Adil Itu Curang
rating: +1+x

Alarm yang disetel ponsel berbunyi nyarin di ruang mess sunyi pagi itu. Beberapa saat kemudian, suara nyaringnya berhasil menarik perhatian pemiliknya yang segera meraih ponsel itu dengan malas.

Pria pemilik ponsel itu mengamati layarnya dan mematikan alarmnya, mengheningkan kembali ruangan gelap itu. Dia mengamati bahwa waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Apa yang- kepagian… Pikirnya selagi meletakkan kembali ponselnya. Dia kembali menutup matanya, tetapi dia merasa penasaran kenapa alarmnya disetel pagi-pagi.

Tunggu sebentar… Dia tiba-tiba teringat sesuatu. Dengan segera dia mencoba bangun dari ranjang dan mengusap matanya.

Dia baru menyadari dia sudah jadi peneliti biasa.

Setelah menepuk dahinya sendiri, dia segera turun dari ranjang dan dengan segera dia bersiap untuk bekerja. Biasanya sebagia peneliti junior, dia mengisi shift malam atasannya. Itulah kenapa dia biasanya menyetel alarmnya jam empat sore, meski kadang atasannya memerlukannya di pagi hari juga. Dia selalu menyalahkan itu sebagai penyebab adiksi kopinya.

Tetapi sekarang sebagai peneliti biasa, dia bisa bekerja dengan jam kerja normal. Seharusnya dia juga mendapat kesempatan ke luar situs saat akhir pekan, tetapi Herria berkata kalau personel lantai Keter harus berada di lantainya sampai diizinkan pergi, yang artinya selamanya kecuali dia pindah situs atau berhenti.

Tidak masalah mengingat tidak ada yang diinginkannya di luar sana. Tidak sampai dia mendapatkan kebebasannya.

Setelah mengenakan jas labnya. Dia melirik ke arah mejanya. Terdapat masker gas usang yang selama ini masih dipakainya. Sudah tak terhitung berapa kali dia pernah tidak menggunakannya dan dia masih hidup sampai sekarang. Itu artinya masker gas ini seharusnya tidaklah lagi berguna.

Pria tersebut menggeleng, dipikirkannya lagi, dia merasa tak ada salahnya terus menggunakannya. Dia mengambil masker gas itu dan mengamati ke arah cermin.

Refleksinya menunjukkan seorang pria dengan luka besar dari mulut ke sepanjang pipi kanannya. Dia melirik ke masker gas tuanya dan segera mengenakannya. Wajahnya hanya mengingatkannya pada seseorang yang bodoh, yang kehilangan segalanya karena dia hanya merupakan boneka semata.

Masker gas ini adalah pengingat tujuannya, untuk tetap hidup tak peduli apa bayarannya. Sekotak topeng tipis berupa masker medis di ujung meja tidaklah pernah sama dengan perlindungan kokoh terisolir masker gasnya.

Dengan segera dia membuka pintu kamar messnya. Koridor terasa lebih dingin dibandingkan kamarnya. Mungkin sudah waktunya dia menitip beli jaket atau semacamnya nanti. Dengan santai dia berjalan menuju area kantor. Begitu sampai di persimpangannya, dia kini berbelok ke arah kanan, ke area kantor umum. Dia bukan asisten lagi, jadi dia mendapatkan mejanya sendiri.

Pemandangan tempat tersebut tidaklah banyak berubah dibandingkan tadi malam. Pagi maupun malam tidaklah berbeda di bawah tanah, tetapi di lantai Euclid setidaknya ada peningkatan aktivitas saat pagi sampai siang. Dia mengamati deretan meja yang masih agak sepi tanpa orang. Herria mengatakan kalau lantai Keter kini sebagian besar berfungsi sebagai area penahanan semata. Itu artinya kecuali ada anomali baru, tidak ada penelitian aktif dan anomali di sana hanya perlu diawasi penjaga.

Dia menemukan mejanya yang diberi label kertas semata. Dia mengamati selain terdapat komputer, rak dan wadah alat tulis, juga terdapat laci terkunci di sisi kanan bawah meja. Bahannya sepertinya besi, jadi kecuali ada yang ahli membuka kunci laci, itu adalah tempat aman untuk menyimpan dokumen penelitian bagi pemilik meja itu.

Dia sejauh ini hanya bisa memperhatikan mejanya karena entah kenapa tidak ada kursinya. Dilihatnya lagi, ada sekitar dua meja lagi yang tidak memiliki kursi. Mungkin karena rusak atau semacamnya. Dan sepertinya dia orang ketiga yang tidak beruntung, atau mungkin yang pertama karena dia tidak yakin apakah ada orang yang bekerja di meja tersebut.

Dia melirik dan mengamati meja mana yang masih memiliki kursi dan terlihat terbengkalai. Pandangannya tertuju pada sebuah meja di pojok kanan belakang dan dengan segera dia ke sana, mengambil kursinya dan meletakannya di tempatnya. Untungnya area kantor masih sunyi, sesuatu mengenai dirinya yang mulai bekerja pada pukul tujuh pagi mungkin.

Setelah duduk dengan santai, dia menghidupkan komputernya dan mengutak-atiknya akun penggunanya agar menjadi miliknya. Baru dia bisa bersandar santai dan mulai melihat-lihat dokumen Yayasan di basis datanya. Sekarang dia punya izin akses level dua, jadi dia mulai membaca-baca artikel lama.

Tetapi sesuatu mengganggu pandangannya. Sebuah tanda notifikasi di akunnya, mengingatkannya waktu masih jadi asisten dulu. Dia tidak tahu siapa yang mengirimnya pesan karena dia yakin mantan atasannya tak mungkin mengiriminya perintah baru sekarang sehingga dia segera membukanya dan mendapati bahwa itu merupakan surel dari administrasi situs itu sendiri.

“Serius…” Balefire menatap pesan yang dibacanya. Dia memiliki kecurigaan sejak awal melihatnya saat bekerja dengan atasannya dulu, tetapi mereka ternyata tetap mengirimkannya template email yang sama meski mengetahui kondisinya.

Mungkin mereka memang tidaklah memedulikannya. Lagi pula, dia memang merupakan kasus langka di mana cuma dia peneliti yang bisa menangani anomali ini. Herria mengatakan salah satu alasan dia bisa ke lantai Keter karena terdapat anomali yang bisa dia teliti di bawah sana berdasarkan spesialisasinya. Tanpa ini dia tetap tidak bisa turun lantai karena meski dia secara jabatan bisa, praktisnya dia menganggur di bawah sana.

Tetap saja, mereka tidak harus berbohong dengan menunjukkan kalau Stefan peduli dengannya sehingga mengiriminya pesan. Membuatnya berpikir apakah yang mengirim ini tim administrasi atau memang sang direktur sendiri yang malas mengurus administrasi.

Dia memutuskan untuk tidak memikirkan itu dan segera membaca pesan kedua.

Pukul sembilan, ya… Balefire mengamati dokumen yang dicantumkan surel tersebut. Dia sudah biasa menangani ini untuk atasannya dulu. Dan sekarang kini dia menangani penelitiannya sendiri.

Dia memutuskan untuk bersandar di kursi(curian)nya dan mengembalikan tampilan layar kembali ke halaman basis data anomali Yayasan. Dia ingin melihat-lihat dulu beberapa anomali yang dulu ditanganinya sebelum sarapan di kantin Yayasan.

Beberapa anomali lama, beberapa anomali baru, peningkatan level aksesnya memang tidak memberikan lebih banyak informasi dari yang diharapkannya, tetapi cukup untuk memuaskan rasa penasarannya saat ini.

Setelah setengah jam, akhirnya dia berdiri dari kursinya dan mematikan komputernya. Dia memandangi ruang tunggu dan berpikir mengenai pengecekan sebelumnya. Dia melirik ke samping, ke arah laboratorium yang merupakan jalan alternatif. Tetapi dia baru hari pertama bekerja di lantai ini, para penjaga area pembatas di sana jelas tidak mengenalinya seperti mereka mengenali personel lain yang sudah lama bekerja di sini.

Tidak ada pilihan ya..

Dia segera berjalan menuju ruang tunggu selagi meraba jarinya.


“Ah, kau si Bale kemarin, kan?” Si kepala staf kantin muda dengan rambut putih panjang berkata.

Bale mengangguk. “Ya. Dan anda sendiri memilih dipanggil Felin, bukan? Ku rasa usia kita tidaklah terlalu jauh, jadi kau tak keberatan ku panggil nama saja, kan?” Dia balik bertanya.

“Oh, tentu! Aku gak masalah sama sekali kok!” Balas Felin dengan senang. “Jadi, mau makan apa pagi ini?”

Bale diam mendengar itu. Dia mengamati sekeliling area dapur, lalu melihat sekeliling area kantin, yang di mana masih sedikit akan personel. Mungkin mereka datang saat makan siang.

Dengan perlahan Bale mendekati meja kasir dan berkata, “Kalian punya mi instan?”

“Kami… punya mi? Meski bukan yang instan sih.” Felin menjawab dengan senyum, meski dia terdengar ragu-ragu dan bingung. Bale hanya diam dengan salah satu tangannya memegang bagian bawah maskernya, membuatnya terlihat bak itu merupakan hal yang buruk.

Terkutuk kau Herria…

“Mi satu, kalau begitu.” Bale memesan makanannya selagi berjalan menjauh. Dia terdengar sedikit depresi juga.

“Tunggu- kau tak ingin nasi atau lauk lain?” Felin mencoba menahannya, jelas dia terdengar kebingungan.

“Nah, aku nilai mi nya dulu.” Bale membalas tanpa menoleh ke belakang. Tangannya dikibas-kibaskannya sebagai tanda penolakan.

Dia segera berjalan menuju meja di dekat dinding; dia tidak akan berdiri di sana menunggu pesanannya jadi. Dia duduk dan menatap dengan bosan ke depannya. Jarinya mengetuk meja dengan interval acak, memainkan nada abstrak di pikirannya.

Dia perlahan mendengar suara langkah kaki mendekat. Bale berpikir mungkin itu personel yang baru datang dan ingin memesan. Akhirnya dia melihat seorang pria berseragam personel keamanan berjalan pelan di sampingnya. Bale melirik ke wajahnya yang tidak ditutupi helm, tetapi oleh Balaclava hitam bermotif tengkorak.

Yang tidak Bale duga adalah dia tidaklah berjalan untuk memesan makanan, tetapi duduk santai di kursi panjang di depannya. Bale mengamatinya, menunggunya untuk mengatakan sesuatu kepada dirinya, tetapi dia sepertinya lebih fokus mencari sesuatu di sakunya.

Howdy, Kau si kode nama Balefire itu, kan?” Dia akhirnya bicara di tengah aktivitasnya.

“Ya. Dan kau?” Bale membalas dengan respon standarnya.

“Akan kubilang nanti.” Pria di depannya menjawab dengan tak terduga. “Sekarang, apa instrumen musik favoritmu?”

“Itu… pertanyaan yang sangat tidak wajar…” Bale menjawab. Dia mencoba memikirkan apa maksud pertanyaannya. Sekilas rasanya dia ingat mendengar sesuatu mengenai instrumen musik dulu.

Itu membuat Bale tiba-tiba diam. ‘Dulu’ itu artinya masa sebelum dia dipekerjakan Yayasan. Dan memang benar, di sana lah dia pernah ditanya seperti itu.

“Pertanyaan itu hanya diberikan kepada agen GOC, sayangnya aku cuma pekerja kantoran. Siapa kau?” Bale bertanya pelan. Dia mencoba melirik ke kiri dan kanannya, tetapi masker gas terpercayanya menghalangi pandangannya. Dia mengutuknya untuk itu.

“Sekarang? Personel Yayasan.” Pria di depannya berkata. Dia tiba-tiba terdiam, tangannya sepertinya mendapatkan sesuatu dan dia menariknya keluar. “Dulu?”

Dia menurunkan penutup mukanya sehingga memperlihatkan area mulutnya. Tangan kirinya mengangkat benda yang didapatnya tadi. Sebuah harmonika.

“Agen Harmonika, dari GOC.”

Dan dia memainkan harmonika itu, tidak memedulikan Bale yang menatapnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.

“Pengetahuan dilarang?” Bale bertanya. Tangannya sudah siap menggenggam kapaknya.

“Ya, pengetahuan dilarang.” Pria itu menjawab selagi terkekeh. “Aku bukan penyusup CI yang kau cari sejak di atas sana. Aku asli ditanam GOC untuk memonitor situs ini. Sayangnya aku dikhianati dulu dan sekarang aku terjebak di sini sebagai personel Yayasan seutuhnya.”

Bale diam dan memproses jawaban pria tersebut. Akhirnya dia bertanya, “Dari mana kau tahu identitas asliku? Apa personel di bawah sini memang sudah tahu semuanya mengenai misiku?”

Pria di depannya menggeleng selagi terkekeh. “Sebagian besar orang di sini tahu kalau ada orang eks-GOC diselamatkan dan dipekerjakan Yayasan di sini. Untungnya bagimu itu saja detail yang mereka tahu”

“Ah.” Bale mengangguk mengerti. Tetapi ada satu hal yang mengganggunya. “Jadi bagaimana kau tahu aku sedang mencari penyusup dari CI?”

Pria di depannya memainkan sepotong musik sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Pertama, aku lumayan rindu GOC, kau tahu. Jadi saat ku dengar Yayasan mendapat kontak dengannya, tentu aku tertarik untuk mengetahui segalanya tentangnya, yang artinya segalanya tentangmu.”

“Yang kedua,” Dia melanjutkan. Tetapi kini harmonikanya diturunkannya. “Alasan aku terjebak di bawah sini karena yang menugaskanku kemari seorang Insurgent yang menyamar sebagai GOC. Apa kau pernah mendengar seseorang bernama ‘Robert Shaw’?”

Bale tertegun mendengar nama itu. Sudah lama sejak terakhir dia mendengar nama orang yang memberikan luka di mukanya itu. Perlahan dia mengangguk dan menjawab, “Dia… alasanku berakhir di sini juga…”

Pria di depannya terkekeh. “Ku rasa kita berdua dibodohinya kalau begitu.” Dia melirik ke arah meja kasir, sepertinya pesanan Bale tadi sudah jadi.

Pria itu akhirnya berdiri. “Sekarang identitasku di sini adalah Agen Senior Aliman Firmansyah. Senang bertemu denganmu.” Dia mengulurkan tangannya. Bale pun menjabat tangannya.

Begitu selesai, dia segera berjalan menjauh ke pojok belakang. “Semoga beruntung dengan perburuanmu. Jika kau perlu sesuatu, cari saja suara harmonikaku. Aku masih tertarik akan urusan CI ini.”

Bale menatapnya duduk kembali di pojok dan kembali memainkan harmonikanya. Dia memutuskan untuk mengingat itu nanti. Sekarang sudah waktunya dia mengambil makanannya.


Setelah menghabiskan waktu di kantin dan sedikit jalan-jalan. Dia sampai di ruang pengujian sepuluh menit lebih awal dibandingkan jadwal. Dengan santai dia berjalan menyusuri koridor di samping ruang pengujian dan menaiki tangga menuju lantai atas.

Dia kini berada di ruang observasi atas, mengamati kaca panjang yang dipasang di sepanjang ruangan. Di bawah sana merupakan pemandangan ruang pengujian. Terdapat sebuah kontainer di bawah sana, serta sekitar empat kipas angin industrial yang ukurannya sedikit lebih tinggi dari kontainer yang dikelilingi mereka.

Ruangan masih gelap, tidak ada lampu yang dinyalakan sehingga cahaya dari lampu ruang pengujian yang sudah terlebih dahulu dinyalakan menerangi dengan redup ruang observasi. Bale menekan sakelar lampu ruangan untuk menghidupkannya.

Bale kemudian berjalan mengelilingi ruangan. Dia mengamati serangkaian panel di meja, dengan enam sakelar putar berukuran cukup besar dibandingkan ukuran normal menarik perhatiannya. Dari warnanya, mereka baru-baru ini dipasang. Masing-masing bertuliskan 1 sampai 4, juga tulisan ‘Internal’ dan ‘All’. Bale memahami untuk apa sakelar-sakelar itu.

Dia akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu kursi putar yang berjejer rapi di sana. Di sini lah atasannya dulu mengadakan pengujian untuk anomali pengujian. Sekarang gilirannya yang duduk di kursi ini mengamati subjek penelitiannya.

Dia bersandar di sandaran kursinya dengan perasaan puas, dia sudah cukup jauh berjalan sendiri tanpa tali maupun tangan sang dalang. Mungkin dia akhirnya bisa keluar dari organisasi ini dan mencari tujuan hidupnya tanpa terikat apa pun bak boneka seperti dulu.

Dia memutuskan untuk membaca dokumen anomali yang sebelumnya terlampir di surel tadi di ponselnya.

Deskripsi: Anomali berupa entitas makhluk hidup yang fisiknya terdiri dari konsentrasi awan berukuran sepanjang 12 meter dan setinggi 4 meter. Ciri khasnya adalah wajahnya yang terbuat dari es padat yang menyerupai topeng setan berekspresi marah. Bagian ini menunjukkan daya tahan tinggi, mampu tetap utuh setelah menghadapi benturan dari ketinggian yang signifikan dan trauma benda tumpul berkekuatan tinggi. Kontak visual langsung dengan bagian anomali ini menyebabkan astraphobia parah(Phobia akan badai petir) pada subjek. Meski begitu, subjek merasa kesadarannya berkurang drastis selama mengamatinya sehingga tidaklah mampu mengidentifkasi wajah anomali itu untuk waktu lama. Berbeda dengan wajahnya, badannya yang terbuat dari awan bisa dengan mudah dihancurkan. Perlu diwaspadai jikalau badannya cukup besar, ia bisa menghasilkan sambaran petir normal pada tingkat rendah.

Jikalau bagian badan awan entitas sudah terbentuk meski hanya sepanjang 4 meter, ia bisa terbang, yang semakin tinggi semakin panjang ukurannya. Pada titik itu, jikalau ia bisa mencapai ketinggian 5.000 meter di atas tanah, anomali mampu secara aktif memengaruhi kondisi meteorologi lokal, secara signifikan meningkatkan kemungkinan hujan dan menarik formasi awan cumulonimbus, yang tampaknya berfungsi sebagai habitat alami.

Anomali diketahui eksistensinya setelah peningkatan curah hujan dan laporan adanya histeria masal saat badai. Anomali didapatkan di tengah badai yang terjadi di pinggiran Kota Jakarta. Operasi melibatkan helikopter Yayasan memotong habis badannya dengan bilah rotornya. Begitu badannya berhasil hancur, wajah esnya terlepas dan jatuh ke tanah. Sebelum ia dapat membentuk kembali struktur awannya, personel Yayasan memasukkan wajah es tersebut ke dalam kontainer.

Bale diam mengamati deskripsi itu. Anomali ini sangat mengingatkannya tentangnya. Sebuah lelucon buruk, pengingat ketiadaannya. Sejujurnya sejak awal Bale memang merasa familiar dengan entitas tersebut entah kenapa.

Tiba-tiba sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Bale mengamati ke arah pintu, lalu ke arah jam; sudah pukul sembilan pagi. Bale segera berjalan menuju pintu, bertanya-tanya siapa di luar sana. Tetapi sebelum dia mencapainya, pintu tersebut terbuka.

Seorang perempuan yang mengenakan sweter krim putih yang dilapisi jas lab melangkah masuk. Rambutnya hitam pendek. Hanya itu yang bisa dilihat Bale karena matanya tertutup kacamata hitam.

Oke, tiga nikel… Merupakan hal pertama yang dipikirkannya. Pertama si kepala SDM itu, lalu perempuan penyuka kacang itu, dan sekarang orang ini. Bale penasaran apa alasannya mengenakan kacamata hitam di situs gelap ini kali ini.

Dia sedikit terlambat menyadari tongkat berjalan besi yang dipegangnya sampai dia mulai mengayunkannya selagi dia berjalan masuk. “Ku asumsikan kau cuma berdiri diam di sana saat aku mengetuk tadi. Kau tuli atau semacamnya?”

“Apa…” Bale tertegun mendengarnya, tetapi perempuan buta tersebut menyelanya. “Sudahlah. Siapkan perangkatnya, kita akan melakukan pengujian segera. Kau sudah menyiapkan Kelas-D, kan?”

“Tunggu dulu, kau siapa? Kau tersesat saat mencari bangsal medis atau semacamnya?” Bale berkata dengan kesal.

Sepertinya perempuan tersebut terpancing perkataannya. Dia mengembuskan nafas kesal dan berkata, “Aku tahu personel lantai ini kebanyakan tidak beradab, tetapi aku tidak menduga mereka idiot juga.”

Dia lalu mengetukkan tongkatnya ke lantai dua kali. “Aku peneliti senior pengawas anomali ini. Kau belum membacanya?”

“Apa maksudmu peneliti senior? Sejauh ini aku satu-satunya peneliti untuk anomali ini.” Bale membantahnya.

“Heh, sejak kapan peneliti bisa meneliti tanpa peneliti senior?” Perempuan itu terkekeh bak baru saja mendengar hal bodoh.

“Tertulis seperti itu di email yang ku dapat!” Bale mencoba memberi alasan, tetapi tiba-tiba perempuan tersebut mengacungkan tongkatnya.

“Cukup sudah omong kosongnya! Kita akan terlambat dari jadwal karenamu, jadi cepat bekerja. Atau aku harus memaksamu untuk itu?”

Mata kanan Bale berkedut. Perlahan dia meraih kedua kapaknya. “Kau tahu? Persetan akan jadwal, kita selesaikan ini sekarang juga.”

Perempuan tersebut mengembuskan nafas selagi tangan kirinya diletakkannya di punggungnya. “…Memang harus seperti ini, ya…”

Bale hanya terkekeh. Perempuan buta di depannya ini mencoba melawannya memakai tongkat bantunya…

…Sampai perempuan itu dengan cepat mengayunkan tongkatnya ke arah kepalanya. Bale dengan cepat menahannya dengan kapak kirinya. Perempuan tersebut sepertinya tertegun merasakan sesuatu menahan pukulannya, tetapi dia seketika mengangkatnya dan mengayunkannya ke arah badannya.

Bale segera menahannya dengan kapak kanannya. Dia segera mendorong perempuan tersebut dengan sisi atas kepala kapaknya menjauh. Mereka diam, meski hanya satu yang mengamati pergerakan lawannya.

Bale sebenarnya terkesan akan hantaman pertama perempuan tersebut yang cukup mengejutkannya. Sedikit kesalahan dan dia akan menerima pukulan tongkat besi itu. Dibandingkan kapak, tongkat itu lebih cepat dibandingnya karena lebih tipis dan ringan. Ini ditambah kecepatannya yang diluar dugaan cukup akurat juga.

Perempuan ini bisa membela dirinya. Bale tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia punya firasat buruk jika ini berlanjut. Pertanyaannya adalah, apakah dia akan menyudahinya sekarang atau tetap memberinya pelajarannya.

Sepertinya aku harus serius… Pikir Bale selagi menguatkan genggamannya. Dia tidak akan membiarkannya lolos semudah itu setelah mencoba memerintahnya. Dia sudah keluar dari panci penggorengan, dan dia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke apinya setelahnya.

Perempuan itu kembali mencoba memukul kepalanya dengan ayunan atas, tetapi Bale kembali menahannya dengan kapak kirinya selagi kapak kanannya siap diayunkannya. Tetapi tiba-tiba perempuan itu menarik tongkatnya dan mencoba menusuknya dengan ujung tongkatnya.

Untungnya kapak kanannya siap penahannya dan dengan cepat dia mengait batang tongkatnya dengan kepala kapaknya. Kapak kirinya tadi dengan segera diputarnya dan dihantamkannya ke tongkat tersebut. Tidak cukup untuk menghancurkannya, tetapi cukup untuk menjatuhkannya dari genggaman perempuan itu.

Perempuan itu segera mencoba meraih tongkatnya kembali, tetapi Bale menahan lehernya dengan sisi belakang kepala kapaknya. “Jangan coba-coba.”

Perempuan tersebut diam, sebelum perlahan berdiri menghadapinya. Kacamatanya sedikit turun, menunjukkan matanya yang sedikit sipit. Bale tersenyum puas dari masker “Dengar, sebenarnya ku rasa ada kesalahpahaman di sini. Tetapi karena kau duluan mencoba menyerangku, aku tidak melihat pilihan lain selain-“

Bale tertegun. Perempuan itu mengeluarkan semacam gulungan yang berisi semacam gambar peta bintang dan ditunjukkannya gambar itu ke hadapannya. Terdapat rangakaian garis yang membentuk rasi yang tidak dia ketahui namanya. Semakin dia memandanginya, entah kenapa tiap bintang di gambar itu semakin jelas. Perlahan bintang-bintang tersebut berkelip di ujung pandangannya. Garis-garis putih tadi perlahan pudar, bintang-bintang bersinar terang. Kemudian nebula mulai muncul, menghiasi pemandangan.

Bale merasa dirinya menatap ke langit malam, bersih tiada awan, menampilkan teater angkasa nan megahnya.

Lalu sesuatu menghantam keras kepalanya dan dia pingsan.

Perempuan tadi menggulung kembali kertas di tangannya tadi. Di sana terdapat bahaya kognitif favoritnya. Garis-garis rasi bintangnya membentuk pola berbahaya kognitif, mampu membuat orang terdiam mengamatinya tanpa sadar sampai kertas itu digulung kembali atau orangnya dipukul agar sadar kembali.

Perempuan tersebut mengembuskan nafas selagi meraih ponselnya. Dia harus mengangkut orang ini ke bangsal medis dan menjelaskan apa yang terjadi kepada Pak Herria sebelum bisa bekerja dengannya. Sepertinya penelitian anomali harus ditunda sampai besok.


“Ahh…” Bale perlahan tersadar. Dia menyadari seketika kalau dia berada di ranjang pasien. Ruangan tempatnya hanya memiliki satu sumber cahaya yang berasal dari lampu ruang operasi di tengah ruangan.

Di depannya, seorang dokter dengan rambut abu-abu berdiri mengamati seseorang di ranjang di depannya. Bale menyadari bahwa selain mendapati kepalanya sudah diberi perban, pergelangan tangannya juga diberi tambalan serupa.

Pria di depannya menoleh ke belakang menyadari adanya suara. Dia terlihat tua, kacamatanya memantulkan cahaya menyilaukan di dekatnya.

“Akhirnya kau sudah sadar…” Dia berkata dengan suara serak. Dia berjalan mendekati Bale dan menatapnya. Bale sendiri tidak bisa melihat jelas wajahnya karena silaunya cahaya di dekat mereka.

“Di… mana ini?” Bale memutuskan bertanya. Dia setengah ingat dia melihat sesuatu yang spektakuler sebelum tiba-tiba pingsan.

“Kau dibangsal medis. Aku doktermu.” Dia berkata.

Bale perlahan meraba kepalanya, ingin mengetahui separah apa lukanya. Dia hanya merasakan rasa nyeri semata di bekas luka kecilnya. “Dan kenapa aku bisa ada di ruang operasi? Lukaku tidak separah itu, kan.” Dia bertanya. Dia perlahan mencurigai dia baru saja melihat bahaya kognitif.

“Ah…” Dia berkata selagi berjalan menjauh. “Sebenarnya tidak ada alasan… tetapi putriku tadi turun kemari sejak bertahun-tahun lamanya, dan dia meminta tolong kepadaku…”

Pria itu merenggangkan tangannya, bak mau meraih lampu ruang operasi. “Ah… setelah begitu lamanya, dia ingin menemuiku…”

Bale hanya menatapnya heran sebelum akhirnya dia menyela, “…Dan?”

“Ekhem,” Dia berdeham. “Salah satu stafnya terluka karena insiden. Banyak beling kaca kecil… Aku bisa mengoperasinya, tetapi aku menyadari dia kehilangan banyak darah. Gudang pendingin terlalu jauh, jadi putuskan untuk membawamu juga untuk membantuku. Proses anestesianya tidak terasa, bukan?”

“Begitu ya…” Bale berkata memahami apa yang terjadi. “Jadi aku boleh keluar sekarang?”

Pria tua itu menoleh ke arahnya perlahan. Dia mengarahkan tangannya ke arah pintu keluar ruang operasi. “Kau boleh pergi.”

“Uhh.. terima kasih, dokter…” Bale perlahan berdiri dari ranjangnya dan berjalan keluar.

“Sama-sama…” Dia berkata selagi berjalan kembali ke ranjang operasi pria di tengah ruangan.

“Tidak, aku bertanya namamu.” Bale membenarkannya.

Dokter itu hanya berdiri diam di depan ranjang itu. Bale hanya menatapnya selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk meninggalkan ruangan.

“Namaku Jaret Lintang.” Bale mendengarnya berkata pelan tepat sebelum dia menarik pintu ganda di depannya. Untungnya ruangan cukup sunyi akan suara selain dari dengung pelan mesin di sana, jadi Bale bisa mendengarnya. “Saat kau berada di ambang pintu kematian… kau berada di ambang pintu ruangan ini…”

“Uhh… tentu.” Bale membalas selagi dia pergi.

Begitu dia di luar, dia bisa melihat deretan ranjang pasien seperti di bangsal medis lantai Euclid, meski lebih luas dan memiliki lebih banyak alat. Dia melihat seorang perempuan berjilbab mengenakan baju oka terbaring di salah satu ranjang dekat pintu ruang operasi. Dia mengenalinya, tetapi dia tidak ingin mengganggu istirahatnya.

Terdapat pintu di depannya. Dia melirik ke samping dan terdapat pintu pula di sana. Berdasarkan pengalamannya kemarin, dia memilih pintu di samping dan dihadapkan dengan area laboratorium. Tetap di depannya adalah pintu ganda menuju area kantor pribadi sesuai dugaannya.

Dia segera keluar melalui pintu tersebut dan memutuskan untuk berjalan menuju mejanya. Dia perlu tahu mengenai status terbaru penelitiannya tadi.

Tetapi di samping mejanya, berdiri seorang perempuan yang bersandar di ujung mejanya. Dari kacamata dan rambut hitam pendeknya, dia perempuan buta yang tadi mengalahkannya.

Sepertinya perempuan itu mengetahui kedatangannya sehingga dia menoleh ke arahnya. “Akhirnya kau sadar.”

Bale tidak berbicara. Dia meraih kapaknya dan segera mengayunkannya ke kepala perempuan itu.

“Jadi, aku sudah dengar dari Pak Herria…” Perempuan itu berkata, membuat Bale menghentikan ayunan kapaknya tepat di depan wajahnya. Perempuan itu tidaklah menunjukkan reaksi apa-apa karena sepertinya dia memang tidak mengetahuinya. “Sepertinya kau memang tidak tahu kalau aku dijadikan supervisormu tadi. Dan untuk itu aku meminta maaf.”

“Persetan dengan maafmu, aku tidak perlu atasan baru.” Bale berkata dengan kesal. “Lagipula sejauh yang ku tahu, tidak ada peneliti senior yang spesialis di bidang anomali yang mempengaruhi nalar. Dan gelarku membuatku jadi satu-satunya peneliti yang secara legal bisa menjalankan pengujian terhadapnya.” Katanya. Itu sebenarnya dikatakan oleh Herria dulu kepadanya.

“Aku tahu,” Perempuan itu tidaklah terlihat terkesan. “Itulah kenapa aku ke situs ini. Bidangku bahaya kognitif. Kau berpikir Yayasan akan mengambil risiko membiarkan penelitian anomali kelas Keter ditangani seorang peneliti saja?”

“Sial…” Bale mengumpat. Penelitiannya dia kira hanyalah formalitas untuk bisa turun ke bawah dan melanjutkan misinya. Seharusnya dia sudah menduga dia tidak mungkin bebas dari pengawasan semudah itu.

Tetapi kemudian dia menyadari sesuatu, “Tunggu, kau baru bekerja di situs ini?”

“Ya. Bersamaan dengan akuisisi anomali itu.” Perempuan itu menjawab. “Jadi kau akan mulai bekerja denganku sekarang.”

“Tch.” Bale membalas. “Kau tak perlu mengingatkanku. Kode namaku Balefire, panggil saja Bale.” Dia berkata, hampir mengulurkan tangannya. “Aku memakai kode nama selama bekerja di sini, tanya saja Pak Herria.”

“Baik…” Dia sepertinya heran akan hal itu, tetapi diabaikannya. “Kau bisa memanggilku Ratna. Kuharap kau bisa bekerja dengan baik.”

Namanya entah kenapa terdengar familiar bagi Bale, mungkin dia pernah baca di suatu tempat atau apa. “Jadi… bagaimana dengan penelitiannya tadi?” Dia bertanya.

“Ditunda besok.” Perempuan itu menjawab. “Sementara itu, kau bisa mengurus persiapan untuk penelitian tersebut mulai sekarang. Jika kau perlu sesuatu, ruanganku di A8.”

Dan dengan itu dia berjalan menjauh dengan bantuan tongkatnya. Bale sendiri duduk di kursinya dan memutuskan ingin menikmati kursinya untuk beberapa saat sebelum mulai bekerja.

Besok adalah hari yang melelahkan, dia bisa menebak itu.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License