Baris 2: Brigadir Polisi
rating: +8+x

oleh Rigen

Salah satu ingatan pertama yang dimiliki Purnawianto adalah sebuah potongan cerita di buku yang dibawa ibunya.

Cerita itu adalah kisah fabel biasa, dengan binatang-binatang yang dapat berbicara dan pesan moral yang mudah dipahami. Seekor belalang sedang kebingungan di musim dingin, karena dia tidak mendengarkan si semut kawannya ketika si semut itu menyarankan untuk menyimpan sebagian makanan yang melimpah di musim gugur. Akhirnya, si belalang terpaksa untuk merendah diri dan meminta sebagian dari pasokan gudang si semut.

Ketika umur Purnawianto bertambah, dan dia mempelajari tentang perilaku serangga, dia menyadari kenyataan suram dari kisah tersebut. Si belalang dipandu ke gudang si semut, namun si semut tidak pernah punya niatan untuk membagi makanan yang telah dia simpan: si belalang akan memasuki gudang sebagai aset inventaris.


"Siap untuk menghantam balik?" Purnawianto berbicara ke mikrofon yang dia pegang, tersambung melalui sebuah komputer dan sinyal elektromagnetik ke radio Sulistyo.

"Sepuluh-empat." Suara Sulistyo terdengar lebih jelas dari penyadap dalam komputer tablet Ajisaka daripada mikrofon radio yang dia gunakan. Tentu saja, Purnawianto tidak mengatakan apa-apa tentang penyadap itu.

Di monitor-monitor lain yang memenuhi ruang komando-dan-kontrol Ajisaka, tertera informasi tentang situasi di sekitar kantor polisi tempat Sulistyo bekerja dan di sekitar rumahnya, tentang spesifikasi dan lokasi drone yang digunakan Yayasan, dan tentang agen Pearch yang sedang mengejar Sulistyo.

Tidak kurang dari sepuluh agen lapangan Ajisaka dikerahkan untuk mendukung Sulistyo, tersembunyi dari mata Yayasan. Enam dari para agen itu didedikasikan untuk mengevakuasi personel lain dari kantor polisi sektor yang sebentar lagi akan menjadi medan pertempuran. Ajimat dari kayu kapal kuno dan kain tenun kuning dipasang dan disebarkan di lokasi-lokasi strategis dalam perimeter, didesain untuk mengusir orang-orang dari area itu.

"Lapor! Agen Yayasan memasuki perimeter dengan sepeda motor, nampaknya tidak terpengaruh oleh bendera kuning!"

Bendera kuning, simbol karantina. Bahkan bajak laut tidak akan mendekati kapal yang krunya dilanda wabah. Bahkan pencuri paling kotor akan lari tunggang langgang dari kawasan karantina. Apakah kalian lebih nekat dari pencuri, Yayasan?

"Lanjutkan sesuai rencana." Purnawianto berdiri dan meraih sebuah tongkat kayu. Tongkat itu sekilas terlihat seperti gagang sapu, dengan panjang kurang lebih satu setengah meter, namun pengamatan lebih dekat akan menunjukkan bahwa corak warna dan pola di tongkat itu selalu berubah-ubah, layaknya permukaan sebuah gelembung atau tumpahan minyak.

"Naga, Mantra, Manik. Ajisaka. Tiga, empat."

Secara serentak, semua anggota Ajisaka di ruangan itu menghentakkan tongkat masing-masing ke lantai.


Pearch berhasil meminjam sebuah sepeda motor di tengah perjalanannya mengejar Sulistyo, namun dia sudah tertinggal terlalu jauh. Salah seorang agen Ajisaka pasti telah menjatuhkan drone yang membuntuti Sulistyo, karena penanda di HUD helm Pearch menghilang entah sejak kapan, tapi Pearch tahu kemana targetnya akan pergi: kantor polisi tempat Sulistyo bekerja.

Seolah menabrak sebuah tembok angin, udara yang bertambah berat memaksa Pearch untuk memfokuskan kembali pikirannya. Jalan yang tiba-tiba sepi dan perubahan hawa udara…taumaturgi, medan pengusir orang. Ajisaka tidak sedang main-main, kenapa mereka mengawal Sulistyo dengan seketat ini?

Pearch membuka penuh throttle sepeda motor yang dikendarainya. Setidaknya aku bisa sampai lebih cepat.


Pearch menemukan Sulistyo sedang duduk di atas pagar tembok rendah di depan kantor polisi. Agen lapangan Yayasan itu meninggalkan sepeda motor yang digunakannya di tengah jalan, menodongkan senjata apinya ke arah Sulistyo.

"Target ditemukan bersenjata. Senjata hidup, peluru bius."

"Roger."

Sebuah senyum mengembang di bibir Brigadir Polisi Satu itu ketika mata mereka bertemu. Sulistyo melompat turun dari tembok dengan pistol di tangannya, tehunus ke aspal di depan Pearch. Dia tersenyum, tapi tangannya gemetaran. Apa yang lu rencanakan?

Jarak di antara mereka kurang lebih lima belas meter. Pearch menarik nafas dalam.

"Jatuhkan senjata dan angkat—!" Sebelum Pearch menyelesaikan peringatannya, suara tembakan menggelegar dari pistol G2 Sulistyo. Secara reflek, jari Pearch langsung bergerak memicu mekanisme di pistolnya sendiri, namun peluru Sulistyo sudah terlanjur mencapai targetnya:

Dalam sepersekian detik Pearch tertegun, peluru karet Sulistyo mencapai aspal jalanan dan memantul ke arah tangan Pearch, menyebabkan bidikan Pearch melambung tinggi. Peluru dengan kapsul bius dari pistol Pearch melesat dan tertanam dalam tiang bendera yang menjulang di halaman kantor polisi.

"Jatuhkan senjata dan angkat tangan." Suara tenang Sulistyo, dengan senyum masih tersungging di bibirnya, menyebabkan bulu kuduk Pearch merinding.

Pearch menodongkan lagi senjatanya ke arah Sulistyo, mengabaikan memar di pergelangan tangannya. "That's my fucking line."


Beberapa detik kemudian, peluru karet dan bius kembali berdesing di udara antara mereka berdua. Peluru bius Pearch mendarat di aspal jalan, tepat di depan Sulistyo: Pearch salah mengasumsikan bahwa Sulistyo akan melakukan trik yang sama dengan peluru karet, dan ditambah dengan cidera tangannya, bidikan Pearch meleset terlalu rendah. Sepersekian detik kemudian, peluru karet Sulistyo yang lebih lambat meretakkan visor helm Pearch, menggunakan slide pistol yang dipegangnya sebagai titik loncatan.

Sulistyo meraih sebuah piringan kecil dari saku kiri celananya—sampel armor komposit logam-keramik, didesain untuk menahan efek dari bom molotov, tapi Sulistyo tidak butuh sifatnya sebagai isolator panas. Sulistyo hanya peduli dengan ukuran dan berat dari lempeng armor itu.

Sulistyo melemparkan lempeng armor komposit itu ke arah Pearch. Wanita itu secara reflek menghindar, menunda tembakannya. Kesempatan ini tidak dibuang oleh Sulistyo, yang segera membidikkan pistolnya ke arah lempengan itu. Gerak relatif dan kelentingan tumbukan antara peluru dan lempeng armor menyebabkan peluru karet Sulistyo kehilangan banyak energi kinetik, namun peluru itu masih memiliki cukup kecepatan untuk menggeser firing pin pistol Pearch dan menyebabkan wanita itu meringis kesakitan.

Pearch mengokang kembali pistolnya, mengembalikan pin dan pelatuk ke posisi siap menembak dan membuang satu selongsong utuh.

Perangkap sudah disiapkan. "Peringatan terakhir. Jatuhkan senjata dan angkat tangan." Sulistyo separuh berteriak, menurunkan pistolnya sendiri. "Anda ditangkap dengan tuduhan tindakan suap, aksi teror, menyerang aparat kepolisian, dan pencurian."

Pearch, dengan laras pistol masih terhunus pada Sulistyo, menarik pelatuk senjatanya.


Pearch merasa seolah sebuah palu godam telah menghantam pergelangan tangannya, gas panas bertekanan tinggi menyembur dari slide yang separuh terbuka. Pelor yang seharusnya terlontar keluar dari laras pistol itu gagal terlepas dari selongsongnya, dan ledakan mesiu yang seharusnya mengirim pelor itu ke badan Sulistyo malah menghancurkan selongsong dan komponen pistol di sekelilingnya.

Retakan besar hampir membelah laras baja pistol itu menjadi dua, komponen logam dan polimer bengkok dan patah, lubang pembuangan selongsong menganga permanen. Pistol Pearch—dan tangan Pearch—tidak akan bisa digunakan dalam beberapa waktu kedepan.

Pearch menjatuhkan pistolnya, jari-jari tangan wanita itu tidak bisa lagi digenggamkan rapat.

"Brengsek! Apa yang lu lakukan?!"

Jika Pearch berada dalam kondisi lebih tenang, dia mungkin dapat menganalisa apa yang terjadi. Tiga tembakan Sulistyo sejauh ini semuanya telah mengenai senjata Pearch. Tidak mengherankan bila senjata Pearch mengalami kegagalan setelah menderita tiga tembakan pada komponen vitalnya.

Sulistyo berjalan ke arah Pearch, menenteng sepasang borgol. Pearch melancarkan sebuah tendangan ke arah Sulistyo, tapi pria itu dengan mudah menghindar. Kondisi tangan dan emosi Pearch menyebabkan gerakannya tidak stabil, sehingga dia jatuh tersungkur dari momentumnya sendiri.

Sulistyo memborgol Pearch, mengabaikan erangan kesakitannya, dan menyeret Pearch ke dalam kantor polisi.


Purnawianto terduduk kembali ke kursinya, menjatuhkan tongkat kayu yang dia pegang untuk menjaga jalannya ajian taumaturgi pendukung. Warna-warni di permukaan tongkat itu menghilang, menjadi sebuah tongkat kayu biasa: kayu beringin, dengan jantung dari stigi fosil. Kedua tumbuhan itu secara alami mengumpulkan energi dan makhluk spiritual, layaknya kantong semar yang menarik serangga dengan janji bau-bauan nektar, untuk kemudian memangsa makhluk-makhluk itu.

"Nonaktifkan bendera kuning. Ambil alih penjagaan Pearch dengan staff Ajisaka. Kirim memo ke LEMRUSAN untuk mengatur prosesi penukaran tahanan."

Purnawianto adalah seorang veteran di bidang peperangan taumaturgis. Lelaki dengan usia mendekati kepala enam itu telah melancarkan perang terhadap makhluk halus dan individu maupun organisasi pengguna sihir hitam semenjak muda, bahkan ketika dia berada di Akademi Polisi. Konon dalam pembuluh darahnya mengalir darah Aji Saka, sang pahlawan yang membasmi raksasa pemakan manusia dan pendiri kerajaan manusia pertama di tanah Jawa. Selain bakat menggunakan taumaturgi, orang tua Purnawianto juga mewariskan ilmu mantra dan ajian pusaka turun temurun dari Aji Saka sendiri.

Tugasnya dalam perang abadi dibalik Tirai terus berlanjut selama dia meniti karir sebagai polisi biasa hingga mencapai pangkat Komisaris Polisi. Ketika Presiden Abdurrahman Wahid secara langsung menawarinya posisi sebagai salah satu anggota pertama Detasemen Khusus 00 Antiklenik, dan kemudian sebagai pimpinan, Purnawianto merasa bahwa itu adalah pertanda takdir.

Dengan pengalamannya puluhan tahun melawan sisi gelap dunia supernatural, Purnawianto dapat mengenali bakat dalam satu lirikan. Bakat Sulistyo bukan sebagai seorang polisi, apalagi seorang polantas, namun sebagai agen Ajisaka.

Briptu muda itu menggunakan efek mantra sangga panah seolah dia telah menggunakan mantra itu seumur hidupnya. Dia berhasil menganalisa tipe dan mekanisme senjata Pearch, dan menentukan metode untuk menggagalkan mekanisme senjata itu dengan relatif aman. Dan dia berhasil menciptakan kondisi kegagalan itu hanya berbekalkan peluru karet—meskipun dia dibantu oleh sangga panah.

Dan bakat yang sama akan bisa membawanya menjadi agen Yayasan maupun Koalisi ideal.

"Sunting nama Sulistyo dari semua laporan ke Lemrusan. Tukar dengan salah satu personel kita, dari tim riot control."

Yayasan pasti ingin untuk merekrut atau memenjara dia. Kekebalan Sulistyo terhadap metode kontrol Bulan Hitam bukan penghalang, mereka punya cara lain untuk mengontrolnya. Lemrusan bernegosiasi dari posisi inferior terhadap Yayasan, para tua bangka bebal itu tidak mungkin akan bersikukuh menjaga Sulistyo di Ajisaka jika Yayasan mendesak untuk mentransfernya.

Frasa "tua bangka" sangat tidak pantas untuk dia gunakan, mengingat usia Purnawianto yang sudah mendekati batas pensiun PNS melebihi usia hampir semua personel aktif Lemrusan. Namun di ruangan itu tidak ada personel yang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, sehingga tidak ada yang bisa menghardik Purnawianto.

"Kerja bagus." Purnawianto mengaktifkan sambungan ke radio Sulistyo.

"Siap, terimakasih."

"Kami akan segera mengurus transfer anda—ya, secara resmi sih ke tipidkor, untuk mempermudah mengarang alasannya."

Sulistyo tidak menjawab. Di telinga Purnawianto hanya terdengar bunyi loker dan logam berbenturan.

"Karena transfer ini akan memakan beberapa waktu, shift pos polisi anda malam ini masih berlaku."

Suara benda jatuh. Purnawianto mematikan mikrofonnya, kemudian tertawa kecil mendengar keluhan Sulistyo yang direkam oleh komputer tablet di punggungnya.

"Yang bener aja?! Udah disuruh lari pas jam tidur, masih disuruh jaga malem?! Di akademi aja gak sengaco ini!"

««Sebelumnya | Bersambung | Selanjutnya»»

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License