana rekannya tadi kabur. Juga apakah perusahaan yang disinggungnya tadi merekrut geng lain di daerah ini.” Heru kembali menambahkan daftar pertanyaan.

Lucy mengangguk dan melanjutkan wawancara, “Jadi, ke mana sisa anggota kalian tadi?”

Arma cuma tersenyum dan berkata, “Heh, udah balik ke markas. Ga usah nyari mereka, udah ada gue.”

Lucy melirik ke arah Heru, yang memberi isyarat untuk mengabaikan jawabannya dan lanjut ke pertanyaan kedua.

“Jadi, selain kalian, apa kau mungkin tahu apakah perusahaan yang kau sebutkan tadi merekrut kelompok lain selain kalian?” Tanya Lucy.

Arma hanya mengangkat bahu, “Yah, mana gue tahu. Palingan kalau ketemu pun bakal kelahi kita.”

Kini Lucy kehabisan daftar pertanyaan dan kali ini bertanya ke Heru, “Ini ku tanyakan lokasi penyuplainya sekarang atau tidak?”

“Nanti saja, ketua hampir sampai ke sini dan berencana langsung menggerebek lokasi mereka. Kemungkinannya informasi operasi ini sudah bocor ke mereka sehingga jika terlambat, lokasi mungkin sudah kosong. Kemungkinan terburuk adalah mereka bisa saja tengah membakar lokasi saat ini.” Heru menjelaskan.

“Yang benar saja…” Arma berkomentar.

Lucy melirik ke arahnya. Dia lalu mendekatkan rekamannya dan berkata, “Itu saja informasi yang bisa didapat saat ini.” Sebelum dirinya mematikan alat perekam. Dengan perlahan dia meletakkan perekam tadi ke belakang.

Akhirnya setelah membenarkan posisi duduknya, Lucy menghela nafas sejenak sebelum berkata, “Kau benar-benar tidak tahu apa yang telah kalian lakukan?”

Arma menatapnya sejenak, mengetahui Lucy benar-benar serius menanyakan hal tersebut. Dia akhirnya menjawab, “Jujur, gue tahu yang kami lakuin ini mungkin semacam tindak kriminal, tapi gue beneran ga nyangka bakal separah ini.”

“Tapi kenapa kau tetap melakukannya?”

Kali ini Arma tidak melihat raut mukanya, tetapi penampilan Lucy sebelum menjawab, “Ga semua orang itu kaya, tahu gak. Bayangin dapat lima juta sehari cuma buat ngebagiin sembako doang. Kami ga perlu malak orang pasar lagi.”

Lucy dapat memahami itu. Akhirnya dia tidak lagi bertanya dan hanya duduk diam. Perempuan di sampingnya bukan lagi seorang penjahat tak berperasaan seperti bayangan awalnya, tetapi warga kurang mampu dan kurang beruntung yang dimanfaatkan siapa pun pembuat anomali tersebut. Pada akhirnya dia kembali pada rasa ketidaksukaannya terhadap para pembuat anomali, mengendalikan kehidupan warga biasa seenaknya.

Mereka hanya diam selagi suara mobil satu per satu mendekat. Mobil-mobil hitam Yayasan. Seperti kata Heru, mereka akan menyelesaikan semuanya hari ini juga. Lucy akan di sana untuk menyaksikannya.

Dia melihat ke arah Heru yang keluar mobil dan mendekati salah satu mobil di luar. Lucy lalu meraba bagian belakangnya dan mengeluarkan kembali revolvernya. Dia membuka isinya dan mendapati sisa tiga peluru lagi.

Lucy menutupnya dalam sekali ayunan ke samping dan kembali menyimpannya. Peluru tersebut akan disimpannya untuk mereka.

Kronik Situs-79

Bab 5: Rumah Jagal
« Orang-orang Susah | Bandit Kelas Coro | Bisnis Untuk Menjagal »

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License