oleh Rigen
Agen Elise "Pearch" Cohen tidak punya banyak waktu maupun minat untuk membaca buku, di tengah kesibukannya sebagai agen lapang Yayasan. Namun Pearch memiliki minat yang lebih besar untuk membaca di masa kecil, dan nampaknya dewa-dewi mimpi sedang merasakan nostalgia di malam ini.
Pearch bermimpi dia kembali ke masa Sekolah Dasar, membaca salah satu buku yang diambilnya secara acak di perpustakaan sekolah yang kebetulan mendapatkan hibah buku-buku baru. Biasanya, teks yang ada dalam mimpi akan terlihat kabur dan berubah-ubah, bahkan meskipun dia sedang mengalami lucid dreaming. Tapi kali ini Pearch bisa melihat detail paling kecil dari halaman buku itu, tiap titik dan koma dan nomor halaman hingga lipatan dan lekukan di tepinya. Return of Sherlock Holmes, cerita yang dibacanya menjelaskan bagaimana Sherlock Holmes berhasil bertahan hidup dari perseteruan yang memaksa sang detektif jenius untuk bertaruh nyawa.
Berbeda dengan Sherlock Holmes, dengan pengikut kisahnya yang bisa memaksa sang penulis untuk membangkitkannya dari kubur, "keajaiban" di dunia nyata jarang memiliki akhir yang bahagia.
"Apa benar itu orangnya?" Pearch menggigit coklat batangan yang dia bawa sembari mengintip lewat binokularnya. "Keliatannya seperti orang yang biasa saja."
Orang yang diamatinya adalah seorang lelaki berusia 28 tahun, seorang polantas yang tanpa sengaja bersentuhan dengan dunia paranormal. Sistem analisis informasi Yayasan terpicu beberapa hari yang lalu, ketika seorang Brigjen yang tercatat dalam daftar pengawasan Yayasan tiba-tiba mengunjungi laki-laki itu. Crosscheck pada basis data menunjukkan bahwa lelaki bernama Sulistyo itu terlewatkan pada proses cover-up dua bulan sebelumnya.
Berbulan-bulan setelah dia mati, Aria masih saja menimbulkan masalah bagiku. Pearch mengusap gusar kepalanya, mencoba kembali fokus pada pengamatan. Pamali ngomongin orang mati.
"Sistem Yayasan tidak semudah itu ditipu." Muncul suara dari headset Pearch. "Pasti ada alasan kenapa dia bisa terlewat dalam prosedur cover-up, dan baru terdeteksi sekarang. Hanya satu kali masih ada kemungkinan hanya kebetulan, tapi setelah kontak kedua dengan dunia kita melalui elemen Polri, kita harus mulai mempertimbangkan opsi netralisasi."
"Serius mau bunuh polisi?" Pangkat Sulistyo hanyalah Brigadir Satu, tapi posisinya di satlantas dan prestasinya yang sangat normal-normal saja justru menjadi penghalang untuk menyembunyikan kematiannya. Nggak ada ceritanya orang dendam sama polantas biasa sampai berani bunuh.
"Well, akan lebih baik kalau kita bisa merekrut dia sebagai informan di dalam Polri, tapi baik rekrut atau bunuh tetap jadi solusi terakhir. Yang pasti, kita perlu tahu apa yang dia tahu, mulai dari komputer tablet yang dia sedang utak-atik." Benar saja, melalui binokularnya yang dapat merekonstruksi citra dari balik tirai, Pearch mengamati Sulistyo sedang mencoba mengaktifkan komputer tablet yang terjebak dalam bootloop.
"Kena bootloop tabletnya. Memang komputer itu sepenting apa?"
"ODP Sulistyo tidak memiliki komputer tablet sebelum melakukan kontak dengan aspek klandestin Polri seminggu lalu. Hampir pasti komputer itu didapat dari agen mereka, dan meskipun misalnya data didalamnya sudah hilang, masih memungkinkan ada sisa metadata yang bisa dipakai untuk investigasi."
Sulistyo menggeletakkan komputer tablet yang dipegangnya di meja, sebelum kemudian menghela nafas. Dalam seminggu terakhir, pengetahuan Sulistyo mengenai elektronika dan pemrograman telah bertambah secara eksponensial, namun polisi lalu lintas itu hanya dapat menyimpulkan bahwa modul penyimpanan data komputer tablet yang diberikan Purnawianto benar-benar telah dikosongkan dan tidak bisa dikembalikan lagi. Setidaknya, tanpa peralatan khusus yang tidak mungkin didapatkan Sulistyo.
Tapi bukan mustahil Yayasan memiliki peralatan itu. Tablet ini tidak boleh jatuh ke tangan mereka.
Tentu saja, Sulistyo sudah menghapal fakta dan kode penting yang tercatat dalam tablet tersebut, termasuk nomor kontak sambungan langsung ke Ajisaka. Jika mau, Sulistyo bisa saja melakukan flash ke perangkat lunak tablet tersebut dan menggunakannya seperti komputer tablet biasa, namun Sulistyo tidak berani melakukannya. Dia hanya berani menyalakan dan mematikan komputer tablet itu, memandangi logo sistem operasi yang berkelap-kelip tanpa henti, terjebak dalam bimbang dan ragu.
Lancangkah seorang jelata menantang menara sang naga?
Sulistyo tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumahnya. Pengendara sepeda motor itu mengenakan pakaian longgar, sehingga cukup sulit untuk menebak fisiknya, ditambah lagi helm dan masker yang dia kenakan untuk menutup wajah. Pengendara motor berjaket biru-hitam itu berjalan ke arah pintu rumah Sulistyo, membawa sebuah kotak.
Dua kali ketukan pintu. "Permisi! Paket!" Suara perempuan. Seragam ojol? Paket dari mana? "Misi pak! Paket!"
Sial, dia bisa melihatku dari balik tirai. Gak bisa pura-pura tidur. Dengan helaan nafas dalam, Sulistyo beranjak untuk membuka pintu depan—namun tangannya terhenti saat dia menyentuh gagang pintu yang dingin membeku. Sulistyo melirik jam tangannya: pukul satu siang. Yayasan?
Sulistyo mengambil satu langkah mundur, dan meraih komputer tablet di meja. Dia menarik nafas dalam, berdoa bahwa dia mengingat kalimat sandi yang benar dari dokumen Densus 00.
"Does the Black Moon howl?"
Kutipan dari "[SANGAT RAHASIA] Laporan Pengamatan Ajisaka Terhadap Komunikasi Yayasan, Identifikasi Kabel 909-Y"
… Kalimat "Does the Black Moon howl?" diduga sebagai salah satu metode autentifikasi yang digunakan para agen Yayasan. ██% dari komunikasi dua arah yang berhasil disadap oleh spion Ajisaka mengandung pembuka yang memiliki kalimat tersebut, serta jawaban dengan variasi tidak tentu antar penerima. Arti dibalik variasi jawaban-jawaban tersebut masih belum dapat ditentukan…Investigasi lebih lanjut menunjukkan kemungkinan bahwa kalimat ini bukanlah metode challenge-response biasa, melainkan agen yang diberikan challenge berupa kalimat tersebut menerima paksaan alam bawah sadar untuk menjawab sesuai kode jawaban masing-masing…
"The Black Moon cries, for it—" Pearch menekan pemicu memetika dalam pikirannya, menahan sebelum dia bisa mengucapkan respon penuh yang tertanam jauh di bawah alam sadarnya. Setetes darah mengalir dari bibir yang dia gigit, nyeri yang dia rasakan menjernihkan pikirannya yang protes karena tidak dapat memenuhi sebuah siklus logika.
Pearch menjatuhkan kotak kardus yang dia bawa, dan meraih pistol yang tersembunyi di balik jaketnya. Dengan tangan kanan mengacungkan pistol, Pearch mendobrak pintu depan Sulistyo. "Konfirmasi, ODP mengetahui tentang agen memetika Bulan Hitam. Senjata hidup, peluru bius."
"Negatif, Pearch, jangan gunakan senjata! Pearch!"
Pearch mengabaikan teriakan di dalam liang telinganya, dan kembali berusaha mendobrak pintu di hadapannya. Pada dobrakan ketiga, pintu itu akhirnya menyerah dan jatuh terbuka. Pearch langsung menodongkan senjatanya ke arah ruang tamu, kedua matanya menyapu setiap sudut ruangan. "Jangan bergerak!"
Pearch mendecakkan lidah ketika menyadari ruangan itu kosong, kemudian mulai menggeledah dapur dan kamar rumah kontrakan kecil Sulistyo. "Bangsat. Command, ODP berhasil lolos, cek sekeliling perimeter. Dia gak mungkin kabur jauh."
"Sensor drone tidak mendeteksi ada orang keluar. Sweep sekali lagi, sensor pasif."
Pearch menutup kaca helmnya, baru ingat untuk mengaktifkan sekumpulan sensor yang tertanam dan Heads Up Display. Sensor inframerah berhasil melacak jejak panas dari kaki dan tangan Sulistyo, masuk ke dalam kamar tidur dan naik ke langit-langit rumah berlantai satu itu.
Ketemu.
"ODP naik ke atas langit-langit, melanjutkan pengejaran. Yakin orang ini tidak punya pelatihan pasukan khusus? Sensor audio nggak bisa menemukan suaranya sama sekali."
Sulistyo merasa sangat beruntung bahwa Kota Hujan tempatnya tinggal tidak mengalami hujan selama beberapa hari terakhir. Langit-langit tempatnya bersembunyi disinari terang oleh cahaya matahari, merasuk dari lubang diantara tatanan genteng yang dia ganti dengan plastik tebal. Dia mendengar suara gaduh ketika agen Yayasan itu berhasil mendobrak pintu, serta teriakan peringatan.
Sial, harus ganti rugi ke pemilik kontrakan.
Sulistyo menahan semua gerakan tubuhnya, bernafas dengan helaan tipis panjang, mendengarkan suara agen itu menggeledah rumah kontrakannya.
"ODP naik ke atas langit-langit, melanjutkan pengejaran…"
Tentu saja mereka bisa melacakku. Sulistyo bergerak secepat mungkin tanpa menimbulkan suara menuju plastik yang menutupi lubang di genteng, kemudian merangkak keluar setelah menyibak plastik itu.
Sulistyo menyapukan pandangannya ke langit: sensor Yayasan pasti sangat bagus, karena bahkan dengan penglihatan 20/20 Sulistyo, tiga drone Yayasan yang membatasi perimeter di sekeliling rumahnya nyaris tidak terlihat. Dari jarak dan sudut seperti ini, tidak mungkin aku bisa mencapai drone itu menggunakan senjata yang diterbitkan untuk polantas. Ditambah lagi, kemampuan menembak Sulistyo hanyalah rata-rata saja. Belum tentu dia bisa mencapai para drone itu dalam kondisi optimal dan dengan senapan runduk.
Sambil berdoa bahwa drone Yayasan tidak memiliki senjata, Sulistyo melompat turun dari atap rumahnya, berguling dengan masih memeluk tablet yang didapatnya dari Ajisaka.
Kutipan dari "[KLASIFIKASI LEVEL 3] Dossier Yayasan untuk Detasemen Khusus 00 Antiklenik/Ajisaka (KDP-51N)"
Logo Ajisaka
Tingkat Resiko Tirai: Sedang
Kemampuan Paramiliter: Rendah
Arsenal Anomali: Minimal Tidak Diketahui
Afiliasi: LEMRUSAN/NKRIPergerakan Ajisaka mulai terdeteksi radar Yayasan di tahun 2012, namun analisa data historis menunjukkan bahwa Ajisaka sudah beroperasi setidaknya sejak tahun 2000, kemungkinan besar dibentuk oleh dekrit rahasia Presiden Abdurrahman Wahid. Tidak banyak yang diketahui tentang unit ini, termasuk bagaimana mereka memiliki kemampuan untuk bergerak diluar pengawasan Yayasan selama lebih dari satu dekade.
Peneliti Yayasan menduga bahwa keanggotaan Ajisaka (disengaja atau tidak) diisi oleh orang-orang yang secara alami memiliki respon "alergi" terhadap agen memetika Bulan Hitam. Akibat respon alergi ini, para anggota Ajisaka hampir tidak mungkin untuk direkrut ke dalam Yayasan. Selain itu, anggota Yayasan yang telah ditanamkan agen memetika Bulan Hitam sulit untuk menyadari keberadaan anggota Ajisaka, bahkan melalui sensor.
Pearch baru berhasil naik dan masuk ke atas langit-langit rumah Sulistyo ketika alarm dari drone penjaga perimeter berdering di telinganya. Sialan.
"ODP terdeteksi melintasi perimeter, ke arah kantor polisi tempatnya bekerja. Dibuntuti satu drone."
"Roger. Tampilkan di HUD." Sebuah panah muncul di display helm Pearch. Agen Yayasan itu melompat turun kembali dari lubang di langit-langit, setengah berlari menuju sepeda motornya. Agen itu menyalakan mesin sambil menyembunyikan kembali pistolnya dibalik jaket.
Mencoba menyalakan mesin. Sepeda motor Pearch mendesah berat dan terbatuk-batuk ketika dia menekan tombol starter, dan hasil yang sama terjadi ketika dia mencoba menggunakan tuas kickstarter. "Command, sepeda motorku tidak berfungsi, sepertinya sudah dirusak oleh ODP atau rekannya, konfirmasi rekaman?"
"ODP tidak berjalan ke dekat sepedamu sama sekali, jadi kemungkinan ada orang lain yang mengutak-atiknya. Mungkin ketika kita mendobrak pintu?"
"Ajisaka?"
"Konfirmasi sensor…konfirmasi. Ya, tidak ada personel yang sadar ada alarm sensor, jadi kemungkinan besar agen Ajisaka." Pearch menghela nafas dalam. Penanda di helmnya menunjukkan jarak hampir 500 meter antara dirinya dengan drone yang mengikuti Sulistyo. Kenapa sih gue selalu kebagian ngejar juara lari tingkat RW?
"Melanjutkan pengejaran dengan kaki."
Pearch mulai berlari.
Sulistyo terlambat menyadari bahwa ada perbedaan yang mendasar antara "berbakat" dan "ahli". Dia sudah terbiasa untuk berlari mengelilingi lapangan, atau dari rumah ke kantor dan kembali, di pagi buta. Stamina Sulistyo tergolong di atas rata-rata untuk pria seusianya. Tapi itu hanya berarti dia punya "bakat" untuk berlari.
Berlari dengan kecepatan penuh di siang bolong, menempuh tiga kilometer antara kontrakan dan kantor, perlu stamina yang di luar akal.
Ketika dia akhirnya mencapai kantor polisi, Sulistyo tidak punya tenaga untuk menyapa rekan-rekannya, di antara nafasnya yang memburu. Brigadir polisi satu itu menyeret kakinya ke arah loker, tempat senjata dan perlengkapannya disimpan. Sulistyo sempat mempertimbangkan untuk menyimpan tabletnya di dalam loker, namun akhirnya memutuskan untuk menyisipkannya dalam punggung rompi.
Aku tidak bisa percaya pada siapapun di sini. Pakaian Sulistyo terlihat mencolok, karena dia mengenakan rompi hijau lalu lintas di atas kaus dan celana pendek tiga perempatnya. Ditambah lagi sabuk dan holster untuk pistol G2 Combat yang tidak bisa dia sembunyikan dengan baju sipilnya.
Tiga magasin, dan satu terpasang. 60 peluru karet. Sulistyo mengokang pistolnya, dan menghela nafas. Ini akan jadi pertama kalinya dia mengarahkan senjata api ke sesama manusia, meskipun hanya menggunakan peluru karet. Sedangkan lawannya, agen dari sebuah Yayasan rahasia, dengan sigap mengacungkan senjatanya dengan pengetahuan penuh bahwa di ujung lain dari senjata itu adalah seorang manusia, dan pastinya sudah terbiasa menembak target hidup.
Sulistyo mengunci kembali pengaman pistolnya, menyarungkan ke holster di pinggang. Dengan tangan bergetar dia memasang earphone ke telinganya dan menyambungkan kabelnya ke perangkat radio kecil, disetel ke saluran frekuensi Ajisaka.
"Lapan empat, lapan empat, delta kosong kosong verifikasi apple joker indra, ganti."
"Lima lima. Selamat datang di Ajisaka." Suara di telinga Sulistyo sudah dimodulasi berkali-kali oleh jaringan tersandikan Ajisaka, namun dia masih bisa mengenali suara Purnawianto. Seringai Brigadir Jenderal Polisi itu masih melekat dalam ingatannya. "Siap untuk menghantam balik?"
««Sebelumnya | Bersambung | Selanjutnya»»




