Prolog: Bhayangkara
rating: +7+x

oleh Rigen


Sewaktu kecil, Sulistyo pernah bermimpi tentang menara besi hitam.

Menara besi itu menjulang ke langit, mencakar awan, dingin meski terpapar cahaya mentari. Menara tanpa jendela, tanpa pintu, bagai membeku dalam waktu. Bahkan manusia menjadi bak serangga, terlalu kecil, terlalu sederhana, terlalu fana untuk memahami menara hitam raksasa.

Ketika Sulistyo memberhentikan pria yang kemudian dia tahu bernama Aria, Sulistyo merasa seolah kembali ke masa kecilnya, menghadapi menara besi yang menusuk nirwana. Dingin, kehidupan sehari-harinya setitik debu dibandingkan dengan rahasia yang dia lihat tersimpan rapat di balik mata paranoid Aria.


Sulistyo tersentak bangun oleh ketukan di pintu depannya. Dengan terburu-buru, dia mengganti baju dari sarung dan kaus ke kemeja dan celana kain yang tergantung di pintu kamar.

Tangan Sulistyo terhenti di atas gagang pintu ketika dia menyadari ada sesuatu yang tidak lazim dari ketukan yang dia dengar: nada ketukan konstan, seperti dipandu metronom, tanpa henti sejak sebelum dia bangun. Tirai depan rumahnya tertutup, sehingga dia hanya bisa melihat bayangan di luar pintu.

Dua orang, pikir Sulistyo. Minimal. Tidak menutup kemungkinan ada lagi di sekeliling rumah. Satu mobil, di depan pagar, kapasitas standar enam orang.

Sulistyo memutar kunci pintunya ke kanan, memasukkan mekanismenya ke langkah dua. Siapa pun yang berada di luar pintu pasti mendengar mekanisme kunci itu, karena mereka menghentikan ketukan. Sulistyo merapatkan badan ke pintu.

"Selamat siang, dengan bapak Sulistyo?"

Satu laki-laki, 40-an tahun.

"Selamat siang, dengan siapa ya?"

"Bapak Sulistyo, kami adalah tim dari Direktorat Tipidkor. Tim kami sedang melakukan investigasi terkait insiden yang diduga melibatkan bapak beberapa waktu lalu. Sejauh ini bapak ditentukan berstatus saksi, jadi kami mohon bapak untuk dapat membantu investigasi kami."

Salah satu pernyataan itu bohong. Mereka bukan dari Tipidkor? Atau aku bukan cuma saksi?

Bagaimana pun kenyataannya, Sulistyo tidak bisa mengulur waktu terus menerus, jadi dia membuka dua langkah kunci pintu rumahnya. Ada tiga orang yang menunggunya di luar pintu, dua perempuan dan satu laki-laki yang dia dengar sebelumnya. Di bahu laki-laki itu terpajang satu bintang tanda kepangkatan—sepanjang pengetahuan Sulistyo, lelaki itu benar-benar Brigjen Polisi, dan kedua wanita yang bersamanya adalah benar-benar AKP.

Ketiga orang di halaman rumah Sulistyo memiliki kilat mata yang sama dengan Aria, kendati lebih pudar daripada paranoia tak terarah pria itu.

"Apakah perlu untuk menggeledah rumah saya?"

"Bapak bukan tersangka, jadi kami tidak bisa menggeledah rumah bapak. Untuk saat ini kami hanya bisa mewawancarai bapak saja."

"Wawancara?" Bukan interogasi?

"Benar, secara teknis yang kami lakukan masih dalam langkah penyelidikan."

"Dan penyelidikan kasus ini dilaksanakan langsung oleh Brigadir Jendral Polisi?"

"Insiden ini diduga melibatkan komponen multi yurisdiksi, jadi untuk mempercepat proses penyelidikan, kami memutuskan untuk turun langsung."

Masih skeptis, Sulistyo mempersilakan ketiga perwira polisi yang mengaku sebagai penyelidik dari Direktorat Tipidkor tersebut masuk ke ruang tamu kecil rumah kontrakannya.

Sebelum Sulistyo sempat membaca nama para petugas tersebut, AKP yang masuk terakhir ke dalam rumah Sulistyo dengan sigap menutup dan mengunci pintu depan rumahnya.

"Apa-apaan ini?!"

"Jangan khawatir. Urusan kami adalah sah dan benar-benar berasal dari pusat. Kami hanya memerlukan kerahasiaan yang amat sangat." Brigjen Polisi Purnawianto menyodorkan sebuah dokumen ke Sulistyo, meletakkannya di meja ketika Sulistyo tidak menerima dokumen tersebut.

Pada dokumen tersebut tertera sebuah logo yang tidak dikenal Sulistyo.

hpflfnl

Jika mata ketiga tamunya sudah membuat suhu udara turun, melihat logo pada dokumen tersebut membuat Sulistyo merasa darah dalam tubuhnya telah membeku seketika.


"Nyatakan nama, usia, dan jabatan anda."

Sulistyo membaca dokumen dengan logo detasemen misterius tersebut beberapa kali, namun hampir tidak memahami apa pun yang tertera di dalamnya. Yang dia tahu, para agen dengan perlengkapan taktis yang mengambil alih Aria, serta orang-orang yang kemudian mengompensasi rekan sejawatnya setelah Aria kabur, bukan berasal dari lembaga yang diakui resmi oleh Republik Indonesia.

"Sulistyo, 28 tahun, Brigadir Polisi Satu. Satlantas Polresta Bogor."

Dokumen itu sekarang terletak di meja, ditindih oleh sebuah alat perekam.

"Apakah benar anda terlibat dengan insiden yang terjadi di Pos Lalu Lintas Cilebut pada tanggal empat belas Maret lalu?"

"Benar, saya terlibat dalam insiden tersebut. Saya beserta kawan-kawan yang sedang bertugas memberhentikan seorang pria bernama Aria sebagai bagian dari operasi pemeriksaan rutin. Kami membawa laki-laki tersebut ke pos ketika subjek tidak dapat menunjukkan identifikasi diri yang sah."

"Dan kemudian subjek Aria melarikan diri dari pos anda?"

"Subjek Aria melarikan diri dengan kilah menggunakan kamar mandi. Penyelidikan kemudian diambil alih oleh Satreskrim, sebelum diambil alih lagi oleh unit yang tidak saya kenali."

"Apakah benar adanya bahwa bapak menerima, kompensasi, dari unit tidak dikenal tersebut?"

"Tidak benar. Saya mendengar rumor tentang kompensasi, namun setidaknya di antara unit yang bertugas di Pos Lalu Lintas pada shift tersebut, rumor itu hanyalah desas desus kosong belaka."

"Dan bapak percaya sepenuhnya dengan rekan unit bapak?"

Sulistyo terdiam. Apakah aku percaya mereka? Pada Sulistyo, mereka mengaku tidak tahu menahu mengenai aliran uang apa pun, tapi Sulistyo tidak dapat mengabaikan permukaan mengkilap pernak-pernik dan elektronik baru yang mereka gunakan.

Sulistyo melirik ke pantulan wajahnya di meja kaca ruang tamu, namun yang dia lihat hanyalah menara besi hitam, pekat menantang biru langit.

Purnawianto mencatat sesuatu pada buku sakunya, sebelum mematikan alat perekam. "Rekaman tadi hanya untuk menutup jejak. Di catatan resmi Polri, tim saya ada di bawah Direktorat Tipidkor, jadi penyelidikan kami harus tetap berada dalam yurisdiksi Tipidkor. Namun, seperti yang bapak tahu, kami ada dalam sistematika komando Densus 00. Kami sudah melacak setiap transaksi yang dilakukan kawan-kawan anda menggunakan uang suap dari Yayasan."

"Yayasan." Dibandingkan dengan rahasia yang mereka jaga dan jejaring pengaruh yang mereka miliki, nama satu kata mereka terasa hampir…sederhana, antiklimaktik, di lidah Sulistyo.

Sebuah seringai tiba-tiba tersungging di wajah Purnawianto, memamerkan gigi-gigi putihnya, ganas bak predator berdarah dingin di mata Sulistyo.

"Bapak tahu mengapa kami menghubungi bapak?" Sulistyo menggelengkan kepala. "Bapak adalah satu-satunya personel Satlantas dan Satreskrim yang tidak menerima uang Yayasan. Bukan hanya itu, bapak bahkan tidak ditawari sama sekali."

Sulistyo memandang lurus ke mata Purnawianto.

"Dan itu artinya…?"

"Yayasan tidak akan melewatkan satu orang pun yang bisa membocorkan rahasia mereka. Pasti ada alasan kenapa bapak tidak masuk dalam kategori tersebut." Entah dari mana, Brigjen Polisi itu menyodorkan sebuah komputer tablet tanpa tanda merek. "Di komputer ini tertera semua informasi yang anda akan perlukan tentang kami. Jika kami menemukan bapak mencoba menyebarkan informasi ini, kami akan menangkap dan, menghilangkan, bapak."

"Jika anda memutuskan untuk bergabung dengan Detasemen Khusus 00, telepon nomor yang tersimpan dalam komputer tersebut. Jika anda tidak ingin bergabung, jalankan aplikasi bernama hapus semua. Jangan khawatir, menolak penawaran ini tidak akan membahayakan bapak, selama bapak tidak membagikan informasi apa pun tentang kami."

Sulistyo menerima komputer tersebut, menimbang-nimbangnya, sebelum meletakkannya di laci meja.

"Apakah ada batas waktu?"

"Komputer tersebut akan menghapus data dengan sendirinya dalam tiga hari." Purnawianto berdiri, kedua AKP yang mengikutinya membereskan dokumen dan peralatan perekam. "Kami akan menunggu anda di Ajisaka."

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License