Baris 4: Inspektur Polisi Dua
rating: +4+x

oleh Rigen

"Mantra dibentuk ada perlu tiga. Nama, Peta, dan Dewa. Istilah tiga ini hanyalah representasi dan bukannya harfiah, jadi tidak harus kamu memercaya dewa-dewi baru atau menenteng atlas ke mana kalian membikin mantra."

"Nama, yaitu kalian punya identitas, distilasi persona sanubari. Manakala kefanaan kalian dibuang, api dunia kalian dipadamkan, di situ Nama mengkristal, mengukir jadi sebuah prisma tempat kanuragan dipilah fokus pancar."

Patigeni.


Sandarwulan membuka matanya, bersamaan dengan guncangan terakhir rem mobil. Delapan orang personel bersenjata lengkap Taktom Ajisaka mengisi bangku dari minibus ungu tak bertanda. Masing-masing membawa Tongkat, tentu saja; namun mereka juga membawa senjata-senjata lain dari konvensional hingga merambah fiksi ilmiah atau fantasi tinggi.

Sandarwulan sendiri membawa sebuah senjata yang sekilas identik dengan senapan serbu SS2-V5, namun keseluruhan larasnya telah diganti sebuah silinder kayu multiwarna serupa Tongkat, dengan sebuah kabel serat optik tertanam di tengahnya. Senjata Laser Taktis SLT-2 "Arjuna", berfungsi dengan menyerap energi makhluk yang eksis tidak terlihat di sekeliling manusia dan mengubahnya menjadi bilah cahaya menyilaukan, cukup untuk menembus dan membakar beton setebal satu meter sekalipun.

Sandarwulan bangkit.

1700 WIB 22 November 2019, Operasi Bungkul Swara dimulai.


"Peta itu sekadar alat kamu membentuk memilih ke mana kanuragan kalian mengalir dari Nama. Bentuknya macam-macam, bisa benar-benar kalian pakai atlas 33 propinsi. Bisa kalian pakai serupa itu macam wizard dari londo sana, lingkaran-lingkaran pola di lantai dan ukir-ukiran runic—tapi kalau kamu gambar gambaran di aku punya lantai nanti kalian aku geplak."

"Bisa kalian pakai pula hal-hal nonfisik. Rapal-rapalan Sanskerta atau Jawa Kuno, atau kalau kalian belum puas belajar matematika pakailah itu huruf angka persamaan. Tetapi yang penting kalian ingat, Peta itu tidaklah sendirinya sakral atau sakti. Tanpa Nama atau Dewa, komat-kamit kalian baca serapah Yunani sambil gambar lingkar-pola seluruh tanah Jawa takkan keluar barang setitik cahaya atau angin mistis."

Lingua Magia.


Dua jam sebelumnya, Haryadi sedang duduk bersandar di kamarnya.

Pria itu memejamkan mata. Sebuah perangkat yang lebih mirip alat penyiksaan daripada mahkota atau headset terpasang di kepalanya. Mungkin tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa perangkat itu memang alat penyiksaan: perangkat elektrokonvulsif anomalus itu bekerja di luar batasan tegangan, arus, dan frekuensi versi medisnya.

Haryadi sedang mengubah "pengaturan" Mayor Kusanagi Motoko.

Haryadi, tentu saja, bukan anggota KUPKA apalagi PAMWAC. Namun, jaringan informasi yang dimilikinya mudah saja menjaring transaksi ilegal high-profile seperti jual beli perangkat bekas milik FBI. Dia tidak perlu menggunakan tenung atau metode klenik apa pun untuk dapat mengontak Andreas Cahyo, si bandar tekpara bekas SEBD.

Perangkat yang terpasang di kepala Haryadi cukup berbeda dengan perangkat yang dijual Andreas ke KUPKA, tetapi tidak begitu jelas seberapa banyak dari perbedaan itu hasil modifikasi Andreas atau memang bagian dari riset UIU, dan tentu saja Haryadi juga telah menambahkan modifikasinya sendiri. Tekpara memiliki sesuatu yang melanggar hukum fisika, mudah saja bagi seseorang seperti Haryadi untuk memutar dan membengkokkan sesuatu itu dengan pengetahuan kleniknya sendiri.

Komponen-komponen serupa paku atau jarum besar berbaris sepanjang sisi kepala Haryadi, sesekali memancarkan percikan listrik. Anehnya, rambut Haryadi sama sekali tidak terpengaruh. Perangkat yang dia dapat dari Andreas memiliki layar monitor dan papan tik, tetapi versi yang sudah dimodifikasi Haryadi dapat memfokuskan langsung bayangan-bayangan imajinasi abstrak dalam pikirannya.

Dengan demikian, bisa dibilang hubungan antara Haryadi dengan Mayor lebih dekat daripada hubungan anak-anak KUPKA dengan "waifu" mereka. Mayor bukan hanya sebuah karakter fiksi yang disukai Haryadi, melainkan sebuah manifestasi dari gambaran ideal yang tertanam dalam pikiran Haryadi.

Haryadi sangat jelas mengalihkan topik, tetapi Mayor tidak terlalu peduli.

Haryadi membuka matanya, dan melepas "mahkota" yang dia kenakan.


"Aku bilang kalian butuh dewa, tapi bukanlah aku mengatakan sesungguh dewa yang harus kalian punyai. Yang kamu perlu itu simbol atau makhluk, sumber gaib darimana mengalir itu sari-pati tenaga klenik."

"Objek-objek emas simbolik barat sana bisa kalian pakai, atau kalian bisa tangkap itu dedemit dari angker-angker tempat kosong dan pertempuran. Tak kusarankan kalian panggil sebenar nama Ars Goetia, atau para dewa dan Batara dari kahyangan sana. Tiadalah manusia dapat mencari kekuatan dari keberadaan sebegitu dahsyat, kecuali hanyalah arogansi insan yang mereka beri ujian-ujian, maka tinggal tragedi yang berakhir dari semua khayal kendali sombong manusia."

魔力.


"Ragabhaya Cahyabuwana Jayasurya."

Bersamaan, kedelapan personel Taktom dan Sandarwulan merapalkan sebuah mantra sambil mengangkat Tongkat mereka ke arah langit. Bilah-bilah cahaya terpancar dari delapan Tongkat personel taktom ke Tongkat milik Sandarwulan. Pria itu kemudian menghantamkan Tongkatnya yang berpijar ke tanah, dan selubung cahaya pelindung muncul di sekeliling tubuh semua personel Ajisaka yang hadir.

Sandarwulan mengembalikan Tongkatnya, kini terasa lebih "ringan" meskipun timbangan fisik manapun akan mengatakan berat dan massa Tongkat itu tidak berubah. Dia kemudian mengangkat SLT-2 yang dipegangnya dengan kedua tangan—sebagai sebuah laser, SLT-2 "Arjuna" tidak memiliki hentakan recoil, namun bentuk dan distribusi massa komponennya yang didasarkan pada senapan konvensional menyebabkan senjata itu tetap lebih efektif untuk digunakan dengan kedua tangan.

Beberapa belas meter di hadapan tim Ajisaka, Haryadi telah menunggu tepat di depan gedung markasnya. Sandarwulan tidak melihat ada anggota KOMPETEN yang lain, tetapi dia tahu Haryadi memiliki "peliharaan" yang tidak terlihat. Melalui bidikan pada senjatanya, Sandarwulan dapat "mengamati" garis-garis energi klenik yang terhubung antara Haryadi dan berbagai formasi mantra sihir dalam markasnya.

"Selamat datang, bapak-ibu anggota kepolisian yang terhormat." Kilau warna biru memancar dari kedua bilah senjata tajam di tangan Haryadi, sebuah belati dan sebuah golok. Berbagai senjata tajam, tumpul, dan api menggantung di seluruh tubuhnya, membentuk serupa sebuah zirah yang tak perlu diragukan juga diisi dengan konsentrasi tinggi kanuragan. "Kawan anda semua telah menyebutkan tuduhan-tuduhan yang menyebabkan saudara-saudari kepolisian berkumpul pada hari ini, jadi kita bisa langsung mengabaikan saja basa-basi hampa kosong bapak-ibu sekalian."

Haryadi mengangkat goloknya, menghunus langit.

"Tembak!"

Cincin cahaya berwarna biru merekah layaknya sinar mentari pagi dari tubuh Haryadi. Di waktu bersamaan, regu Sandarwulan menembakkan berbagai senjata mereka; memuntahkan berbagai warna cahaya, udara bertekanan tinggi, serta bermacam ukuran proyektil fisik ke arah Haryadi.

Semua proyektil fisik yang menyentuh cincin cahaya biru itu terjatuh ke tanah, sedangkan cahaya dan udara terpental ke atas; melengkung pada vektor yang akan membuat guru fisika manapun terperangah tak percaya.

Mantra?!

Cahaya biru melintas tanpa efek melalui tubuh tim Sandarwulan. Mantra pelindungku masih berfungsi, atau mungkin dia hanya memengaruhi objek yang dia anggap berbahaya?

"Sekali la—!?" Sandarwulan belum sempat menyelesaikan perintahnya ketika sebuah dentuman familier menulikan telinganya: Haryadi telah kembali menembus kecepatan suara, dengan golok terhunus tepat menuju leher Sandarwulan.


Ada dua hal yang Haryadi perlukan untuk secara "aman" menembus kecepatan suara sekali lagi. Dia harus mencari cara untuk melindungi dirinya dari dentuman sonik dan efek destruktif lainnya, dan dia harus (entah bagaimana) memperkuat "tubuh" konseptual Mayor. Dua puluh mantra tersebar di seluruh gedung, masing-masing memenjarakan entitas yang terbentuk dari Telesma murni—Makhluk "penghuni" artifisial. Delapan belas di antaranya berfungsi untuk meningkatkan ketahanan fisik tubuh Haryadi, satu merupakan mantra pelindung serupa mantra tameng cahaya Sandarwulan, dan satu lagi untuk meningkatkan laju waktu subjektif Haryadi; dari perspektifnya, tubuhnya tidak pernah melampaui kecepatan suara sama sekali.

Mantra-mantra ini bukanlah mantra yang sulit didapatkan, meskipun tidak dapat pula dibilang mudah. Lebih sulit daripada itu adalah cara untuk mencegah "tubuh" Mayor dari tercerai berai hanya dari satu lompatan; dan karena esensi Mayor adalah manifestasi ideal Haryadi, satu-satunya cara untuk "memodifikasi" Mayor adalah dengan mengubah struktur pikiran Haryadi sendiri.

Hanya demi satu pertempuran ini, Haryadi berani mengubah "jiwa" dalam dirinya.


Perisai cahaya yang menyelimuti Sandarwulan berhasil melindunginya dari pucuk tajam senjata Haryadi, namun dentuman sonic boom melontarkannya bersama kedelapan anggota Taktom beberapa meter ke belakang. Belum sempat bangkit, Sandarwulan melihat Haryadi di sudut matanya, dengan dua bilah pedang pendek terhunus lurus di depan dada. Dia sedang menyiapkan mantra selanjutnya!

Tepat ketika Sandarwulan berhasil mengumpulkan energi untuk berguling dari sasaran Haryadi, sebuah pancaran cahaya membutakan—bukan, sebuah pilar plasma pijar membakar partikulat debu di udara di atas tempat Sandarwulan terpental. Rerumputan jarang tanah tandus mengering seketika, ujung-ujung menghitam dari panas plasma.

Untuk bisa memanggil dan menggunakan taumaturgi pada skala itu, sendirian… Sandarwulan bangkit, masih terengah. Salah satu anggota Taktom mendekatinya.

"Bapak bisa lihat Makhluk Tidak Terlihat di dekat dia?"

"Peliharaan dia? Saya bisa kurang lebih lihat siluetnya, tetapi apa mungkin mantra itu hanya ditenagai oleh satu…"

"Terlepas dari apakah itu masuk akal dengan logika taumaturgi Ajisaka, fakta di depan kita lebih penting. Dia menyebut nama Skuld, yang saya tahu itu adalah dewi Nordik. Kalau Makhluk itu benar-benar Skuld, tidak menutup kemungkinan."

Anggota Taktom yang lain beralih ke taktik jarak dekat, menggunakan bayonet dan belati. Namun, meski taktik ini berhasil mencegah Haryadi untuk menggunakan mantra skala besarnya, pengalaman Haryadi tampak jelas melebihi semua anggota Taktom yang melawannya. Ditambah lagi, refleks Haryadi ditopang oleh mantra distorsi waktu dan Mayor, memperluas jarak antara kemampuan tempurnya dan para anggota Taktom yang hanya bisa bergantung pada mantra Tongkat.

Sandarwulan menarik napas. "Berikan Tongkatmu."

"Swarangin Cahyasurya"

Tongkat yang diterima Sandarwulan dari anggota Taktom hancur berkeping-keping. Cahaya kuning terang menyelimuti Sandarwulan.

"Saya kasih sinyal, nanti kalian semua mundur."

"Siap!"

Sandarwulan mengangkat kembali senjata lasernya, mengarahkan pembidik pada Haryadi—bukan, pada pasangan dansanya.

"Sekarang!"


"Keparat kau…uhuk…Sulaiman! Brengsek, kalau bapak Presiden tahu—"

"Kalau bapak Presiden tahu? Karsalintang, bapak Presiden menandatangani sendiri surat perintahku! Antara surat kucel dan dekil si klenik simpatisan ███, dan surat rapi si gagah kolonel tentara, aku penasaran mana yang lebih berkuasa!"


Bilah laser melesat dengan kecepatan cahaya dari laras senjata. Dalam sekejap mata, Sandarwulan menghilang dari posisinya, dan muncul kembali di belakang Haryadi, beberapa meter di udara.

"Kusanagi!" Haryadi spontan membalikkan badan, terkejut. Sebuah bayonet menusuk ulu hatinya, tapi dia tidak peduli.

Sandarwulan jatuh dari langit, menghunjamkan Tongkat menembus tubuh inkorporeal Mayor, dan terus menghantam tanah. Dia bisa merasakan Mayor menggeliat, mencoba melepaskan diri, tapi sinar sihir Sandarwulan mengikat badannya.

Aku tidak suka menggunakan sihir barat, tapi tidak ada pilihan lain, apalagi kalau dia benar-benar seorang Nornir.1


Sandarwulan sudah bersiap untuk mengorbankan paling tidak lengan kanannya untuk membakar Makhluk Tidak Terlihat itu—pada kasus terburuk, ada kemungkinan dia bisa mati, mengingat posisi kritis Nornir di mitologi Nordik. Menghancurkan fragmen dewi sepenting itu akan membutuhkan harga yang sangat tinggi.

Namun bahkan ketika cahaya perak taring Fenrir memenuhi langit, hanya ujung-ujung jari Sandarwulan yang terasa hangat, seolah dia habis menyentuh kopi panas.

Dia…dia bukan dewi?

Lebih dari itu, dari respon ini, Makhluk itu harusnya hanya sedikit lebih tinggi dari Penunggu biasa—kurang lebih hanya cukup kuat untuk mempertahankan kesadaran dan melakukan Poltergeist tingkat sedang!

Jadi dari mana….

Ribuan pertanyaan memenuhi kepala Sandarwulan, selagi serpih cahaya pecah terurai bagai kepak sayap ribuan kupu-kupu bersinar.

Di tengah cahaya itu adalah Haryadi, bersimpuh, mencengkeram debu tanah.

"Kusa…nagi…"



««Sebelumnya | Bersambung | Selanjutnya»»

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License