oleh Rigen
Kancil-kancil pengunyah timun tertawa membahana, di ruang gelap nirmakna, antara cakrawala dan bentangan mengangkasa.
Satu demi satu, tinju Haryadi membungkam para pelanduk, namun kumpulan makhluk serupa Tragulus yang mengerumun di sekelilingnya memenuhi mata bagai tanpa ujung—atau mungkin mereka memang tak berhingga, karena dalam mimpi batasan fisik dunia nyata tak ada artinya.
Haryadi memahami bahwa ini adalah harga yang harus dibayarnya, ketika dia meneken paraf pada kontrak dua dunia. Namun Haryadi sudah terlampau lelah, tangannya melepuh dan menetes darah, hanya teriak tersisip antara napas terengah.
Haryadi tersentak bangun dengan napas memburu, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi, dan langit di luar jendela hanya diterangi pantulan cahaya kota di bawah awan. Dua cahaya merah bak mata iblis terpancar di antara selusin lampu LED yang berbaris di meja sebelah kasur: alarm penyusup.
Bukan kebetulan dia terbangun di tengah mimpi buruknya.
Tentu saja, kalau hanya untuk menangkal maling, Haryadi tidak memerlukan peralatan elektronik seperti alarm itu. Dia punya selusin ajian untuk menangani orang biasa, bahkan sambil tidur. Bahwa peliharaan-nya telah memutuskan dia harus bangun, menandakan bahwa penyusup kali ini bukan manusia sembarangan.
Penyusup masuk di rute B, menerobos ajian tetapi tertangkap alarm fisik. Pasti dia dari Dunia Itu.
Pengamatan sia-sia. Penegak hukum "normal" tidak punya jurisdiksi untuk merecoki operasi KOMPETEN—Komplotan Pengguna Tenung yang diketuai Haryadi. Orang-orang biasa dan preman teri bahkan tidak akan bisa mencapai pintu masuk persembunyiannya. Ergo, siapapun yang bisa mencapai dan memasuki bangunan ini pastilah terlibat dengan dunia supranatural.
"Major." Haryadi berbisik. Sebuah entitas spektral menyerupai karakter anime "Kusanagi Motoko" muncul di tepi penglihatannya.
Entitas spektral itu mengangguk, kemudian berjalan menembus pintu dan tembok.
Haryadi mengumpat. Agen Yayasan. Bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini? Pertanyaan retorik, tentu saja. Tak begitu banyak organisasi dengan pengetahuan dan sumber daya untuk membobol pertahanan tenung markas Haryadi. Aku tahu bendera kuning tidak akan cukup untuk menutupi rumah ini dari mata mereka, tetapi replika pasaralas juga bisa mereka bobol?
"Retreat, Major."
"Roger that." Haryadi tidak bisa melihat Major secara langsung—dari balik tembok—tapi melalui indra keenamnya dia bisa melihat entitas spektral berbentuk wanita dengan rambut sebahu itu memanjat ke atas langit-langit.
Haryadi meraih pisau, parang, dan pistol rakitannya.
"Kita ketahuan" Sandal (nama aslinya Jayasurya Sandarwulan, tetapi semua orang Ajisaka memanggilnya Sandal) tiba-tiba menghentikan langkah. "Siapkan senjatamu."
"Kok bisa tahu kita ketahuan?" Sulistyo bertanya skeptis, tetapi dia tetap mengeluarkan tongkatnya. Sihir, anomali, Ajisaka. Dua bulan adalah waktu yang terlalu sempit untuk mengubah mindset Sulistyo yang terlanjur terpaku pada bingkai normalitas dan sains modern, bahkan meskipun dia memegang bukti nyata dari dunia supernatural itu.
"Dia punya peliharaan. Semi-korporeal, anti-persepsi. Tetapi kalau sudah biasa, nanti bisa lihat bedanya tempat kosong dan tempat yang ada penghuni-nya." Dua bulan juga kelewat pendek untuk mengajari Sulistyo tentang klasifikasi makhluk lelembut, taumaturgi praktis dasar, memetika, dan lain-lain. Bahkan bagi seorang genius pun, terlalu banyak informasi yang perlu dicerna dalam waktu sangat singkat. Apalagi Sulistyo juga perlu untuk mempelajari sistematika kerja Tipidkor sebagai kedok transfernya.
Sandal berpendapat bahwa Sulistyo sangat tidak siap untuk misi penggerebekan anggota tingkat tinggi sindikat seperti KOMPETEN. Namun, Purnawianto bersikukuh, dan sebagai bawahan Purnawianto dalam segala aspek, Sandal tidak bisa menolak.
"Sukma, Mantra, Naga. Ajisaka. Dua, tujuh."
Secara bersamaan, Sulistyo dan Sandal merapalkan mantra. Tongkat kayu multiwarna yang mereka pegang memanjang dari 20 cm menjadi kurang lebih sama dengan tinggi Sulistyo. Mengikuti petunjuk Sandal, Sulistyo merapatkan bahunya ke pilar beton terdekat—sekilas, bangunan bertingkat tiga yang menjadi markas KOMPETEN terlihat seolah belum selesai dibangun, namun interior dari markas itu berkata lain. Dipenuhi dengan labirin koridor dan ruangan-ruangan yang tak jelas fungsinya, bangunan itu adalah sebuah benteng persembunyian, dirancang untuk memerangkap mereka yang masuk tak diundang.
Gema suara jangkrik menghilang. Dentum langkah menggantikannya.
Sulistyo dan Sandal mengambil kuda-kuda.
Haryadi mengumpat saat dia melihat Sulistyo dan Sandal setengah bersembunyi di balik pilar. Brengsek, aku kena tipu. Mereka bukan Yayasan, aku tidak perlu muncul di depan mereka. Major tidak bisa membedakan antara Yayasan atau polisi "biasa"—sejatinya ini bukan salah siapa pun, hanya nasib buruk yang menimpa Haryadi. Mana mungkin aku bisa mengira polisi bakal menyamar sebagai Yayasan? Biasanya kan sebaliknya!
"Selamat malam, selamat datang, di kediaman suram tepi kota. Ada hajat apakah, bapak-bapak terhormat hingga menyambangi sudut ujung milik hamba?"
Agak ragu, Sulistyo melangkah dari pilarnya, mengabaikan Sandal yang melotot.
"Selamat malam, bapak Haryadi." Keraguan Sulistyo bagai menguap. Seringai di bibirnya membuat bulu kuduk Haryadi merinding, seolah taring-taring obsidian dingin menggores punggungnya. "Anda ditangkap atas tuduhan perampokan, pencurian, kepemilikan senjata api ilegal, dan penggunaan taumaturgi tanpa izin."
"Taumaturgi? Maaf maafkan saya, pak polisi, tetapi saya tak mengenal arti kata yang bapak sebutkan. Mungkintah ada seorang yang menggunakan sesuatu tanpa tahu keberadaannya?"
"Klenik, tenung, gendam." Keraguan kembali menyelinap ke suara Sulistyo. Dia menggenggam erat tongkatnya. "Bahasa lain untuk sihir dan hal terkait."
Haryadi tertawa terbahak-bahak. "Maaf maafkan saya, pak polisi, semenjak kapankah kepolisian membuang waktu pada hal-hal takhayul, tipu-tipu orang Pintar dan kibul?" Haryadi mengusap air matanya, dan sembari masih tersenyum lebar, menodongkan pistolnya ke arah Sulistyo. "Tetapi tuduhan bapak yang lain memang benar adanya."
Tiga ledakan mesiu menggelegar, melontarkan timah melebihi kecepatan suara ke arah Sulistyo. Tongkat kayu yang digenggamnya bergerak sesuai instruksi mantra untuk menghantam masing-masing pelor dan memantulkannya kembali ke arah Haryadi, namun bos sindikat kriminal itu dengan gesit menghindar. Timah panas meninggalkan kawah di tembok jauh koridor.
Dia bisa menghindar?! Sulistyo merangsek maju. Sihir? Haryadi menembakkan pistolnya lagi, masih dalam mode burst. Sulistyo menyadari bahwa lengan Haryadi hampir tidak terpengaruh oleh hentakan recoil pistolnya. Tongkat Sulistyo kembali memantulkan peluru Haryadi, yang dihindari Haryadi dengan gerakan akrobat fantastis, layaknya berdansa dengan pasangan yang tak terlihat.
Sulistyo melemparkan tongkatnya seperti sebuah lembing, namun Haryadi menangkis lintasan tongkat itu dengan tembakan pistolnya. Akurasi dan stabilitas tembakan Haryadi menyaingi seseorang yang ditopang sangga panah, ketiga pelurunya menghantam permukaan kecil ujung tongkat itu, menghentikan momentumnya di udara.
Peliharaan. Sulistyo mengeluarkan tongkat cadangannya, tongkat yang dilemparnya telah menyusut ke ukuran semula. Semi-korporeal, anti-persepsi. Jadi begitu. Dia benar-benar berdansa dengan pasangan yang tak terlihat.
"Sandal!" Sulistyo memanggil pada seniornya, dengan gestur tangan menunjuk ke arah tongkatnya dan tongkat Sandal.
Sandal mengangguk paham, sembari menyimpan catatan mental untuk menghardik Sulistyo di markas nanti. Haryadi yang melihat interaksi itu sangat jelas hampir tak bisa menahan tawa.
Pistol Haryadi kembali menyalak pada Sulistyo, memuntahkan tiga peluru. Sulistyo dengan sengaja menahan gerakan tongkatnya, menyebabkan peluru-peluru itu terpantul dengan sudut yang dangkal—ke arah Sandal. Haryadi yang telah terlanjur mengantisipasi pantulan peluru dari Sulistyo berada tepat pada lintasan peluru yang menghantam dan bertolak dari tongkat Sandal.
Sebutir timah panas menggores bahu kiri Haryadi. Pasangan dansanya bisa mengoreksi gerakan dalam waktu antara ketiga peluru?!
"Sepertinya saya perlu mengakui eksistensi tomaturgi—atau sihir, seperti yang bapak polisi katakan, mengingat bukti nyata yang bisa saya lihat sendiri." Haryadi menjatuhkan magasin pistolnya: kosong. Pria itu melemparkan pistolnya ke koridor yang tersembunyi dari Sulistyo, dan sebagai gantinya dia mengeluarkan pisau dan parang. "Karena saya sudah mengakui keberadaannya, tentu bapak polisi tidak akan keberatan jika saya juga menggunakannya."
Kedua bilah senjata Haryadi memancarkan kilapan cahaya biru, dan kemudian pria itu melesat ke arah Sulistyo. Dentuman keras mengisi koridor: pertanda Haryadi telah melebihi kecepatan suara. Sebelum Sulistyo sempat berkedip, mantra pada tongkatnya telah bergerak untuk menangkis parang Haryadi yang dijatuhkannya seolah sebuah palu godam.
Tangan kiri Haryadi menggenggam pisau pada posisi backhand. Tangan itu tak secepat tangan kanannya, namun kecepatan manusia biasa lebih dari cukup untuk menusuk lambung Sulistyo.
Nyeri menyeruak. Kemudian, gelap.
Sulistyo tersungkur, darah mengalir.
Tindakan yang diambil Haryadi bukannya tanpa konsekuensi. Meskipun dalam mini-semesta gedung ini dia senantiasa berada dalam perlindungan berbagai mantra, bergerak melebihi kecepatan suara telah memecahkan berbagai pembuluh kapiler dalam tubuhnya, mengucurkan darah dari hidung, telinga, dan matanya.
Haryadi tersenyum mendengar teguran sang Mayor. Dia bisa melihat kulit di kaki karakter cyborg itu robek, menunjukkan sistem hidraulis dan otot-otot buatan: sang Mayor telah menggendongnya untuk melakukan serangan ke Sulistyo. Gerakan akrobatis yang dia lakukan untuk menghindari peluru juga hasil kerja Mayor, dengan penglihatan kinetis dan respons refleksnya yang jauh melampaui kemampuan manusia normal.
Mayor terdiam sejenak, emosi-emosi kompleks bergulir di wajahnya.
Kau bukan tentara, Kusanagi Motoko, kau agen investigasi. Tetapi Haryadi tidak mengatakannya. Satu-satu, mengurus masalahnya.
Haryadi mengalihkan perhatiannya ke arah Sandal, yang dengan tergesa melepaskan kancing di sarung pistolnya.
"Angkat tangan dan jangan bergerak."
Haryadi tertawa.
"Maaf maafkan saya, pak polisi, tetapi bapak sudah melihat saya menghindari peluru timah berkecepatan penuh. Apa yang bapak harap bisa lakukan dengan peluru karet kecepatan rendah?"
"Pakulintang Mangkusuryo Sandarwulan!"
Sandal meneriakkan mantra bersamaan dengan tembakannya. Entitas spektral Mayor seketika bergerak untuk menghindarkan Haryadi dari peluru karet yang terlontar dari pucuk pistol Sandal—namun baik Mayor dan Haryadi tidak sempat menyadari apa yang terjadi ketika sebuah tembok udara bertekanan tinggi melemparkan mereka berdua ke ujung koridor.
Cedera yang dialami Haryadi tidak bertambah secara signifikan; dia baru saja bergerak melebihi kecepatan suara. Namun, otaknya tidak dapat memproses apa yang baru saja terjadi. Tidak hanya Sandal melakukan serangan yang tidak dia duga, namun serangan itu juga memengaruhi Mayor yang seharusnya kebal dari serangan fisik.
Tidak membuang waktu, Sandal segera melemparkan sebuah bom asap dan membawa Sulistyo keluar dari gedung itu.
"Satu aset tongkat hancur dan hilang, satu agen terluka parah dan kritis." Purnawianto menatap langsung ke mata Sandarwulan. "Ditambah lagi sekarang KOMPETEN tahu tentang keberadaan kita, dan jenis taumaturgi yang bisa kita pakai. Intel tentang kemampuan mistis mereka apakah sebanding dengan harga ini, saudara Sandarwulan?"
"Kalau si Sulistyo itu tidak sembrono—"
Purnawianto menggubrak mejanya, membungkam protes Sandarwulan.
"Anda kira kenapa saya menugaskan kalian berdua bersama-sama?! Anda itu seorang agen senior, bukan turis. Tugas anda adalah untuk memandu dan mendukung kerja Sulistyo di lapangan, bukan sekadar melihat-lihat!"
Sandarwulan diam, tertunduk. Menghela napas berat, Purnawianto duduk kembali ke kursinya.
"Sekarang anda hubungi Taktom—Taktik Taumaturgi, suruh mereka ajukan rekuisisi ke Lemrusan buat persenjataan satu skuad lengkap. Lusa sore anda pimpin penggerebekan." Purnawianto separuh melempar sebuah map berisi surat-surat ke arah Sandarwulan. "Jangan kecewakan saya lagi."
««Sebelumnya | Bersambung | Selanjutnya»»




