"Tolol!"
Perempuan tersebut langsung meletakkan botol minumnya di atas meja ruang istirahat personel. Heran atas insiden yang telah dialami oleh rekannya tersebut.
"Kenapa? Biasa aja kali." Ucap orang tersebut, tampilannya sedikit berbeda dengan staf lainnya dan mulai untuk meneguk hip flask yang ia keluarkan dari rompinya.
"Nggak, begini lauh. Lu nembak langsung kepala salah satu peneliti yang ada di situs ini dan lu sekarang diturunin dari Kepala Penelitian Alkimia jadi peneliti biasa. Gila lu ya?"
"Mungkin. Siapa tau?"
Perempuan tersebut tetap tatap rekannya yang menghabiskan waktunya dengan meneguk minuman di dalam botolnya tersebut.
"Gak cuman itu. Semua orang, gak cuman di situs ini. Tetapi hampir semua orang yang kerja di sini tuh tau sama ulah lu."
"Biarin, like I care."
Ia pun langsung mengambil gelasnya dan meminum kembali botol minuman isotonik. Meneguknya sampai habis.
"Masih baguslah. Rada mendingan lu diturunin jabatan, bisa lebih parah padahal mengingat seberapa parahnya yang lu lakuin ke mereka. Tetapi apa yang lu lakuin barusan itu gak worth it sama sekali dengan ngorbanin posisi lu."
Lelaki itu menoleh perhatiannya ke perempuan tersebut. Mengatur posisi tubuhnya dan langsung meletakan hip flask miliknya di atas meja.
"Semua yang gua lakukan gak pernah di dasari oleh 'apakah hal ini worth it untuk dilakukan?', tetapi karena emang harus dilakuin."
Ia langsung melipat lengan kemejanya sampai sikunya.
"Perlu diakui bahwa yang sebelumnya memang kinerja mereka di sini tuh, gak memuaskan. Kesalahan mereka sendiri, tetapi mereka malah gak terima."
"Dan kedua orang yang lu bilang itu keluar dari sini karena lu terlalu keras."
"Keras atau engga, tetapi emang mereka gak bisa terima kenyataan dan sekarang mereka pensiun."
Perempuan tersebut berdiri dari sofa, berjalan ke arah kulkas yang ada diruangan tersebut dan mengambil sebotol minuman isotonik lagi. Ia pun membuka botol tersebut, meminumnya dan duduk kembali ke sofa tersebut.
"Secara gak langsung lu ngeruntuhin situasi yang ada di sini hanya untuk idealisme pribadi lu itu sendiri."
"Kata siapa gua pengen ngeruntuhin? Gua lakuin apa yang emang harus dilakuin."
"Situs ini jadi bakalan dipandang jelek karena ulah lu. Apalagi mereka gak bakalan dengerin lu mengingat istilahnya, mereka udah hilang kepercayaan lu setelah insiden sebelumnya dan sekarang lu nyoba untuk ngejatuhin 'mereka' semua atas dasar pengen balas dendam?"
"Entah, siapa tahu. Males. Tetapi yang pasti. Salah mereka sendiri, bukan salah gua."
"Kalo lu diam dan gak ngebeberin, situasi gak akan serumit itu. Kalo lu beberin, lu malah makin jadi posisinya."
"Kok jadi gua yang kena? Rada lucu sih kalo emang gua ada di posisi itu dan kemungkinan besar emang bakalan kejadian."
Ia meneguk minumannya kembali.
"Apa bedanya gua dengan atasan-atasan yang ada di sini? Mereka menjunjung tinggi sebuah nilai atas dasar 'norma', 'dewasa' atau berbagai macam bullshit yang mereka pelajari dari Kamus 1001 Miliar Untuk Ngeles."
Ia menunduk dan menatap ke tangannya yang mengepal.
"Siapa yang nentuin bahwa suatu perbuatan tersebut wajar untuk dilakukan atau engga? Atasan-atasan Foundation di sini sering gunain definisi sendiri untuk justifikasiin tindakan mereka. Secara gak langsung ngebunuh banyak orang untuk 'kebaikan yang lebih baik' tetapi giliran gua mengambil tindakan yang sama untuk kepentingan kita semua, dilihat sebelah mata?"
"Mereka ngelakuin hal yang sama. Mereka dapet perintah dari pusat untuk turunin jabatan gua karena mereka terpaksa. Mereka gak bedanya dengan anjing-anjing bakalan nurut meskipun mereka disuruhpun makan tai mereka sendiri. Mereka yang kerjaannya cuma santai-santai, ngandelin orang-orang yang ada di sini biar kerja, sedangkan mereka tinggal turu dan minum segelas melo ais sebelum tidur. Karena mereka emang sampah, gak pernah kerja. Mereka bakalan gerak kalo emang situasi ini doang, liat sendiri kan mereka tiba-tiba langsung rapat dan muncul semua setelah entahlah, berbulan-bulan ngilang tanpa kabar sendirinya?"
Perempuan tersebut terbata-bata atas perubahan sifat yang dialami oleh rekannya. Yang ia biasa kenal sebagai orang paling santai menjadi berubah dalam sekejap.
"Yah. Gak bisa ngomong atau bantu banyak sih. Tetapi mungkin dengan kedepannya bakalan normal lagi dan gaada perubahan kinerja."
"Siapa? Pengganti baru gua sebagai Kepala Penelitian? Good Luck aja untuk mereka."
"Gua tau kok usaha dan dedikasi yang lu beri ke Foundation itu banyak banget dibanding siapapun yang ada di sini. Bahkan, gaada yang bisa nandingin elu dalam kemampuan yang lu punya. Tetapi tenang ajasih, gak bakalan ada chaos kayaknya."
Lelaki tersebut meneguk minumannya sampai habis dan menoleh pandangannya ke perempuan tersebut.
"Gak bakalan ada, emang. Karena bakalan jadi sepi juga karena siapa lagi yang ngurusin kalo mereka kerjaannya cuma turu. "
"Bisa gak sih jangan liatin pake muka kayak begitu? Ngeselin tau gak."
"Kenapa?"
"Ya kesel aja."
"Yaudah begitu aja. Tau sendirilah ya. Biarin ajalah."
"Baguslah kalo lu udah gak peduli lagi."
"Mau hancur atau apa kek, bodo amat."
"Gua tarik kata-kata gua kembali."
Perempuan tersebut menghabiskan botolnya dan melemparnya ke tong sampah.
"Jadi atasan kayak mereka gih."
"Gak begitu. Gua di sini udah jadi Kepala Pemeliharaan Situs. Ya kali gua ngejabat di dua tempat yang berbeda."
"Yakin? Lebih enak lauh. Tinggal turu kayak mereka dan gak perlu pusing sana-sini."
"Nunggu mereka yang datengin gua aja kalo butuh."
"Mereka gak bakalan datengin karena mereka gak butuh bantuan elu. Mereka merasa bahwa mereka bisa melakukan apa saja. Meskipun kenyataannya bobrok. Karena belakangan ini semua gua yang urus dibanding mereka yang kerjaannya gak jelas."
"Iya tau kok kalo lu kontribusinya banyak banget di sini. Gak perlu nyebut lagi kedua kalinya."
Lelaki tersebut bangun dari sofa, mengambil jas labnya dan menggantungkannya di atas pundaknya, tidak sepenuhnya memakai jasnya dia. Berjalan ke arah pintu keluar dan membuka pintunya.
"Mau ke mana?"
"Turu, kayak mereka."
Ia pun keluar dari ruang istirahat personel, meninggalkan rekannya di dalam ruangan tersebut.
"Memang bener-bener nih anak gak ada habisnya cari masalah."
| Atas dan Bawah | Satu Lantai »




