Seorang pria muda sedang menunggu di tengah ruangan yang hanya bermandikan satu cahaya lampu sorot saja, cahayanya yang terang itu hanya mengarah ke arah meja baja yang ada di bawahnya sehingga seisi ruangan bermandikan pantulan lembut dari cahaya lampu tersebut. Wajah pria muda itu berpendar akibat pantulan cahaya lampu yang menghantam meja baja, namun ekspresinya datar serta kedua matanya sangat fokus ke arah pintu besi yang ada di hadapannya. Dengan wajah seperti patung ia terus menunggu seseorang untuk datang mengambil sebuah paket kotak yang ada di atas meja—walau rasanya orang yang ditunggunya itu sudah cukup terlambat untuk mengambil paket yang sudah sedari tadi ia jaga.
Setelah sekian lama ia menunggu, pintu berwarna kelabu itu akhirnya terbuka sambil mengeluarkan bunyi berdecit yang mengganggu—akhirnya orang yang ia tunggu tiba juga setelah sekian lama. Tunggu, ada dua orang yang masuk ke ruangan, bukannya satu orang seperti yang ia duga. Mereka berdua mengenakan pakaian aneh yang setengah atas tubuh mereka ditutupi oleh semacam tudung berwarna putih berhiaskan motif berwarna emas, sedangkan bagian bawahnya memiliki palet warna yang senada dengan tudungnya namun memiliki gaya desain ala umat keagamaan dari eropa.
Orang-orang ini memang memberi kesan anggota kultus misterius yang kuat, setidaknya si pria muda itu sudah diberitahu oleh atasannya kalau yang akan datang menemuinya memang perwakilan dari suatu kultus. Sebagai tambahan, atasan dari si pria muda memberi peringatan untuk tidak mengatakan apa pun selama pertemuan transaksi terjadi. Ketika ia tanya kenapa, si atasan hanya memberi jawaban yang terkesan mengerikan: "ini demi keselamatanmu."
"Maaf terlambat, kami menghadapi musibah di tengah perjalanan," ucap salah satu orang kultus tersebut. Dari suaranya jelas ia adalah seorang pria tua, lalu dari kemewahan gaya pakaian serta aura yang dipancarkannya, sepertinya ia adalah orang penting di kultus atau semacamnya.
Si pria muda langsung memperbaiki posturnya menjadi lebih tegap seolah-olah ia sedang melakukan baris-berbaris di lapangan ketika pertemuan transaksi akhirnya dimulai.
"Jadi, apakah itu paketnya?" lanjut si pria tua dari kultus tersebut sambil menunjuk ke arah kotak yang ada di atas meja, si pria muda kemudian mengangguk.
Tanpa mengucap sepatah kata apa pun si pria muda menyerahkan kotak yang ada di hadapannya ke pria dari kultus tersebut, entah apa isinya karena ia sendiri tidak diberitahu sama sekali bahkan oleh atasannya sendiri. Ia juga bingung apakah ia memang harus diam sepanjang waktu seperti perintah atasannya? Orang ini terdengar bersahabat menurutnya. Entahlah, ia sudah memutuskan untuk mengikuti perintah atasannya itu saja.
"Baiklah, paket sudah kuterima. Kami akan pergi setelah melakukan pembayaran serta pemutusan kemitraan kita karena kami tidak ingin melibatkan kalian ke dalam masalah internal kami lagi," ucap pria dari kultus itu sambil menandatangani bukti penerimaan barang serta menyerahkan sebuah koper—sepertinya itu koper berisi uang? Ketika si pria muda itu membuka koper tersebut, ia menemukan tumpukan uang yang banyak di dalamnya.
Si pria muda kemudian mengangguk setuju atas pernyataan dari si pria kultus saat dirinya tengah menghitung tumpukan uang-uang di koper. Ia tahu akan berbagai masalah yang terjadi pada tempat ia berkerja semenjak organisasinya berkerja sama dengan orang-orang misterius ini, karenanya ia pun mengeluarkan nafas berat. Apalagi ketika organisasinya terkena imbas masalah internal yang terjadi di dalam kultus orang-orang itu, padahal mereka tidak ada hubungannya tetapi tetap saja mereka kena juga. Mungkin memang sebaiknya kemitraan mereka diputuskan saja demi kebaikan bersama, tetapi ada hal yang mengganggu si pria muda itu: apakah ini artinya mereka akan kehilangan seorang pelanggan tetap?
Memang orang-orang ini telah memesan cukup sering bahkan menjadi pelanggan tetap mereka—walau si pria muda tidak tahu apa pun akan apa saja yang telah dipesan serta untuk apa semua itu—ia telah diperintahkan untuk tidak mencari tahu jawabannya karena semua itu adalah rahasia organisasi. Kehilangan satu pelanggan itu memang merugikan, apalagi untuk organisasi besar seperti tempat si pria muda berkerja ini. Tetapi, apa daya keadaan tidak mengarah ke sebuah persahabatan antar kedua pihak melainkan ke arah pemutusan hubungan yang dramatis di antara keduanya.
Pria tua dari kultus itu kemudian menyerahkan kotak itu kepada seseorang yang ada di belakangnya—sepertinya pengikutnya, tetapi dari gestur mereka dapat terlihat bahwa mereka berdua sedang was-was. Pria tua itu kemudian berkata kepada si pria muda dengan nada yang penuh penyesalan, "Maaf jika kami selalu memberi masalah kepada kalian selama ini, padahal kemitraan kita lumayan bermanfaat sejauh ini. Tetapi sayang sekali, beberapa pihak dari dalam kelompok kami sendiri malah tidak menyukai rencana kami lalu dengan gencarnya mengacaukan proyek-proyek kami. Dan sialnya, mereka malah mencoba mengganggu kalian yang di mana kalian hanya membuat barang-barang yang kami pesan saja."
Pria tua itu mengepalkan kedua tangannya, sepertinya ia benar-benar marah akan penolakan dari pihak oposisi yang entah bagaimana muncul di dalam kultusnya sendiri. "Aku tidak bisa memaafkan mereka karena mereka sampai sebegitunya dalam menolak rencana kami. Menghancurkan proyek yang sudah hampir jadi? Baiklah aku bisa memahami itu. Tetapi menghancurkan alat yang sudah susah payah kalian buat? Itu memberi kerugian bagi kita berdua. Oh astaga," ucapnya dengan nada kesal.
Pria tua itu mengarahkan pandangannya ke arah kotak tersebut, "… semoga alat yang terakhir ini selamat … yah, aku sudah punya rencana tentang bagaimana dalam mengamankannya. Lalu ketika saatnya tiba, akan kuambil kembali untuk melanjutkan proyek besarku." Pria tua itu mengusap kotak tersebut dengan lembut, sepertinya memberi petunjuk bahwa isi kotak tersebut adalah sebuah alat terakhir buatan organisasinya si pria muda yang akan digunakan untuk mewujudkan proyek si pria tua tersebut.
Si pria muda itu benar-benar tidak tahu konteks dari berbagai hal yang terjadi, ia hanya bisa bertanya-tanya saja di dalam pikirannya karena ia telah diperintahkan oleh atasannya untuk tidak menanyakan maupun memberi komentar apa pun kepada orang-orang kultus ini. Sebagai organisasi pembuat barang, bukan haknya untuk menanyakan akan digunakan untuk apa barang yang telah mereka buat oleh si pembeli. Dan sebagai organisasi pembuat barang pula, juga bukan haknya untuk sok memberi solusi dari masalah pribadi yang dialami si pembeli. Berbagai hal yang terjadi pada pembeli mereka bukanlah urusan organisasi mereka, dan masalah yang terjadi setelah memiliki barang tersebut juga bukanlah tanggung jawab mereka.
Setelah beberapa lama kemudian, si pria tua itu akhirnya meninggalkan ruangan setelah menumpahkan semua isi pikirannya kepada si pria muda yang hanya mematung di sisi ruangan itu. Sesuai perintah atasannya juga, ia harus melupakan segala hal yang ia dengarkan dari orang tua itu nantinya karena semua hal itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Yah, si pria tua itu menumpahkan begitu banyak hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dibeberkan kepada orang yang baru saja ia temui—mungkin ia memang orang yang suka berbicara, tetapi, tampaknya si pria muda akan perlu waktu untuk melupakan semuanya karena betapa banyaknya informasi yang ia terima.
Lalu, ketika kertas berisi tanda terima itu dibaca oleh si pria muda ia hanya menemukan kata Kontraktor di bagian nama identitas penerima. Ia bingung akan apa maksudnya, apa orang itu semacam pembangun kompleks hunian atau semacamnya? Entahlah. Ia masih tetap berada di bawah perintah atasannya untuk tetap diam terhadap berbagai hal yang berasal dari kultus misterius tersebut. Tetapi yang pasti, setidaknya kali ini organisasinya telah aman dari masalah. Walau ia masih penasaran akan alat apa yang ada di dalam kotak itu, mau diapakan nantinya, dan apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana.




