Bingung
Itu adalah yang ia rasakan. Sebuah bentuk dari ketidaknormalan dunia ini hanya menatap ke arah tembok putih keabu-abuan dari kamarnya yang kecil. Ia bingung, apa dia ini sebenarnya? Ia terus mempertanyakan eksistensi dirinya itu, ia terus bertanya-tanya apakah ia ini seharusnya eksis atau tidak karena ia merasa seperti … sebuah kesalahan. Ia adalah sebuah anomali dunia, sebuah ketidaknormalan yang seharusnya tidak ada. Ia benar-benar bingung akan hal itu. Kenapa dan untuk apa ia eksis di dunia ini? Ada apa dengan dunia ini sehingga sesuatu yang tidak masuk akal seperti dirinya bisa ada?
Ia melihat ke arah cermin, sebuah onggokan dari logam cair berwarna hitam yang mengkilap di bawah sinar lampu yang berdengung halus dapat terlihat dengan jelas. Logam cair itu memiliki bentuk kubah berduri layaknya kulit durian yang diolesi minyak oli kendaraan—seketika pemikiran itu menggetarkan duri-duri di tubuhnya.
Aneh
Itu adalah apa yang ia rasakan ketika melihat bayangan dari dirinya sendiri di cermin itu. Aneh karena tidak ada apa pun di permukaan tubuhnya yang menunjukkan bahwa ia bisa melihat maupun mendengar, hanya ada seonggok logam cair berbentuk kubah berduri saja di tengah ruangan itu. Aneh karena ia bukan seseorang, ia adalah benda- bukan, bahkan benda itu seharusnya tidak hidup. Tunggu, apakah ia bisa dibilang hidup? Apakah ia memiliki jiwa? Apakah ia memiliki perasaan? Dan, apakah ia bisa dianggap seseorang?
Ada banyak sekali pertanyaan membanjiri kepala- ia bahkan tidak punya kepala! Memikirkan semua hal itu memberi perasaan tidak nyaman pada dirinya sehingga ia kemudian mulai menggerakkan entah apa pun yang ada di dalam tubuh cairnya itu—seketika bentuk tubuhnya mulai berubah secara perlahan. Permukaan tubuhnya juga turut mengeras serta mulai mengeluarkan beragam warna, dengan perlahan ia juga mulai bangkit sambil menggerakkan setiap bagian tubuh padat yang baru saja ia bentuk dengan cara yang sulit untuk dijelaskan. Oh wow, dia sekarang menjadi sesosok manusia sungguhan!
Bohong
Ia kembali menatap ke arah cermin untuk melihat penampilan dirinya saat ini, salah satu sisi dari bagian yang mirip bibir itu kemudian bergerak naik, ia tersenyum sinis, siapa yang sudah ia bohongi saat ini? Dia bukanlah seseorang melainkan sebuah anomali dunia yang mencoba untuk meniru wujud manusia, di dalam pikirannya ia menertawakan dirinya yang telah mencoba untuk meredakan rasa berbeda yang terus mengganjal di perasaannya.
Jauh di dalam dirinya ia ingin menjadi salah satu dari para manusia seperti kita, namun, tampaknya itu malah membebani pikirannya karena ia bukanlah seorang pendusta. Sebaliknya, menerima siapa dirinya yang asli malah akan membuat dirinya diberi taburan bumbu diskriminasi oleh orang-orang. Serba salah telah menjadi hal yang selalu ia hadapi setiap harinya, setiap orang akan memperhatikannya dengan tatapan yang tidak mengenakkan jika ia menggunakan wujud anehnya, tetapi akan bertolak belakang dengan pendiriannya jika ia menggunakan wujud manusianya.
"Nera! Sudah waktunya makan siang!" ucap seseorang dengan keras kepadanya dari luar kamarnya.
Itu adalah suara yang sangat ia tunggu, suara dari seorang pria yang memperlakukan si anomali ini layaknya manusia terlepas dari bagaimana wujudnya. Pria itu tidaklah melihat ke arah fisiknya melainkan ke dalam perasaan anomali berbentuk manusia itu, sehingga tidak heran ia menjadikan pria itu sebagai manusia kepercayaan sekaligus sosok terdekatnya. Ia dengan cepat meraih sebuah kartu akses yang bertuliskan Level 1 itu bersamanya lalu menyahut, "Aku datang!"
Tatapan mereka berdua kemudian bertemu ketika pintu besi itu terbuka, dengan perasaan penuh bunga dan langkah ringan si anomali langsung menyambut pria yang sedang menunggunya di depan pintu. Dengan cepat kedua lengannya meraih lalu mendekap tubuh pria itu dengan erat, ia merasa sudah cukup lama tidak bertemu seperti ini sehingga memang sudah waktunya untuk menumpahkan semua rasa rindunya.
"Kamu tidak perlu memelukku begini," ucap pria itu kepadanya sambil mencoba melepaskan tubuh anomali yang terasa lembut itu, "Kita baru berpisah selama 6 jam tahu".
"Dirimu bilang begitu, tetapi tanganmu terus mengusap rambutku," balas anomali itu dengan nada menyindir. Ia tahu bahwa pria itu selalu tidak bisa mengungkap perasaan jujurnya, ia tahu bahwa pria itu sebenarnya juga tidak membenci momen ini.
Pria itu kemudian membuang nafas yang menunjukkan perasaan sedikit kesalnya, "Ya kalau aku tidak melakukan ini, kamu akan terus menempel. Jadi tolonglah, kita ada rencana."
Si anomali kemudian melepaskan dekapannya itu sambil tertawa pelan, tingkahnya yang seperti anak-anak yang merindukan sesosok orang tua memang sudah menjadi ciri khasnya. Di sisi lain, si pria itu merasa aneh dengan dirinya sendiri karena kenapa bisa ada anomali yang menempel dengan dirinya seperti ini? Ia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang istimewa selain menganggap si anomali sebagai seseorang saja, tunggu, mungkin memang itulah penyebabnya.
"Yah terserahlah! Hehe. Jadi, kita akan makan apa?" tanya anomali itu, ia terlihat bersemangat dengan aktivitas kali ini. Ia bahkan langsung mendapat sebuah ide yang mungkin akan menyenangkan pria itu, "Bagaimana kalau aku saja yang memasak untukmu??"
Pria itu kemudian terbatuk sebentar, "Mungkin lain kali saja."
Jawaban yang singkat dan tanpa jeda itu memberi kekecewaan kepada diri si anomali itu, tetapi ia kembali menguatkan dirinya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus-terusan bersikap sangat dekat dengan pria itu karena pria itu juga punya wajah yang harus dipertahankan, ia juga ingat dengan bagaimana kolega dari pria itu memperlakukan manusia kepercayaannya: dianggap aneh.
Tidak lama kemudian pria itu melanjutkan ucapannya, "Karena kali ini aku yang akan memasak untuk kita berdua."
Seketika ekspresi anomali itu berubah menjadi sangat meragukan pria itu, "Yang benar?" Ini sangat tidak biasa baginya karena pria itu tidak pernah terlihat membuat makanan sebelumnya.
"Hm? Kamu tidak percaya padaku?" tanya pria itu dengan wajah bingung, ia tahu kalau si anomali telah meragukannya.
Sebagai respons si anomali itu kemudian menepuk kedua pipinya, "Haha! Baiklah! Aku tunggu masakanmu~"
Mereka berdua adalah bentuk kombinasi yang sangat tidak biasa di fasilitas ini di mana seorang manusia normal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan sebuah anomali. Pada dasarnya ini sangat tidak normal karena kedua konsep yang berlawanan ini tidak bisa disatukan begitu saja, tetapi, tampaknya sebuah narasi dengan kekuatan yang absolut telah menyatukan mereka berdua.
"Ugh, aku rasa kita memang tidak bisa meminjam dapur lagi." Anomali itu kemudian cemberut karena tampaknya pihak fasilitas tempat mereka berada lagi-lagi mengeluarkan para individual beranomali dari daftar mereka yang boleh menggunakan fasilitas yang tersedia. Ia kemudian melihat ke arah kartu aksesnya itu, "Bahkan benda ini juga tidak berguna."
Ia kesal karena kartu akses yang selalu ia kalungkan di lehernya itu selalu berkerja dengan semestinya, namun aturan baru kali ini malah membuat kartu andalannya itu terlihat seperti kartu biasa. Melihat hal itu, si pria kemudian mengusap pundak si anomali, "Hm mereka sampai menolakku untuk menggunakan dapur demi memberimu makan, ya … soalnya itu karena kamu makannya banyak. Lagi pula, anomali sepertimu memang tidak akan pernah diterima dengan normal seperti ini. Seharusnya kamu sudah terbiasa, kan?"
Anomali itu merasa kecewa walau ia sudah sering mengalami hal ini, tetapi ia langsung memperbaiki posturnya untuk menunjukkan keteguhan perasaannya. "Memang sih, tapi tetap saja! Hadeh, sebenarnya apa itu kenormalan, dah? Mau numpang masak aja malah kena usir karena yang ngga normal sepertiku dilarang masuk," tanya si anomali sambil menyilangkan kedua lengannya di dadanya, ia merasa kesal karena ia selalu saja diperlakukan seperti ini. Hanya karena ia bukan bagian dari status normal alias anomali, ia dilarang menggunakan fasilitas seperti dapur—sungguh pengalaman yang sangat mengesalkan baginya.
Pria itu kemudian berpikir sebentar karena itu pertanyaan yang bagus, tetapi menjawabnya bukan hal yang sulit baginya, "Normal itu relatif karena tergantung di mana dirimu berada. Karena di sekelilingmu adalah manusia normal maka jelas dirimu itu tidak normal, tetapi jika di sekelilingmu adalah jenismu sendiri maka dirimu jelas menjadi normal."
Anomali itu tertegun lalu merenung setelahnya, ia kepikiran kalau mungkin dia itu sebenarnya normal dan bukanlah anomali, ia hanya berada di tempat yang salah saja. "Aku mengerti, kalau begitu aku tidak akan mengomentari hal ini lagi," ucapnya dengan nada datar.
"Sekarang aku mau tanya. Apa kamu membenci apa pun dirimu itu?" tanya pria itu sambil menatap ke arahnya, ia bisa merasakan adanya perasaan kekecewaan di dalam ucapannya tadi.
"Eh?" si anomali terkejut, ia kemudian menjawab, "Hm, sebenarnya aku ingin menjadi seorang manusia seutuhnya saja setelah apa yang terjadi kepadaku sebelumnya, hanya karena aku anomali mereka langsung memiliki segala hak untuk memperlakukanku bukan sebagai seseorang. Ya aku kan memang bukan orang sih."
"'Orang' itu juga relatif bagiku," jawab pria itu dengan singkat.
"Benarkah?"
Pria itu kemudian menjawab, "Ya. Sejauh yang kulihat selama ini, dirimu jauh lebih manusiawi dari para manusia yang mengaku sebagi manusia itu. Mereka memperlakukanmu bukan sebagai manusia yang padahal dirimu memiliki kualitas sebagai manusia sungguhan, para manusia yang tidak adil itulah yang sebenarnya bukan manusia karena sangat membedakan mereka yang memiliki perbedaan. Sedangkan dirimu, tidak peduli maupun manusia atau bukan, kamu tetap memperlakukan semuanya dengan penuh keramahan. Sebuah sikap yang aku sendiri saja kadang tidak bisa melakukannya."
Ucapan pria itu ada benarnya dan itu memberi rasa lega kepadanya. Tetapi, si anomali kembali merasa tidak enak ketika teringat dengan apa yang pernah ia lakukan dahulu, "… tapi aku pernah bersikap kasar kepada mereka yang mencoba menggunakan kemampuanku. Aku tidak sebaik yang kamu katakan." Ia teringat akan momen yang tidak mengenakkan baginya dan perasaan bersalah itu masih mengganjal hingga sekarang, momen di mana ia berbuat kasar kepada sosok penting di fasilitas ini sehingga keberadaannya cukup tidak disukai oleh mayoritas orang-orang di sini.
Pria itu kembali menepuk pundak anomali itu, "Menurutku. Mereka itu pantas mendapatkannya. Bahkan benda yang tidak dirawat dengan baik akan berujung pada kerusakan, apalagi jika benda tersebut memiliki kualitas kemanusiaan seperti dirimu karena akan sangat buruk sekali rasanya jika mereka tidak memperlakukanmu dengan benar. Jadi, amarah yang kamu lakukan waktu itu adalah hal yang wajar karena manusia juga akan melakukan hal yang sama. Marahlah jika ada yang menindasmu, tunjukkan kepada mereka apa yang akan terjadi jika mereka tidak memperlakukanmu dengan benar … tapi jangan sampai berlebihan oke?"
Anomali itu hanya menatap pria itu dengan saksama tanpa berkata apa pun, ia merasa kagum serta bersyukur sudah bertemu dengan seseorang yang mau memperlakukannya sebagai manusia walau dirinya bukanlah manusia. Hanya dialah yang mau menasihatinya seperti ini, ia mendapat sebuah imbauan untuk tidak membiarkan statusnya sebagai anomali diinjak-injak begitu saja. Entah mengapa ia merasa bahwa hanya pria inilah yang telah memberinya sebuah arti kehidupan yang sebenarnya, sebuah momen di mana setidaknya ia masih bisa berdiri sejajar sebagai seseorang tanpa peduli siapa dirinya yang asli.
Kesetaraan
Ia sangat bahagia karena ia akhirnya bisa mendapatkannya walau itu hanya berasal dari satu orang saja—karenanya, jauh di dalam kerumitan struktur tubuhnya, muncul sebuah dorongan yang membuat dirinya ingin terus bersama dengan pria itu. Baginya tidak mungkin mendapatkan sebuah kesetaraan dari orang lain di dunia ini karena kebanyakan dari mereka hanyalah orang-orang picik yang hanya menginginkan kemampuan istimewa yang ia miliki saja. Karena itulah ia akan terus berusaha untuk mempertahankan ikatan baru yang telah ia dapatkan dan bangun sejauh ini, ia akan terus melindungi apa pun yang ia anggap berharga di dalam hidupnya.
Atas rasa hormatnya serta keinginannya untuk melindungi, ia akhirnya menetapkan apa tujuan dari eksistensinya setelah sekian lama kebingungan dengan alasan mengapa dan untuk apa ia bisa eksis ….




